Laila Menutup Gorden

25 Aug 2007 In: Uncategorized

(Republika, 18 Januari 2004) 

Laila merapikan gorden, perasannya berdesir bagai ditabur pasir. Menutup dan mengunci pintu pelan-pelan. Mengintip keluar beberapa jenak. Memperhatikan punggung laki-laki itu, yang berjalan pelan bagai berjingkat, membuka pintu gerbang dengan hati-hati supaya tidak menimbulkan suara berisik yang dapat membangunkan tetangga. Setelah menutupnya laki-laki itu berdiri sebentar, tersenyum dan melambaikan tangan. Laila terus memperhatikan tubuh laki-laki itu lenyap dalam temaram subuh. Laila belum akan beranjak dari tempatnya berdiri sebelum benar-benar yakin bahwa laki-laki itu telah mendapatkan taksi di tikungan depan sana. Setelah merasa aman barulah Laila menghenyakkan tubuhnya ke sofa, meredakan dadanya yang gemuruh.

Begitulah, setiap menerima laki-laki itu, Laila harus menekan perasaannya dalam-dalam, dan berkali-kali mesti meminta maaf dan pemakluman pada diri sendiri. Hampir setiap minggu dalam enam bulan terakhir Laila menghadapi situasi begini. Situasi yang memberikan sensasi kesenangan yang menegangkan. Aroma bau tubuh laki-laki itu masih hangat melekat di tubuhnya. Laila bahkan dapat merasakan dengus nafasnya yang panas pada wajah, leher, dan tengkuk. Laila ingin membiarkan bau keringat dan tembakau itu tinggal lebih lama di tubuhnya. Tetapi ini menjelang subuh, sebentar lagi suster bangun dan ia harus mandi, membantu menyiapkan sarapan pagi untuk Naomi, Moses dan si bungsu Marsa. Memandikan mereka dan ikut mengantar anak pertamanya, Naomi, ke taman kanak-kanak, sebelum dia sendiri berangkat ke kantor; rutinitas yang kadang membuatnya jemu. Laila tak mau menyerahkan seluruh pekerjaan itu pada suster dan dia dapat berlama-lama menikmati sensasi yang menggetarkan. Sebetulnya bisa saja Laila tidak usah mandi dan membiarkan aroma tubuh laki-laki itu terus melekat di tubuhnya.

Tetapi itu akan mengganggu konsentrasi dan sukar mengendalikan emosi. Setiap usai melepasnya dari balik pintu yang dibuka separuh, Laila selalu mengharapkan laki-laki itu datang lagi. Hari segera terang dan berganti dengan cepat. Mendengar ketukan lembut disertai suara mendeham kecil di pintu, membukanya dengan dada berdebar, menyambutnya dengan binaran mata yang mengatakan banyak hal, membuatkan teh, memeluknya…. Ini sudah berlangsung selama enam bulan. Laki-laki itu teman masa kecilnya di kampung. Ia juga teman karib kakak laki-lakinya yang belum menikah. Bahkan ibu dan seluruh keluarganya mengenal dia dengan baik. Dulu laki-laki itu seorang pendiam yang kurang pandai mengungkapkan diri di tengah pergaulan. Sekarang bekerja untuk sebuah penerbitan di kota ini. Menurut cerita ia kini memiliki dua orang anak dari seorang istri yang manis namun agak pemalas. Mereka tinggal di kota C, dan ini mengharuskannya pulang setiap akhir pekan.

Laki-laki itu mengaku tinggal di sebuah apartement pusat kota, dekat gedung perserikatan bangsa-bangsa, hanya satu jam (kalau tidak macet) untuk sampai di rumah Laila. Rupanya bukan hanya Laila yang mengharapkan kedatangannya. Ketiga anaknya pun selalu riang menyambut laki-laki itu yang tak pernah lupa membawakan es krim, ayam goreng, buku dengan gambar-gambar penuh warna atau kaset lagu kegemaran mereka. Dia jenis laki-laki penyayang dan hangat untuk anak-anak. Mereka suka memanggilnya papa, terutama yang bungsu. Laki-laki itu sering tertawa mendengarnya, membuat Laila kikuk dan segera megalihkan perhatian. Laila berpikir tidak usah mencintai laki-laki itu untuk bisa menerimanya dan sedikit meluputkan diri dari rasa sepi yang menderanya berlarut-larut. Situasi yang dia rasakan telah membawa pengaruh buruk untuk perkembangan mentalnya. Suaminya tanpa menceraikannya telah pergi dan meninggalkan setumpuk kenangan buruk.

Laila harus menanggung beban sendirian. Bukan hanya soal biaya sekolah, dan kebutuhan belanja setiap hari, tetapi yang paling berat adalah status mengambang yang disandangnya. Status yang paling beralasan untuk selalu dicurigai dan dilecehkan setiap sorot mata yang tertuju ke matanya. Kenapa sih perempuan yang selalu dipersalahkan, bisiknya. Dari mana sih anggapan bahwa perempuan yang ditinggalkan atau dicerai suaminya memiliki cacat? Ini tidak adil dan kuno! Laila tidak mau membanding-bandingkan suaminya dengan laki-laki itu. Mereka punya pesonanya masing-masing. Semula laki-laki itu datang untuk bertemu kakaknya yang tinggal bersebelahan. Sesekali Laila bertemu secara tidak sengaja dan bercerita tentang anak-anaknya yang ditinggalkan ayah mereka. Dan mengungkapkan pula bahwa suaminya pergi dengan pacar yang dihamilinya. Dan ditambahkan, bahwa ia pernah melabrak pacar suaminya.

Lantaran wanita sundal itu pernah pula menelpon dan memanas-manasinya. “Mereka sering bertanya, saya bingung harus menjawab apa,” ucap Laila, tanpa disertai kata-kata memaki terhadap suaminya. Entah, barangkali tanpa sadar Laila bercerita dengan nada pilu dan meratap. Suara lembut laki-laki itu telah mengusap perasaan Laila. Gurun pasir kerontang di dadanya bagai tersiram hujan yang menyejukkan. Laki-laki itu pernah bercerita tentang istrinya yang menyebalkan. “Mudah curiga, sehingga sering menghalangi langkahku untuk maju. Maunya aku terus berada di bawah ketiaknya.” Selanjutnya, entah bagaimana bermula, begitu saja hubungan mereka berjalan. Seperti ada jadwal tetap untuk laki-laki itu datang. Dan antara Laila dan laki-laki itu seperti tahu untuk tidak saling bercerita tentang pasangan masing-masing kecuali yang berkaitan dengan jadwal pertemuan mereka.

Seperti ada kesepakatan mereka untuk saling menyimpan rahasia. Dan sekarang, sesudah enam bulan, Laila mulai gelisah dengan status hubungannya dengan laki-laki itu. Ia ingin mengatakan pada lelaki itu bahwa hubungan semacam ini harus diperjelas atau diakhiri sama sekali. Laila tidak mau bersikap egois dan cuma mau menuruti kesenangan sendiri. Banyak hal yang harus dipertimbangkan, termasuk ibunya. Walaupun orang tua itu tidak pernah berkata apa-apa, tetapi Laila tahu Ibunya mulai gelisah. Ia menunggu kesempatan untuk mengungkapkannya. Ia tak mau dikejar-kejar perasaan yang sangat mengganggu. Para tetangga mulai mengendus hubungan Laila dengan lelaki itu. Walaupun sibuk dengan pekerjaan masing-masing, toh mereka selalu punya banyak kesempatan untuk menggunjing. Ini memasuki bulan ketujuh dan laki-laki itu tidak datang. Nomor teleponnya sudah berubah.

Laila menyesali kebodohannya yang tidak pernah meminta nomor telepon kantornya. Beberapa kali Laila bolos untuk mencari laki-laki itu. Walaupun dirasakan konyol, Laila melakukannya juga: memasuki setiap hotel, bertanya pada customer service apakah ada tamu bernama Diko. Jakarta yang semula sempit terasa menjadi lautan maha luas tak terkira. Laila tidak mungkin menghubungi keluarga Diko di kota C. Laila menduga ia sudah mengendus sikapnnya. Laki-laki itu menghindar, tak mau direpotkan dengan segala status hubungan mereka. Laila tiba-tiba menyadari betapa dirinya telah menjadi korban. Saat sepi di kamar malam-malam, ketika ketiga anaknya terlelap, Laila duduk di depan cermin kamar. Ia berpikir mestinya untuk perempuan macam dia mudah saja mendapatkan laki-laki. Dia memiliki tubuh yang ramping indah, berkulit mulus meski tidak terlalu terang. Kata laki-laki, warna kulit yang tidak gampang menyerah. Rambut lurus, bibir tipis dan berhidung mancung.

Dan senyumnya begitu indah dengan hiasan gigi gingsulnya. Pendeknya dia adalah wanita yang cukup cantik, dan punya karir lumayan di tempat kerja. Tetapi Laila tidak melakukannya. Malam ini ketika Laila merasakan kegersangannya memuncak, ia mendengar ketukan lembut di pintu disertai suara mendeham kecil. Ketukan yang sangat dikenal betul. Laila berjingkat mendekat ke pintu. Laila membuka pintu pelan. Laki-laki itu berdiri di depan pintu dengan senyum mengembang. Ia terhenyak dan debaran di dadanya serentak mengeras. Laila bersikeras meredakannya. Malam itu semua berjalan seperti malam-malam sebelumnya. Laila tak sempat mengungkapkan kegelisahannya. Menjelang subuh ketika laki-laki hendak beranjak keluar, Laila menggenggam tangannya, menatapnya, ingin mengucapkan sesuatu tapi tak pernah sempat. Sesudah itu Laila mendapati dirinya kosong dan kembali disesah resah. Resah yang makin memuncak bila teringat ucapan laki-laki itu semalam bahwa dirinya akan dipindah tugaskan ke Pontianak. Dia akan memboyong keluarganya ke sana.***

Kebon Nanas, 24 Mei 2004  

Lagu Cinta untuk Tuhan

25 Aug 2007 In: Uncategorized

(Republika, 19 Januari 2003) 

Setelah berkali-kali gagalmenulis surat untuk orang tua dan saudara-saudaranya, laki-laki itu mematikanlampu. Malam begitu kelam, tak ada bulan dan sebiji pun bintang di langit. Anginberhembus menyibak-nyibak gorden jendela yang tidak tertutup rapat. Takterdengar anak-anak muda main gitar seperti malam-malam biasanya. Laki-lakiberambut panjang, berdada besar dengan tubuh semampai dan gemulai itumengehempaskan tubuhnya ke kasur. Wajahnya yang halus dengan alis terukir danbibir mungil itu nampak tidak bisa menyembunyikan hatinya yang sedang kisruh. Iateringat lagi pada surat yang tadi batal ditulisnya:

Untuk Papa dan Mama,
Maafkan aku, sampai sekarang belum bisa pulang. Walau sebenarnya aku sudahterlalu lama menahan rindu. Namun, selalu takut untuk pulang. Aku takut Papa danMama belum bisa menerimaku. Sampai kapan Papa dan Mama tidak bisa menerimakeadaanku? Papa dan Mama tak mungkin menunggu aku menjadi normal kembali. Karena,aku rasa sejak dari lahir sudah begini. Dan aku merasa tidak ada yang harusdisembuhkan dengan keadaanku. Kalau Papa dan Mama tetap menganggap aku sakit,terserahlah. Papa dan Mama punya hak untuk memberi penilaian seperti aku jugapunya hak menentukan pilihan. Tak ada yang bersalah. Aku pikir Tuhan yang telahmenakdirkan aku seperti ini. Kalau Papa dan Mama mau salahkan saja Tuhan.

Surat itu telah diremasnya. Ia merasa kurang puas dengan kata-kata yang telahdirangkainya. Seperti tak tertuliskan semua yang mengendap di benaknya. Kadangmalah seperti terlalu berlebihan. Apakah benar ini takdir Tuhan? Begitulah iabertanya pada dirinya sendiri. Apakah ini bukan pendapat yang terlaludipengaruhi oleh sebuah novel yang pernah dibacanya. Ah, ia merasa tidak jujur.Surat itu tidak jujur menuliskan isi hatinya. Lantas teringat pada suratnya yanglain.

Untuk Papa dan Mama,
Aku tidak mengerti dengan kalian yang selalu menyalahkan aku. Semua persoalanyang kuhadapi seakan cuma akulah penyebabnya. Sehingga kalian kemudianmengusirku karena merasa malu punya keturunan yang tidak normal. Apakah kalianlupa kalian yang menyebabkan aku hadir di dunia yang sumpek ini. Tetapi tidakapa-apa. Aku toh bisa hidup tanpa kalian. Jangan menyesal, aku juga takkanpernah kembali pada kalian kecuali kalian bisa menerimaku apa adanya. Akan akubuktikan bahwa aku bisa hidup dan berbahagia dalam ketidaknormalan.

Surat yang ini pun diremasnya, lantas dibakar. Ia pun ingat pernah menerimasurat dari adiknya:

Untuk Kakakku
Aku heran kenapa engkau jadi begini. Papa normal, Mama juga normal. Aku jadiheran dan tak habis pikir. Tapi yang jelas aku jadi sangat sedih. Dosa apa yangtelah dilakukan Papa dan Mama sehingga engkau yang harus menanggung akibatnya.Terus terang aku malu punya saudara seperti kamu. Sebaiknya kamu memang tak usahpulang kecuali kamu telah sembuh normal. Apa jadinya bila teman-temanku tahu akupunya saudara seperti kamu. Bisa-bisa aku diledek, atau malah ditinggalkanpacar-pacarku. Lagi pula, kata seorang ustad, perilakumu yang menyimpang itudilaknat oleh agama.

Surat itu tidak diremasnya. Justru malah disimpannya dengan baik. Sesekali bilaingin menyakiti diri sendiri ia akan membaca surat itu sambil membayangkanadiknya yang ia sayangi. Membayangkan adiknya yang begitu remaja dan muda bisamembuat kata-kata yang bisa meluluh lantakan perasaannya. Bila hatinya telahlantak, maka untuk menyembuhkanya, ia akan mebaca surat yang ditulis kakaknya:

Untuk Adikku,
Aku menghargai pilihan hidup yang telah kamu tempuh. Hidup memang menyediakanpilihan-pilihan. Dan setiap pilihan memiliki konsekuensinya masing-masing.Setiap pilihan punya risikonya sendiri-sendiri. Aku tidak merasa sedih ataugembira dengan jalan yang kamu pilih. Aku harap kamu pun tetap tegar denganpilihanmu. Aku tidak tahu, kami atau kamu yang tidak normal. Barangkali memangtidak ada yang tidak normal. Yang ada adalah soal kebiasaan. Papa, Mama dansaudara-saudaramu yang lain memang belum bisa menerimamu. Tapi jangan membuatmuterus-menerus dikungkung penyesalan dan rasa salah. Kamu harus bisa menunjukkanbahwa hidup bisa ditempuh dengan cara yang tidak selalu sama dengan mereka. Akuyakin kamu mampu. Semoga Tuhan menerima jalan hidupmu.

Laki-laki itu mendesah berat. Menghembuskan nafas kuat-kuat seperti berusahamembuang kenangan masa kecilnya yang ingin selalu dilupakannya tapi selalugagal. Masa di mana ia terpaksa harus mengasingkan diri. Bergulat dengankesendirian dalam kamar. Papa pernah menguncinya berhari-hari.

“Bocah edan! Kamu itu laki-laki, Rendi. Gincu itu, boneka itu hanya untukperempuan. Awas kalau papa lihat kamu begitu lagi Papa kunci kamu di sini sampaimati.”

Ia menggigil dalam kamar, ia menangis dan ingin bicara tapi tidak tahu padasiapa. Mama, dan semua saudara-saudaranya, telah mengasingkannya. “Tuhan,kalau ini takdir darimu, kenapa mereka tidak mau menerima kehadiranku?”begitu ia dulu sering menggugat Tuhan.

Laki-laki itu tiba-tiba bangkit lagi, tangannya bergerak meraba-raba sakelarlampu dan menekannya. Kamar segera terang kembali. Matanya berputar menyapuseluruh sudut kamar. Entah sudah berapa tahun ia tinggal dalam kamar ini, kamaryang menyimpan banyak catatan perjalanan hidupnya. Di sudut sebelah kiri ada rakkecil tempat ia menata buku-buku. Buku-buku yang disukainya adalah bukupsikologi. Ia selalu penasaran dengan dirinya sendiri, kenapa dirinya bisamerasa asing terhadap tubuhnya sendiri.

Pernah juga ia konsultasi pada seorang psikiater tentang perasaan yangmelilitnya. Penjelasan psikiater selalu sulit dipahami. Keterangan yang seakanmalah menjebloskannya ke dalam jurang yang gelap dan dalam. Membuatnyamenggapai-gapai. Ia tak pernah lagi mengunjungi mereka. Diborongnya buku-bukupsikologi yang menurutnya lebih sedikit memahami dirinya.

Dia bangkit dan duduk di depan cermin rias. Ia melihat wajahnya yang cantik,halus mulus dan begitu perempuan. Ia sama sekali tidak pernah mempermak wajahnyasupaya menjadi halus seperti itu. Semuanya sudah begitu sejak lahir. Pada usiaketika ia harus masuk sekolah dasar guru-gurunya sering memperlakukannya sepertiteman-teman perempuannya. Ia tidak diperkenankan main bola, tidak diizinkanmanjat pohon. Dan ia memang lebih tertarik dan merasa puas bermain denganteman-teman perempuannya.

Malam terus merayap, ia kembali mematikan lampu, kemudian membanting tubuhnya kekasur dengan desah yang terdengar berat. Ia terbatuk-batuk, nyeri. Apakah inijalan yang salah? Ia bertanya lagi pada diri sendiri. Pertanyaan yang selaludiulang-ulang dengan jawaban yang selalu tidak memuaskan. Kadang ia begitu bencidengan dirinya, lantas menyalahkan Tuhan. Ia menganggap Tuhan telahmemperlakukannya secara tidak adil. Tapi, benarkah Tuhan telah memperlakukannyasecara tidak adil? Jawabannya seringkali tidak, karena toh ia merasa bisaberbahagia. Ia merasa lega dan sahaja menjalani hari-harinya sebagai penatarambut pada sebuah salon yang pengunjungnya kadang datang hanya sekadar inginngrumpi bersama para penata rambut yang cantik-cantik dan genit.

Ia bangkit dan duduk dengan tangan bertumpu di jendela yang dibukanya. Anginmenerobos masuk, mengusap wajahnya yang pucat. Tangannya bergerak mengusap-usapgorden. Lantas beranjak lagi ke meja dan membuka laci. Surat-surat itu bertumpukdi sana. Ia ingin membuang saja semuanya. Dan melupakan orang-orang yang pernahdekat tapi kemudian mengasingkan dan mengusirnya. Buat apa terus-menerusmengenang mereka? Aku sudah diusir dan dianggap tidak normal. Untuk apa akumasih harus mengharapkan mereka dapat menerima aku apa adanya? Itu pekerjaansia-sia. Lebih baik aku segera tidur. Besok aku harus pergi ke sebuah tempatyang sangat penting.

Malam ini adalah malam yang sunyi dan dingin. Burung malam hinggap di bubunganrumah. Kegelapan memang selalu menarik terutama bagi mereka yang baru mengenalsaat-saat turunnya embun yang penuh kejutan. Malam juga yang selalu menyimpankeindahan yang tak akan didapatkan pada siang hari. Laki-laki itu menikmatinyadengan duduk di ambang jendela yang dibukanya lebar-lebar. Membiarkan anginmengelus wajahnya. Menghembuskan kegaiban yang menggeletar ke balik tengkuknya.

Ia kini telah merasa lega, merasa plong dan beban itu seakan menguap entahkemana. Ia telah selesai menulis surat untuk Tuhan. Ia akan memposkan surat itusecepatnya. Supaya Tuhan segera pula bisa menerima dan membacanya. Supaya Tuhanbenar-benar tahu perasaannya dan segera memberikan balasannya. Tapi ia tidakterlalu berharap Tuhan membalas suratnya. Yang penting Tuhan telah menerima danmembacanya. Selesai.

Entah, ia merasa sangat yakin dengan surat itu Tuhan akan bisa memahamikeadaannya. Tuhan akan memaklumi dan membebaskannya dari perasaan bersalah yangselama bertahun-tahun melilitnya. Ah, laki-laki itu mendesah pelan, lantasmenutup jendela. Langkahnya begitu penuh semangat ketika menutup pintu,memadamkan lampu, lalu membanting tubuhnya ke kasur. Terdengar bunyi keretapyang di telinga terdengar begitu penuh kenangan. Ia menatap langit-langit kamar.Di sana ia seperti membaca kembali surat itu:

Kepada Yth Tuhan
Ketika kutulis surat ini malam larut dalam kesunyian dan dingin, Tuhan.Sementara itu perasaanku lebur dalam kekosongan. Kekosongan yang bertahun-tahunmenghempaskanku dalam keperihan yang begitu menyiksa. Rasa tersiksa itulah yangtelah menggerakkanku menulis surat untuk-Mu. Aku berharap dengan surat ini Kaubisa langsung memahami perasaanku sehingga aku bisa terbebas dari lilitan rasasalah yang bertahun-tahun menguasaiku. Meski terus terang, sebenarnya aku raguapakah jalan yang kutempuh benar-benar salah seperti anggapan orang-orang atauhanya perasaanku belaka. Perasaan manusia memang terlalu lemah untuk bisamengatasi persoalan-persoalan semacam ini. Itulah sebabnya aku menumpahkannyapada-Mu saja. Biar semuanya tuntas, biar semuanya selesai dan aku dapatmenjalani semuanya dengan lega tanpa beban prasangka apa-apa….

Kalimat-kalimat berikutnya seperti lepas begitu saja dari kepalanya. Karenarupanya seseorang telah mendekapnya dengan mesra.

“Suratnya sudah selesai?” kata laki-laki yang memeluknya itu.
“Surat untuk Tuhan?”
“Ya. Besok aku ke kantor pos, biar aku poskan sekalian.”

Tangerang, 22 September 2002

Bidadari di Atas Jembatan

24 Aug 2007 In: Uncategorized

(Seputar Indonesia, Januari 2006)

Karin berdiri di atas jembatan, menatap arus sungai yang mengalir lemah di bawahnya. Riak air kecoklatan yang membawa beban limbah sepanjang perjalanannya yang melelahkan melintasi lembah, jurang, hutan-hutan, pedesaan, membelah pemukiman kumuh perkotaan,—dan berakhir di muara—permukaannya gemerlap kemerahan disepuh matahari senja. Jika Karin terjun ke sana , tentu dia akan mati tenggelam kehabisan napas. Paru-parunya akan pecah dipenuhi air yang membuncah. Dan jasadnya akan hanyut dibawa arus dan menjadi santapan ikan-ikan di muara. Nasibnya lebih tragis dari bidadari yang akan diperankannya dalam pentas nanti malam.

Karin berdiri dengan kaki sedikit mengangkang seakan menantang para pendayung sampan di kejauhan. Rambutnya yang ikal mayang berkibaran dimainkan gerak angin yang berhembus kencang sebagaimana gaun tipis komprang corak kembang-kembang yang dikenakannya seperti tarik-tarik sekawanan anak nakal sehingga bentuk tubuhnya yang ramping menggairahkan tampak jelas. Tubuh yang telah membius Bung Tom.

 

Cukup lama Karin berdiri serupa itu, dengan kedua kakinya yang panjang tepat di tengah jembatan. Kedua tangannya kadang direntangkan. Seakan membayangkan berdiri di atas pucuk anjungan kapal pesiar yang tengah membelah lautan seperti sebuah adegan dalam film Titanic yang paling disukainya. Karin tak bergeser sedikit pun. Karin sengaja memilih posisi tepat di tengah itu. Tampaknya Karin menghitung betul panjang jembatan. Deru kendaraan yang berseliweran mengamburkan bergulung debu mengotori rambut dan gaunnya tak dihiraukan. Semula Karin duduk di lereng sungai yang landai. Wajahnya tampak gelisah. Permukaan sungai dengan beberapa pendayung sampan, maupun sekawanan orang yang berenang riang di tepiannya tak mampu menyelamatkannya dari perasaannya yang berkecamuk antara marah, sedih, kecewa dan entah apalagi campur aduk.  Jemari lentiknya mengepal memukul bangku bambu yang didudukinya. Berkali-kali Karin bangkit dan duduk kembali. Naskah drama yang dibawanya dia robek dan dilempar satu persatu ke arus sungai. Robekan naskah itu hanyut dan sebagian terbang diseret angin entah ke mana.

 

Ketika dia meninggalkan rumah, langkahnya berjingkrak ringan, dadanya bagai membusung oleh perasaan percaya diri yang berlebihan. Dia telah berhasil menghapal seluruh naskah drama yang akan dipentaskan dua minggu kemudian. Padahal naskah itu cukup panjang, hampir lima puluh halaman. Dan dia kebagian dialog paling banyak karena memang pemeran utama. Naskah itu berjudul Bidadari yang Diperkosa. Dia memerankan bidadari yang menyelamatkan negeri dari cengkeraman para koruptor namun kemudian dikhianati para pengikutnya. Bidadari itu dijebak di sebuah gudang tua. Di sanalah para pengikut yang setia tiba-tiba berubah menjadi iblis buas yang menjadikan tubuhnya sebagai santapan lezat. Semula Karin hampir menyerah melihat tebalnya naskah. Kini semuanya telah selesai. Dia tak perlu hapal seluruh dialog dalam teks, apalagi sampai titik koma. Yang penting tahu garis besar, selebihnya adalah improvisasi, kata Bung Tom, kalau kau sudah paham betul cerita dan karakter tokoh yang kamu bawakan, dengan sendirinya dialog kamu akan lancar, sambung Bung Tom menyemangati. Kata-kata akan mengalir seiring gerak tubuh. Karin melakukan apa yang disarankan Bung Tom. Dan memang benarlah, dari latihan ke latihan, sosok bidadari seakan telah lebur dalam tubuh Karin.  

 

Dia merasa tengah mencecap nasib baik telah berhasil terpilih memerankan bidadari bernasib tragis itu. Dia menyukai karakter tokoh bidadari yang lembut namun tegas, rela menghancurkan dirinya untuk keutuhan orang lain. Karin merasa karakter bidadari ada kemiripan dengan dirinya. Maka dia berlatih dengan serius. Bung Tom, sang sutradara, puas melihat bakat aktingnya. Karakter vokalmu kuat, pujinya.  Tentu saja dia berbunga dipuji demikian. Tak peduli pujian itu tulus atau sekadar sebuah perangkap yang sengaja ditebar Bung Tom. Tidak mudah mendapat peran tersebut, apalagi pujian dari Bung Tom yang barusan di dengarnya. Dia harus bersaing dengan puluhan gadis cantik yang mengikuti casting untuk peran tersebut.

“Kamu menyukai peran itu, Karin?” tanya Bung Tom waktu usai reading pertama.

“Tentu saja. Saya beruntung dapat peran bidadari.”

“Kalau begitu kamu dengan mudah menghayati peran ini.”

 

“Karin, kamu harus optimis. Tapi kamu juga harus siap tersisih.” pesan Mama, malam ketika esoknya dia akan mengikuti kasting. Dia tersenyum waktu itu. Lantas menatap mata Mama, “Tentu, Mama. Aku siap tersisih. Jangan khawatir, aku tidak akan terlalu kecewa.”  ucapnya membuat Mama lega. “Semoga kamu terpilih, Sayang. Mama akan berdoa malam ini.” kata Mama, lalu mengecup kening Karin sebelum keluar meninggalkan Karin sendirian di kamar. Karin menatap wajahnya di cermin. Ada hidung mancung yang diwariskan Papa. Bibir yang tak setipis bibir Mama karena ada hasrat Papa yang sangat kuat mencampuri kompsisi wajahnya. Bibir yang seksi. Karin berdiri memperlihatkan tubuhnya yang tinggi semampai dengan payudara yang proposional. Karin tersenyum, dia yakin keindahan tubuhnya bisa menjadi senjata untuk membius Bung Tom.  

 

Karin tahu Mama sangat berharap dirinya terpilih, namun Mama takut kecewa jika dia gagal terpilih. Dan Mama khawatir kekecewaannya akan membuat dia melakukan perbuatan yang mengerikan. Mama tahu sifat Karin yang sering tak kuasa menanggung kecewa. Mama tentu belum lupa Karin hampir mati kehabisan darah gara-gara menyilet urat nadinya demi mendengar kabar pernikahan Papa.

 

Syukurlah kemudian Karin terpilih. Mama memberinya ciuman banyak-banyak, lantas berita gembira ini ia kabarkan pada semua kerabat dan kenalan dekat. “Selamat, ya Sayang.” ucap Mama berkali-kali. Malam itu juga mereka mengundang beberapa kawan dekat untuk minum-minum di kafe.

Kali pertama bertemu Bung Tom, Karin grogi setengah mati. Jantungnya kencang berdebar, telapak tangannya terasa lengket oleh keringat dingin yang merembes lekas saat ditatap Bung Tom. Karin tak sanggup menatap balik mata Bung Tom. Nyawanya serasa putus berkali-kali saat Bung Tom memintanya berteriak untuk mengetes vokalnya. Karin membayangkan mukanya merah serupa rajungan rebus saat Bung Tom terpingkal mendengar vokalnya yang melengking dan terputus sebelum mencapai puncak. Peristiwa berikutnya hanya asyik buat dikenang.

 

Kala pertama bertemu itu sesungguhnya Karin sudah merasakan getar lain dari pancar mata Bung Tom. Laki-laki seumuran Papa itu terus memenuhi khayalannya pada malam-malam sesudahnya. Rahang yang kukuh, tatapan mata yang teduh, dan bulu-bulu yang melebat di dadanya selalu mengingatkan Karin pada Papa. Tapi kulit Papa tak seterang Bung Tom. Tanpa perlu dijelaskan Karin tahu bahwa Bung Tom sudah beristri. Tapi justru itu. Bukankah Papa, sosok yang dia kagumi, sanggup meninggalkan Mama karena jebakan seorang perempuan muda. Karin menyukai bulu mata Bung Tom melengkung lentik.

 

Karin sadar Bung Tom telah memperlakukannya berbeda dari pemain lain. Sekarang justru Bung Tom tampak grogi menatap matanya. Jangankan untuk marah gara-gara Karin salah saat latihan, vokalnya sering tak sesuai dengan yang diinginkan Bung Tom. Karin yakin Bung Tom sudah hatinya terpikat. Kau sudah berhasil kuperdaya, batin Karin. Tetapi hal ini tentu tak perlu ia ceritakan pada Mama. Termasuk saat dia diajak makan malam di sebuah hotel.

Kadang Karin merasa salah telah merahasiakan hal ini pada Mama. Apa boleh buat. Kalau Mama tahu pasti ia tak akan mengijinkan Karin meneruskan latihan. Tetapi bukankah pepatah inggris pun mengatakan, tak ada makan siang gratis? Harus ada yang lenyap untuk ditukar dengan yang kita inginkan Apa pun harus kutempuh untuk meraihnya. Karin tak ingin ada rasa sesal di hatinya. Bukankah dia sedang berkorban buat Mama? Jadi ini harus dilakukan tanpa rasa penyesalan atau salah.

“Mama mendukung pentas ini, Karin?” ucap Bung Tom seraya meletakkan jaket di sofa.

“Ya, dan saya akan mempersembahkan pementasan ini untuk Mama.”

“Bagus, Karin”

“Papa kamu, Karin?”

“Mamaku janda. Jangan tanya Papaku ke mana,”

“O maaf, Karin”

 

Percakapan berakhir dengan gemuruh nafas keduanya yang berbaur di antara selimut dan busa.    

 

Karin betul-betul telah siap beraksi di pentas malam itu. Dalam tubuhnya  sosok bidadari itu telah bersemayam. Tetapi satu malam menjelang pementasan Karin pulang ke rumah setelah dua minggu dikarantina. Dia kangen Mama. Karin sudah mengirim sms sejak siang. Tapi tak ada ada balasan. Bahkan laporan yang masuk di ponselnya masih menunggu. Dua kali telepon tak diangkat membuat Karin malas mencoba mengulang. Ini di luar kebiasaan. Prasangka buruk kemudian berlesatan dalam kepala Karin. Tapi buru-buru dia tepis. Karin percaya tidak terjadi apa-apa dengan Mama.

Dalam taksi Karin mencoba tenang. Pikirannya memang tidak boleh terganggu sebab bisa-bisa penghayatan menjadi bidadari yang sudah dibangun selama latihan berminggu-minggu jadi berantakan. Karin tak sabar membuka pintu taksi begitu sampai di depan rumahnya. Tapi kemudian menahan hatinya untuk tidak berlari membuka pintu gerbang. Ternyata pintu gerbang tidak dikunci. Dengan sedikit mendorongnya, tubuhnya bisa masuk. Lantas berjalan pelan, hampir berjingkat mendekat pintu ruang tamu. Sepatu kets yang membungkus kakinya meredam suara langkah di ubin keramik teras yang keras. Karin batal mengetuk saat matanya tertumbuk sebuah jaket yang amat dikenalnya tersampir di sofa. Dadanya berdebar kencang dipenuhi kecurigaan yang tiba-tiba bergelimang membuncahi perasaannya.

 

Karin tak sanggup untuk terus bertahan berdiri di balik jendela kamar Mama, mendengar gemuruh napas Mama di antara deru napas laki-laki itu. Karin tak mampu menjelaskan perasan macam apa yang berkecamuk dalam dadanya, antara marah, sedih dan kecewa campur aduk. Karin berlari keluar, menyetop taksi, dan menangis di dalam taksi yang membawanya berputar-putar sebelum berhenti di depan bar.

 

Karin berdiri di atas jembatan, menatap arus sungai yang mengalir lemah di bawahnya. Riak air kecoklatan yang membawa beban limbah sepanjang perjalanannya yang melelahkan melintasi lembah, jurang, hutan-hutan, pedesaan, membelah pemukiman kumuh perkotaan,—dan berakhir di muara—permukaannya gemerlap kemerahan disepuh matahari senja. Jika Karin terjun ke sana, tentu dia akan mati tenggelam kehabisan napas. Paru-parunya akan pecah dipenuhi air yang membuncah. Dan jasadnya akan hanyut dibawa arus dan menjadi santapan ikan-ikan di muara. Nasibnya lebih tragis dari bidadari yang akan diperankannya dalam pentas nanti malam.

Balai Budaya Tangerang, 2005

Kidung Malam Sehabis Hujan

16 Aug 2007 In: Uncategorized

(Jurnal Nasional, Desember 2006) 

Taksi itu menabraknya sangat keras. Dalam tersentak, sekejap sorot lampu taksi yang menyilaukan bagai matahari menerkam bola matanya. Sesudahnya ia terpelanting. Kepalanya membentur aspal dan pembatas jalan. 

Aku melihat laki-laki itu terkapar di sisi jalan. Sebelah sepatunya terlepas, telungkup tak jauh dari kakinya. Taksi yang tadi menabraknya telah melesat melarikan diri. Aku berdiri tertegun beberapa langkah dari tubuhnya. Suara benturan masih mengiang di telingaku, membuat jantungku mengerut. Darah meleleh dari kepalanya, mengalir ke aspal, berkilau tertimpa redup lampu jalan. Serta merta rasa ngeri menyergapku, menjalar melalui lidah. Kakiku seperti amblas ke dalam aspal. Sulit kutarik untuk melangkah mendekat, menolongnya atau segera berbalik kembali masuk ke mobil dan meninggalkannya. Jalanan sunyi sekali, tak ada kendaraan melintas. Kutahu jalan ini memang jarang dilintasi kendaraan apalagi di malam habis hujan seperti ini.

Masih kutangkap suara erangannya yang lirih. Kubayangkan rasa sakit yang menyerang sekujur tubuhnya; bertarung sengit melawan maut yang merambat pelan dan menyakitkan melalui ujung rambut dan bulu-bulu matanya. Kalau aku segera membopong tubuhnya ke dalam mobilku dan membawanya ke rumah sakit terdekat barangkali maut masih bisa ditahan merenggutnya. Aku ingat, rumah sakit terdekat berjarak sekitar dua kilo dari sini. Tapi harus melalui jalur memutar sehingga jarak yang harus kutempuh bisa berlipat jauhnya. Aku tidak mungkin menerobos pagar pembatas jalan. Aku memang bisa ngebut karena jalanan sudah sangat lengang. Namun aku khawatir maut lebih dulu menerbangkan nyawanya sebelum aku mancapai rumah sakit. Tentu urusan bisa lebih panjang dan merepotkan. Mereka akan mencecarku dengan pertanyaan-pertanyaan. Belum lagi polisi yang juga bakal menginterogasiku. Salah-salah aku jadi tertuduh. 

Meskipun remang dan wajahnya hanya tampak separuh, aku tak mungkin melupakan laki-laki itu. Ia yang saban petang duduk di kafe itu menikmati secangkir kopi. Kursi yang dipilihnya adalah paling pojok. Tatapannya lebih sering dibuang ke luar mengamati lalu lalang kendaraan. Dari sudut yang lain aku dapat melihat wajahnya dengan leluasa. Hanya sesekali secara tak sengaja sekilas ia melihatku. Selebihnya asyik dengan pikirannya sendiri, mengamati lampu-lampu jalan. Wajahnya yang murung tampak pucat dibawah lampu yang tidak terlalu terang. Ia duduk berlama-lama di sana , mengaduk-aduk kopi. Suara sendok menyentuh dinding dan dasar cangkir terdengar merdu. Harum kopi mengambang memenuhi ruangan bersama senandung Anggun C Sasmi snow on the sahara yang mengalun. 

Mata sayunya memberi kesan meremehkan situasi sekitarnya; tak memerlukan siapa pun untuk sekadar menemaninya ngobrol. Kesan itu tampak makin tegas manakala ia menyulut rokok dan mengembuskan asapnya lurus-lurus ke depan. Jika kopi di cangkirnya habis, ia melambai pada pelayan minta ditambah. Pernah suatu kali saat pelayan itu selesai menambahkan kopi di mejanya, aku memanggil pelayan itu dengan suara sedikit nyaring, berharap laki-laki itu menoleh ke arahku. Namun ternyata tidak. Ia sama sekali tak menoleh, asyik mengaduk kopi. Di sebelahnya tergeletak sebuah buku tipis. Buku itu sekadar diletakkan, tak pernah dibuka kecuali barangkali membaca judul sampulnya.

 

Aku selalu lebih dulu keluar meninggalkan kafe, berjalan melintasinya yang tetap asyik memandang keluar. Suara ketukan sepatuku yang kubuat menghentak nyaring pun sama sekali tak mampu mengusiknya. Kadang aku ingin menghampiri dan menyapanya. Barangkali aku akan sekadar bertanya tinggal di mana, apa pekerjaannya. Barangkali akan kuceritakan tentang diriku. Tentang kesendirianku. Termasuk kebiasaan baruku menikmati secangkir kopi di kafe ini. Seandainya ia bertanya kenapa aku memilih kafe ini, akan kujelaskan aku menyukai atmosfer Paris yang dihadirkan di kafe ini. Tapi tak perlu kujelaskan kenapa aku menyukai Paris .

Tapi peristiwa itu tak pernah terjadi. Jangankan ia membalas sapaanku dan bertanya serupa itu, melihat tampangnya yang tampak meremehkan membuat niat itu lekas-lekas kuurungkan. Bahkan sikapnya tak berubah saat melihat pelayan jatuh terpeleset hingga cangkir kopi yang dibawanya jatuh berkeping-keping di lantai. Heran, apa yang menghuni kepala laki-laki itu.

Sebenarnya sesekali aku ingin duduk lebih lama di kafe itu, menunggunya lebih dulu keluar. Akan kujajari langkahnya dan kusenggol bahunya. Dan ini pernah kulakukan. Namun lagi-lagi ia sekadar memandangku sekilas. Dan hanya sekilas itu mata kami bertubrukan. Selebihnya ia melambatkan langkahnya, menyilakan aku berjalan lebih dulu.

 

Semula aku tidak memperhatikan laki-laki itu. Aku baru menyadari setelah hari ketiga ia duduk di kursi yang sama; membuang tatapannya ke luar. Aku semakin hapal dengan caranya duduk yang begitu tenang. Di bawah meja kedua kakinya yang dibungkus sepatu pantofel saling mengunci. Caranya mengangkat tangkai cangkir ke bibirnya begitu hati-hati seperti mengerjakan sesuatu yang begitu berbahaya jika sedikit saja salah. Aku berpikir ia barangkali tengah menunggu seseorang. Mereka membuat janji bertemu di kafe ini. Namun sampai kafe mau tutup tak juga muncul seseorang yang akan menemuinya. Ia berjalan keluar dengan langkah sedikit gontai. Melintasiku yang diam-diam terus mengamatinya dari dalam mobil. Kubunyikan klakson keras-keras. Namun ia hanya menoleh selintas. Tatapannya tetap kosong dan murung.

 

Barangkali kebiasaan laki-laki itu duduk di kafe ini hanya iseng untuk menyiasati kejenuhan setelah bekerja seharian. Ya, mungkin laki-laki itu kesepian tinggal sendirian di kota ini. Ia baru dimutasikan kantornya ke kota ini. Ia merasa asing dengan lingkungan kantornya yang baru. Hmm…

 

Aku jelas berbeda, kebiasaan baruku duduk di kafe sama sekali bukan berawal dari keisengan. Redaktur majalah perempuan tempatku bekerja memintaku menulis profil tentang kafe. Aku melakukan janji wawancara dengan manajer kafe bergaya Paris ini. Dua kali dia meminta maaf belum bisa bertemu denganku dengan alasan ke luar kota . Aku yang sudah telanjur datang, duduk menikmati suasana kafe yang ternyata membuatku begitu kerasan. Maka seusai melakukan wawancara dengan menejer kafe pada hari ketiga itu, aku duduk lebih lama, sembari menyelesaikan tulisan di kafe ini. Tentulah aku bisa melakukannya dengan santai. Karena toh tak ada anak-anak atau suami yang menungguku di rumah—sebagaimana perempuan yang telah berumur kepala empat seperti diriku.

***

 

Kulihat ia bergerak-gerak. Suara erangnya makin terdengar lirih. Kedua kakiku masih tertancap sukar kugerakkan. Kebimbangan menggelimangi perasaanku. Ada dorongan yang amat kuat untuk menolongnya. Namun manakala teringat sikap laki-laki ini yang begitu angkuh menjengkelkan selama di kafe, membuatku ingin membalaskan dendam dengan cara menyentuhkan ujung sepatuku ke wajahnya, lalu dengan angkuh pula kutatap wajahnya yang mengiba meminta tolong.

 

Aku masih bergulat dengan pikiranku ketika kudengar erangnnya terdengar nyaring kembali. Tangannya bergerak-gerak. Mulutnya mendesiskan rintihan meminta tolong. Tiba-tiba keinginan menyelamatkan nyawanya lebih kuat mendorongku. Kulihat lukanya cukup parah. Kutarik kakiku melangkah pelan mendekatinya. Tapi jelas aku tak mungkin sanggup membopong tubuhnya ke dalam mobil. Diseret? Salah-salah lukanya makin parah. Kecemasan dengan lekas mengerayangi perasaanku. Tak seorang pun melintas di jalan untuk kumintai tolong membopong tubuhnya ke dalam mobilku. Lama aku celingukan mencari-cari siapa tahu ada orang yang melintas, dengan kecemasan yang makin deras mendera perasaanku.

 

Untunglah saat hampir putus asa aku melihat sorot lampu sepedar motor di kejauhan yang akan melewati jalan ini. Aku segera menghadangnya. Tanpa banyak bertanya pengendara motor itu membantuku menggotong tubuhnya ke dalam mobil. Lantas kutancap gas. Berkali-kali aku menoleh ke jok belakang, memandang tubuhnya terguncang-guncang dan mulutnya mengerang-erang.

 

Kupelankan laju mobilku ketika erangannya tak terdengar lagi. Aku merinding, cemas jangan-jangan ia sudah keburu mati. Kuhentikan mobilku, memeriksanya untuk mendapatkan keyakinan dia sudah benar-benar mati atau sekadar pingsan. Aku meraba degup jantunnya. Sudah amat lemah. Aku seperti mendapat firasat buruk. Begitu saja pikiranku tiba-tiba kembali bimbang. Kembali kulajukan mobil pelan mencari tanah kosong yang jauh dari perumahan penduduk. Kutemukan tanah kosong yang ditumbuhi alang-alang, kuhentikan laju mobilku dan bergegas turun, membuka pintu belakang dan pelan-pelan menyeret tubuh laki-laki itu keluar. Aku terus menyeretnya, melemparnya ke gerumbul alang-alang setinggi lutut… ***

 

Balai Budaya Tangerang, Januari 2006

Perjalanan ke Akherat

16 Aug 2007 In: Uncategorized

(Majemuk, Mei 2007) 

Di hadapanku berdiri sebuah pintu gerbang raksasa. Begitu besar dan tingginya gerbang itu sehingga aku tidak dapat melihat puncaknya yang berkabut. Sudah dua ratus tahun aku berdiri di sana, menunggu seseorang yang akan membukanya. Sekujur tubuhku terasa remuk. Aku gemetar menahan lapar. Detak jantungku sangat lemah, seakan tak mampu memompa darah. Ah, barangkali sudah tak ada lagi darah yang mengalir di balik kulit tubuhku. Setelah berjalan selama seratus tahun aku tiba di depan pintu gerbang ini, tak seorang pun yang kutemui. Jadi rasanya wajar saja aku merasa lapar. Aku memang tak sempat membawa bekal apa-apa ketika hendak melakukan perjalanan. Keputusan itu memang tidak dengan rela kuambil. Melainkan terpaksa, lantaran aku memang belum siap melakukan perjalanan yang sangat panjang ini.

Hunjaman belati Kastub yang telah memaksaku meninggalkan dunia dan melakukan perjalanan panjang yang berujung di depan pintu gerbang raksasa ini. Aku tidak tahu dengan jelas kenapa Kastub begitu bernafsu menghujamkan belatinya ke jantungku. Aku sudah berjuang setengah mati mengelak, tetapi Kastub terus merangsek menantangku mengadu nyawa.

Aku berusaha menghindar. Tapi Kastub makin menantangku dengan kata-kata yang menyakitkan, “Hai Badri, ayo buktikan kalau kamu benar-benar bukan seorang pengecut yang cuma bisa menetek!”

Untuk membela kehormatan mau tak mau aku meladeni tantangannya. Kami bertarung di sebuah gudang bekas peternakan itik. Pertarungan berlangsung secara tidak seimbang. Kastub menghunuskan belati berkilat-kilat. Tubuhku gemetar, keringat dingin merembes deras di seluruh pori-poriku. Terus menerus aku terdesak. Kastub menubrukku. Aku mengelak, bajuku robek terenggut cengkeraman tangannya yang hitam kekar. Aku mencoba memasang kuda-kuda sekenanya. Kastub menerjangku, lalu kami bergulingan di lantai yang lembab penuh kotoran itik.

Tangannya sangat kuat membelitku. Lantas kepalan tangannya menghantam wajahku. Gigiku tanggal, bibirku pecah. Darah meleleh deras mengotori baju. Aku merasakan sakit luar biasa. nyeri merambat dengan cepat ke kepala. Tetapi aku mencoba bertahan. Ujung belati hampir menyentuh dadaku. Tanganku yang gemetar dan licin oleh darah dan keringat yang mengucur berjuang sekuat tenaga menahannya. Tetapi tenagaku makin melemah. Belati itu berhasil menembus dadaku, melesak tepat di jantungku.

Tanpa sempat mengerang aku tewas seketika. Tetapi Kastub tidak puas juga, ia berkali-kali menghujamkan belatinya ke dada dan perutku. Darah muncrat ke mana-aman. Kastub mendengus, menatapku beberapa jenak sebelum meninggalkan mayatku yang terkapar bergelimang darah.

Aku tidak menyakangka Kastub benar-benar akan membuktikan ancamannya beberapa hari lalu. “Ingat Badri, aku tak segan-segan menghabisimu jika dalam waktu dua hari ini kamu tidak memutuskan untuk bergabung dengan kami.”

Mendengar ancaman itu hatiku miris. Selama ini aku hidup di antara orang-orang lemah lebut yang senantiasa mengajarkan sikap ramah dan santun. Aku hampir tidak pernah mengenal kekerasan, dengan kehidupan anak-anak jalanan di perempatan, terminal atau tempat-temat hiburan. Bahkan sekadar untuk nongkrong ngobrol di pinggir jalan. Hidupku bergelut dnegan buku-buku, kitab suci, mengajar anak-anak tentang budi pekerti. Aku tak punya waktu bermain-main yang tak berguna, apalagi terlibat tawuran. Perkelahian hanya sesekali kubaca dalam berita-berita di koran. Kastub menuduhku berkomplot dengan walikota menertibkan preman dan para pedagang kaki lima.

Aku menengadah, di atas puncak pintu gerbang itu kabut semakin tebal. Kakiku terasa pegal dan bengkak-bengkak. Berapa ratus tahun lagi aku menunggu seseorang yang akan membukakan pintu gerbang dan menolongku dari penderitaan tak terperikan ini. Aku duduk bersandar pada pintu gerbang itu sambil mengenang perjalanan panjang yang sangat ganjil itu. Sepanjang perjalanan aku tak menemui apapun kecuali gugusan bukit pejal berselimut kabut kelabu. Aku berjalan hampir tidak dengan kakiku. Betapa sedih menempuh perjalanan tanpa seorang teman kecuali bisikan-bisikan yang seolah membimbing dan memandu perjalananku.

“Kenapa kamu mati dengan cara buruk, Badri?”

“Bukan aku yang menginginkan cara seperti itu. Aku hanya bertahan dari serangan Kastub.”

“Kenapa kamu menyalahkan Kastub?”

”Karena Kastublah yang membunuhku.”

“Kastub tentu punya alasan menyerangmu.”

“Aku sudah berusaha menghindar, tapi Kastub terus menghinaku, memaksaku meladeni tantangannya.”

“Kamu kan seharusnya tahu caranya agar Kastub tidak menantangmu.”

“Kenapa kamu menyalahkan aku?”

“Karena kamu lebih tahu dari Kastub.”

Tak ada angin. Seluruh alam membisu. Hanya aku yang bergerak sendirian menyeret langkah. Gugusan perbukitan sepanjang jalan mengonggok kelam. “Kamu mementingkan diri sendiri, Bardi, kamu egois.” “Aku tidak egois. Aku hanya tak mau terlibat dengan dunia Kastub yang hitam, penuh kekerasan.” “Kamu egois, buktinya kamu tidak mau memahami dunia Kastub yang kamu anggap hitam. Kamu tidak mau memahami kenapa dunia mereka hitam. Kamu cuma bisa menyalahkan dan menghindar. Kamu tidak pernah mau menyelesaikan persoalan.”

Tenggorokanku terasa kering seperti terbakar. Barangkali sudah tak ada setetik pun air yang tersisa di tubuhku. Tapi aku hanya bisa menahannya karena aku tidak pernah bertemu sungai atau telaga atau mata air setespun. Aku merasa sangat tersiksa sepanjang perjalanan. Penderitaanku makin bertambah oleh suara bisikan-bisikan sinis yang hanya memojokkanku. Kenapa aku tersiksa seperti ini.

Dulu guruku pernah berkata bahwa nanti setelah mati ada dua malaikat yang memberikan pertanyaan yang harus dijawab dengan benar. Ya, lamat-lamat masih kuingat

“Barangsiapa yang rajin beribadah dia akan mudah menjawab pertanyaan-pertanyan itu. Dua malaikat itu akan menghajar mereka yang tidak bisa menjawab pertanyaan secara tepat. Merekalah orang-orang yang ingkar pada Tuhan, menolak sujud. Dua malaikat akan terus menerus menghajar mereka sebelum Tuhan sendiri mengadili mereka.”

Tapi kenapa sekarang aku tidak berjumpa dengan mereka. Apakah karena aku mati secara tidak wajar, mati dibunuh Kastub yang memintaku untuk bergabung dengan kelompoknya? Apalah aku salah menolak bergabung dengan kelompok Kastub seperti dikatakan bisikan-bisikan itu?

“Kamu memang egois, tidak mau mengakui kesalahan. Kamu dan kelompokmu selau merasa diri paling benar dan bersih. Kalian tidak mau memahami orang lian.”

“Siapa kamu? Apa maumu?”

Tak ada sahutan. Lengang dan mencekam. Pohonan tertunduk lesu, matahari menyorot merah di sebuah ufuk, entah barat entah timur—aku kesulitan menebak arah. Sebentar lagi gelap. Terang dan gelap ribuan kali silih berganti kulewati. Aku berjalan terus menerus dengan pikiran dipenuhi keputusasaan akan bertemu dengan seseorang yang mau menjelaskan sampai kapan perjalanan ini akan berakhir.

“Kamu memang cengeng.”

Aku tidak peduli lagi dengan suara bisikan itu. Kini di hadapanku menganga jurang yang teramat dalam hingga dasarnya pun tak kelihatan. Di tengahnya ada jembatan gantung yang begitu panjang yang ujungnya kelihatan sayup-sayup di kejauhan. Inikah jembatan sirotol mustaqim seperti yang diceritakan orang-orang itu? Tapi ini berbeda dengan jembatan yang pernah diceriatakan guruku dan kuceritakan kembali pada murid-muridku.

“Bagaimana kami bisa lewati jika jembatan itu lebih kecil dari rambut yang dibelah tujuh, Ustad?” tanya seorang muridku.

“Tergantung dari amal perbuatan kita di dunia. Bagi yang ingkar, begitu menginjak jembatan tubuhnya akan terbelah.”

Setelah entah berapa puluh tahun aku tergantung-gantung tibalah aku di seberang jurang. Di sini pun keadaan tetap sama: lengang mencekam. Tetapi aku tidak boleh berhenti, karena hanya akan menambah kesengsaraan. Meski jiwa ragaku teramat letih, itu lebih baik. Ya, lebih baik aku terus menerus menempuh perjalanan sampai ke puncak kesengsaran. Bukankah puncak kesengsaraan adalah kebahagiaan?

Tapi kesengsaraan demi kesengsaran tak juga membawaku pada kematian yang akan membebaskan dari segala penderitaan. Otak dan seluruh jaringan syaraf-syarafku seolah tak mau berhenti bekerja menyiksaku.

“Inilah perjalanan bagi orang-orang yang mati tidak wajar.”

“Tapi aku tidak berniat mati secara tidak wajar.”

”Mulutmu boleh saja tidak mengakui. Anggota tubuhmu yang lain mengiyakan.”

Aku tercekat. Diam-diam aku merasa bersalah dan luar biasa menyesal. Dan perasaan itu telah membuatku teramat sangat tersiksa. Perasaan bersalah dan menyesal itu telah meremuk redamkan tubuhku. Kulitku melepuh dan terkelupas, daging tubuku mencair dan meruapkan bau yag teramat busuk. Tinggallah tulang-belulangku yang bergetar dan retak-retak mengepulkan asap. Kepedihan tak terperikan menyengat. Pelan-pelan tubuhku menyatu kembali. Begitu berganti-ganti terus menerus serupa sudah diprogramn secara mekanis.

***

Tiba-tiba kudengar pintu gerbang berderak. Aku bangkit. Pintu sedikit terkuak.

“Masuk,” ujar suara di balik pintu.

Aku pun masuk. Tapi seseorang menahannya. Menatapku dari ujung rambut ke ujung kuku. “Kamu Badri?”

“Ya, aku Badri.”

”Maaf Badri, kamu salah masuk. Silakan keluar, lalu berjalanlah ke arah kiri. Barangkali di situ ada pintu yang cocok untuk kamu.”

Aku menuruti sarannya. Tapi manakala aku keluar terlihat di depanku jurang yang menganga.

Cirebon, 2006

Malam Perempuan

16 Aug 2007 In: Uncategorized

(Republika, 20 Februari 2005) 

Tengah malam. Hujan. Aku duduk menghadapi komputer. Aku mau menulis cerita tentang seorang perempuan yang kini tidur di kamarku. Aku baru mengenalnya kemarin subuh. Waktu itu,  sepulang dari masjid, aku berjalan cepat menembus gerimis yang rapat. Sepintas kulihat langkahnya sempoyongan. Aku hampir saja menabraknya.

Tak urung perempuan itu terjatuh. Aku mendengar dia merintih kesakitan. Di bawah gerimis dan temaram lampu serta bayangan pohon kulihat pipinya memar seperti habis dihajar. Dari hidung dan sudut bibirnya yang pecah mengalir darah. Aku berhenti melangkah dan menoleh. Rintihannya terdengar makin jelas. Matanya menatapku, seperti melambai memohon pertolongan. Dengan perasaan sedikit was-was aku meraih tangannya dan memapahnya perlahan. Gerimis yang makin rapat membuat kuyup pakaian kami.

Apakah aku akan menulis cerita seperti apa yang dituturkannya? Rasanya terlalu tragis. Dia adalah korban tsunami yang terlunta-lunta di Jakarta. Seluruh keluarganya hilang, termasuk suaminya yang baru dua hari  menikahinya. Upacara pernikahan baru saja usai ketika tiba-tiba gelombang tsunami datang menghantam. Segalanya berhamburan bagai kapas-kapas dihempaskan angin. Segalanya lumat. Ia sendiri menemukan tubuhnya tersangkut di pucuk pohon kelapa.

Tak tahu ia gembira atau sedih mendapati dirinya selamat. Ia ke Jakarta hendak menemui beberapa kerabatnya. Tetapi begitu tiba di bandara seluruh perbekalannya habis dijarah perampok. Sungguh tragis, bukan? Tapi, di belantara Jakarta yang semrawut, kisah setragis apa pun kadang sulit menimbulkan rasa haru.

Dia mengaku bernama Cut Tari.  Berkulit putih dengan wajah cantik khas perempuan Aceh. Tapi, bisa jadi kisah tragis itu hanya rekaannya. Siapa tahu dia seorang anggota Inong Bale* yang diselundupkan untuk membuat kekacauan di Jakarta, yang kemudian mabuk melihat gemerlapnya kota dan membelot dari kesatuannya. Dia ingin menikmati Jakarta, dan tiba-tiba ingin jadi bintang sinetron seperti banyak perempuan Aceh yang kini jadi artis top di Jakarta. Toh postur tubuh dan parasnya punya cukup syarat untuk itu.

Sebenarnya aku ingin bertanya bukan hanya soal tsunami yang menyapu kotanya hingga luluh lantak, tapi juga tentang peperangan dan kerusuhan politik yang terus menerus melanda Aceh, ketika dia bercerita semalam. Aku tidak melakukannya karena aku pikir dia masih shock akibat peristiwa yang baru dialaminya. Selesai puas menceritakan kepedihannya pada kami,  ibuku mempersilahkan dia mandi, sarapan, lalu tidur. Aku melahap sisa nasi goreng yang tidak dihabiskannya.

“Lalu apa yang bisa aku lakukan untuk menolong kamu?” tanya ibuku. Aku hanya memandang kerut wajah dan bibirnya yang bergetar.
Cut Tari diam saja. Mukanya pucat, tapi tetap menarik. Terus terang, aku langsung jatuh cinta.
“Baiklah kalau begitu, kamu boleh tinggal di kamar sebelah. Sampai kapan pun kamu mau,” ujar ibu.
Aku sepakat dengan keputusan ibu seperti itu, karena aku memang tiba-tiba berhasrat memperistri Cut Tari.
Kini di dalam sunyi begini aku ingin menulis cerita tentang dia. Tapi begitulah, rasanya susah sekali. Barangkali aku akan menulis sajak saja.
menatap matamu

adalah menguliti buku cerita
setiap kali mesti dibaca
dan dinikmati
menurutkan halaman demi halaman
hingga suatu saat terhenti
di ujung hari**
    

***

Aku mendapatinya sedang membaca sajak itu suatu hari. Barangkali bukan cuma sajak itu yang dibacanya. Karena di situ  ada buku-buku, tumpukan koran, majalah, surat-surat, proposal serta tetek bengek lain yang kudokumentasikan dengan agak rapi. Seandainya bukan Cut tari yang berani mengacak-acak harta kekayaanku itu, pasti aku sudah mencak-mencak.
“Kamu suka bacaan apa, Cut?” tanyaku pelan, tapi tak urung membuat dia terkejut. Lalu meminta maaf.

“Tidak apa-apa, Cut. Bacalah yang kamu suka.”
Sebenarnya aku mau memancingnya untuk kembali bercerita melanjutkan ceritanya yang terpenggal tempo hari. Aku juga memancingnya supaya dia bertanya tentang aku. Dan lain-lain. Sayang, dia malah menghindar dan masuk kamar.  Ibu menatapku tajam ketika aku hendak mengejarnya ke sana. Aku mencoba menahan diri dan bersabar menghadapi perempuan ini. Sebuah sikap yang kupikir cukup bijaksana. Bukankah kata orang cinta memerlukan pengorbanan? Tapi sebentar kemudian Cut tari keluar lagi. Mengganti pakaiannya dengan baju longgar dan kerudungnya yang panjang sampai ke punggung.

Setelah dia mematung cukup lama, dia berkata pada kami,
“Terima kasih, kalian sudah menolong saya. Sekarang saya harus pergi.”
“Ke mana?” tanyaku tak sabar.
“Pulang.”
“Ke Aceh?” tanyaku dan ibu hampir serempak.


***

Tengah malam. Hujan. Aku duduk di depan komputer. Aku mau menulis cerita tentang Cut tari. Perempuan yang sekarang entah berada di mana. Tiba-tiba aku sangat merindukannya. Bermalam-malam tidurku dipenuhi mimpi tentang perempuan itu. Dia makin cantik di sana. Ternyata dia seperti khayalanku, seorang anggota Inong Bale.
“Mau apa ke Jakarta?” aku bertanya.
Dia tidak menjawab, hanya mencibir.
“Cut Tari, siapa kamu sesungguhnya? Mau melamar jadi artis sinetron seperti Cut Keke?”
“Diam kamu brengsek.”
“Tidak, Cut. Jawablah pertanyaanku.”
“Dengar, Aku mau membom Jakarta!”
Astagfirullah! Suara Cut Tari terdengar keras penuh dendam dan kebencian. Mimik serta tatapannya sngat tidak bersahabat.
“Cut, apa salahnya Jakarta?”
“Jakarta tidak bersalah. Para penjajah itu berada di sana. Mereka harus dihancurkan.”

Cut Tari mendorongku hingga aku terpelanting dan terinjak-injak ribuan pengungsi korban tsunami yang berebut makanan yang dilempar dari helikopter di udara dengan suara menderu-deru. Susah payah aku bangkit dan berusaha mengejarnya. Cut Tari lenyap di tengah pengungsi yang terus berdatangan. Kerudung panjangnya makin nampak kelabu di mataku.
“Cut! Jangan tinggalkan aku, Cut…”
Pada malam yang lain dalam mimpiku, dia masih menatapku dengan ekspresi yang tak kalah dingin.
“Cut.”
Cut Tari tertawa, katanya, “Kamu adalah tawanan kami yang akan kami peralat. Bukankah kamu pengarang cerita detektif yang cukup tahu tempat-tempat strategis di Jakarta. Kuharap kamu bisa bekerja sama kecuali ingin kami bunuh.”


***

Aku terbangun dari mimpi sialan itu. Wajah Cut Tari makin lengket dalam kepalaku. Wajah yang kuyu dan melankolis. Kuingat lagi bibir tipisnya yang berdarah saat kutemui subuh yang basah itu. Juga hidungnya yang kecil runcing di mana darah kental mengering di lubangnya.
Seperti masih terdengar suaranya yang parau saat dia menceritakan bagaimana gelombang besar itu menghantam kotanya, menyeret seluruh orang-orang yang dicintainya, melenyapkan riwayatnya.

Kemudian dengan kekuatan yang tersisa dia naik pesawat ke Jakarta. Aku tak sanggup membayangkan kisah berikutnya. Kisah bagaimana para perampok menjarahnya di tengah perjalanan dalam taksi.
Sebulan setelah aku berhasil melupakan kehadirannya yang misterius, aku kembali melihat Cut Tari. Dia turun dari sedan bersama seorang laki-laki yang wajahnya sering muncul di televisi, masuk plasa. Ketika aku berusaha membuntuti mereka, aku kehilangan jejak. Mereka segera lenyap ditelan keriuhan plasa yang sedang menggelar diskon besar-besaran.

Hari-hariku kembali dipenuhi bayangan Cut Tari. Menyesal juga tempo hari melepasnya begitu saja. Mestinya aku memaksa dia bercerita lebih jelas mengenai dirinya. Berita tentang bencana tsunami memang mulai sayup-sayup di televisi, berganti dengan berita tentang penyelewengan bantuan. Tetapi bencana itu makin  terbayang jelas dan mengganggu tidurku. Aku tak tahu, apakah ini cuma ilusi seorang pengarang kampungan macam diriku yang sedang jatuh cinta pada Cut Tari.

Kembali kutulis sajak-sajak tentang keindahan Cut tari. Tetapi, meski seluruh rasa rindu telah kutumpahkan dalam sajak. Tetap saja ada yang tak bisa kuungkapkan di sana. Setiap kata tak pernah bisa lengkap menuntaskan kenyataan. Seperti juga kata-kata yang diucapkan Cut Tari malam itu.
“Kini tak ada lagi tempat untuk melanjutkan riwayatku.”
Suara lirih itu makin lamat terdengar dalam hembusan angin subuh yang basah menyusupkan resah.
“Juga di kota ini.”

Terus terang aku tidak bisa mengomentari ucapannya. Aku malah terhanyut membayangkan gurat bibirnya. Tatap matanya telah melemparkanku ke tebing-tebing curam, menjebloskanku dalam lembah sunyi. Tanganku menggapai-gapai, timbul tenggelam dalam ngarai yang ngeri*** Kubaca sepenggal sajak yang diam-diam ditulisnya entah untuk siapa. Aku menemukannya di antara tumpukan buku.

akhirnya aku pergi juga
dari kesepian bertahun-tahun
pohon-pohon membukakan jalan
bagi pengelanaan malamku****


***

Tengah malam. Tak ada hujan yang turun. Deru kendaraan di luar sayup-sayup terdengar. Aku tak mampu lagi menulis cerita atau sajak bahkan sepotong kalimat pun untuk melukiskan kehilanganku. Kubiarkan pikiranku melambung jauh menyusuri kekosongan di balik awan. Kerlip bintang, syahdu cahaya bulan mengantar pengembaraan. Pikiranku terus mendaki kehampaan ruang. Sunyi yang membentang.

Bagaimana kutuliskan keadaan alam raya yang muram ini? Aku hampir menyentuh cakrawala yang pucat ketika tiba-tiba kudengar sesuara yang amat kurindukan di antara ketukan pintu.
Aku tergeragap meraih gagang pintu. Ketika terkuak kulihat di luar Cut Tari berdiri menggigil. Mukanya pias hampir beku. Tatap matanya kosong. Lalu bibirnya yang bergetar membiru berucap,
“Tolonglah aku, mereka mengejarku.”

Cirebon, Februari 2005 Keterangan
* Gerakan perempuan bersenjata di Aceh.
** Istri, sajak Asa Jatmiko.
*** Badai, sajak Nenden Lilis A.
**** Mi’raj, sajak Nenden Lilis A

 

Tersesat di Pasar Malam

15 Aug 2007 In: Uncategorized

(Pikiran Rakyat, 21 Agustus 2004) 

KELUAR dari kerumunan judi sintir, laki-laki itu berhenti sejenak di pinggir jalan. Jemarinya menyentuh getah pohon, terasa lengket di kulit telapak tangannya yang halus. Malam purnama yang terang, jalan kecil di hadapannya memantulkan cahaya bulan. Mengherankan baginya dapat menemukan malam seperti ini. Aku sungguh tak menyangka, katanya dalam hati, tapi ini sungguh nyata. Dari tiap gang di sepanjang jalan di hadapannya terus bermunculan orang-orang mirip arus air. Mereka pasang-pasangan sambil menuntun anak-anak mereka yang berlari-lari kegirangan. Remaja-remaja berjalan berkelompok. Tawa renyah mereka serupa orkes yang merdu meningkah embus angin menggesek daun, reranting dan kerikil terinjak langkah kaki.

Di belakang punggungnya hamparan tanah berumput yang tak seberapa luas semarak oleh lampu-lampu minyak para penjual aneka jajanan; soto, bakso, es campur, ketoprak, rujak, rokok, kacang dan jagung rebus serta tak ketinggalan permainan judi sintir yang paling meriah dikerubuti di pojok lapangan; di belakang tenda misteri, sebuah tenda yang menyajikan tontonan hantu. Ada dua kerumunan sintir. Dua-duanya ramai. Rupanya pengunjung secara bergiliran nongkrong mengerumuni. Setelah kalah main di sebelah sana, pindah ke sintir yang lainnya. Sementara anak-anak kecil histeris di atas komidi yang diputar dengan kencang. “Terbanglah ke langit!” seru para lelaki pemutar komidi. Mereka bertelanjang dada. Punggung mereka tampak berkilat karena keringat.

“Sampai ke bulan, ma!”

Hamparan tanah berumput itu dikelilingi pepohonan dan bentangan sawah di sebelah utara; sebelah selatan adalah perkampungan yang dihalangi lintasan rel kereta, sementara sebelah barat jalan aspal yang dilalui delman dan colt.

Laki-laki itu menelengkan kepala dan mengerjap-ngerjapkan matanya. Ya, sungguh nyata. Aku harus ke sana, pikirnya. Ia berjalan lagi memutari lapangan, kadang menyelusup di sela-sela kerumunan. Ia melihat kilau keringat di dahi mereka, suara pekik anak-anak, obrolan serba pendek dan terdengar tercekat. Bahkan desah nafas mereka terasa benar. Beberapa adegan ia rekam dalam ponsel. Dihirupnya aroma soto, bakso, harum rujak dan jagung rebus. Ia menelan ludah. Mencari-cari tenda yang menjual kopi. Tak ada. Duduk sebentar, merenggangkan ikat pinggangnya, melepas kaus kaki yang lembab. Memijit-mijit betis, ke tumit ke jari-jari kaki. Terpaksa dimasukinya tenda es campur. Dan perempuan penjual es campur segera menyodorkan segelas es campur penuh warna. Larutan es yang diparut, nenas, roti, avokad yang diiris kecil-kecil, sirop dengan warna merah jambu dan taburan susu seperti segumpal mimpi yang memukau. Ia melahapnya perlahan, menikmati sensasi beraneka rasa di lidahnya. Komidi terus berputar, sesekali diiringi pekik histeris. Mereka menyebutnya orsel, ombak banyu. Oh pintar sekali mereka membuat nama. Komidi yang berputar vertikal dinamakan karnaval.

Ia menatap kagum batang-batang besi yang berputar menciptakan warna-warna yang berkelebat pada matanya. Di sebuah pojok dilihatnya anak kecil yang celingukan sendiri dengan wajah hampir menangis. Ia ingin menghampiri dan menolongnya, ia berpikir orang tuanya tanpa sengaja terlepas dari genggaman tangannya. Orang tua yang barangkali saat ini sedang panik. Barangkali ia seorang ibu muda yang datang bersama teman sebayanya yang belum menikah. Mereka asyik ngobrol dan tertawa sehingga lupa anaknya. Ibu muda itu kini dibayangi kecemasan anaknya tak ditemukan dan suaminya akan mengganjarnya dengan pukulan dan perceraian.

Laki-laki itu terus menatap anak kecil yang sekarang mulai menangis. Ia buru-buru membayar es dan melihat anak itu tak ada lagi di tempatnya. Mudah-mudahan ketemu orang tuanya, pikirnya. Ia melangkah, mendekat dan masuk lagi ke kerumunan judi sintir. Tapi tiba-tiba sebuah teriakan membuatnya berbalik. Dilihatnya penjual es menunjuk ke mukanya. Ia ragu beberapa jenak dan menunjuk dada sendiri untuk meyakinkan dirinya yang dimaksud si penjual es. Perempuan itu mengangguk. Ia melangkah menghampiri. Dari kejauhan perempuan penjual es nampak mengembalikan uang yang tadi diterimanya sambil bicara dengan keras dan wajah yang tak menyenangkan. Ia nampak marah dan membentak laki-laki itu sehingga wajahnya menampakkan kebingungan dan gelisah yang sangat.

Laki-laki itu kemudian berlalu dan menjauh, duduk di tembok pagar pembatas. Didengarnya deru suara kereta. Tak lama muncullah kereta itu melintas. Benar, pikirnya. Ini tidak nyata. Tapi kemudian ia tidak memedulikannya. Sekarang ia ingin melihat tontonan itu. Tontonan yang baginya pada masa kanak sangat menakjubkan. Masih lekat di kepalanya; seorang perempuan seusia bibinya berpakaian baju tidur dengan rambut acak-acakan menari. Lantas muncul sejumlah penari laki-laki dari balik para penabuh gendang dan genjring membopong perempuan itu dan memasukkannya ke dalam kurungan dari jalinan bambu yang dibelah dan disayat tipis dengan ujung bukunya dibiarkan utuh sebagai buhul yang biasa digunakan untuk mengurung ayam.

**

KURUNGAN berbentuk oval ditutup kain hitam berhiaskan manik-manik berbentuk bunga. Sejumlah laki-laki itu meneruskan menari mengitari kurungan ayam yang diletakkan di tengah-tengah. Mereka menari bagai mabuk. Hentakan gendang dan genjring makin meninggi. Orang-orang menahan perasaan menunggu kurungan dibuka. Tak lama, sekitar sepuluh menit, kurungan diangkat, suara musik merendah seakan memberi kesempatan pada mata untuk berkonsentrasi menatap sintren. Tampaklah perempuan tadi telah berubah dengan dandanan ala putri cantik yang sering digambarkan sebagai Nyi Roro Kidul. Wajahnya yang semula kusut tanpa make up berubah cantik dengan polesan bedak dan gincu yang norak; rambutnya tersisir rapi berhiaskan semacam mahkota di atasnya. Mereka menyebutnya sintren. Orang-orang bersorak. Perlahan sang sintren menari. Ia dan anak-anak seusianya terpaku dalam ketakjuban. Menerka-nerka bagaimana caranya sintren berdandan secepat itu dalam kurungan sempit? Menurut cerita orang-orang tua mereka, Nyi Roro Kidul yang membantu mendandani sintren. Ia kemudian teringat perempuan yang sering lihatnya menari sintren menjadi gila.

Seluruh adegan itu masuk tanpa dapat dikeluarkan lagi dari kepalanya. Dan ia dihinggapi obsesi menyaksikan kembali semua itu. Maka dulu ia sering mengunjungi tontonan masres, yang makin langka. Sekarang orang di kampungnya bila kendurian tak ada yang nanggap masres. Organ tunggal lebih simpel, murah, dan lebih banyak mendatangkan orang.

Ia berjalan melenggang dalam kelengangan yang menghanyutkan. Di belakangnya suara pasar malam terdengar sayup-sayup. Sesekali berpapasan dengan becak atau orang bersepeda menuju pasar. Ia ingin melambaikan tangan dan menghentikan orang itu dan mengajaknya bercakap-cakap. Siapa tahu ia kenal ibu, demikian pikirnya. Atau jangan-jangan ibu itu sendiri. Tak ada bedanya. Mereka adalah perempuan-perempuan perkasa yang dikaguminya.

Jalanan sedikit menanjak. Ia melewati jembatan berpagar pipa besi. Jembatan yang dijadikan anak-anak muda sebagai tempat janji pertemuan. Mereka duduk di atas lonjoran besi. Ia mengenal sejumlah ungkapan dalam obrolan mereka. Ungkapan ganjil mengandung mistis.

Tetapi pada malam yang tak diduganya ini ia tahu ia tak akan menjumpai mereka. Ini malam untuk komidi putar, untuk judi sintir, untuk memekik histeris mendapat kecupan pacar di dalam remang rumah hantu.

Ia melewati jembatan dan terus berjalan lurus melintasi deretan kandang kerbau. Aroma khas tahi kerbau mampir di hidungnya. Disulutnya rokok. Dilihatnya mulut gang itu sepi. Tentu, penari sintren tengah larut di pasar malam.

Tidak ke pasar malam, sesuara tiba-tiba mengagetkannya. Dilihatnya seorang perempuan, muda dan segar; mengenakan baju tidur tipis yang memacu libidonya. Mampir bang, ujar perempuan itu santun. Ia merasa tak perlu menerjemahkan sorot mata perempuan itu. Ia mengangguk dan duduk. Barangkali perempuan ini dapat memberikan sedikit penjelasan tentang kecurigaan, pikirnya.

Ia sudah menemukan dirinya kembali berada di tengah pasar malam. Mampir, bang, ujar perempuan penjual es campur. Sungguh ajaib, pikirnya. Ia tak perlu heran bahwa dirinya memang berada dalam sebuah pasar malam yang ajaib. Hidup toh memang sangat ajaib, gumamnya.

Ini memang pasar malam ajaib, kata perempuan penjual es campur. Ia paham, di sini setiap orang bisa terbang ke langit dengan komidi putar yang mereka sebut ombak banyu.

Tapi barangkali aku harus pulang, katanya pada perempuan penjual es campur. Begitu Anda pulang pasar ini akan bubar, sahut perempuan penjual es campur.

Tapi kita harus pulang, bukan? Perempuan itu tak menghiraukannya, ia sudah larut dalam kesibukan memarut es, mengiris nenas, roti, kolang-kaling, avokad dan melempar senyum pada setiap pembeli.

Laki-laki itu terus bertanya dengan suara yang makin tinggi, tapi perempuan si penjual es dan semua orang yang berada di sekitarnya tak menghiraukannya. Mereka semua seperti gambar bergerak dalam layar; sama sekali tak mendengar suara laki-laki itu. Kemudian ia merasakan sebuah tangan merenggut kabel memori yang ditanam di kepalanya. Lantas didengarnya lengking suara anak-anak.  

Kebon Nanas, Juli 2004.  

Elegi Bulan Retak

15 Aug 2007 In: Uncategorized

(Pikiran Rakyat, 11 Februari 2006) 

BESOK, sebelum sinar matahari menyentuh tanah ia akan pulang untuk kalian. Akan ia tinggalkan mereka. Ia ingin memberikan seluruh dirinya pada kalian. Akan ia tinggalkan lampu-lampu jalanan yang redup menyergap langkahnya yang kerap limbung sempoyongan. Akan ia tinggalkan malam-malam panjang dan dingin di kamar sempit berlampu suram. Akan ia serahkan siang dan malam untuk kegembiraan kalian. Ia bertekad untuk sanggup melupakan semuanya sehingga ia dapat memiliki kalian sepenuhnya. Meski ia tak tahu apakah kalian masih mengenang dan menginginkan kepulangannya?

Akan ia lupakan mimpi-mimpinya menjadi pemain drama terkenal, mementaskan karya-karyanya di gedung pertunjukan yang megah dengan ribuan penonton. Akan ia lupakan kerling nakal perempuan-perempuan liar dalam diskotek. Sesungguhnya kerling mata mereka tak pernah sanggup menghapus ingatannya akan tatapan matamu yang teduh dan sendu. Lihatlah, senyum mereka yang mengerikan. Tawa mereka cekikikan. Tubuh mereka yang menggelinjang dibuat-buat saat diraba-raba. Tak pernah terpikir olehnya untuk membandingkanmu dengan mereka. Tak mungkin. Tubuh mereka begitu murahan dan menjijikkan. Meski kulit mereka halus dan menyemburkan aroma amat sensual dan menggairahkan. Seperti yang tengah ia hadapi sekarang….

Perempuan itu sengaja menyorong-nyorongkan buah dadanya ke mukaku dengan cara sangat kampungan. Tangan mereka begitu terampil meraba-raba. Ayo kita naik ke dalam, katanya dengan suara mendesah dan sedikit menghiba. Di telingaku itu sering terdengar seperti kepedihan yang mengharukan, bahkan manakala mereka bertengkar gara-gara berebut pelanggan. Kusentuh tengkuknya.

“Hei monyet, jangan rakus lu. Jam berapa sekarang, aplusan brengsek!”

“Dia ogah ama lu. Maunya ama gue!”

Kami, para lelaki brengsek itu, malah tertawa seakan mendapat tontonan segar melihat mereka bertengkar, saling tampar, dan hampir cakar-cakaran. Mereka baru akan dipisah jika keadaan sudah benar-benar mengkhawatirkan.

“Sudah, sudah, hentikan. Pergi kalian. Dasar pelacur murahan,”

Aku masih melihat mereka saling memaki. Suara mereka lamat-lamat, tertelan ingar bingar musik yang menggedor-gedor jantung dan seperti mau meruntuhkan dinding. Aku bangkit dari duduk, mengejar seorang dari mereka yang berjalan mencari tempat di pojok, tampaknya dia menangis. Aku menghampirinya. Jangan menangis, kataku, ikut aku. Dia langsung menyambut tanganku, menggenggamnya seperti mau menyerahkan seluruh hidupnya.

Di luar, orang-orang masih ramai nongkrong. Juga di langit, bintang-bintang ramai bertebaran. Tak sempat kutatap bulan yang pucat dan retak-retak. Aku menggandeng perempuan itu menapaki koridor pertokoan. Berjalan menjauh, menyetop taksi, mencari penginapan murah.

Begitu sampai di kamar penginapan, perempuan itu langsung menghenyakkan tubuhnya di kasur. Membisu. Murung. Aku tahu, dia sedang berpura-pura berlagak melankolis. Cukup menyebalkan. Tak kuacuhkan dia beberapa lama. Aku tak sudi merayunya. Lihatlah, dia mulai melirikku. Bibirnya sedikit bergetar saat berucap, kenapa diam saja?

Ia teringat aroma kopi yang saban pagi kau suguhkan. Aroma kopi yang bertahun-tahun tak ia hirup itu, hari-hari ini begitu menggoda hidungnya. Di sini ia memang tak pernah telat minum kopi tiap pagi. Tapi sungguh berbeda dengan aroma kopi yang kau suguhkan meskipun mereknya sama. Senyummu, suara anak-anak berebut gayung di kamar mandi, bunyi mangkok dipukul sendok penjual bubur ayam di jalan. Semuanya mengapung dan mengepung kepalanya.

Ia teringat bubur ayam dan nasi goreng buatanmu. Tatapanmu selalu menyegarkan pagi yang sendu. Ia menyesal dulu sering tak menghabiskan nasi goreng buatanmu dan lebih suka memilihi menyedot berbatang-batang rokok. Tak mempedulikan kata-katamu tentang bahaya merokok sebelum perut diisi terlebih dulu. Ia begitu rindu melihatmu yang dengan sabar tetap membelikan juga sebungkus rokok. Karena tak tega melihat ia gelisah, uring-uringan. Ia begitu sedih ketika kamu memintanya menjauh dari anak-anak kala ia merokok. Kasihan paru-paru mereka, katamu. Dulu ia kadang jengkel atas sikapmu. Terpaksa ia menunda keinginannya merokok lantaran anak-anak mengajaknya menemani mereka bermain, nonton TV, mengajari mewarnai gambar, main tebak-tebakan.

Tapi kamu lebih sering mendapati ia terkapar mendengkur setelah semalaman begadang memelototi layar komputer. Kamu enggan membangunkannya karena merasa percuma. Juga anak-anak, kamu melarang mereka mengganggunya. Ia bangun ketika rumah telah kosong kalian tinggalkan. Kamu mengantar anak-anak ke sekolah sebelum kamu sendiri berangkat ke kantor. Secangkir kopi yang telah dingin bersama sebotol air putih kamu sediakan di meja. Kamu memang selalu berpesan supaya ia terlebih dulu minum air putih sebelum minum kopi dan merokok. Tapi ia kerap memasukkan kembali air putih itu ke dalam kulkas.

Tanggal berapakah sekarang? Di dinding, kalender tahun lalu belum kuganti dengan yang baru. Warnanya sudah menguning. Tiba-tiba aku merasa sunyi. Seperti ada yang hilang ketika hendak kucopot kalender lama itu. Melipat dan membuangnya di kotak sampah. Sudah berapa tahunkah kalian kutinggalkan? Di dusun yang sunyi dan membuatku bosan setengah mati. Tak kuingat sudah berapa kali lebaran tanganku tak kalian cium. Sudah berapa kali aku berpindah-pindah menyewa kamar sempit di kota ini. Entah sudah berapa ribu pagi aku tak menghirup kopi yang kamu racik dan suguhkan di depanku bersama setangkup senyum dan tatapan lembut matamu. Ribuan malam kulewati tanpa bau tubuhmu.

Kini aku merasa telah begitu bosan di kota ini. Bosan dengan huruf-huruf di halaman-halaman buku yang bertumpuk-tumpuk tak sempat kujamah. Aku bosan dengan segala macam bualan mereka. Dengan mimpi-mimpiku yang melelahkan –juga perempuan itu. Perempuan yang hampir selalu menelefonku tiap malam. Perempuan yang jadi begitu ceriwis dan mau tahu urusan orang. Suatu sore ia diam-diam mencariku ke toko buku di kompleks pusat pementasan kesenian setelah hampir dua bulan aku tak datang ke diskotek itu. Untuk apa kamu mencariku, kataku ketika memergokinya kebingungan di balik rak buku. Dia menunduk menyembunyikan kegugupan dan rasa malunya yang menjengkelkan. Kutinggalkan ia begitu saja setelah kukatakan dengan keras bahwa aku tidak suka dibuntuti. Sebenarnya aku tidak tega memperlakukannya seperti itu. Bagaimanapun selama ini dia sudah banyak mengisi kekecewaanku pada Bung Tom yang tiba-tiba mencoret namaku dalam susunan pemain untuk sebuah pementasan. Karaktermu kurang cocok memainkan tokoh Bandung Bondowoso, kata Bung Tom, kamu main dalam naskah lain saja.

Sejak peristiwa di kamar penginapan itu, dia sering datang ke kamar kontrakanku. Membuatkan nasi goreng, menyeduh kopi, mencucikan baju-bajuku, merapikan buku-buku. Atau kadang ia datang hanya untuk menatapi wajahku yang sedang tidur, membenahi selimut yang melorot. Membetulkan letak kakiku. Aku yang semula begitu tak mempedulikannya, akhirnya luruh. Aku memperlakukan dia secara seimbang dengan apa yang telah kuterima darinya.

Namun suatu malam, dia sungguh telah mengecewakan aku. Tanpa pamit dia pergi selama berhari-hari dibawa oleh laki-laki tambun yang tampaknya seorang pejabat. Aku menamparnya begitu dia pulang. Ke mana saja kamu, bentakku. Dasar pelacur! makiku. Kupikir dia akan menangis dan menghiba. Ternyata dia balik menatapku, “Apa hak kamu melarang-larang aku? Dasar laki-laki tak tahu malu! Selama ini aku yang telah menghidupi kamu.” Malam itu pertengkaran hebat tak terhindarkan. Malam itu juga dia pergi membawa tas besar berisi beberapa baju dan benda-benda miliknya.

Sampai sekarang tak pernah ia dapat mengerti sepenuhnya kenapa ia merasa begitu bosan tinggal di dusun sunyi dan indah itu. Ya, hingga hari ini ia tak mengerti apa sesungguhnya yang membuat ia bersikeras meninggalkan pagi yang indah dan malam-malam hangat bersama kalian demi mengejar keinginan yang tak sepenuhnya ia yakini namun selalu menggelegak, merongrong ketenteramannya. Kenapa buku itu telah begitu menghasutnya.

Dari dusun sunyi itu entah kenapa kota ini tampak menggodanya dengan segenap petualangan mendebarkan seperti yang diceritakan seseorang dalam buku itu. Hingga ia meninggalkan dusun itu pada suatu malam yang buram. Ia pandangi anak-anak yang telah pulas. Ia kecup kening mereka satu persatu. Ia tahu esoknya kamu kebingungan bagaimana menjelaskan jika mereka bertanya ke mana ia pergi dan kapan akan kembali.

Ia mengecup keningmu sekali lagi sebelum meninggalkan pagar halaman. Ia melangkah menapaki jalan berkerikil.

Beberapa malam kucari dia di diskotek tempat kami bertemu pertama kali. Tapi tak pernah kutemukan. Sampai kemudian kulihat wajahnya dalam satu sinetron.

Besok, sebelum matahari menyentuh tanah ia pulang, mengetuk pintu dengan bimbang.***

Balai Budaya Tangerang, Januari 2006

Serpihan Rosa

15 Aug 2007 In: Uncategorized

(Republika, 21 Desember 2003) 

Bayangan tubuhnya memuai, kemudian melebar memenuhi tembok, menghimpit, membuat ruangan makin terasa sempit. Jingkat langkahnya dibarengi suara batuk yang terdengar berat disusul gumaman lirih serak tercekat menyerupai lolong anjing tercekik. Udara berdesir, remang cahaya bagai terpelintir dan minggir memberi jalan bagi langkahnya yang gontai tak bertenaga.

“Rosa….” Ia mendesis, lantas tubuhnya yang kerempeng luruh di atas kursi berjok rombeng. Cahaya bolam lima watt bagai menampar kerut wajahnya yang berlumur debu campur peluh yang telah mengering, menambah kasar kulit wajahnya yang penuh titik-titik lubang bekas jerawat. Paras yang lelah dan putus asa.

Rosa yang tergolek di atas dipan hanya menggerakkan bola matanya. Menatap dengan ekor matanya tanpa semangat. Ia menaikkan krah sweater, menutup separuh wajahnya yang pucat. Tangannya meraba dadanya yang turun naik lemah, melepas buntalan kecil yang ia sembunyikan di bawah bantal kumal berbercak kecoklatan. Rosa menengadah seakan ingin menangkap bayangan yang berkelebatan di atap yang kotor penuh sarang laba-laba. Bayangan yang kadang mendekat dan membuatnya terperanjat. Bayangan yang belakangan menghantuinya dan berulang mau membunuhnya dengan cara menekan dadanya yang tipis.

Tetapi bayangan itu hanya mendekat untuk kemudian menjauh lagi, mendekat dan menjauh lagi, tak sampai-sampai. Pernah juga sampai sesekali, menyentuh dada dan hendak menekannya. Matanya hanya menangkap bentangan kain hitam, nafasnya sesak tersengal. Dan ia merasakan maut tinggal beberapa jengkal merengkuhnya dan membawanya jauh ke ujung gumpal awan putih. Rosa membayangkan ada kolam renang di sana. Tetapi semuanya tertunda ketika terdengar jingkat langkah disertai gumam lirih. Serta merta bayangan hitam itu menjauh, dan dadanya lapang, dan matanya benderang, dan kupingnya menangkap suara batuk tersengal.

“Kenapa kamu harus pulang pada saat yang salah, Rompal!” katanya, terdengar merintih dalam bisikan. Tak ada kandungan saripati makanan dalam darahnya yang menghasilkan energi sehingga mampu mendorongnya menjadi suara yang bisa didengar telinga normal.

“Laki-laki itu hampir datang, kau mengusirnya. Dasar kunyuk! Apa saja kerjamu, Keluyuran? Kenapa pulang pada saat yang tak semestinya,” ucapnya masih dalam gumam ditabrak udara malam yang terasa tebal membawa berkilo beban. Rosa suka membandingkan udara malam dengan seonggok tubuh hitam laki-laki, lengket tak bernyawa, terkapar minta dihangatkan. Begitu berat, begitu menyebalkan.

Laki-laki yang dipanggil Rompal mendengus, “Laki-laki itu datang lagi, Rosa?”

Tanyanya mengejek, “Dia gagal lagi membawamu ke mana? Tepi kolam? Kolam darah?”

Menekuk wajahnya. Ada binar kecemburuan yang gamang di sinar matanya yang kuyu layu namun ada semangat menggunting urat nadi.

“Diam kamu, bangsat!”
“Tidak ada yang bakal menjemput kematianmu, Rosa. Tikam saja jantungmu dengan pisauku. Atau ledakkan pistol di pelipismu. Bukankah kau masih punya sisa peluru. Atau barangkali kau butuh tanganku untuk mencekikmu?”

Rosa memejamkan matanya. Gurat di wajahnya nampak makin dalam seperti ditarik urat-uratnya yang menegang. Ia ingin memaki pikirannya sendiri mengenai laki-laki yang akan menjemput dan membawanya ke tepi kolam. Dulu yang pernah didengar dari teman-teman masa kecilnya bahwa malaikat akan datang menjemput dan mencabut nyawa setiap orang dan akan membawa orang itu ke tepi kolam.

“Rosa, makanlah. Mumpung masih hangat.” Laki-laki itu mengangsurkan bungkusan. “Cuma ini yang akan memberimu energi.” Rosa tak menyahut.

“Ayolah Rosa, jangan cengeng!” suara itu hampir saja gagal merayap di udara sebelum disantap gelap. Rosa bergeming, ia tiba-tiba merasa asing dengan nama itu. Ia merasa bukan Rosa. Ia sekarang hanya seonggok daging busuk. Rosa adalah perempuan perkasa yang tak pernah kehabisan cara menggerakkan dan menggelorakan semangat para tukang becak dan anak-anak jalanan melakukan demonstrasi. Aku bukan Rosa, gumamnya seraya melesatkan ingatannya pada hari-hari mudanya yang dramatis setelah diusir keluarganya gara-gara menolak laki-laki pilihan Mama.

Berkali-kali Mama memilihkan laki-laki untuknya. Mama menginginkan ia berhenti mengurusi tukang becak, anak-anak jalanan, mengorganisir buruh. Kata Mama itu pekerjaan bodoh dan sia-sia. “Kamu hanya diperalat, Rosa. Mereka yang memperoleh keuntungan dari kerja kalian. Lihat teman-temanmu, mereka sudah hidup di lingkungan baru, menikah, punya anak-anak, hidup tenang bersama suami di rumah. Kamu jadi gembel?” kata Mama marah. Perempuan lembut dan penyabar itu berubah jadi mahluk asing yang mengerikan. Wajahnya merah padam bagai disembur api.

Ia ingat betul malam itu mama dan papa baru pulang dari menghadiri pesta pernikahan sepupunya yang diselenggarakan di ballroom sebuah hotel. Ia kepergok mamanya setelah berhari-hari tak pulang, biasanya untuk mengambil uang. Ia meninggalkan rumahnya yang hangat, nyaman dan asri di kompleks perumahan pinggiran kota. Rumah yang dibeli Papa dari ceceran uang proyek pemerintah. Waktu kecil ia sering memberontak larangan Mama bergaul dengan anak-anak dari kampung sebelah. Secara diam-diam menyelinap, membuat terowongan di tembok yang membatasi kompleks perumahan dengan perkampungan, menemui mereka dan mengajak mereka main dalam kamarnya yang seperti toko mainan. Ketika Mama mengetahui, ia marah besar. Mama menguncinya di kamar. Didatangkannya guru privat ke rumah.

Bersama kelompoknya ia membuat markas. Bukan hanya untuk sekadar tidur melainkan untuk diskusi dan merancang aksi. Di markasnya yang tak pernah rapi mereka mengumpulkan tukang becak, anak jalanan, pedagang asongan. Ke mana-mana ia hanya membawa ransel kecil yang cuma cukup untuk menampung satu dua pakaian. Ia dan kelompoknya tak pernah lama menetap di satu tempat. Markasnya ada di mana-mana dan selalu berpindah-pindah. Kelompoknya punya slogan ‘rumah kami ada di telapak kaki kami’. Mereka pernah berminggu-minggu tinggal di lereng bukit bersembunyi dari kejaran tentara setelah menggerakkan sekian ribu buruh demonstrasi, dan mogok kerja. Mereka bertahan hidup cuma dengan umbi-umbian.

Ketika masa-masa mencekam itu selesai, ia tiba-tiba menyadari betapa dirinya menjadi tua. Seiring dengan itu rasa kangen pulang ke rumah menemui Mama membelitnya. Mama makin tua, papa sudah meninggal. Rumah besar itu sepi. Kakak-kakak dan seorang adiknya sudah pergi semua bersama isteri-isteri dan suami mereka. Ia tak ingin terkejut ketika mendengar kematian Papa, seperti juga tak ingin terkejut mendengar bahwa kematian Papa direnggut stres dan struk gara-gara sering menerima teror.

Mama bertanya apakah ia sudah bersuami dan punya anak. Ia tak berucap apa-apa. Ketika mamanya terus mendesaknya, ia mengatakan bahwa ia belum punya pacar, namun siap menikah bila Mama memang menginginkannya. Demi Mama, katanya pada diri sendiri. Ia harus mengalah.

Beberapa bulan setelah pernikahannya, Mama meninggal. Ia bersyukur telah menjadi anak berbakti buat Mama. Ia puas walaupun harus berhianat atas sikapnya yang anti idealisasi pernikahan. Ia harus menyerah walau tidak sepenuhnya, ia tetap percaya pernikahan tidak dengan sendirinya membuat hidup seseorang menjadi bahagia. Ia percaya pernikahan hanya salah satu jalan alternatif bagi seseorang untuk bahagia. Ia hanya ingin menolak anggapan bahwa perempuan yang tidak menikah adalah orang yang kalah dan tidak laku. Walaupun tidak harus dinyatakan dengan cara garang seperti waktu muda,

“Memangnya kenapa kalau tidak menikah?”
“Perawan tua, kagak laku!”
“Memangnya kenapa kalau gue kagak laku?”

Ia kemudian berpisah dari suaminya, bukan karena ingin kembali menegakkan sikapnya, bukan pula benci pada suaminya yang cengeng dan suka mengatur, bukan pula jemu melakukan rutinitas rumah tangga, karena ia ternyata seorang penyabar, melainkan karena laki-laki ceking berkacamata minus itu tewas disambar truk.

Ia tidak pula kembali pada kelompoknya. Sebagian besar teman-teman seangkatannya sudah pada bubar dan hidup sendiri-sendiri menikmati anggur sembari tertawa-tawa di ruangan sejuk. Tapi bukan sebab itu ia memilih tinggal di rumah, melainkan karena kondisi fisiknya yang mulai sering sakit-sakitan. Nyeri di Lututnya yang pernah retak dihantam popor senapan sering kambuh. Juga lambungnnya sudah tidak bisa diajak kompromi. Ia memutuskan menikah lagi dengan laki-laki yang masih sepupunya. Syukurlah sepengetahuannya laki-laki itu setia meski ia tak pernah menuntutnya begitu. Ia jenis pekerja tekun di sebuah penerbitan.

“Rompal, aku ingin mati tapi dengan cara yang tidak terlalu sakit.”

“Terserah kau, Rosa. Tunggu saja laki-laki itu.” Desis laki-laki itu sembari menyungkurkan tubuhnya ke kursi panjang.

“Laki-laki itu bolehkah ia datang menjemput?”
“Jangan bertanya lagi, Rosa. Aku capek.”

Rosa entah kenapa tiba-tiba ingin menimbang lagi sikapnya yang membenci khayalan dan segala yang tidak berwujud. Ia tidak dapat menjelaskan hal ini bisa terjadi sebagaimana ternyata begitu banyak soal yang bisa tak bisa dijelaskan. Ada kegamangan yang membuat tenggorokananya sakit, rasa sakit yang kemudian menjalar dan menohok jantungnya.

Malam menjulurkan rasa asing pada rongga dada Rosa. Ia bukan lagi sekadar seonggok tubuh laki-laki yang lengket tak bernyawa, malam telah mejelma jadi rengekan perempuan nyinyir yang harus ditampar mukanya.

Rosa melirik Rompal yang tengkurap. Perlahan ia bangkit meraih bungkusan plastik hitam, membukanya dan pelan-pelan memasukkan isinya ke dalam mulutnya yang kering dan pecah-pecah, mencoba mengunyah dan memaksa menelannya.

“Kamu tak mengingkan aku mati, Rompal?” ucapnya, masih dalam gumam. Laki-laki itu tak menyahut lantaran sudah direnggut kantuk. Ia tidur di atas dengan kaki terangkat ke meja. Kadang Rosa merasa kasihan, laki-laki yang begitu setia menemaninya. Mungkin karena kebodohannya. Rosa sudah lupa apakah memilki cinta buat laki-laki ini? Ah cinta, bukankah ia juga mahkluk abstrak yang sukar dibuktikan?

“Rosa, pagi ini kamu pasti capek setelah semalaman berlarian dalam kepalaku.” Rosa terkenang ungkapan laki-laki itu yang dimaksudkannya untuk merayu dulu. Ungkapan yang selalu diulang-ulangnya sampai ia pengang mendengarnya. Rompal, laki-laki lugu, gumamnya. Sejenis orang tertib dengan ambisi yang sederhana. Ah, barangkali juga bukan ambisi. Lebih semacam keharusan berbasa-basi.

Rosa bangkit, berjingkat ke meja meraih gelas, menyeduh susu yang dicampurnya dengan madu. Lantas berbaring lagi untuk memulihkan tenaga. Seketika tumbuh tekadnya untuk tidak lekas-lekas mati. Ia ingin memelihara gairah hidupnya untuk Rompal.

Tangerang, 2003

  Dia bukan Rosa, dia Sissy Priscillia

Calendar

November 2009
M T W T F S S
« Sep    
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
23242526272829
30  

ARISKURNIAWAN

Blog ini berisi prosa-prosa Aris Kurniawan yang telah dipublikasikan di media massa.


KATEGORI