$theTitle=wp_title(" - ", false); if($theTitle != "") { ?>
temukan keasyikan membaca prosa di sini
TENGAH malam itu dia tergeragap bangun. Dering ponsel yang mengagetkannya dia sambar. Sial, sambungan terputus begitu dia mau memijit tombol jawab. Terkantuk-kantuk dia melihat layar ponselnya, mencari register, nomor siapa yang menghubunginya malam-malam. Sinar dari layar ponsel menusuk bola matanya. Uh, tidak ada nomor, dia menggerutu kesal. Rasa kesal itu membuatnya tidak bisa memicingkan mata sampai pagi tiba.
Sepanjang terjaga itu dia menerka-nerka siapa gerangan yang mau menghubunginya. Apa hanya orang iseng mau menganggu tidurku saja? Pikirnya. Beberapa wajah melintas di kepalanya. Riko, lelaki yang pernah menolongnya (atau menjerumuskannya?) memasuki kehidupan yang tidak terpikirkan sebelumnya. Zayd, laki-laki yang senang memeras uangnya untuk mabuk-mabukan, membeli ganja. Mike, bos perusahaan tempatnya bekerja sekaligus suaminya. Dan, Mira, istri pertama Mike yang selalu berusaha membunuhnya. Lalu Ryan, Narti, Karsih, dan Desi.
Dari mereka ini, rasanya Mira yang paling mungkin. Tapi dari mana dia tahu nomor teleponku? Pikirnya lagi. Sudah empat bulan terakhir dia melenyapkan diri dari mereka, menepi di kota kecil ini untuk bersembunyi dari kejaran mereka sekaligus gemerlap kehidupan kota dengan segala kesemuan dan kekejamannya. Dibantu Marsus, pembantunya yang pintar menjahit dan membuat kerajinan tangan tas sulam, dia membuka usaha kerajinan tas sulam. Separo tabungannya dia bongkar untuk modal. Dia membeli tanah dan membangun rumah, untuk tinggal dan tempat memproduksi tas sulam. Dia membeli dua unit mesin jahit dan segenap bahan dasar membuat tas sulam, seperti benang, gunting, lem, dan cat.
Dia mengganti nomor telepon untuk memutus komunikasi dengan semua orang-orang yang pernah dikenalnya selama tinggal di kota. Tentu sebelum memutuskan tinggal di kota kecil di tepi pantai ini dia sudah mempertimbangkan banyak hal.
Semula dia mau memilih di kota kelahirannya, tapi jelas ini bukan pilihan yang aman. Beberapa temannya sudah mengetahui kota kelahirannya. Bahkan anak buah Mike pernah singgah ke sana. Zayd bisa dengan mudah menemukannya. Dia juga pernah mau memilih Yogya, Solo, Cimahi, Bogor, Sampang, sejumlah kota di Bali dan Lombok. Satu per satu kota tersebut dia hapus dalam daftar kota-kota yang akan dijadikan tempat tinggal dan persembunyiannya. Hampir semua kota itu sudah pernah dia ceritakan pada teman-temannya. Mereka juga tahu dia memiliki kisah-kisah khusus di beberapa kota tersebut. Kota-kota di Sumatera dari awal tidak pernah masuk pertimbangannya. Di sana orang-orangnya kasar. Ini bukan hanya cerita yang didengarnya, tapi dia sendiri pernah membuktikannya. Dia tahu ini subjektif, tapi begitu saja bawah sadarnya menolak kota-kota itu.
Kota yang akhirnya dengan mantap dia pilih memang tidak seromantis Yogya, Solo, atau Cimahi. Hawanya cukup panas di siang hari. Masyarakatnya pun agak asing karena sebelumnya dia tidak pernah punya teman yang berasal dari kota ini. Bahasanya terdengar aneh di telinga. Termasuk lagu-lagunya yang sering diputar keras-keras saban hari atau saat ada hajatan. Syukurlah perlahan-lahan dia mulai bisa beradaptasi. Setelah satu bulan kedatangannya dia sudah punya tetangga dan teman orang sini. Mereka yang kemudian menjadi pekerja di usaha kerajinan tas sulam di rumahnya. Dia harus menanggalkan segala jejak identitas yang menempel di tubuhnya, termasuk gayanya bicara.
Dia berlatih menimba air sumur, menyapu pekarangan, membakar sampah. Kulitnya yang terang dengan cepat berubah jadi kusam. Marsus sampai pangling dan menatap entah dengan pikiran seperti apa. “Kulitmu, Bu…” ujar Marsus.
“Bagus kan, Sus? Jadi gak kelihatan kan?” ucapnya, “Pekerjaan ini lama sekali kutinggalkan, hampir saja aku lupa,” dia tersenyum.
Hanya Marsus yang menyimpan semua rahasianya. Gadis lugu itu sudah seperti malaikat baginya. Pada orang-orang Marsus yang selalu menceritakan bahwa majikannya datang dari kota. “Ibu pengen mengembangkan usahanya di kota ini,” terang Marsus.
Dengan kalimat-kalimat yang sudah dihapalnya dia membuat cerita tentang bagaimana majikannya membuka usaha di kota kecil ini. “Seluruh keluarganya mati dalam kecelakaan pesawat terbang. Dia pengen menghindari semua yang mengingatkannya pada keluarga. Karena itu membuatnya stres dan terus dirundung kehilangan dan kesedihan. Nah, siapa saja boleh belajar menyulam di sini,” kata Marsus, “Dengan senang hati ibu mengajar kalian,” ini yang selalu menjadi kalimat terakhir Marsus setiap menjawab pertanyaan orang tentang latar belakang majikannya.
“Terima kasih, Marsus,” gumam dia yang merasa beruntung memiliki Marsus. Seandainya tidak ada Marsus, mungkin dia tidak bisa pergi dari kota itu. Kota yang telah banyak memberinya pengalaman mengecap manis dan pahitnya hidup. Pada malam hari dia belajar menyulam pada Marsus, sedangkan Marsus menghapal kalimat-kalimat yang didiktekan dia untuk menjawab pertanyaan orang-orang tentang muasalnya. Setiap hari dia mengawasi para pekerjanya menyulam tas sambil ngobrol dengan mereka.
Banyak cerita yang dia dengar para pekerjanya yang kebanyakan bersuamikan buruh nelayan. Mulai tentang anak-anak remaja mereka yang sudah pintar pacaran sampai suami mereka yang sering disemprot juragan ikan. Tentu semua dilakukan seusai dia menyapu halaman, menimba air di sumur, dan memasak di tungku. Marsus sendiri giat menyulam, menghitung tas-tas sulaman yang selesai dikerjakan, mengepaknya. Dan melakukan pembukuan.
***
Dia tidak bisa memejamkan mata. Padahal tubuhnya sangat lelah setelah seharian menyulam dan meladeni obrolan para pekerjanya. Wajah ke empat orang itu berlintasan terus menerus di kepalanya. Bahkan seakan dia bisa meraba gurat bibir Riko, mengusap rambut Mira yang berganti warna saban pekan, menghirup embusan asap rokok Zayd, dan menyeka kacamata Mike. Secara bersilangan mereka bagai menjelma nyata. “Lisa, aku yakin kamu bisa menjalankan pekerjaan ini dengan baik,” itu suara Riko waktu pertama laki-laki itu menjerumuskannya di rumah bordil.
Jujur, waktu itu dia harus berterima kasih pada Riko. Laki-laki itu telah merenggutnya dari kekejaman Karni dan Sudira. Sepasang suami istri yang memperkerjakannya sebagai pembantu. Wajahnya bengkak, sekujur tubuhnya biru-biru bekas siksaan, telapak tangan dan kakinya lengket oleh penyakit kutu air saat dia minggat melalui jendela, terhempas ke trotoar.
Riko yang menolong dan merawatnya. Di rumah laki-laki itu dia disembuhkan. Wajahnya yang cantik dan badannya yang ramping indah tidak membuat Riko menidurinya meski kesempatan untuk itu terbuka luas. “Aku tidak meminta apa-apa, aku hanya minta kamu bekerja yang baik untukku.”
Belakangan dia baru mengerti kalimat ini. Dan dia melakukannya dengan kebimbangan yang makin lama makin menipis. Dia bertemu dengan banyak orang di rumah bordil itu. Ada yang mirip malaikat, tapi lebih banyak yang menyerupai iblis. Zayd mungkin penjelmaan iblis seperti yang pernah dia dengar dari ustad dulu, tapi ini lebih buruk. Dia tidak hanya mengisap sekujur tubuhnya, tapi juga memeras keringatnya. Riko tak berkutik menghadapi Zayd, preman di wilayah itu. Rumah bordil pernah dibuat berantakan oleh Zayd dan anak buahnya.
Sementara itu, seorang malaikat yang dia maksud adalah Mike. Semula dia menganggap ini terlalu mengada-ada. Mike membawa dia pergi dari rumah bordil itu. Tentu setelah Mike membayar sejumlah uang pada Riko. Laki-laki itu menjadikan dia sebagai pegawai di perusahaan spa miliknya, sebelum beberapa bulan kemudian menikahinya, menjadikan dia istri kelima. Dia merasa hidupnya cukup lebih baik. Istri-istri Mike yang lain bisa menerimanya dengan baik meski karena kepatuhan yang terpaksa pada Mike. Hanya Mira yang tidak pernah rela dan ini secara terang-terangan ditunjukkan di depan Mike.
Bagi dia menghadapi Mira dan Ryan, anak sulungnya, jauh lebih buruk ketimbang menghadapi Zayd. Laki-laki ini gampang ditundukkan dengan tubuh dan kelembutan yang dia miliki. Bahkan dengan Zayd kadang dia dapat saling memanfaatkan. Sedangkan Mira dan Ryan benar-benar bagai penjelmaan iblis.
Suatu malam Mira dengan Ryan dan dua orang kepercayaan mereka memasuki kamarnya. Saat itu Mike sedang keluar kota. Dia belum lagi sadar manakala mereka tiba-tiba membekap mulut dan hidungnya. Mereka hampir saja menghabisi nyawanya apabila Karsih dan Desi, dua orang istri Mike yang lain, terlambat sedikit saja mendobrak pintu kamar dan menyelamatkannya. Seketika terjadi pertengkaran dan pergumulan sengit. Dia tak akan lupa, pergumulan itu menyisakan bekas luka di punggung dan tengkuknya. Selalu terbayang sorot mata kecewa dan geram terpancar dari mata Mira. Juga makian itu, “Sundal kampung, enyahlah kalian dari sini…”. Peristiwa itu makin memperburuk hubungan dia dengan Mira. Tetapi tumbuh semacam senasib sepenangungan dengan Karsih, Desi dan Narti. Meski komunikasi antara dia dengan mereka pun tidak menjadi lebih baik. Narti, istri keempat Mike, yang datang lebih kemudian segera membantunya: menghibur dan menyodorkan segelas air.
“Kalau Bos tidak ada, kamu tidur di kamarku saja, dik,” ucap Narti, memberi saran. Dia sebenarnya sudah menduga peristiwa ini bakal menimpa dirinya. Maka dia selalu waspada. Mengunci rapat-rapat kamar setiap hendak tidur. Dia heran bagaimana Mira dan Ryan bisa membuka pintu kamarnya. Peristiwa ini membekaskan trauma di benaknya. Tapi dia tak hendak menceritakan peristiwa ini pada Mike karena menurutnya hanya akan membuatnya situasi makin tidak nyaman. Dia merencanakan pergi meninggalkan hidup seperti ini.
Niat ini makin menguat setelah Mike akhirnya tahu juga peristiwa itu yang menyebabkan pertengkaran besar dengan Mira. Mike menggampar Mira disusul lengkingan perempuan itu. Dia hanya mengintip dari balik gorden dengan perasaan kacau dan dada bergemuruh tak keruan.
“Begini balasanmu, Mike?” ujar Mira.
“Kebaikan apa? Ini hasil keringatku juga!”
Situasi makin tidak nyaman. Setiap gerak geriknya seakan terus diperhatikan Mira dan orang-orang kepercayaannya. “Kita harus pergi, Sus,” hanya pada Marsus dia bisa bercerita tentang kegundahan hatinya, tentang keresahannya. Dia memang menyayangi Mike. Tapi dia harus lebih menyayangi dirinya sendiri dengan cara melepaskan diri dari kehidupan yang menurutnya tidak normal ini. “Kamu tidak perlu ketakutan seperti itu, Lisa. Dan jangan pernah berpikir meninggalkanku. Kamulah malaikatku, malaikat yang selalu kusimpan,” kalimat Mike ini hanya mampu menghiburnya sesaat.
***
Di luar hari telah terang. Ibu-ibu yang bekerja menyulam mulai berdatangan. Bau amis dari ikan laut yang dijemur sampai ke kamarnya. Tapi ini tidak mengganggunya. Dia melihat Marsus yang hanya berbalut handuk masuk kamar, berganti pakaian, berdandan.
Dia tetap telungkup di ranjang. Air matanya telah menggenang, jatuh bergulir di pipinya. Dia kecewa pada dirinya sendiri gagal mencegah peristiwa itu. Terbayang lagi di pelupuk matanya, malam itu Mira dibantu Ryan dan beberapa orang kepercayananya berhasil membunuh Mike setelah mereka membantai Narti saat keduanya tengah terlelap berpelukan. Dia hanya mampu melihat dari balik gorden dengan linangan air mata dan tubuh lemas bagai tidak bertulang. Dia melihat dengan jelas tubuh Mike dan Narti kelojotan meregang nyawa. Mira lalu menyatukan mayat keduanya dalam koper. Sebelum kehadirannya diketahui oleh mereka, dengan sisa tenaga dan kesadarannya dia lalu kabur bersama Marsus.
Air matanya makin deras mengalir membasahi bantal. Dia tak mau bangkit dan menghadap cermin. Dia tidak memiliki nyali melihat wajahnya sendiri. Dia merasa begitu bersalah. Merasa menjadi orang yang paling egois. Dia merasa sekarang sudah terlambat untuk memperbaiki diri.
Pondok Pinang, Mei 2008.
Dengan malas Mella Jaarsma menyuapkan sarapan ke mulutnya. Nasi uduk, tempe bacem, semur tahu, dan kerupuk, jenis makanan yang sebenarnya mulai disukainya itu hanya habis separuh. Dua potong bakwan bahkan belum ia sentuh. Mella Jaarsma menyeka bibirnya yang berminyak dengan tisu. Lewat jendela ia melihat pohon-pohon dengan daunnya yang rimbun di halaman menyerap sinar matahari yang memancar terang. Ia merasakan kehangatan sulur cahaya yang menyentuh kulitnya. Tapi pagi yang cerah itu tak bisa meredakan hatinya yang rusuh. Tak ada gairah untuk lekas mengguyur tubuhnya di kamar mandi. Berdandan. Menyiapkan perlengkapan, dan bergegas pergi ke tempat mengajar. Ia tidak juga beranjak dari duduknya. Diraihnya koran pagi, matanya menyapu judul-judulheadline yang ditulis dengan huruf-huruf tercetak tebal. Tak ada yang menarik. Tak ada berita tentang negerinya.
Beberapa hari ini Mella Jaarsma terkenang negerinya. Musim salju yang dingin, kincir angin, hamparan bunga tulip yang menari pada musim semi yang datang menggilir. Kapan lagi ia dapat melihatnya? Pekerjaan suaminya semakin menumpuk. Seakan tak pernah ada habisnya. Tak ada cuti. Sialan! Makinya. Sambil membaca berita tentang kasus pedopilia yang dilakukan turis Belanda di Denpasar, ia membayangkan Bandar Udara Schiphol, iring-iringan sepeda, kereta, dan kentang goreng di kota kelahirannya. Memang di sini pun banyak oulet-outlet cepat saji yang menjual kentang goreng. Tapi jelas berbeda, karena tanpa campuran mayonaisse. Dan ia tak mungkin menemukan stampot* di sini.
Pertama kali Mella bertemu Iwan Gunadi, yang kini jadi suaminya, saat laki-laki itu tengah mengunyah stampot di kantin universitas. Wajah Iwan Gunadi yang bulat dengan sepasang mata yang agak sempit tampak lucu saat mengunyah stampot membuat Mella Jaarsma tersenyum. Terutama melihat cara makannya yang tak lazim. Waktu itu ia berpikir laki-laki itu dari China, atau Thailand karena kulitnya yang kuning. Mella tahu bahwa Iwan Gunadi dari Indonesia setelah mereka berkenalan dan ngobrol. Laki-laki itu datang ke Belanda karena mendapat beasiswa untuk sekolah di negeri itu. Mella Jaarsma melipat koran dan meletakannya kembali ke meja. Ia menghela napas berat.
Matahari makin tinggi. Udara yang semula hangat sekarang membuat gerah. Butiran keringat merembas dari balik gaun tidur yang masih dikenakannya. Di luar terdengar penjual bakso memanggil-manggil. Makanan yang juga mulai disukainya. Tapi entah kenapa hari ini Mella Jaarsma tak punya selera memesannya. Ia justru teringat sneltrain, kereta yang selalu siap mengantarnya dari Den Haag ke Delft, dari Delft ke Rotterdam, dari Roterdam Ke Amsterdam. Jalanan yang tertib dan lengang. Susah sekali menemukan jalanan serupa itu di sini. Selalu semrawut dan macet. Gang-gangnya pun kotor, becek, dan berdebu jika kemarau.
Dulu Mela Jaarsma menganggap hal itu sebagai sesuatu yang eksotis. “Aku akan tinggal di Indonesia. Akan akan menyusuri gang-gang sempit dan becek, mengajari anak-anak jalanan membaca,” ujarnya pada Iwan Gunadi. Laki-laki itu sering berkunjung di apartemennya sejak pertemuan mereka di kantin universitas. Demikian pula sebaliknya. Mella Jaarsma sering berlama-lama berada dalam kamar Iwan Gunadi di asrama mahasiswa, tak jauh dari tempat mereka kuliah. Bahkan kadang menginap di sana.
Iwan Gunadi tidak hanya bercerita mengenai keadaan negerinya yang semrawut sehingga berimbas pada buruknya pelayanan pemerintah kepada publik. Tapi laki-laki itu juga bercerita tentang keluarganya yang tinggal di perkampungan nelayan yang miskin. Di perkampungan itu hanya aku yang sekolah sampai SMA, kata Iwan Gunadi waktu itu. Dari waktu ke waktu hubungan mereka terus berkembang dari sekadar sahabat menjadi kekasih. Padahal saat itu Mella Jaarsma sedang menjalin hubungan dengan Pim Van Hoeve.
Hampir tengah hari. Mella Jaarsma melenguh kecil. Ia tahu anak-anak itu tentu sudah bubar karena dirinya tak datang. Mereka sangat dekat dengan dirinya. Mereka bersemangat hanya jika ia yang mengajarinya membaca, menggambar, menghitung dan menyanyi. Pikiran ini membuat Mella Jaarsma makin gelisah. Om Edy Kiceng galak sama anak-anak, kata mereka.
Mella Jaarsma sangat menyayangi anak-anak itu. Anak-anak yang ditekan orang tua mereka untuk bekerja menjadi pengamen, semir sepatu, mengemis di jalanan. Bersama beberapa rekannya di sebuah LSM, Mella Jaarsma mengumpulkan mereka, memberi mereka permen, makanan, kadang uang. Mereka diajari menggambar, membaca, dan menghitung, juga menyanyi. Mella Jaarsma tak pernah putus asa menghadapi sebagian orang tua mereka yang melarang anak-anaknya ikut belajar. Dituduh mempengaruhi anak-anak mereka malas bekerja. Tidak hanya itu, Mella bahkan harus berhadapan dengan preman-preman yang mengorganisir anak-anak mengemis. Berkali-kali ia mendapat ancaman dari mereka. Ia tahu preman-preman itu tidak hanya memeras fisik anak-anak secara semena-mena, tapi juga kadang melampiaskan hasrat bejat mereka pada tubuh tubuh kecil dan dekil itu.
Malna, salah seorang anak muridnya pernah mengadu padanya tentang rasa sakit di bagian bawah tubuhnya. Mella melihat celana bagian belakang laki-laki tujuh tahun itu merembeskan darah. Suhu badannya tinggi sekali. Ia dengan telaten merawat Malna. Sampai laki-laki kecil itu pulih dari trauma.
Suara kipas di ruangan itu berdengung lembut. Seekor kupu-kupu tersungkur di karpet terhantam baling-baling kipas. Mella Jaarsma melihat jam dinding. Pukul satu siang. Kasihan mereka, pikirnya. Jangan sentimentil, katanya pada diri sendiri. Lantas bergegas bangkit membuka gaunnya, meraih handuk, masuk kamar mandi. Tetapi begitu membenamkan tubuhnya dalam bath cuyp, kegelisahannya muncul lagi, kerinduannya pada butiran salju, bunga-bunga tulip. Mella Jaarsma mencoba menstabilkan emosinya dengan merendam seluruh tubuhnya. Hanya menyisakan sebagian wajahnya menyembul di atas permukaan air.
“Kamu tidak mungkin ke Belanda sendirian,” ujar Iwan Gunadi saat ia mengungkapkan kerinduannya pada tanah kelahiran. “Setahun ini aku tak mungkin meninggalkan pekerjaanku,” laki-laki itu menatap dengan mata sempit yang membuatnya terpesona saat kali pertama bertemu.
Tapi bukan hanya pesona mata sempit itu yang membuat Mella Jaarsma dulu memutuskan tinggal di Indonesia dan menjadi istri laki-laki itu, tapi juga eksotisme negeri tropis, matahari yang benderang sepanjang musim, pantai yang permai dan hangat. Dan segenap keragaman seni budaya Indonesia yang sering ia baca melalui literatur di perpustakaan.
“Tapi di Indonesia banyak penduduk miskin,” kata Iwan Gunadi. Seperti baru kemarin Mella mendengar kalimat itu. Beberapa bulan menjelang masa belajar laki-laki itu habis.
“Justru aku ingin menjadi relawan di negerimu,” ujar Mella Jaarsma, serius. Tentang kemiskinan negeri berkembang sudah sering ia dengar. Surat kabar dan televisi di negerinya sering menayangkan berita-berita kelaparan di negeri-negeri berkembang. Kehidupan Mella Jaarsma yang makmur dan tidak mengenal kemiskinan membuatnya penasaran. Mella membayangkan dirinya bisa membantu masyarakat miskin di negara berkembang. Mungkin akan lebih banyak berguna kehadiranku di sana, pikirnya.
Mella Jaarsma merasakan tubuhnya segar. Meski pikirannya belum sepenuhnya terbebas dari rusuh. “Aku kangen Papa, Gun, tentu dia makin tua. Harus kuurus asuransi kesehatannya, kan? Kau tahu selain aku tak ada lagi putrinya” kilahnya, “Hanya sebentar, Gun, aku segera kembali selesai mengurusi status keanggotaanku di Organisasi Lingkungan di sana,” ujarnya lagi, merajuk.
“Kamu telepon saja dulu, Sayang.” saran Iwan Gunadi, “aku janji tahun depan kita menjenguk negeri Belanda. Mengajak Papa jalan-jalan ke pasar membeli barang-barang antik di Den Haag dan Delft. Mengantarmu mengurus status keanggotan di organsasi itu,” rayu Gunadi seraya memeluk istrinya, mengecupnya dengan hangat, membawanya ke pembaringan. Perlakuan romantis dan lembut serupa itulah yang membuat Mella Jaarsma luluh.
Kemarin Mella Jaarsma menerima lagi email yang dikirim Pim Van Hoeve. Surat yang berisi kegusaran laki-laki itu. Laki-laki yang dikenalnya sejak di sekolah menengah di kota kecil Delft. Mella Jaarsma tidak merasa berpacaran dengan Pim. Tapi keduanya sering bepergian bersama. Dan ia selalu merasa gembira jika bepergian dengan laki-laki itu. Pim sendiri tidak pernah menyatakan diri menjadi kekasih Mella Jaarsma. Tetapi dengan laki-laki itulah pada umur 13 tahun Mella Jaarsma melepas kegadisannya.
Iwan Gunadi mengetahui Pim Van Hoeve sebagai teman Mella Jaarsma. Ia pernah mengenalkan Pim Van Hoeve pada Iwan Gunadi ketika suatu hari mengunjungi kampusnya di Leiden. Mella Jaarsma senang kedua laki-laki begitu cepat menjadi akrab. Bahkan ketiganya kemudian melakukan perjalanan bersama. Menyinggahi tempat-tempat wisata. Danau Ijsselmeer yang indah, menyusuri kanal-kanal yang ramai. Menebar serpihan roti pada merpati di pelataran gedung-gedung pusat wisata. Hanya sekali itulah kedua laki-laki itu bertemu.
Sudah berkali-kali ia menerima kiriman email dari Pim Van Hoeve. Kedatangan email-email itu selalu menyelipkan kerinduan di benak Mella Jaarsma pada rambut pirang dan mata biru laki-laki itu. Selama ini Mella Jaarsma selalu membalas email-emailnya dengan sebisa mungkin menghindari kalimat-kalmat sentimentil. Dalam surat-suratnya ia selalu menekankan bahwa dirinya sudah menetapkan hati untuk menjadi relawan di Indonesia, dan menjadi istri yang setia.
Tetapi dua email yang dikirim Pim Van Hoeve kemarin, membuat Mella Jaarsma tiba-tiba jadi sentimentil. Mungkin karena Iwan Gunadi yang mulai memiliki sedikit waktu memperhatikannya. Pekerjaannya di pertambangan minyak membuat laki-laki itu makin jarang pulang. Meski sikap romantisnya tidak pernah berkurang. Mungkin pula ia mulai jenuh menjalani rutinitasnya sebagai relawan. Di tengah situasi seperti itu email Pim Van Hoeve jadi menghibur.
“Maafkan aku, lama sekali tak mengunjungimu,” ujar Pim Van Hove ketika Mella Jaarsma menemuinya seminggu menjelang keberangkatannya ke Indonesia. Waktu itu ia tak memberi tahu Pim bahwa ia akan menatap lama di Indonesia. Mereka menghabiskan malam di apartemen Pim Van Hoeve di kota kecil Friesland, Belanda Utara.
Mella Jaarsma telah mengenakan pakaian lengkap. Jins, dan kaus tanpa lengan, sepatu kets. Tas besar sudah siap di meja. Sejenak ia menatap wajahnya di cermin. Diperhatikan wajah yang tak lagi seputih dulu. Matahari tropis telah memolesnya menjadi merah kecoklatan. Mella Jaarsma menyukai perubahan warna pada kulit wajahnya tersebut. Ia mengikat rambutnya. Belum terlambat, ia harus segera menemui anak-anak itu. Hari ini ia akan mengajar anak-anak menulis cerita. Setelah itu ia akan pamit pada anak-anak untuk pulang sementara ke Belanda. Mella Jaarsma sudah memutuskan besok akan menemui Iwan Gunadi di pertambangan minyak untuk memberi tahu bahwa ia tak dapat lagi menunda niatnya ke Belanda untuk mengurusi asuransi kesehatan Papa dan beberapa asuransi keuangan. Mella Jaarsma sudah menyusun alasan yang cukup kuat tentang keberangkatannya. Ia juga sudah menyiapkan hatinya menghadapi rayuan suaminya supaya menunggu sampai tahun depan. Mella Jaarsma juga sudah menguatkan tekadnya untuk tidak akan pernah menemui Pim Van Hove setiba di Belanda nanti. Ia tidak ingin melanggar sumpahnya untuk menjadi istri yang baik bagi Iwan Gunadi.***
Jakarta, April 2008
Stampot *makanan khas belanda berupa kentang rebus diaduk-aduk hingga hancur dan dicampur dengan sayuran dan sosis*
Aku bergelayut di pundakmu. Kau membelaiku. Menggeser letak duduk, memberi tempat pada seorang pengunjung yang datang memesan gado-gado ke warung. Kau bercakap sebentar sebelum kembali larut dalam pikiranmu. Menolak halus saat dia menawari rokok. Langit biru terang, gumpalan awan putih menyisih. Angin seperti menepi pada batang-batang pohon trembesi. Cuaca yang sangat bagus. Bertolak belakang dengan suasana hatimu.
Johana, mestinya aku tidak perlu meninggalkan kamarku, seharusnya aku tidak menemuinya malam ini, dan membatalkan sebuah rencana sederhana. Perasaanku begitu rawan menyusuri lorong yang sunyi. Tembok-tembok kusam penuh coretan tangan-tangan iseng, bodoh dan menjengkelkan. Lihatlah, tak ada bintang, juga bulan. Langit hanya tirai kelam.
Kau tahu, perasaan sedih membuat kesadaranku oleng. Dan, tangan-tangan gelap makin leluasa menjerumuskanku lebih dalam terbenam di kesunyian. Sweater yang membungkus tubuh ringkihku tidak akan pernah cukup melindungiku dari perasaan tersiksa.
Bersama hembus angin yang menggetarkan daun-daun sebenarnya aku telah melipat sejumlah peristiwa silam yang kusam. Tapi bisikan yang kaukirim dari balik ketiadaan telah merongrong kesadaranku untuk mengurai kembali kisah itu. Kisah yang terdiri dari sederet tawa dan sebaris panjang kesedihan.
Kubebat sepasang kakiku dengan kasut yang tebal, menyeret langkah demi langkah yang tak sepenuhnya meyakinkanku. Beberapa warung yang masih buka, tampak sepi. Bahkan penjaganya entah ke mana. Hanya ada sepasang laki-perempuan asyik berciuman. Lampunya begitu temaram.
Penjaga warung barangkali sengaja bersembunyi, tak ingin mengganggu tamunya yang lekat berciuman itu. Tak terdengar musik. Ah, pemandangan yang membuat hatiku makin diremas kesedihan. Aku terus bergegas agak tersuruk. Menyerahkan tubuhku pada gumpal kegelapan yang menyimpan banyak kemungkinan tak terduga.
Kamu tahu tahu, Johana, aku sudah lama tak menginginkan perkawinan itu. Laki-laki itu terlalu membuatku ngilu. Keperihan begitu saja merayapi pikiranku setiap membayangkan wajahnya yang kuyu. Jujur, aku memang sulit mengelak dari perasaan cinta. Tapi sekaligus kebencian padanya.
Kami bertemu di Gothe Institut waktu sedang digelar Festival Film Perancis di sana. Tak ada yang mengesankan pada dirinya, kecuali tatapan matanya yang terluka. Cara bicaranya tak begitu kusukai, tapi apa yang ia bicarakan menarik perhatianku. Kupikir dia punya kegemaran yang mirip denganku. Setidaknya ya menyukai film, gemar menikmati lukisan, mendengar petikan harpa dan gesekan biola. Mampu duduk berjam-jam sekadar membicarakan Tuhan sambil mengulum permen.
Dia duduk di sebelah sana, di antara orang-orang, mengepung meja bundar yang lebar. Di atasnya asbak yang tak sanggup lagi menampung puntung rokok. Debunya menodai permukaan meja yang licin. Tumpahan kopi, bungkus lemper, dan sobekan kertas tisu. Dia sesekali nimbrung pembicaraan. Film Perancis, dia bilang, memang tak terkalahkan keindahannya. Film Jerman masih kalah. Apalagi Belanda dan Turki, dia bilang.
Intonasinya tak enak didengar. Kulihat orang-orang di sekitarnya, yang kebanyakan anak-anak muda, menatapnya dengan setengah peduli. Tapi ada juga beberapa yang tampaknya terkagum-kagum. Aku duduk beberapa jengkal darinya. Obrolannya cukup jelas kutangkap.
Orang-orang muda sekarang lebih banyak mengabaikan omongannya. Tampaknya mereka mulai bosan. Mereka asyik ngobrol masing-masing dengan tema yang sangat sukar kuikuti arahnya. Tentu, karena otakku yang tak memiliki daya tampung lebih.
Waktu berada di dalam studio aku mencari-cari tempat yang lebih dekat dengannya. Berkali-kali ia hampir memergoki mataku yang mencuri pandang. Untunglah dalam studio suasana remang-remang. Aku tidak benar-benar yakin dia memergoki aku. Meski kecemasan tetap saja merayapi perasaanku.
Johana, suatu hari kami akhirnya memang bertemu dalam situasi yang tepat. “Sakurta,” ucap dia, mengesankan orang yang sudah lama kukenal. Malam itu juga kami pergi ke tepi danau. Bosan sekali nonton pertunjukan drama di gedung kesenian. Mereka anak-anak yang sok pintar dan tak mau mendengar pendapat orang.
Aku sepakat denganmu, Johana, duduk di tepi danau bersama Sakurta menemani bulan yang sendirian jauh lebih menyenangkan. “Kamu tak nonton konser harpa, Sakurta?” tanyaku saat itu, berbasa-basi. “Tidak, aku sedang bosan.”
Aku senang, artinya bersamaku dia tidak merasa bosan. Dia menyerahkan pangkuannya untuk kurebahkan kepalaku. Begitulah Johana, setelah itu aku tak pernah lagi menemukan keindahan selain berdua dengannya. Sayang, tak berlangsung lama. Semuanya terjadi lebih cepat dari mimpi yang melintas dalam tidur malamku.
Dia pergi, Johana. Tepi danau itu kini begitu sunyi. Pertunjukan drama, maupun gesekan biola dan petikan harpa, tak ada lagi. Tak ada yang kuasa mengembalikan perasaanku pada keadaan semula. Tak ada jejak sama sekali yang dia tinggalkan. Kecuali seorang perempuan yang kutemui di pojok ruang pertunjukan. Seorang perempuan yang kehilangan.
“Sakurta,” dia bilang dengan bibir bergetar, “biasanya dia menemaniku di sini, di pojok paling nyaman di dunia,” sambungnya.
Johana, tiba-tiba aku menyesal kamu telah menyeretku mengenalnya, laki-laki kurus bermata terluka itu. Memang sejak mengenal dia, menemani dia nonton pemutaran film, duduk menikmati gesekan biola, petikan harpa, berjam-jam menatap lukisan, atau ngomong ke sana kemari tentang Tuhan, membuat kamarku terasa membosankan. Aku selalu pergi menemuinya dan kembali dengan pikiran tersegarkan.
Tahukah kamu, Johana. Aku tidak pernah memiliki kegembiraan semacam ini sebelumnya. Sakurta, laki-laki bermata terluka itu, saja rasanya yang mampu menghalau kesia-siaan hidupku. Seketika aku merasa harus berterima kasih padamu. Apalagi setelah tahu bahwa ternyata diam-diam kau yang mengenalkan aku padanya.
Yah, aku memang perawan tua yang tak pintar bergaul. Terpuruk di kamar yang sumpek. Orang-orang tak pernah menghiraukan aku ketika hadir di tengah-tengah mereka. Maklum kulitku kelam, wajahku tak sedap dipandang. Bibirku yang tebal barangkali menjijikkan dan membuat nafsu makanmu surut.
Hanya kamu, Johana, yang memberiku perhatian lebih. Kau datang sesekali pada malam hari. Ketika pikiranku kalut. Wajahmu tak pernah benar-benar meyakinkanku, perempuan atau laki-lakikah dirimu. Itu tak terlalu penting bagiku, Johana.
Kemudian begitu saja aku mencintai Sakurta, untuk kemudian kecewa tak berkesudahan. Sampai tiba saatnya kamu, Johana, menjelang maghrib tadi datang dan mengabariku tentang Sakurta, laki-laki bersorot mata terluka. Dia kembali ke kota ini. Membawa buku baru yang lusa mau diluncurkan. Kau bilang dia mencariku. Jangan harap aku percaya, Johana. Kau sudah dua kali menipuku. Mana mungkin aku bersedia ditipu untuk kali ketiga.
Ketahuilah, Johana, aku datang malam ini untuk mencabik lehernya dengan sebilah belati yang sudah kusiapkan cukup lama. Kelewang ini sangat tajam, Johana, sanggup menyayat wajahmu sekalipun kau hanya berupa bayang-bayang.***
Radio Dalam, Oktober 2006
(Suara Pembaruan, 30 Oktober 2005)
Karmin duduk di tunggul pohon kelapa itu. Malam baru saja rampung. Fajar yang cemerlang telah merobek kelam di ufuk timur. Permukaan lautan bagai cermin raksasa yang bergoyang-goyang. Karmin duduk mencangkung, matanya menatap cakrawala yang telah bertemu dengan lautan di ujung sana. Di kejauhan perahu-perahu tampak timbul tenggelam bagai perahu mainan Karmin dulu.
Perlahan-lahan matahari muncul dengan kemilau cahayanya menyilaukan. Melihat matahari itu Karmin selalu teringat Sumirah yang tengah dinantinya. Sumirah selalu ngomong, “Bila matahri muncul, itu tandanya kamu harus berkemas menjemputku.” Karmin menggosok matanya, pedih. Pantai makin sunyi. Perahu-perahu tak tampak lagi. siang hari begini para nelayan memang tidak berlayar. Istri-istri mereka menjamur ikan hasil tangkapan. Memilihnya, yang bagus dibawa ke pasar, yang agak jelek mereka jemur dicampur garam untuk dijadikan ikan asin. Angin kering berhembus membawa angin busuk. Tetapi Karmin seakan tidak mencium bau busuk itu. Rambutnya yang ikal, gondrong dan kemerahan karena terbakar matahari, berkibaran dipermainkan angin.
Karmin semalam bermimpi Sumirah akan datang minggu ini. Sumirah berpesan agar ia menunggu di pantai. “Duduklah kamu di tunggul pohon kelapa itu. Aku akan tiba sore nanti. Kubawakan baju, kain sarung untukmu. Juga jam tangan yang kau inginkan itu.” Sumirah tampak cantik sekali. Bergaun putih transparan melambai-lambai.
Karmin meninggalkan pondoknya dua hari lalu. Hidup begitu hampa tanpa mengenang Sumirah, tanpa mimpi tentang Sumirah. Untunglah Sumirah memang selalu datang dalam angan-angannya, dalam mimpi-mimpinya. Para tetangganya sudah bosan menegurnya bila melihat Karmin melamun. Kadang-kadang saja mereka menyuruh Karmin mengangkat keranjang, mengupas kelapa.
“Karmin, sampai kapan kamu menunggu Sumirah? Dia mungkin telah berbahagia sekarang dengan suaminya yang baru. Buat apa lagi ditunggu. Si Warni pernah bilang, dia sebenarnya masih mencintai kamu. Coba kamu pikir-pikir, mau terus menunggu Sumirah atau menerima Warni sebagai pengganti. Untuk mengisi hidupmu. Kamu mulai tua. Lihat rambutmu. Lihat keriputmu,” ucap seseorang entah siapa. Banyak sekali suara-suara yang mengiang di telinganya. Seperti dibawa angin, mendarat dan berjejalan di telinganya, bahkan kadang langsung ke lubuk hatinya.
“Sumirah, pergilah kamu. Tapi aku tetap menunggumu. Bila jadi TKW itu pilihanmu, aku akan tetap setia padamu. Aku menunggumu sampai kamu kembali.”
“Karmin, sebetulnya aku tidak menginginkan perpisahan ini. Tetapi apa boleh buat, kita harus memperbaiki keadaan. Kita harus merubah nasib.”
“Kalau kamu kembali dengan membawa uang banyak, aku takut kamu melupakanku. Aku takut. Hanya itu yang membuatku takut. Aku percaya kamu dapat menjaga diri di negeri orang. Aku tahu kamu perempuan yang kuat, pantang menyerah membela kehormatan. Tapi aku ragu apakah kamu kuat untuk tetap setia padaku ketika kamu banyak uang sedangkan aku masih pengangguran.”
“Karmin, Karmin, kenapa sih selalu berkata seperti itu. Kan sudah kujelaskan berulang-ulang, cintaku sudah habis untukmu. Kalau aku mau pacar yang kaya, sekarang aku sudah kawin dengan Wakijan, juragan ikan itu. Kamu tahu sendiri bagaimana dia mengejar-ngejar aku. Kamu juga tahu, Lurah Jarot yang menawariku rumah dan motor bila aku mau diperistri olehnya.”
Matahari terus merambat naik. Panas mulai menyengat. Angin kering mempermainkan rambut Karmin, baju Karmin yang telah kuning kecokelat-cokelatan karena lama tak ganti-ganti. Sebenarnya Karmin masih memiliki beberapa baju lagi. Namun dia amat menyukai baju itu. Baju pemberian Sumirah ketika perempuan itu mau berangkat ke Saudi Arabia keesokan harinya sebagai kenangan.
“Kalau kamu rindu, kenakanlah baju ini.”
Sebagai kenangan pula, Karmin memberikan selendang merah untuk Sumirah.
“Begitu juga kalau kamu rindu, dekaplah selendang ini.”
Entah sudah berapa tahun lalu perpisahan yang menggoreskan kesedihan itu. Karmin hanya mampu menunggu dan menunggu. Duduk mencangkung di tunggul pohon kelapa tepi pantai. Setiap ada perahu yang muncul dari balik cakrawala Karmin selalu membayangkan Sumirah muncul melambai-lambaikan tangannya sambil berteriak, “Karmiiiiin aku datang… ini kubawakan jam tangan.” Bertahun sudah namun Sumirah tak juga tiba membawakan jam tangan seperti impiannya.
***
Dengan jemari tangannya yang berkuku panjang dan kotor Karmin membelai rambutnya yang mulai gimbal tak terurus. Matanya yang kuyu dan merah tak lelah-lelah menyorot ke seberang lautan. Dulu Karmin memang sering mengatakan pada Sumirah betapa ia ingin memiliki jam tangan itu. Dengan jam tangan orang akan bisa mengatur waktu. Walaupun berada di tengah lautan orang akan tahu kapan waktunya makan, kapan waktunya tidur, kapan waktunya bekerja keras menangkap ikan. Tapi upah yang diterima Karmin selalu habis hari itu juga. Entah kenapa. Rasanya Karmin tidak boros-boros amat. Memang sih dia kadang suka minum-minum kalau punya uang lebih. Namun itu cuma kadang-kadang. Betapa sulitnya hidup ini tanpa disertai mabuk-mabuk. Hidup sudah begini sukar dan menyebalkan, bagaimana bisa orang selalu menghadapinya tanpa diselingi mabuk-mabuk. Wajar saja, bukan? Begitu pikir Karmin.
“Sudahlah Karmin, terima saja cinta Warni. Kalau kamu merasa malu biar nanti aku yang menyampaikan.” Entah siapa pula yang pernah menyampaikan kebaikan itu. Karmin tidak ingat. Kadangkala Karmin heran, ternyata masih ada juga orang yang memperhatikan nasibnya. Tetapi benarkan mereka memberi perhatian padanya?
Ah, jangan-jangan justru mereka meledek nasibnya. Rasanya Karmin terlalu hapal dengan tabiat tetangga-tetangganya yang gemar betul meledek dirinya. Karmin tak mengerti mengapa mereka senang bila melihatnya menderita dan seperti tak rela melihat dirinya sedikit saja bahagia. Apa memang begitu sifat makhluk yang bernama tetangga itu?
Karmin bangkit dari duduknya. Melangkah perlahan, mencari tempat teduh di bawah pohon kelapa. Karmin duduk lagi di sana, memeluk lututnya yang ditekuk. Pohon kelapa yang pernah menjadi saksi percintaan Karmin dan Sumirah.
“Karmin, bila aku tak kembali, apakah kamu akan tetap menungguku?”
“Ya. Aku akan tetap menunggumu sampai aku mati.”
“Benarkah? Kamu tidak akan berpaling pada Warni?
“Kenapa kamu bertanya seperti itu? Apakah kamu masih meragukan kesungguhanku?”
“Bukan begitu, Karmin. Aku hanya benci pada Warni. Seandainya kita tidak berjodoh karena aku mati di negeri orang misalnya, aku mengizinkan kamu kawin dengan perempuan lain, tapi tidak dengan Warni.”
Karmin tidak tahun kenapa Sumirah begitu membeci Warni. Barangkali Warni memang pernah berusaha memisahkan Sumirah darinya. Konon Warni pulalah yang menyebarkan kabar bohong yang menyebutkan Sumirah suka melacur di bawah jembatan. Padahal kalaupun iya, Karmin tidak peduli. Karmin mencintai Sumirah secara total. Bukan cuma tubuhnya.
Karmin tak pernah lupa ucapan itu. Makanya ia tak pernah menggubris Warni yang kadang datang merayunya, bahkan perempuan mana pun. Karmin yakin Sumirah akan kembali seperti yang dikatakan Sumirah sendiri yang selalu datang dalam mimpinya.
“Karmin, Karmin, kamu ini laki-laki. Masa menunggu perempuan sampai tua. Memangnya di dunia ini cuma Sumirah yang perempuan? Kamu ini bodoh atau memang gila toh, Min…” ini kata-kata Simbok. Karmin tahu Simbok tidak bermaksud melemahkan hatinya. Simbok amat menyayangi dirinya. Simbok berkata begitu tentu karena prihatin pada dirinya yang sudah mulai tua namun tetap membujang. Saudara-saudara dan kawan-kawannya memang sudah pada berkeluarga semua. Adiknya malah sudah punya anak dua. Keponakan-keponakan Karmin inilah yang suka menghantarkan makanan buat Karmin di tepi pantai ini. Berganti-ganti mereka mengantarkan makanan, kadang juga selimut. Karmin tidak pernah menegur mereka sama sekali. Begitupun keponakan. Mereka segera berlalu begitu meletakkan makanan dan selimut. Mereka hanya saling berbisik-bisik, “Lihat, paman makin kurus, kasihan.”
“Kata ibu paman tidak bisa dikasihani.”
“Betapa setia paman pada pacarnya.”
“Kata ibu bukan setia tapi bodoh.”
“Barangkali pacar paman itu mirip Britney Spears sehingga paman begitu mencintainya.”
“Kata ibu pacarnya itu pelacur.”
“Heh, ibumu kok usil betul.”
Kadang-kadang saja mereka menyampaikan berita dari Simbok yang tak kuat lagi berjalan menjenguknya di tepi pantai ini. Pesan terakhir Simbok yang disampaikan adalah mengenai divonis matinya Sumirah oleh hakim di Arab Saudi gara-gara dituduh membunuh majikan yang mau memperkosanya. Simbok mendengar berita itu dari ibu mereka yang mendengarnya dari siaran televisi.***
Cirebon 2004
(Pikiran Rakyat, 29 Oktober 2005)
DENDAM yang sekian lama kupendam-pendam, tak lama lagi agaknya bakal terlunaskan. Aku telah menyelesaikan halaman terakhir ceritaku. Sungguh perjuangan yang tidak ringan untuk sampai di halaman terakhir. Harus melewati malam-malam penuh penderitaan. Akan langsung kutonjok mukanya bila ia mengatakan bahwa aku hanya seorang tukang jahit; tidak punya ide orisinal dan hanya menjahit cerita-cerita yang ditulis pengarang lain. Ia harus mengakui tak ada pengarang lain yang pernah menggarap cerita yang kutulis kali ini. Aku bertekad benar-benar menggampar mukanya, kalau perlu meludahinya sekalian, bila dia masih berani mengejek karangan ini. Kurasa tak perlu lagi mempertimbangkan perkawanan kami.
Aku tidak perlu mendatangi warung kopi itu, mendengarkan ia memberikan ceramah yang isinya hanya mencela. Tidak ada sedikit pun keinginan memuji kawan seperti tempo hari.
“Ceritamu,” dia bilang, “hanya jahitan 5 cerita karya pengarang lain.” Lantas dia menyebutkan kelima judul karangan yang dimaksud. Kawan-kawan yang lain menyambut dengan cibiran yang membuatku jengkel setengah mati. Mereka mengangguk-angguk. “Sebaiknya kamu jadi pengamen sajalah,” kata mereka. Seandainya pada saat itu aku punya pistol pasti sudah kulubangi kepala mereka satu persatu dengan peluru.
Karakter tokoh Darman, kata dia, aku ambil dari karakter tokoh Rojak dalam cerita “Raja Kelelawar” karya Amuradi, pengarang yang disebutnya sebagai kawan dekatnya. Aku hanya mengganti kebiasaannya ngupil menjadi mengorek tahi kuping. Sedangkan plot aku ambil dari cerita “Bidadari Buta yang Diperkosa” karya pengarang Banu Raudali, juga disebutnya sebagai kawan dekatnya. Seperti pada karya-karyaku yang lain, kata dia, yang kulakukan hanya sedikit memodifikasi supaya agak beda. Tapi jelas, katanya, plot ceritaku diambil dari cerita “Bidadari Buta yang Diperkosa”. Lantas dia menyebutkan bagian-bagian yang aku modifikasi. Dia bilang, aku membuang tiga paragraf pada bagian yang mempertemukan tokoh utama dengan mantan kekasihnya kawin dengan musuhnya.
Tokoh Rojak dalam cerita “Raja Kelelawar” adalah seorang pria homoseksual. Di sana diceritakan dialah tokoh superbaik yang mau mengorbankan diri demi rasa aman masyarakat luas. Dia bertubuh tinggi, berwajah tampan keindoan, dan tentu saja sangat macho. Satu-satunya perilaku buruk yang dimilikinya adalah ngupil. Bila sedang ngupil dia bisa lupa diri. Kebiasaan buruk ini dianggap tidak sepadan dengan pengorbanannya dalam berjuang melindungi rakyat miskin dari cengkraman tuan tanah, maka orang-orang pun memberi pemakluman yang berlebihan. Mereka sama sekali tidak tahu perilaku seksualnya yang tidak biasa, alias menyimpang dari kelaziman. Dalam dialog yang berlangsung dalam batin Rojak disimpulkan, orang-orang tetap menyayangkannya meski perilaku tersebut tidak merugikan mereka.
Sementara Darman adalah laki-laki sehat dengan orientasi seksual yang umum berlaku dalam masyarakat. Dia tidak begitu peduli pada para tetangga. Kesibukannya menjadi wartawan kriminal menjadikan dia tidak sempat akrab dengan mereka. Tapi dia punya idealisme yang menyebabkannya dibenci para pejabat korup. Ia punya waktu luang yang akan terasa rugi bila dilewatkan tanpa mengorek tahi kuping. Darman punya pacar yang berprofesi sebagai penari telanjang. Coba kau sebutkan mana karakter Rojak yang melekat pada karakter Darman? Rojak selalu menyempatkan diri ngupil, bahkan di saat rapat warga. Darman hanya mengorek tahi kupingnya pada waktu luangnya saja. Lagi pula pekerjaan Darman jelas, sementara Rojak hanya disebutkan dalam dua kalimat: Rojak telah menyerahkan catatan semua kegiatannya hari ini pada atasannya dan Rojak harus segera membaca catatan kegiatan kawan-kawannya di ruangan berudara dingin.
Untuk latar dan dialog-dialog dia mengecapku mencuri dari cerita “Rumah Hantu di Ujung Jalan” karya seorang pengarang yang tinggal di masjid, ngurusi anak-anak kecil ngaji dan sampai sekarang belum menikah. Pengarang yang bertubuh jangkung dan kurus ini dibilang gemar masturbasi dekat keranda sebelah tempat wudlu. Sementara ending-nya aku ambil dari cerita “Petualangan di Dalam Kamar Temaram” karya Cunong Ariandaka. Dan terakhir dia menuduhku, nama-nama tokoh aku curi begitu saja dari cerita sebuah sinetron.
“Bidadari Buta yang Diperkosa” menggunakan plot yang runut dan datar. Ia bergerak melalui tokoh-tokohnya. Hampir semua riwayat tokoh dipaparkan dengan cara bertele-tele dan bahasa terlampau lazim dan membosankan. Kau tak akan menemukan kejutan di sana. Sementara ceritaku penuh kejutan dengan plot yang melompat-lompat, kadang zigzag, dan penuh liukan tajam tak terduga. Aku banyak menggunakan teknik flash back yang sepintas tampak ruwet namun tetap dalam struktur yang ketat, dan di atas semua itu, menawarkan kesegaran yang tak mudah dilupakan. Mengherankan sekali dia bisa menuding plot ceritaku mengambil dari cerita “Bidadari Buta yang Diperkosa”. Sungguh mulut yang pantas dirobek.
Ceritaku mengambil latar kehidupan hedonis masyarakat Kota Jakarta antara tahun 1998-2000. Tahun yang penuh gejolak. Bentrokan antar-pendukung parpol terjadi hampir tiap hari. Begitu juga unjuk rasa, tiba-tiba menjadi gaya hidup baru masyarakat perkotaan. Para pedagang gorengan kesulitan mendapatkan minyak dan terigu. Sehingga mereka harus menggoreng menggunakan malam*) supaya harga gorengan tetap murah. Latar digambarkan antara lain dalam dialog Darman dengan seorang pelacur jalanan, seperti ini:
“Hai Bung, mencari siapa?” seru seorang perempuan mengejutkan Darman.
“Nirmala,” sahut Darman.
“Dia sedang ada yang pake. Dengan saya saja.” Perempuan itu merayu.
“Siapa yang pake?”
“Mana saya tahu. Ayolah, Bung dengan saya. Buat makan besok.” Perempuan itu terus merayu dengan suara dan raut memelas. Darman mendekat.
“Hmm, sudah lama melacur?”
“Saya masih baru. Sejak orang-orang membakar kota ini. Dagangan ibu saya bangkrut. Minyak, terigu… mahal semua.”
“Hmm, nih kamu saya kasih uang saja,
tapi tolong cari tahu siapa siapa laki-laki yang memake Nirmala….”
“Sorry, saya dibayar bukan untuk itu.”
“Hei, jangan tersinggung. Okelah, mari kita makan. Di mana warung makan yang bagus? Aku tidak mau kena kanker gara-gara makan gorengan.”
Dialog ini dia bilang tak bukan merupakan versi lain dialog dua tokoh dalam cerita “Rumah Hantu di Ujung Jalan” berikut ini.
“Siapa yang kamu cari, Rangga?” seru Kinarsih.
“Kamu melihat Sinta, Kinarsih?” sahut Rangga, senang melihat Kinarsih.
“Dia pergi dengan Yonathan.”
“Siapa dia?”
“Pacar Sinta. Dia memang perempuan yang tidak bisa setia, Rangga.”
“Kamu tahu sudah berapa lama mereka berhubungan?”
“Tentu saja aku tahu. Sudahlah lupakan saja dia, aku toh tidak keberatan pacaran denganmu. Bahkan besok kita bisa kawin.”
“Hmm, sudah tak tahan ingin kawin?”
“Aku tak akan menahan-nahan kalau ingin kawin. Aku bisa melakukan apa saja sejak papa dan mamaku cerai.”
“Hm, nih kamu aku kasih uang untuk mencari tahu siapa Yonathan.”
“Sorry, Rangga, aku nggak mau dibayar untuk pekerjaan seperti itu.”
“Kamu marah, Kinarsih?”
Coba kau simak baik-baik, kedua dialog di atas jelas sekali berbeda. Antara Darman dengan pelacur tidak saling mengenal. Sebaliknya, Rangga tampak kenal betul dengan Kinarsih. Kukira dia memang hanya ingin melampiaskan dendam. Dia kesal gara-gara aku tak memberinya utangan sehingga dia gagal memenuhi janji mengajak nonton pacarnya. Hal ini berlanjut pada pemutusan sepihak oleh pacarnya itu. Ditambah lagi kemudian dia tahu, pacarnya itu diam-diam pernah menginap di kamar kontrakanku.
Kalau bukan motivasi dendam tidak mungkin dia mengatakan ending ceritaku kuambil dari cerita “Petualangan di Dalam Kamar Temaram” karya pengarang Cunong Ariandaka. Ending ceritaku menggantung dan meninggalkan beragam penafsiran bagi pembaca: siapakah yang membuka pakaian dalam Nirmala? Pada “Petualangan di Dalam Kamar Temaram” ending-nya tertutup terhadap kemungkinan-kemungkinan lain. Selesai. Meski memang sama-sama tragik ending: kamar temaram itu menjadi saksi robeknya keperawanan Artika oleh Samsul, sebelum laki-laki itu secara kejam membakar tubuh Artika.
Lantas dengan kesombongan yang bikin perutku mulas dia katakan tiga cerita yang ditulis pengarang kawan dekatnya itu bersumber dari idenya. Namun mereka mengembangkannya dengan keterampilan bahasa yang sangat cerdas, ucapnya. Kecerdasan yang sama sekali tak aku miliki, katanya.
Dari semua itu yang paling menjengkelkan adalah tuduhan terakhir, bahwa nama-nama tokoh aku curi begitu saja dari cerita sebuah sinetron. Yang ini sama sekali tanpa bukti. Tapi dengan begitu meyakinkan dia menyebutkan judul sinetron yang dimaksud. Mereka begitu saja percaya dengan mulut busuknya. Tampak mata mereka melirikku dengan cara sangat menghina. Padahal, berani sumpah sebelumnya, aku tidak pernah membaca kelima cerita yang dia sebutkan. Apalagi menonton sinetron. Jadi, seperti yang sudah kukatakan, semua tuduhannya semata ingin melampiaskan dendamnya dengan cara menjatuhkan nama baikku di depan kawan-kawan lain.
Kejadian itu sungguh meluluhlantakkan semangat hidupku. Dia bilang imajiansiku tidak liar, bahasaku kurang lancar. Pikiran untuk bunuh diri berkali-kali mendatangi kepalaku. Aku juga berniat mencari dukun untuk menyantet mereka. Mereka beruntung, sebelum menemukan dukun itu aku berjumpa dengan seorang pengarang yang mengembalikan semangat hidupku yang hampir saja kuserahkan pada jarum suntik.
Pengarang cerita-cerita cabul inilah yang memuji ketangkasanku menulis. Kamu punya bakat besar, katanya bikin aku melambung. Menurutnya tuduhan-tuduhan dia keliru. Lagi pula, katanya, jahit-menjahit itu sah-sah saja. Kalimat yang terakhir sebetulnya membuatku sedikit tak nyaman. Karena sama artinya membenarkan omongan dia. Kami bertemu di kompleks permakaman. Dia sedang berziarah ke kuburan seorang pengarang yang juga menulis cerita cerita cabul yang sangat dikaguminya. Cerita-cerita cabul pengarang inilah yang diakui memberinya ilham dalam menulis cerita-cerita cabul pula. Dengan bangga ia mengatakan dirinya kini telah mengganti posisinya yang kokoh sebagai pengarang cerita cabul. Dia mengajakku ke warung indomi rebus pinggir kompleks permakaman, dan kami ngobrol di sana. Kukira kamu mengenal nama pengarang ini dengan baik. Aku sudah membaca beberapa novelnya yang kucuri dari perpustakaan, dan sebagian kubeli di pasar loak dengan uang hasil menjual novel curian dari perpustakaan itu.
Berbekal semangat yang dipompakan pengarang cabul ini, aku menulis cerita tentang upaya keras seorang pangeran dalam mengalihkan arah aliran sungai demi memenuhi permintaan perempuan yang dicintainya. Cerita ini telah kurevisi untuk kesepuluh kalinya.
Aku lega akhirnya menyelesaikan revisi halaman terakhir. Inilah halaman menentukan dari berlembar halaman yang kutulis malam-malam panjang sebelumnya. Halaman yang menjadi pertaruhan. Dia harus membaca cerita ini. Aku menulis cerita ini dengan riset mendalam, dengan gagasan orisinal, baik bentuk maupun ide dan pengucapan. Aku yakin setengah mati ketika membaca ceritaku orang tidak akan ingat cerita dari pengarang manapun.
Aku sudah membakar ingatanku dari semua buku-buku cerita yang pernah kubaca. Termasuk cerita yang ada tokoh Darmannya, dan cerita-cerita yang kutulis sebelumnya. Bahkan juga cerita-cerita cabul yang disodorkan pengarang cabul yang kutemui di permakaman itu. Cerita ini kuberi judul “Ada Apa denganmu, Pangeran?” Aku menyisipkan banyak pesan dalam cerita ini. Antara lain, jangan sembarangan membuang kulit pisang, jangan suka menganggu orang pacaran, dan sayangilah anjing tetanggamu sebagai sesama mahkluk ciptaan Tuhan.
Terus terang pesan-pesan tersebut kudapatkan dari seorang gembel yang saban pagi mengorek-ngorek sisa makanan di tong sampah rumah makan sebelah rumahku, dan saat malam dia tidur di emper toserba ujung jalan. Tapi aku tak mau kau tahu dulu ceritaku ini. Aku ingin membuatmu penasaran menunggu cerita ini diterbitkan. Dan kupikir sekarang adalah bagaimana cerita ini sampai di tangannya supaya dia ternganga-nganga.***
10 September 2005
*) malam, bahan dasar membuat lilin
(Jawa Pos, 28 Agustus 2005)
Jalanan sepi dan basah, kawan. Tetapi, lampu-lampu jalanan kiranya masih menyala kala itu, sehingga paras pucat perempuan itu sempat tertangkap meski tidak terlalu jelas lantaran cahaya lampu terhalang ranting akasia. Hujan sudah selesai, tetapi udara tentu saja sangat dingin. Tanpa hujan pun udara malam tetap dingin, bukan? Maafkan kalau aku kelihatan sok tahu, kawan. Kau tentu boleh tak setuju dengan bermacam ungkapan atau perumpamaan yang kubuat dalam menceritakan semua ini.
Ia meletakkan bokongnya di bangku halte dengan cemas yang deras menggerayangi perasaannya. Jemari tangannya yang lentik terawat meremas-remas sapu tangan basah yang digunakan untuk menyeka wajah dan rambutnya. Sebuah tas kecil terbuat dari kulit berwarna coklat talinya masih nyangkol di bahu, dikempit ketiaknya. Kopor hitam didekap kedua lututnya yang gemetar. Cahaya temaram menyembunyikan tubuhnya yang menggigil dibungkus jaket dan kaus hitam ketat. Kecemasan makin deras, sukar dibendung. Ia sering mengalami kecemasan. Tapi kali ini baru dialami sepanjang hidupnya.
Ia urung membakar sisa rokok yang tinggal sebatang-batangnya. Dimasukkannya kembali rokok itu ke dalam saku jaket. Taksi yang diharapkan lewat dan membawanya pergi dari tempat itu tak juga muncul. Udara dingin terasa semakin menghisap tenaga dan denyut nadinya serupa terik matahari menghisap embun di pagi hari. Ia meraba dadanya, seakan mengukur kemampuannya bertahan.
Di langit bulan direnggut lapisan awan tebal. Sisa hujan menggenang di jalan berlubang, sesekali berkilau tersiram cahaya lampu. Tak ada suara angin atau gonggongan anjing. Hanya sesekali, lamat, suara kersik daun kering yang putus dari tangkainya melayang tenang sebelum hinggap di badan jalan yang betul-betul lengang seperti kuburan.
Ia mengutuk peristiwa demi peristiwa yang dialaminya. Bukan hanya rentetan peristiwa yang beberapa jam lalu dilewatinya. Melainkan terutama peristiwa yang dialami masa kanak dan remajanya yang singkat dan muram. Ia meremas sapu tangan seakan meremas kecemasan yang terus menjalar dan menggerogoti lapis demi lapis ketegaran yang sekian lama dipupuknya. Dengan ragu-ragu dirogohnya saku jaket, mencari-cari rokok yang tadi tak jadi disulut. Ujung jemarinya menyentuh tembakau yang terburai dari kertasnya yang koyak karena gesekan dan saku jaket yang lembab.
Dibakarnya batang rokok yang koyak separuh, lantas disedotnya setengah hati. Ia membuang ludah yang terasa pahit di lidahnya. Tenggorokannya bagai terbakar, panas dan perih. Di telinganya suara nyamuk berdenging, menggigit kulitnya yang halus dan masih menyisakan harum. Tak ada kunang-kunang, membuat malam sungguh-sungguh kelam.
Pandangannya terus menyorot ke kanan sampai lehernya pegal; arah dari mana dirinya muncul tersaruk menyeret kopor. Ketegangan menyerang tubuhnya. Ia merasakan urat-urat lehernya menegang dan kaku. Taksi yang ditunggunya tak pernah muncul. Jalan itu memang tak dilintasi taksi apalagi di malam sepi dan dingin sehabis hujan seperti itu. Ia lupa, bahkan ojek pun tak berani melintas di sana. Baru kali ini ia linglung dan kehilangan akal apa yang harus diperbuatnya.
Ia mengetatkan dan menaikkan kerah jaketnya mencoba menghalau dingin. Tapi dingin tak bisa dihalau, ia telah bersekutu dengan malam dan sepi, mengundang kenangan yang berdiam dalam ingatannya. Ia serasa mendengar umpatan papa. Mendengar jeritan mama dan Ning, kakak sulungnya. Mereka berkelebatan mengurung matanya ke mana pun dibenturkan. Ia tidak pernah menemukan tempat yang benar-benar mampu menjauhkan ingatannya dari mereka dan seluruh peristiwa yang membuatnya membenci mereka. Mama dan papa seingatnya tak pernah bertemu kecuali untuk saling menumpahkan caci maki. Tak pernah dilihatnya mereka duduk bersama, bercengkerama, apalagi secara mesra mengulurkan tangan untuk dicium saat dirinya berangkat sekolah.
Ia dapat mendengar dengan jelas suara tangan papa menggampar pipi mama disertai bentakan, lantas lengkingan mama yang membuatnya terhenyak malam-malam. Disusul denting gelas dan cangkir beterbangan menghantam dinding. Kakak Ning tak pernah pulang kecuali dalam keadaan mabuk dan dipeluk seorang perempuan seusia mama. Mereka berdekapan sepanjang malam dengan pakaian separuh tanggal sambil mendesiskan suara-suara yang membuatnya mau muntah. Ia sendiri menggigil di balik pintu kamarnya. Adiknya, Riko, yang menderita autis pulas dalam pelukan tante Noah di kamar.
Ia tahu, Rikolah yang menjadi pangkal pertengkaran mereka. Papa menuduh Riko anak hasil perselingkuhan mama dengan pemuda-pemuda yang suka nongkrong di mall; bukan anak dari benihnya. Sebaliknya, mama yakin papa yang sering keluyuran malam dan bergonta-ganti pasangan yang menyebabkan Riko terlahir cacat.
Batang rokok terakhir sudah habis. Puntungnya yang masih mengepulkan asap tanpa sadar diremasnya. Sesaat ia menjerit dan terperanjat karena panas. Perlahan udara bergerak dari arah selatan tanpa suara. Wajahnya menegang lagi seperti ada anak-anak yang menariknya. Suasana makin hening. Gemeretak giginya terdengar nyaring. Ia melepas tas dari pundaknya kemudian dipeluknya. Meletakkan pipi di atasnya.
Seperti yang dilakukannya saat hatinya tiba-tiba perih direnggut rindu pada mama.
“Kamu kenapa, Revi?” tanya teman laki-lakinya melihat ia murung.
“Tidak apa-apa, Roni,” jawabnya seraya menatap mata laki-laki itu.
“Kamu masih tak mempercayai aku? Hmm.”
“Tidak. Kamu jangan sentimentil, Roni.”
Mereka sudah cukup lama berhubungan. Ia tidak pernah mencintai seseorang seperti ia mencintai laki-laki itu. Laki-laki yang mula-mula menyerahkan penanganan urusan rambutnya. Laki-laki itu ketagihan pijatannya yang enak. Pelayanannya yang serba lembut dan menyentuh membuatnya berlangganan setiap pekan. Tentu tidak terbatas pada urusan rambut, melainkan juga perawatan kulit dan wajah. Pria metroseksual, kata orang-orang. Ia suka menatap lekat-lekat rahangnya yang kukuh, dagunya yang selalu kebiruan. Ia terpesona pada gaya bicara dan terutama suaranya yang basah dan terdengar mendesah. Maka usai dengan urusan rambut, biasanya laki-laki itu berlama-lama duduk di sana sampai malam larut oleh embun, mengobrolkan entah apa dengannya.
“Kenapa kamu memilih hidup seperti ini?” demikian laki-laki itu pernah bertanya.
“Kenapa?” perempuan itu balik bertanya.
“Pengin dengar ceritanya.”
“Buat apa?”
“Namamu bagus.”
“Ah.”
“Bukan nama pemberian orang tuamu, kukira.”
Obrolan-obrolan serupa berlanjut terus setiap laki-laki itu datang. Berceritalah dia tentang kebenciannya pada mama, papa, dan Kak Ning, juga rasa iba terkira pada kondisi Riko. Tetapi terutama pada peristiwa demi peristiwa yang membuatnya membenci mereka semua.
“Itu yang membuat kamu memilih begini?”
Perempuan itu tak menjawab. Ia teringat pada keputusan besarnya: mengkastrasi kelaminnya, mengubahnya menjadi vagina. Ia yakin benar kekeliruan itu harus diluruskan, bukan karena kebenciannya pada papa, mama dan Kak Ning yang entah sudah mati atau masih gentayangan entah di mana.
“Apakah salah.”
Laki-laki itu tidak menjawab. Ia sendiri tak merasa memerlukan jawaban sebagimana ia juga tidak perlu tahu sungguhkah Roni mencintainya? Disimpan saja keraguannya itu. Ia berharap Roni sungguh-sungguh.
“Aku laki-laki, bukankah kamu perempuan?” ujar laki-laki itu seakan mengerti perasaannya.
“Hmm, aku gembira. Tapi tidakkah ini …”
Ia menepuk-nepuk telapak tangannya, membersihkan debu puntung rokok. Menelan ludahnya yang panas bagai lahar membakar lidah dan tenggorokan. Langit makin pekat. Selembar daun akasia jatuh tepat di pangkuannya. Seekor kucing tiba-tiba mendekat dan menyentuh-nyentuhkan tubuh ke kakinya. Di langit lapisan awan tebal tak menyisakan kerlip gemintang. Kenangan pelariannya dari rumah dengan mencuri semua perhiasan mama mendadak membayang lebih jelas. Seperti baru kemarin dia meninggalkan rumah yang dikutuknya bagai kamp penyiksaan bagi jiwanya.
Dengan percaya diri ia menjual semua perhiasan mama untuk menyewa ruko dan memulai usaha membuka salon. Ia adalah seorang yang ulet, terbukti salon yang dikelolanya tak pernah sepi pelanggan. Ia tidak perlu menjadi pengamen atau berdiri malam-malam di perempatan jalan menunggu mangsa; seperti kebanyakan kawan-kawannya.
Rupanya mama masih hidup, ia mendengar kabar mama masuk rumah sakit. Perempuan itu tak mengenalinya ketika ia menjenguknya di rumah sakit. Wajah mama nampak begitu pucat dan renta.
“Siapa kamu?” tanya tante Noah yang menjaga mama. Ia tak merasa perlu menjelaskan dirinya. Ia hanya berkata supaya mama dijaga, lantas pergi meninggalkan sekeranjang bunga dan buah-buahan. Sayup-sayup ia mendengar teriakan tante Noah memanggilnya, “Rava, Rava…” Sesunggguhnya ia ingin menghentikan langkah dan berbalik menemui mereka. Tapi keberaniannya tiba-tiba menguap entah ke mana.
Ia menelan ludah. Lamat didengarnya suara roda gerobak bakso yang didorong tergesa. Ia menggeser duduknya, mengangkat wajah melihat tukang bakso makin mendekat, dan melintas tanpa menoleh ke arahnya.
Bertahun-tahun ia tak pernah pulang. Berusaha melupakan mama, papa, Kak Ning , Riko dan semua impitan peristiwa masa kanaknya. Namun sering gagal. Semuanya selalu menguntit ingatannya. Setahun setelah peristiwa di rumah sakit, ia mendengar kabar mama meninggal. Kak Ning mengalami stres berkepanjangan, dan Riko dibuang tante Noah ke rumah panti anak-anak cacat. Papa entah ke mana.
Ia memejamkan matanya, berusaha membebaskan diri impitan ingatannya. Tetapi peristiwa lain yang menyeretnya ke tempat ini menyerbu kepalanya. Ia mendengar kabar perselingkuhan Roni dengan penari bar. Santi, karyawan setianya yang mengatakan kabar itu. Ia mendatangi hotel tempat mereka kencan. Setelah berdebat cukup alot, dengan berbelit resepsionis hotel itu memberi tahu nomor kamar mereka. Perasaannya berdebar kencang saat memijit tombol lift.
Di kamar yang dituju ia hanya mendapati seorang perempuan. Beberapa lama terjadi perang mulut. Ia sempat menampar perempuan itu. Ia ingin menuntaskan kegeramannya dengan melempar perempuan itu melalui jendela. Tapi itu tak dilakukannya, ia masih bisa menahan diri. Sebelum membanting pintu, ia mengakhiri pertengkaran dengan meletakkan mata belati yang berkilat di dada perempuan itu sambil membisikkan ancaman, “Lupakan Roni, atau ujung belati ini merobek jantungmu.”
Ia melangkah pelan menyusuri karpet lorong hotel, berusaha tidak menimbulkan suara. Tiba di salonnya, ia melihat Roni sudah berdiri di sana sambil berkacak pinggang.
“Mulai malam ini, jangan campuri urusanku, waria haram jadah!”
Peristiwa berikutnya berlangsung begitu cepat. Ia menyeret laki-laki itu ke kamar, lalu dibantingnya di sana. Laki-laki itu dengan cepat bangkit menjambak rambutnya, mencekiknya, menampar kedua pipinya sangat keras, sampai bibirnya pecah. Ia limbung beberapa saat, kemudian meraih gunting di meja hias dan menusukkannya berkali-kali ke dada laki-laki itu. Setelah menyeka muncratan darah di mukanya, ia meraih pedang panjang yang selama ini menjadi hiasan di dinding. Dengan kalap memotong-motong mayat lelaki itu menjadi beberapa bagian.
Malam sudah melewati separuh perjalanannya. Perempuan itu masih di duduk di bangku halte. Mengutuk perasaannya sendiri yang begitu sentimentil. Kini ia teringat Santi. Ia memintanya tidak mengikuti dirinya. “Pergilah, Santi, jangan ikuti aku. Bawalah uang ini untuk bekal. Pergilah sejauh-jauhnya dari kota ini. Semoga semuanya akan baik-baik saja. Biar aku pergi menyusuri jalan ini sendiri. Sebab aku belum tahu tempat mana yang akan kutuju.”
Hatinya bagai teriris melihat punggung karyawan setianya itu pergi membawa tangisnya yang mencekam.
Hujan turun lagi. Tiba-tiba ia merasa dirinya begitu tua, lelah dan teraniaya. Kepalanya tak kuat lagi disesaki peristiwa demi peristiwa penuh kepalsuan. Tak sanggup lagi membayangkan keluarga bahagia. Menata rambut para pelanggannya yang setia. Hidupnya terlalu sesak dengan keperihan, tak ada tempat bahkan untuk kisah cinta yang paling iseng dan sederhana. Maka tak ada lagi alasan untuk pergi dari situ. Begitu ia akhirnya memutuskan. Biarlah besok sekawanan polisi menggiringnya ke penjara.***
Balai Budaya Tangerang, 7 Juli 2005.
(Jawa Pos, 22 Agustus 2004)
Got meluap. Bangkai tikus sebesar kucing digiring air busuk kehitaman. Tersumbat kental. Maghrib. Deretan gubuk mirip kandang babi. Senyap. Sesekali terdengar kecipak langkah di atas air. Suara tawa sayup orang-orang merubung siaran acara lawak di televisi. Gubuk di ujung gang, dengan remang cahaya listrik 5 watt, Kakek Marijan terengah. Matanya nanar menatap Narto, cucunya, membeku dengan muka membiru tengkurap di sisi bak.
Kakek Marijan mengelap keringat yang membanjir. Pelahan diseretnya mayat cucunya itu. Dimasukkan ke dalam karung yang telah disiapkan dengan rapi. Gerimis turun lagi dan langit makin pekat ketika Kakek Marijan menaikkan karung ke dalam gerobak, dan perlahan menariknya menyusuri gang demi gang becek berlumpur. Roda gerobak seperti menggelinding di atas sungai. Entah ke mana. Narto, cucu yang sebetulnya sangat disayanginya, terguncang-guncang. Namun tentu saja bocah itu tidak merasakan dingin ataupun sakit karena nyawanya telah melayang.
“Maafkan Kakekmu,” begitulah kalimat yang keluar dari mulut Kakek Marijan ketika hendak membekap mulut Narto, bocah umur tujuh tahun, dengan bantal. Narto meronta dan cuma meronta ketika Kakek Marijan membopong tubuhnya dan membenamkannya ke dalam bak penuh air. Narto mengerjat beberapa saat sebelum lunglai, dan akhirnya mengeras. Tidak ada jalan lain, pikir Kakek Marijan, untuk membalas sakit hatiku pada ayahmu. Aku sudah terlanjur tersinggung dan tidak bisa memaafkan menantuku sendiri.
Kakek Marijan teringat lagi ucapan menantunya yang menyebabkan ia tersinggung dan sakit hati. “Tua bangka tak berguna, selalu saja menyusahkan orang.” Kakek Marijan memang cuma bisa memendam kalimat itu dalam benaknya. Rupanya bukan sekali itu si menantu melontarkan kalimat dan perilaku yang menyakitkan, melainkan berulangkali kata-kata kotor menyembur dari mulut menantunya, baik bentakan maupun halus namun penuh nada ejekan. “Seharian nongkrong. Bikin kandang merpati saja nggak becus. Huh! Cuma menunggu nasi mateng saja kerjamu.” Demikian si menantu berujar seraya membanting pintu dan sengaja menyenggol teh tubruk kesukaan Kakek Marijan. Teh tumpah dan gelasnya pecah. Kakek Marijan tersuruk-suruk memunguti serpihan beling. Si menantu masih berujar, “Pecahkan saja semua biar habis!” Kakek Marijan masih melihat menantunya membuang dahak kental persis di depan mukanya. Narto yang tiba-tiba muncul dan memeluknya dari belakang, dengan cepat direnggut ayahnya, “Jangan dekat-dekat si pemalas, ayo masuk.”
Kakek Marijan ingat tatapan jijik menantunya yang seakan menghunjam ke dasar tulang. Dari kamarnya yang disekat kardus lapuk Kakek Marijan mendengar menantunya menghardik, “Tidak tahu bagaimana susahnya cari makan. Kalau tidak ada polisi sudah kuracuni.” Lalu terdengar tape disetel keras-keras.
“Iblis! Manusia tak tahu adat, tak tahu balas budi. Dasar komunis,” kata-kata itu cuma digumamkan Kakek Marijan dalam kamarnya. Memang si menantu kadang bisa juga bersikap santun dan manis. Tapi hati Kakek Marijan telanjur cedera dan menyimpan dendam. Meski anaknya selalu bilang. “Jangan dimasukkan ke hati. Memang sifatnya sudah begitu dari dulu. Anggap saja angin lalu.” Kakek Marijan mau mengatakan, perbuatannya sudah keterlaluan, tapi selalu urung. Ia paham, anaknya tentu lebih membela suaminya. Makanya ia lebih senang memupuk dendam di hatinya. Kakek Marijan tahu dirinya tidak berdaya dan mustahil dapat melampiaskan dendamnya pada sang menantu secara fisik. Waktu jadi terasa panjang dan sangat menyiksa setiap ia harus bertemu menantunya dalam rumah yang sempit, di mana nafas para penghuninya terdengar satu sama lain. Makanya Kakek Marijan lebih sering keluar dari kamarnya, berjalan-jalan dari gang ke gang, menyusuri kali yang arusnya lambat dan airnya pekat membawa segala macam limbah sambil mengajak Narto setiap menantunya berada di rumah setelah seharian pergi entah ke mana mengais rejeki.
Sering memang, Kakek Marijan punya kesempatan bagus melampiaskan dendam dengan menghantamkan linggis di kepala menantunya ketika sedang mendengkur. Tapi ia tak juga kuasa melakukanya. Selalu dihalangi rasa cemas cucunya jadi yatim dan anaknya jadi janda. Padahal ia tahu persis anaknya seringkali mendapat perlakuan kasar suaminya. Tapi Kakek Marijan maklum, mereka tetap saling mencinta. Ditambah lagi keadaan dirinya yang cacat. Ia tak mau terlunta-lunta dan mati di pinggir rel kereta.
“Hhh, apa maksudnya Tuhan menciptakan makhluk sepecundang diriku.” Demikian Kakek Marijan sering menggugat nasib buruk yang melilit dirinya. Dia cuma sanggup menggugat dengan keluhan-keluhan cengeng yang membuat dia kadang malu sendiri. “Kenapa aku tidak bunuh diri saja.” Nah niat ini pun cuma sekadar niat yang tidak kunjung dilakukan. Tentu takut akan rasa sakit yang pasti dihadapi orang yang meregang nyawa secara paksa. Dia heran sendiri kenapa mesti takut menghadapi rasa sakit yang tentu tak terlalu lama menyengat. Padahal hidup yang dihadapi pun sudah begitu menyakitkan, dan terlalu cukup untuk jadi alasan buat diakhiri.
Dendam di hati Kakek Marijan kian menggunung. Selalu ia tahan-tahan untuk diletuskan. Rencana membunuh sang menantu jelas sulit dilakukan. Dia mulai berpikir, menghitung-hitung apa yang harus dilakukan supaya sang menantu laknat merasakan sakit hati seperti yang dialaminya. Ya, Kakek Marijan hanya ingin menantunya merasa sakit hati. Tak harus menyakiti fisik, apalagi membunuhnya.
Cara yang pernah ia rencanakan namun urung dilakukan adalah menyuruh anaknya menyeleweng. Ini tak dilakukan jelas karena ia tak mungkin bekerja sama dengan anaknya yang tentu saja lebih membela suaminya.
Kakek Marijan terus berjalan terseok-seok menarik gerobak. Hari makin gelap, sedang gerimis tetap setia mengguyur tubuh rentanya yang mulai menggigil. Berkelebat terus-menerus di kepalanya wajah sang menantu yang bermata merah, menghardik, “Matikan tapenya, tua bangka! Maghrib. Tidak juga sadar mau masuk kubur. Bukannya ibadah.” Mengiang terus sepanjang waktu kata-kata itu. “Aku memang komunis, tapi tahu menghargai orang ibadah.”
Kakek Marijan pantas heran dengan ucapan terakhir yang terlontar dari mulut menantunya itu. Yang ia tahu, komunis ya komunis. Anti agama. Meski ia juga tak peduli apa itu komunis, apa itu agama. Apa itu ber-Tuhan, apa itu anti Tuhan. Yang jelas menantunya telah menyebabkan hatinya remuk parah. Dan ia tak menemukan cara membalaskan sakit hatinya. Sampai kemudian muncul gagasan gila; membunuh cucunya sendiri. Ia tahu Narto begitu berharga bagi ayahnya yang tak lain menantunya sendiri. Narto satu-satunya harapan bagi ayahnya yang sangat dibanggakannya. Anak itu tidak boleh disakiti. Bila sampai terjadi ayahnya mati-matian membela. Kakek Marijan pernah melihat bagaimana sang menantu nyaris menggolok orang yang berani-berani menyebabkan Narto menangis. Satu hal yang memang seharusnya membuat ia besar hati.
Namun pada saat-saat begini ia bertekad membunuh cucunya sendiri supaya ia bisa puas melihat menantunya remuk redam. Maka, begitulah, saat yang ditunggu-tunggu tiba. Malam itu sang menantu bersama istrinya berpesan supaya menjaga Narto baik-baik. Mereka tidak menjelaskan hendak ke mana dan berapa lama. Kakek Marijan cuma diberi uang untuk makan mereka berdua selama beberapa hari. Sempat ragu juga sebetulnya ketika malam itu ia hendak membunuh cucunya sendiri. Ditatapnya wajah Narto yang persis wajah sang menantu. Dihidup-hidupkan dendam di hatinya. Nyala merah mata si menantu yang menatapnya dengan jijik. Hardikan-hardikannya diputar lagi di telinganya seperti memutar rekaman kaset. Dan memang tumbuh juga. Kakek Marijan bagai tidak melihat wajah Narto yang tengah terlelap dalam dekapannya, melainkan wajah bengis sang menantu. Ia terlonjak, bangkit meraih bantal…
***
Kakek Marijan berhenti di tepi kali yang permukaan airnya memantulkan lampu-lampu gemerlapan dari kendaran yang berseliweran. Di kali ini sering dilihatnya mayat mengambang kembung entah siapa. Orang mati dibunuh atau bunuh diri. Ah, sama saja: mayat. Dan kini cucunya bakal jadi salah satu dari mereka. Ya, semuanya sudah terjadi seperti takdir. Pada saat demikian muncul lagi keberaniannya yang lain; Kakek Marijan berniat untuk turut mecemplungkan diri. Mati. Ini jalan yang paling aman barangkali, begitu ia berpikir. Sebab ia tak mungkin lagi pulang dan menghadapi kemarahan sang menantu yang cepat atau lambat tentu akan tahu ia yang telah membunuh cucunya sendiri.
Lebih aman aku mati bunuh diri ketimbang digebuki sang menantu. Ya kalau langsung mati. Tidak begitu berat menanggung risiko. Kalau diseret ke kantor polisi, diadili, lantas masuk bui?***
Cirebon, 12 Maret 2004
(Jawa Pos, 11 April 2004)
Setelah menghunjamkan belati ke jantung laki-laki itu menatap dengan mata kosong saat dia mengerjat meregang nyawa, perempuan itu menyeret dan membuang mayatnya begitu saja ke dalam semak-semak belakang rumah. Beberapa saat ia menatap tubuh kaku itu tersungkur memeluk belukar. Tubuh yang semalam lalu masih memberinya kehangatan. Perempuan itu kemudian buru-buru melucuti seluruh pakaiannya setelah mengepel ceceran darah di lantai, lantas mandi merendam tubuhnya dengan air hangat dalam bathtub. Hujan masih rintik-rintik menimpa genting dan daun-daun, suaranya terdengar bagai orkes malam yang menggores perasaan. Ia menikmatinya sambil meresapi sensasi kehangatan yang menjalari saraf-saraf sekujur tubuhnya sampai merem melek.
Kini ia telah berpakaian rapi. Bibir mungilnya dipoles lipstik warna merah jambu.Warna yang cocok untuk menyembunyikan kegugupan sekaligus kebuasan. Ia tersenyum sendiri di depan cermin, berusaha meyakinkan diri bahwa perasaannya tetap tenang. Di luar malam begitu hitam pekat. Angin basah berkesiur menggebrak jendela. Perempuan itu seperti tidak juga merasa yakin bahwa perasaannya tetap tenang. Di cermin ia menatap wajahnya yang pucat perlahan menegang, kerut merut kulit wajahnya makin mengeras. Wajah yang memperlihatkan bermacam keinginan yang tak pernah tuntas. Ia seperti melihat penggalan-penggalan peristiwa dengan banyak cerita yang kadang terlalu sulit dimengerti. Perempuan itu lantas menghembuskan nafas dengan berat, seakan ingin menghempaskan semua yang telah dilakukannya. Apakah sebenarnya yang aku inginkan dari semua yang sedang terjadi?
Wajah yang menyeringai menahan kesakitan luar biasa itu beberapa lama bagai nempel di pelupuk matanya. Ketika ia menatap wajahnya di cermin yang nampak adalah wajah kesakitan itu. Tapi perempuan itu terus menatapnya dan mencari-cari wajahnya sendiri di balik wajah yang menyeringai itu. Ia terbiasa untuk selalu berpikir rasional. Ia sudah terlatih untuk tidak sentimentil. Ia sudah piawai bagaimana menekan perasaan-perasaan kewanitaannya.
Apa saja yang sudah kulakukan untuk hidup yang runyam ini? Tiba-tiba pertanyaan itu memercik dalam kepalanyanya. Percikan yang semakin lama terasa semakin besar dan membuat kepalanya berdenyut nyeri. Ya, hidup macam apa yang tengah kujalanai ini? Apakah ada artinya untuk hidup itu sendiri? Perempuan itu menatap langit seperti mencari jawaban di sana. Tetapi langit masih saja kelam dan hampir tak menyisakan harapan. Ia mendesah. Masih mengiang ucapan laki-laki itu entah beberapa malam yang silam.
“Dasar pelacur. Pergilah sesukamu dan jangan pernah kembali?”
Ia merasa heran kenapa laki-laki itu merasa punya hak untuk mengatur hidupnya hanya karena dia telah menikahinya. Pernikahan yang dulu disangkanya akan dapat memberikan perlindungan bagi kebebasannya justru telah menjeratnya dalam sangkar yang penuh aturan. Untuk apa lembaga pernikahan itu? Apakah ia diciptakan memang untuk mengekang kebebasan seseorang?
“Siapakah yang salah?” batin perempuan itu mendesah. Ia menaikkan krah sweaternya lebih tinggi. Rambutnya yang keriting panjang dan sedikit pirang dia ikat ke belakang. Lantas menyalakan rokok, menyedot dan menghembuskan asapnya kuat-kuat. Betapa enaknya hidup ini bila kesulitan dapat dihembuskan semudah menghembuskan asap rokok, lamunnya.
Dulu sebelum laki-laki itu menikahinya dia sudah mengajukan beberapa persyaratan. Laki-laki itu sepakat. Kata suaminya pernikahan bukan untuk menyatukan dua pribadi yang memang tak pernah sama.
“Pernikahan adalah cuma sebuah sarana di mana orang harus punya komitmen untuk saling memahami, saling mengerti, saling menghargai. Tidak ada yang lebih berkuasa dan dikuasai di antara dua orang yang terikat dalam pernikahan. Kedua belah pihak memiliki hak yang sama dalam mengambil keputusan untuk kepentingan bersama.”
Di luar angin tak bersuara. Ia seperti bergerak mengendap dan berjingkat hendak meninggalkan malam yang bimbang. Perempuan itu bangkit dan menutup tirai jendela. Jam menunjuk angka dua. Sama sekali ia tidak mengantuk. Tiap malam ia hampir selalu begadang, membaca, menggunting tulisan-tulisan koran untuk dokumentasi, menulis novel, puisi, diskusi, cekikikan bersama teman-temannya yang juga sebenarnya teman-teman suaminya. Begitulah cara ia memberi makna pada hidup. Sebuah cara yang membuatnya bergairah memandang kehidupan yang terentang di hadapannya.
Apakah selama ini aku telah salah memaknai hidup? Benar dan salah, di manakah batasnya? Betapa ruwetnya hidup ini bila harus selalu dibatasi dengan benar dan salah. Astaga, sialan betul hidup kalau begitu.
Dua malam lalu dia baru saja menyelesaikan sebuah novelnya. Mengundang beberapa temannya untuk mendiskusikan di sebuah kafe. Menelepon pers untuk meliputnya. Acara itu berlangsung cukup meriah. Dia merasa bahagia. Merasa hidupnya tidak sia-sia. Sebaliknya laki-laki itu menganggapnya keterlaluan. Semaunya sendiri. Dan menuduhnya telah mengabaikan tugasnya sebagai perempuan, sebagai istri.
“Kamu telah melanggar hakku sebagai suami,” kata suaminya.
“Dan kamu tidak melanggar hakku sebagai perempuan?!” balasnya sengit. Aku memang perempuan tapi aku juga punya hak menentukan pilihan hidupku, pikirnya. Kenapa hanya karena perkawinan seorang perempuan harus membatasi diri? Tidakkah itu penindasan terhadap hak asasi? Apa yang membedakan perempuan dan laki-laki sehingga mereka harus dibeda-bedakan berdasarkan jenis kelamin dalam pekerjaan, peran sosial, dan norma-norma yang tidak jelas hubungannya itu. Apa memang harus begitu? Siapa yang mengharuskan?
Dari dulu sebenarnya dia bertekad untuk tidak menikah. Baginya menikah sama saja dengan menyerahkan kebebasannya pada aturan-aturan yang tidak rasional dan diskriminatif. Dia sudah banyak menulis cerpen, esai, maupun novel untuk menuangkan gagasan-gagasannya. Dia ingin setia dengan tulisan-tulisannya. Dia membenci sebagian teman-temannya yang cuma bisa menulis sementara dalam kehidupan sehari-hari mereka menyerah dan hampir tidak ada usaha apa pun untuk merombak keadaan yang dikecamnya sendiri. Di matanya mereka tak lebih dari pembual-pembual nomor satu. Tidak punya komitmen dan cuma menjual kebohongan-kebohongan untuk menunjang hidupnya. Ya, dia melihat satu per satu teman-temannya menikah dan meninggalkannya.
“Ya menikah dan berbahagialah kalian bersama keluarga.”
Dia tidak percaya bahwa pernikahan sebagai satu-satunya cara menjalani kehidupan untuk bahagia. Namun begitulah, dia juga tidak percaya kenapa kemudian dirinya harus menikah. Semuanya seperti begitu saja berlangsung. Begitu cepat, begitu tak terkendali. Sampai tiba-tiba dia mendapati dirinya sebagai ibu rumah tangga yang harus tunduk pada sejumah aturan. Harus bangun pagi-pagi, menyiapkan sarapan untuk suami, meracik kopi, mencuci, belanja ke pasar, tawar-menawar dengan penjual sayuran, menyapu halaman mengepel lantai, menyiram tanaman, bila malam melayani suami di ranjang. Wejangan-wejangan, nasihat-nasihat?
“Perempuan itu harus pintar masak. Harus pandai dandan, menjaga badan. Tidak boleh bangun, kesiangan, tidak boleh pergi sendirian, tidak boleh urakan, tidak boleh melawan tidak boleh?”
Untuk beberapa bulan ia berusaha mengikuti kebiasaan yang sudah berjalan. Belajar menikmati perannya sebagai perempuan setia meskipun dalam benaknya tak pernah percaya dengan ide semacam itu. Menganggapnya lucu. Akhirnya ia memang tidak tahan menahan-nahan kemelut dalam benaknya sendiri.
Perempuan itu menghempaskan tubuhnya ke sofa, memandang langit-langit. Di sana ia seakan mencari jalan hidup mana yang harus ditempuhnya. Tapi semuanya seakan menggelap dan sukar ditebak. Ia bangkit lagi. Malam kian larut melantunkan kesunyian yang akut. Hujan sudah selesai. Suara katak yang berirama di luar terdengar sangat merdu bagai datang masa lalu.
Perempuan itu tiba-tiba tersenyum, ada semacam kecemasan menggelikan yang tiba-tiba menyergapnya. Hidup memang penuh jebakan, batinnya. Siapakah yang telah memasang jebakan-jebakan itu? Tidakkah manusia merasa dijebak? Perempuan itu bangkit, lalu berjalan hilir mudik di tengah ruangan yang seakan bungkam dan tak mau komentar apa-apa. Biasanya ruangan ini selalu melontarkan komentar-komentar tentang penghuninya. Benda-benda pun kadang memperhatikan dan mengomentari tindakan manusia. Cara mereka merespons itulah yang tidak setiap orang merasakannya.
Pada masa remaja ia pernah pacaran dengan beberapa laki-laki. Ia heran, setiap laki-laki selalu menuntut kesetiaan. Sementara ia merasa setiap orang tidak harus setia pada seseorang. Setiap orang tidak punya hak menuntut orang lain untuk setia pada seseorang. Setiap orang lahir untuk meraih kemerdekaanya masing-masing.
“Apa hakmu memintaku setia? Aku ini orang merdeka.” Begitu selalu kredonya.
Terdengar ayam jantan berkokok. Nampaknya hari menjelang subuh. Perempuan itu seperti baru tersadar dari tidur, dia tergeragap dan melangkah cepat-cepat masuk kamar. Ia telah menyiapkan tas besar dan memasukkan beberapa potong pakaian, buku-buku serta peralatan kecantikan. Lantas dengan sigap mengenakan sepatu ketsnya yang berwarna putih.
“Aku harus pergi,” ucapnya pada diri sendiri.
Dia bersiap meninggalkan rumah itu tepat ketika azan Subuh melengking dari sebuah musala tua satu-satunya di kompleks perumahan itu. Namun hatinya kembali goyah. Ia memandang rumah itu dengan perasaan kosong yang sulit dijelaskan seperti apa. Diam-diam penyesalan dan rasa salah menyelinap di benaknya. Makin lama makin membesar. Perasaan yang baru kali itu dialaminya. Lantas ragu harus pergi ke mana. Lantas ia merasa semuanya tak berguna. Lantas meraih belati yang tadi digunakan untuk membunuh suaminya, menggegamnya erat-erat dengan kedua belah tangannya, lantas diangkatnya tinggi-tinggi dan diayunkannya dengan mantap ke dadanya? ***
Tangerang, 2004
KOMENTAR TERAKHIR