$theTitle=wp_title(" - ", false); if($theTitle != "") { ?>
temukan keasyikan membaca prosa di sini
Aku dapat melihat keletihan dan perasaan putus asa di kedua bola matamu. Bibirmu yang berkerut rapat terkatup, mengabaikanku. Aku senang merasa mendapat kejutan saat kau menjemputku pulang sekolah tadi, dengan sepeda kau membawaku berputar melewati lapangan. Sepasang kakimu yang kuat mengayuh pedal sepeda dengan lekas. Tubuhku berdiri terguncang-guncang di boncengan.
Udara sore bulan Juni yang hangat. Permukaan kanal yang bening berkilauan memantulkan matahari. Anak-anak berterjunan dari jembatan bambu. Aku mengurungkan niat bergabung dengan mereka. Debur air dan suara gelak riang anak-anak sampai juga ke telingamu. Tapi itu tak mampu menghiburmu. Matamu makin tampak gelisah. Sesekali ibu jari dan telunjukmu menyeka pangkal hidungmu.
“Ada apa denganmu, Ayah?” Kau hanya sekejap menatapku. Lalu kembali dihanyutkan pikiran yang membuatmu murung. Apa gerangan yang membuatmu begini rusuh? Aku tak pernah melihatmu semurung ini. Adakah ulahku yang menjadi lantaran? Lihatlah, aku tak minta kereta mainan yang berjalan melingkar di atas rel plastik yang dijual orang di pasar malam. Aku juga tak lagi merengek menututmu membelikan benang dan layang-layang. Sudah cukup layang- layang kau bikin sendiri untukku. Tak perlu pula kau belikan aku sepatu baru seperti teman-teman. Aku jadi anak penurut sekarang. Sekuat tenaga kutahan hasratku berlari ke jembatan bambu, melepas baju, terjun ke kanal.
Jeruk hangat yang telah tandas di gelas hendak kembali kau teguk. “Tolong buatkan segelas lagi,” pintamu pada pelayan. Tidak biasanya kau minum jeruk hangat sebanyak itu. Tapi aku yakin kau tidak sedang marah pada ibu di rumah. Bukankah kalian baik-baik saja? Aku tak pernah mendengar kalian saling berbantahan ataupun berkata-kata dengan nada tinggi dan kasar. Kalian justru sering bercanda dan tertawa bersama-sama. Kau yang pendiam ternyata tidak cuma mahir merayu tapi juga pandai melucu di depan ibu. Membuat rumah kita yang tidak terlalu lebar dan berdinding anyaman bambu itu semarak.
Jadi apa yang membuatmu resah? Kau meneguk lagi jeruk hangat sampai separuh gelas. Tapi jeruk hangat yang mengalir di kerongkongan tak mampu melarutkan gundahmu. “Ada apa denganmu, Ayah?” ulangku. Matamu mengerjap, seakan baru sadar bahwa kau tidak seorang diri. Menarik napas dalam-dalam, lalu menghebuskannya jauh-jauh. “Kau mau berenang seperti mereka, Nak? Pergilah, Ayah mengawasimu dari sini,” ujarmu mengalihkan perhatian. Tapi kalimat itu tak berhasil memupus kisruh di matamu. Aku enggan beranjak. Aku kembali meraih satu kembang gula yang direnceng di depan warung. Merobek bungkusnya, lalu mengulumnya dengan nikmat. “Jangan banyak makan kembang gula, Nak, nanti gigimu rusak,” ujarmu.
“Aku tak mau berenang. Aku ingin menemanimu. Tapi kenapa wajahmu murung, Ayah?” cecarku. Bukankah kau selalu mengingatkanku untuk menjauhi perasaan sedih? Kesedihan mengurangi nafsu makan, membuat daya tahan tubuh lemah sehingga gampang sakit. Sekarang perbuatanmu tak sesuai dengan ucapan.
Aku bergelayut di pundakmu. Kau membelaiku. Menggeser letak duduk, memberi tempat pada seorang pengunjung yang datang memesan gado-gado ke warung. Kau bercakap sebentar sebelum kembali larut dalam pikiranmu. Menolak halus saat dia menawari rokok. Langit biru terang, gumpalan awan putih menyisih. Angin seperti menepi pada batang-batang pohon trembesi. Cuaca yang sangat bagus. Bertolak belakang dengan suasana hatimu.
“Ayah tidak bersedih, Nak. Buat apa bersedih,” kilahmu seraya mengaduk jeruk hangat yang tinggal separuh. Bunyi ujung sendok membentur dinding gelas menimbulkan suara khas yang mengingatkanku pada sesuatu. Kau mencomot pisang goreng, lalu menggigitnya dengan malas. Mengunyahnya perlahan-lahan. Kudengar decap bibirmu yang beradu.
“Apakah kakek yang membuatmu bersedih?” ujarku sekonyong-konyong. Aku ingat, kemarin ketika baru tiba dari sekolah, aku melihat kakek keluar dari rumah dengan wajah memerah. Lamat-lamat sempat kudengar kata-kata ‘anak durhaka’. Ia tak menghiraukan aku yang hendak meraih tangannya untuk kucium. Di ruang tengah kudapati kau dan ibu tertegun kaku laksana sebatang kayu. Seperti ada kalimat yang nyangkut di kerongkongan, gagal terlontar keluar. Aku berlari menghambur ke arahmu. Kurasakan telapak tanganmu yang basah oleh keringat mengusap kepalaku.
Kakek memang sangat jarang berkunjung ke rumah kita. Sejak dia diusir dari rumah istrinya karena enggan bekerja, dia tinggal di rumah bibi Jemah yang jaraknya tidak sampai sekilo dari rumah kita. Hanya saat lebaran kau membawaku mengunjungi kakek. Itu pun sebentar saja, untuk bersalaman dan berbasa-basi. Tak pernah kulihat kau bercakap-cakap lama dengan kakek. Bahkan, terkesan sengaja menghindarinya. Tapi kau tak melarang saat ibu membawaku mengunjungi kakek.
“Tidak ada yang perlu dirisaukan dengan kakek. Semua baik-baik saja,” tuturmu, berusaha menenangkanku. Tapi aku telanjur tidak percaya. “Tapi kenapa Ayah bersedih,” ujarku bersungut-sungut.
“Pergilah berenang, Nak,” katamu lagi. Aku bergeming. Kau mengusap kedua pipiku. Kurasakan telapak tanganmu yang kasar, pertanda kerja keras yang kau jalani sejak kanak. Kau pernah cerita, sejak kanak bekerja sebagai pembersih di rumah orang. Kakek tinggal di rumah istrinya yang baru tak lama setelah nenek meninggal lantaran bekerja terlalu keras di pasar. Dia terserang mag berat yang merusak lambung dan membuat levernya bengkak. Kakek tak pernah membantu pekerjaan nenek. Di rumah selesai salat dan zikir kerjanya hanya ongkang-ongkang kaki sambil mendengarkan siaran radio, lalu pergi nonton bioskop pada malam hari.
Kakek tak pernah menjenguk apalagi menghidupi dan membiayaimu sekolahmu. Susah payah kau menghidupi diri sendiri dengan berjualan kantung plastik di pasar. Menjual jasa membawakan barang belanjaan orang. Tapi kau tak putus melanjutkan sekolah sampai SMA meski harus terkantuk-kantuk di kelas lantaran malamnya kau masih harus menjadi pelayan di kedai sate.
Sore mulai redup. Angin bergerak perlahan. Di kanal yang tadi ramai anak-anak berenang kini telah sepi. Mereka beriringan menyeberangi jembatan bambu, meninggalkan kanal, pulang ke rumah masing-masing. Sebentar lagi tentulah kumandang azan bakal terdengar. Di rumah ibu pasti sudah menunggu. Sudah berapa lama kita duduk di warung ini, Ayah? Pelayan warung beberapa kali mencuri tatap. Mungkin dia juga bertanya-tanya, kapan kita pulang. “Ayah, ayo kita pulang. Bukankah kita harus mengandangkan ternak?” Kau beranjak memanggil pelayan, meminta dia menghitung jumlah yang harus dibayar. Aku menggeleng saat kau menawariku lagi jajan.
“Besok kita ke rumah kakek,” ujarmu.
*
Benar, ibu sudah menunggu di depan pintu. Begitu turun dari sepeda tanganku diraihnya, dia membawaku ke kamar mandi. “Ke mana saja kamu, Nak, hampir magrib begini baru pulang,” kata Ibu seraya mengangsurkan handuk dan ember kecil berisi peralatan mandi. Sementara kau bergegas ke belakang memasukkan ternak ke dalam kandang.
“Besok Ayah mengajak ke rumah kakek,” ujarku di antara gejebur air mengguyur tubuh. Terbayang lagi wajah kakek yang memerah. Tak pernah kulihat wajah kakek semerah itu. Apakah yang sesungguhnya terjadi kemarin? Siapakah yang dimaksud anak durhaka? Aku tidak bisa menduga-duga apa kiranya yang membuat kakek tampak demikian marah sehingga wajahnya semerah bata. Jawaban ibu setali tiga uang denganmu waktu kutanya tentang kejadian siang itu.
Esoknya kau tidak pernah jadi membawaku ke rumah kakek. “Maaf, Nak, kita tidak bisa ke rumah kakek sekarang. Mungkin besok atau waktu yang lain,” ujarmu, seraya bergegas ke kandang memunguti telur untuk dijual ibu ke pasar. Kau menghindari bertatapan denganku, berusaha menyembunyikan kekisruhan di matamu. “Kamu pergi ngaji saja. Kemarin bolos, kan?” serumu dari dalam kandang. Aku kecewa sekaligus sedih melihat mendung itu belum sepenuhnya berlalu dari wajahmu. Semangatku pergi ngaji pun surut bagai kanal di musim kemarau.
Aku memang bergegas membawa iqro, merenggut sarung dan menyelempangkannya di bahuku. Tapi tanpa sepengetahuanmu di ujung jalan itu aku berbelok ke kanan, ke arah jalan beraspal, menuju rumah bibi Jemah.
Ia duduk di ruang tengah ditemani segelas teh. Rumah sepi sekali. Tak terdengar suara Lana dan Saripah, anak-anak bibi Jemah yang biasanya ramai sekali. Wajah kakek tidak semerah kemarin. Tapi jelas masih ada sisa kemarahan di matanya yang agak cekung. Kakek tak bersuara seakan tidak melihat kemunculanku. Aku urung menghampiri dan meraih tangannya. Entahlah, ekspresi wajahnya tiba-tiba membuatku ciut. Aku terus bergerak ke dalam mencari bibi Jemah, Lana dan Saripah yang mungkin sedang tidur di kamar.
Tetapi, saat kubuka kamar mereka kosong melompong. Hanya tampak sobekan buku tulis berserakan di lantai, di atas dipan kayu seprai terlihat kusut masai. Ketika aku kembali ke ruang tengah aku melihat seorang perempuan yang tak kukenal duduk di samping kakek. Dia mengenakan kebaya yang masih tampak baru. Rambutnya disanggul rapi. Bibirnya sedikit merah. Sekilas dia melihatku. Umurnya kurasa lebih tua beberapa tahun dari ibu.
Aku menghambur keluar, disambut bibi Jemah dan dua sepupuku. Dia menggamit tanganku, membawaku menjauh dari muka rumah. “Yasa, bilang ayahmu, kakek mau menikah. Dia minta sumbangan,” ujar bibi Jemah.*
Pondok Pinang, 16 Mei 2008
Ngeblog di BI
Aku menulis dan memposting tulisan ini di internet gratis di press room Bank Indonesia, Jalan Thamrin, Jakarta. Ini kulakukan iseng untuk membunuh bosan menunggu narasumber yang akan aku foto-foto. Ya, kali ini yang wawancara temanku, aku kebagian tugas foto-foto. Menunggu dari jam 10 pagi sampai jam 12, jemu sekali bukan? Melakukan kegiatan ini (menulis dan ngeblog) jelas sangat menolongku luput dari kejemuan dan rasa kesal.
Sehari sebelumnya aku menunggu juga. Dari jam 10 sampe jam 12. Begitu tiba waktu, jadwal wawncara ditunda sampai jam 15. Aku tidak bisa marah. Duduk pasrah menunggu di lobi. Tiga jam lewat. Datang bagian humas yang mengabari wawancara ditunda lagi sampai pekan depan. Astaga!
Sekarang aku tidak lagi perlu merasa kesal, karena sekarang aku bisa menyelinap ke press romm dan ngeblog sepuasnya.
Terima kasih BI, aku juga bisa menulis cerpen di sini. hihihi


Seorang kawan menyarankan supaya gigiku yang bolong dicabut saja nanti sewaktu sembuh supaya tidak kumat-kumat lagi. Plis, ini nasihat klise…ketimbang mencabut gigi mending vasektomi deh.
Bukan apa-apa aku khawatir efek sampingnya. Misalnya struktur wajahku jadi berubah, gimana coba? Ngeri kan? “Ah, lo aja yang penakut dan eman-eman. Doketr gigi kan gak sembarangan nyabut gigi. Memangnya yang mau lo mao mencabut gigi ke dukun atawa montir sepeda motor?” ini komentar temanku yang sok perhatian..
Terpaksa deh, aku pidato di depan dia, bahwa sekarang ini sangat banyak malpraktek, dan harap kamu catat, hukum-hukum kedokteran sering kaga nyambung dengan gelombang kenyataan.
“Ya sudah, ente jangan ngeluh di depan gue. Sekarang kerjain tugas-tugas yang kudu ente bereskan dan setor besok. Deadline neh. deadline!”
Astaga mampus gue…
Ini foto foto ssebelum gue sakit gigi….
mungkin aku akan kandas
sementara kamu makin jauh terlepas
tikungan itu terlalu ramai
aku lenyap dalam kerumunan
kau melihatku megap-megap kan?
tapi kamu tinggal bayang-bayang malam
lebih gelap dari pohon asam
rumah ini sudah sunyi
mengepak kegembiraan dan kesedihan
sebuah surat sudah kutulis
dan kuletakkan di bawah pintu
aku tak mungkin keluar dari kerumunan
hujan dan debu tertulis rapi di sini
maka nona, ini kakiku, kurus sekali kan?
semua kuserahkan tanpa kesedihan atau kegembiraan
: kamu tak menginginkannya.
Pondok Pinang Mei 2008
Pencuri
mencuri selembar ingatan dari kepalamu
sebagai tiket yang mengantarku pulang
aku capek mendekap kesunyian kamar
lampu-lampu kubekukan
kuletakkan di atas televisi. aku terbang tanpa roh
lalu aku kembali tertidur
meraba-raba degup mimpi yang mengecil
terlipat di halaman buku
aku lelah membaca. mataku perih
seperti melihat kamu mengulum bibir pacarmu
di pojok stasiun itu
aku menyimpan adegan itu di ujung sepatuku
jalan lengang ini menyeretku
kusalami kamar-kamar sunyi
aku sedang memerlukan angin yang lain
yang pernah surut di dalam kamar
dan kini berkobar di jalan-jalan
lalu orang-orang itu berdatangan
memberiku kepalan tangan
lalu aku berlari. dan jam terus menari
Pondok Pinang, Mei 2008
Keberangkatan
orang itu menatapku
seakan hendak mencuri sesuatu dari mataku
mungkin dia menginginkan kesepianku
yang mengendap jauh di halaman-halaman buku
aku merapikan jendela, memeriksa lemari baju
lalu terdiam mengingatmu
saat itu mungkin aku luruh, larut
oleh hujan yang singgah di pelataran berlumut
anakku, tak ada yang kusisakan untukmu
kecuali perasaan ragu
yang kelak menyiksamu
membawamu pergi pada gugusan malam
dan jalan-jalan remang
aku tak ingin menguasaimu
berangkatlah dari rumah ini
nanti arah yang pasti akan memasukimu
dan orang itu tak akan menatapmu
sebab dia menyangsikanmu
membiarkanmu lalu
bergegaslah lebih dulu
aku belum memeriksa lemari baju, rak buku, merapikan jendela
dan menutup halaman halaman buku
Pondok Pinang, Mei 2008
Seseorang yang Mencintaimu
ia ragu-ragu mencoretkan sesuatu
di kertas itu
ia mungkin pacarmu yang suka
menganiaya diri sendiri dengan lamunan
dengan ucapan-ucapan yang membuatmu
marah-marah, lalu menampar pipinya
sampai gusinya berdarah
aku pernah membawakan ia senja yang merah
sekeranjang buah, dan sepotong hatiku yang patah
aku suka melihatnya mengacuhkanku
dia tetap mengabaikanku saat aku mencuil pipinya
mencopot kancing bajunya
mencukur bulu-bulu tubuhnya
setelahnya aku pulang dengan pikiran terguncang
bajuku robek dan sepatuku mencelat entah ke mana
di loteng aku menduga-duga pertengkaran kalian
percumbuan yang mengasyikkan
kamu menjambak rambutnya
ia tengadah mengucapkan sajak tak pernah sudah
selebihnya aku hanya mendapati diriku menyerah
tak kuasa lagi mengiriminya sekeranjang buah maupun senja yang merah
aku menjelapak, mengerang
menghitung kertas-kertas yang pernah kau titipkan
memeluknya sambil menangis.
Pondok Pinang, Mei 2008
Malam ini pub tidak seramai kemarin. Kami duduk di meja agak depan, beberapa jengkal dari meja kasir. Sebenarnya aku ingin memilih meja paling belakang supaya leluasa melihat pengunjung lain. Dan tentu saja memperhatikan Tita, pelayan pub bermata sendu itu. Tetapi tentu saja aku tidak mungkin memaksakan keinginanku. Boleh dibilang aku tidak punya pilihan. Semua Juan Esteban yang menentukan. Termasuk di pub mana dia ingin minum bir. Laki-laki tua di depanku ini memang meminta pendapatku saat memilih meja, tapi itu basa-basi belaka. Sebab setiap aku memberi usul Juan selalu bilang, ”Pilihanmu kurang tepat anak muda!” Kalimat itu masih akan bertambah panjang dengan, ”Anak muda sekarang sering membuat keputusan yang kurang tepat.”
Malam ini Juan Esteban mengenakan pakaian ala koboy: baju corak kotak-kotak dengan garis-garis warna merah marun dan hitam, dipadu rompi kulit, celana jeans belel, dan tak ketinggalan topi laken yang menyembunyikan rambut tipisnya. Hanya saja tak ada pistol di pinggangnya. Mungkin dia ingin mengenang saat menjadi gembala domba pada masa muda dulu.
”Minum apa anak muda?” tanya Juan Esteban. ”Bir saja, sama denganmu, Juan,” ujarku.
Tak lama setelah itu pelayan datang mengantarkan pesanan. Dia tersenyum manis pada Juan. Bahkan matanya mengerling nakal. Padaku dia hanya tersenyum alakadarnya. Juan langsung menenggak bir di depannya seperti orang kehausan. Padahal di panti tadi dia baru saja menghabiskan sebotol bir. Cairan berwarna kuning yang berkilauan disentuh pendar lampu itu mengalir deras ke tenggorokannya. Segelas besar bir tandas dalam satu kali teguk. Ujung lidahnya menyapu ceceran bir di sudut bibir. Dia lantas menyulut cerutu. Aroma cerutu segera mengapung memenuhi ruangan pub yang remang-remang bercampur dengan aroma ganja dan parfum para pengunjung.
Walaupun jaraknya cukup jauh dari panti, pub inilah yang paling sering dikunjungi Juan Esteban untuk minum bir. Dibanding yang lain pub ini suasananya memang lebih nyaman dan menyenangkan. Mungkin karena atmosfer gothic yang dihadirkannya. Letaknya tersembunyi di antara deretan toko-toko pakaian dan rumah makan. Pelayannya rata-rata berusia belasan tahun. Mereka adalah mahasiswa yang bekerja paruh waktu.
”Minumlah anak muda. Jangan murung seperti itu. Aku tidak suka melihatnya,” ujarnya.
Tidak bisa tidak, aku pun meraih gelas bir, menenggaknya perlahan-lahan. Rasa sepat memenuhi rongga mulutku, tapi aku berusaha menikmati. Juan Esteban tampak senang melihatku. Dia tersenyum, lantas menyorongkan cerutu. Matanya berpendar gembira. Dia tampak tampan meski gurat-gurat usia terpahat jelas di raut wajahnya. Sesunguhnya dia orang yang cukup menyenangkan. Dia juga sangat royal apabila dia merasa puas dan terhibur dengan kehadiranku. Dia memberi tips yang cukup buat beli satu stel pakaian dan sepatu. Tentu saja ini di luar tunjangan dan upah yang diberikan Javier padaku tiap bulan.
Hanya saja sikap menyebalkannya muncul saat mulai mabuk. Sebelumnya dia akan berbicara kian kemari tentang apa saja. Paling sering dia bicara tentang masa mudanya. Meski sebal aku mesti menyimaknya, sebab kalau tidak dia akan marah dan mengancam akan melaporkannya pada Javier, putranya, supaya memecatku. Dia tidak hanya menuntutku menyimak pembicaraannya tapi juga mengomentarinya. Sebalnya dia akan menunjukkan sikap tak suka apabila aku memberi komentar negatif. Kalau dia sedang bercerita jangan harap aku punya kesempatan memperhatikan gerakan Tita yang tangkas meladeni pengunjung. Melihat tubuhnya yang ramping namun padat berseliweran dari meja ke meja. Sedikit mataku beralih darinya, Juan Esteban akan menggebrak meja.
Juan kadang menanyakan kabarku, meminta aku bercerita tentang keluargaku, pacarku, kegemaranku, buku-buku yang kubaca, tempat-tempat yang pernah aku kunjungi atau apa saja yang sekonyong melintas di kepalanya. Maka aku akan bercerita. Tapi tentu aku hanya mengarang-ngarang saja. Toh dengan seenaknya dia bisa memotong ceritaku, memberi nasihat-nasihat dan saran yang membosankan, bagaimana mestinya aku bersikap menghadapi setiap persoalan. Selebihnya dia akan berpanjang lebar membanding-bandingkan kisah hidupnya yang terdengar sangat heroik.
Tengah malam sudah lama lewat. Juan Esteban masih tampak segar. Belum ada tanda-tanda akan mabuk. Pub makin ramai dengan sajian live music. Lagu Manuela milik Julio Iglesias melantun dari mulut penyanyi di panggung. Mata Juan mengerjap-ngerjap gembira. Kepalanya tampak bergerak ke depan dan ke belakang mengikuti irama musik. ”Ini lagu kesukaanku, inilah lagu yang menandai kisah cintaku dengan Martina,” ujarnya.
Manuela, Manuela
Manuela, Manuela
Como a noite
Como un sonho
Sao os olhos
Negros meu amor, Manuela
Como a flor na primavera
Como a lue chea e assim, Manuela
Dia turut melengkingkan syair lagu dengan suaranya yang terdengar serak. Nama Manuela dalam lirik lagu tersebut dia ganti menjadi Martina. Sementara gerakan kepalanya makin bersemangat meniru gerakan penyanyi di panggung. Dia memintaku ikut bangkit menggerak-gerakkan tubuh mengikuti irama. Entah berapa lama kami menari mengentak-ngentakkan sepatu ke lantai, yang pasti Juan Esteban makin segar dan bersemangat. Wajahnya berkilau karena keringat. Kurasakan bajuku yang basah lengket pada tubuhku.
Alunan lagu yang membangkitkan kenangannya pada Martina, mereda. Kali ini berganti dengan alunan musik yang lebih santai. Tapi rupanya penderitaanku belum berakhir. Juan mulai bercerita tentang kisah cintanya dengan Martina, sambil berkali-kali bilang jangan menceritakan ini pada Javier.
Kurasakan kepalaku pusing, bukan karena harus menemani dia menari ataupun menyimak cerita dia, tapi karena ingatan akan Pedro dan Caras. Dua putraku itu panas tubuhnya naik lagi saat kutinggalkan. ”Apa tidak bisa libur semalam ini, Mario?” kata Selena, istriku. Wajahnya tampak cemas memandangi Pedro dan Caras. ”Tidak ada dalam kesepakatan,” ujarku lirih. Aku tak kuasa menatap matanya yang berkaca-kaca.
”Kalau menyalahi kesepakatan kita tidak hanya akan kehilangan upah bulanan, Javier juga akan meminta kembali upah yang sudah habis kita makan,” kataku dengan suara rendah. Aku bergegas pergi setelah berjanji akan segera pulang apabila tugasku selesai.
Ketika aku sampai di panti Juan Esteban masih bermalas-malasan di kamarnya. ”Halo Juan,” sapaku sebisa mungkin memasang wajah riang gembira.
”Mario, kau sudah datang rupanya. Hampir saja aku menelepon Javier,” ujarnya.
”Apakah aku terlambat?” aku bertanya cemas.
”Tentu saja tidak. Aku hanya ingin meminta pendapatmu tentang pakaian apa yang akan kukenakan malam ini,” jelasnya.
Aku menarik napas lega. ”Dengan pakaian apa pun kau tetap tampan, Juan,” kataku, bermaksud menghiburnya.
Lebih dari satu jam aku harus menunggu Juan mandi dan berpakaian. Sebenarnya aku sebal dengan pekerjaan ini. Pekerjaan yang membuatku tampak seperti badut bodoh. Tapi aku tidak mungkin meninggalkan pekerjaan ini. Tidak mudah mendapatkan pekerjaan yang sebenarnya sangat ringan ini. Aku mendapatkan info pekerjaan ini dari iklan di sebuah koran lokal. Javier dibanjiri surat lamaran dari orang-orang yang ingin memperoleh pekerjaan ini. Entah pertimbangan apa yang membuat Javier akhirnya memilihku. Barangkali karena nasib baikku saja yang membuat Javier menyisihkan puluhan pelamar lain.
Tugasku hanya menjemput Juan Esteban dari panti pukul enam sore, membawanya ke sebuah pub, menemaninya minum bir sampai dia puas, lantas mengantarkan dia kembali ke panti. Selama menemani Juan aku tidak diperkenankan mengaktifkan ponsel. Tugas ini kulakukan hampir setiap malam. Hari liburku bergantung pada Juan. Kalau dia sedang malas ke pub, berarti aku libur. Tapi aku harus selalu siap sedia apabila dia meneleponku untuk menemaninya minum bir di panti. Untuk pekerjaan ini aku mendapat upah lima dolar per jam. Di luar itu Javier juga memberi tunjangan kesehatan, tunjangan hari raya, dan tunjangan perumahan. Aku dikontrak selama setahun. Apabila Juan merasa puas dengan pekerjaanku, Javier akan memperpanjang kontraknya.
”Bila Anda memutus kontrak di luar waktu yang sudah ditentukan, maka Anda tidak hanya harus membayar denda, tapi upah yang sudah Anda terima pun harus dikembalikan separuhnya,” papar Javier.
Sebaliknya, apabila Juan sudah tidak berkenan denganku, aku tetap menerima upah dan tunjangan sampai kontrakku habis.
”Saya harap Anda bisa melakukan pekerjaan ini dengan baik,” ujar Javier. ”Anda akan mendapat hadiah di luar upah dan tunjangan apabila Juan merasa sangat puas,” imbuh Javier.
Sebelum aku, Javier pernah mempekerjakan dua orang sekaligus untuk tugas ini. Yakni seorang pensiunan dokter dan mantan tentara. Mereka berbagi tugas menemani Juan minum bir. Tapi sebelum kontrak habis, Juan memecat keduanya. Yang tentara terlalu banyak cerita mengenai pengalamannya perang di Irak dan menganggap enteng komentar Juan. Sementara yang pensiunan dokter selalu menasihati Juan Esteban tentang bahayanya terlalu banyak begadang dan minum bir. ”Ayahku juga tidak menyukai cara mereka menatap matanya,” ujar Javier. ”Jadi tataplah mata ayahku dengan pandangan takjub. Dan selalulah memasang wajah gembira di depannya. Anda harus menjadi teman diskusi yang menarik, bukan hanya pendengar setia. Bila kamu bisa melakukan ini ayahku akan suka sekali,” saran Javier.
Tanpa berpikir terlalu lama aku menandatangani kontrak kerja yang disodorkan Javier. Besoknya aku langsung menyuruh Selena berhenti dari pekerjaannya sebagai pramuniaga di sebuah toko retail. ”Kamu di rumah saja mengurus Pedro dan Caras.”
***
Hari mendekati pukul tiga dini hari. Tapi Juan Esteban belum tampak letih sedikit pun. Kali ini dia sudah tidak bicara lagi. Dia membuka topi lakennya, rambutnya yang tipis lekat menempel di kulit kepala. Separuh pengunjung telah surut. Juan meletakkan telapak tangannya pada dagu. Matanya menyapu seisi pub. Entah apa yang dipikirkan. Dia pernah bilang bahwa sebenarnya dia tidak menyukai cara Javier dan anak-anaknya yang lain memperlakukan dirinya. Juan sebenarnya tidak ingin tinggal di panti. Dia ingin tinggal bersama Javier dan melihat perkembangan cucunya. Tapi, begitulah, anak-anak mengirimnya ke panti jompo, tak lama setelah usia Juan menginjak 70. Juan tidak bisa menolak karena ini sudah dianggap seperti kemestian adat. Juan tidak menikah lagi setelah Glebova, istrinya, meninggal oleh penyakit liver sepuluh tahun lalu. Waktu itu bisnis retailnya yang dirintis sejak muda tengah maju pesat. Si sulung Javier telah menikah dan mengelola sebagian usahanya.
Setelah Javier, dua anaknya yang lain, Ramos dan Arroyo, satu per satu menikah, mengambil alih bisnisnya dan meninggalkan Juan dengan cuma ditemani seorang pembantu di rumah. Mereka secara halus menolak ketika Juan mengutarakan keinginan tinggal di salah satu rumah mereka. Karena merasa kesepian Juan akhirnya meminta Javier mengirim ke panti jompo.
Juan menenggak lagi birnya. Aku lupa menghitung, sudah berapa botol bir yang meluncur ke lambung Juan dan sudah berapa kali pula dia ke toilet. Dia menggumamkan sebuah lagu yang tak kukenal. Matanya mengawasi beberapa pelayan yang masih sibuk bekerja melayani pengunjung dan membersihkan meja yang telah kosong. Sesekali ekor matanya melirikku. Rasa bosan yang menyerangku sejak tadi tak dapat lagi kutahan. Aku bangkit, minta izin pada Juan pura-pura ke toilet.
Saat aku kembali kudapati Juan masih menopangkan dagu, memperhatikan seorang pelayan. ”Apa yang kau pikirkan, Juan?” tanyaku memberanikan diri.
”Kau lihat pelayan itu, Mario? Yang rambutnya dicat hijau,” ujarnya. Kulihat matanya berkabut. ”Ya, kenapa Juan? Kau tertarik? Bukankah kau masih kuat?”
Juan Esteban terkekeh sebentar. Suaranya terdengar hambar. Sejurus kemudian mimiknya berubah serius. ”Dia mirip Martina,” ujarnya dengan suara rendah. Aku ingat, Juan pernah bercerita pernah punya pacar gelap bernama Martina, gadis desa yang bekerja sebagai pramuniaga di toko retail miliknya. Setelah Martina hamil, Juan membayar seorang anak muda pengangguran untuk menikahi dan membawa pergi Martina entah ke mana. Dia tidak tahu rahasia ini sudah diketahui Javier dan dua anaknya yang lain.
”Mungkinkah dia anakmu, Juan?” ujarku. Laki-laki gaek ini melirikku sebentar, lalu meneruskan amatannya pada pelayan itu. ”Perlu kupanggil pelayan itu kemari?” usulku. Tanpa menunggu persetujuannya aku memanggil pelayan itu.
”Ada yang bisa saya bantu, Tuan?” kata pelayan itu ramah, bergantian menatapku dan Juan. ”Bisa tambah birnya Nona,” ujar Juan setelah agak lama terbengong memandang wajah pelayan yang jadi sedikit salah tingkah ditatap serupa itu. Kurasa pelayan itu juga heran dengan permintaan Juan karena di meja kami masih ada dua teko besar berisi bir penuh.
Setelah pelayan itu beranjak mengantarkan pesanan, Juan tidak lagi meneruskan pembicaraan mengenai Martina maupun pelayan yang mengingatkannya pada bekas pacar gelapnya tersebut. Dia mengalihkan pembicaraan tentang pub yang besok akan dikunjunginya untuk minum bir. Setahuku hampir seluruh pub yang ada di kota kecil ini sudah dikunjunginya. ”Aku bosan dengan suasana pub yang begini-begini saja, Mario. Aku ingin mencari pub yang beda,” ujarnya. ”Masih ada satu pub yang belum kukunjungi di kota ini,” sambung Juan. Aku mencoba berpikir pub mana yang dimaksud Juan Esteban.
”Pub Gommora, Mario,” cetus Juan menyebut nama sebuah pub yang khusus untuk kalangan gay.
”Tidak salah, Juan?” kataku.
”Kamu keberatan, Mario?” tanya Juan. Aku tak menyahut. Kurasakan ponselku bergetar. Pastilah dari Selena. ***
Mei 2008
*) Cerpen ini terinspirasi dari sebuah berita di harian The Times, London, edisi 24 April 2008
Kesedihan menggerayangi perasaannya. Tak ada lagi jagoan yang bisa diandalkannya. Tidak ada yang bisa dibanggakan lagi. Dalam pertarungan kemarin ia melihat Girgo, begitu ia memberi nama jangkrik kesayanganya, memang sudah tampak lelah. Kedua belalainya yang berfungsi untuk mendeteksi benda-benda di sekelilingnya, tampak tidak lurus lagi. Hari itu Girgo sudah melakukan lebih dari 10 kali pertarungan. Jadi wajar saja apabila dia kelelahan. Tapi ia tidak peduli walaupun ia melihat Girgo tampak lelah, dan mulutnya sedikit koyak. Hatinya telanjur panas mendengar jumlah taruhan yang disebutkan Darlim, penantangnya dari desa sebelah.
“Kalau bisa kalahkan jangkrikku, kau dapat sepuluh ribu.” kata Darlim, pongah, seraya mengipas-ngipas lembaran sepuluh ribu, “ tapi kau tak perlu membayar seratus rupiah pun apabila jangkrikmu kalah.” sambung Darlim makin pongah dan makin membuat ia tergiur sekaligus tertantang.
Sesuai aba-aba ia memasukkan si Girgo ke dalam arena pertarungan yang ia tahu betul sangat beresiko buat Girgo. Tapi ia sudah gelap mata. Arena pertarungan jangkrik adalah di liang kira-kira sedalam jari kelingking, dan panjang hampir sepuluh senti. Begitulah, dengan tatapan nanar ia menyaksikan pertarungan itu. Ia yang biasanya selalu percaya diri, kali ini merasa begitu tegang seakan ia sendiri yang melakukan pertarungan. Si Girgo bergerak pelan. Mulutnya yang menyerupai capit itu sudah koyak oleh pertarungan sebelumnya. Ia melihat si Girgo begitu menderita. Tapi seolah demi harga diri tuannya yang harus dibela Girgo tetap bergerak perlahan-lahan menghadapi sang musuh yang tampak segar bugar. Semula ia cukup gembira karena meski sudah letih si Girgo tetap mampu melakukan perlawanan.
Tetapi seperti yang sudah dicemaskannya, perlawanan Girgo tidak berlangsung lama. Mulutnya tidak bisa lagi gunakan untuk mencapit dan menikam. Sia-sia ia menepuk-nepuk tanah memberi semangat. Girgo lebih banyak bertahan, ketimbang melawan, dan lalu terdesak tanpa ampun. Jangkrik milik Darlim sesungguhnya tidak lebih tangguh dari si Girgo. Lihat saja, warna coklatnya lebih terang dan kaki-kakinya tidak sekokoh Girgo. Kondisi Girgo saja yang sudah letih lantaran hari itu telah melakukan lebih dari 10 kali pertarungan. Jadi dia menghadapi lawannya dengan sisa-sisa tenaga. Maka jangkrik milik Darlim yang masih segar karena belum melakukan sekalipun pertarungan dengan mudah mendesak Girgo. Girgo terdesak hebat, tubuhnya terus surut hingga mencapai garis batas.
“Jangkrikmu kalah Yasa. Kau gagal mendapatkan sepuluh ribu hahaha,” suara tawa Darlim terdengar meledek.
Hari itu ia betul-betul dipermalukan. Tetapi untuk membela harga dirinya ia melempar uang sepuluh ribu ke muka Darlim sebelum berlalu membawa si Girgo dengan benak dipenuhi dendam dan berbisik, tunggulah, aku pasti mendapatkan pengganti si Girgo dan akan mengalahkan jangkrikmu.
Ia teringat pertama kali mendapatkan si Girgo. Bersama Wahdino, Ronda, dan beberapa kawan lainnya ia memburu jangkrik sampai ke lapangan di tenggara desa yang jaraknya tiga kilo meter dari rumahnya. Sepulang sekolah ia ke sana sering sampai jauh malam. Di sanalah ia mendapatkan beberapa ekor jangkrik termasuk si Girgo. Selain untuk dipelihara dan dijadikan aduan, ia dan anak-anak kampung mencari jangkrik untuk dijual pada peternak jangkrik. Seekor dihargai seribu rupiah. Apabila sehari ia berhasil mendapatkan lima ekor saja, ia sudah bisa mengantongi uang sebanyak lima ribu. Jumlah yang masih tersisa lima ratus rupiah bila dibelikan es krim. Ia amat menyukai es krim yang dijual di minimarket yang baru dibuka di desa sebelah. Neneknya yang makin tua dan sakit-sakitan tak sanggup memberinya uang empat ribu lima ratus buat beli es krim. Ia hanya mendapat jatah lima ratus rupiah sehari dari neneknya. Sementara bapaknya mustahil memberi ia uang. Ibunya meninggal saat ia berumur lima tahun.
Si Girgo ia dapatkan sebulan lalu. Ia tahu jangkrik jantan yang kuat dan bagus yang bisa dijadikan petarung. Warna coklat tubuh Girgo lebih tua dibanding beberapa ekor kawannya. Kaki-kakinyanya pun lebih kekar. Pendeknya si Girgo memiliki syarat menjadi petarung tangguh sehingga tidak seperti beberapa ekor kawannya yang lain, si Girgo tidak dijual pada peternak jangkrik. Ia pun merawatnya secara lebih istimewa. Si Girgo dikandangkan terpisah, di kotak yang terbuat dari anyaman bambu. Ia memberikan rumput yang paling segar, yakni jenis kangkung. Benar, selama sebulan si Girgo selalu memenangi pertarungan sehingga ia mendapat berribu-ribu rupiah dari si Girgo. Ia tidak perlu lagi mencari jangkrik sampai jauh malam.
Dengan lesu dipandanginya bangkai si Girgo. Sekarang ia harus mengurus bangkai jagoannya itu baik-baik sebagai tanda penghormatan terakhir. Dirobeknya baju seragam sekolahnya yang sudah tidak terpakai untuk dijadikan kain kafan bagi si Girgo. Ia mandikan baik-baik si Girgo sebelum membungkusnya dengan kafan. Ia telah membuat lubang di dekat pohon jambu belakang rumahnya. Di sanalah si Girgo dikuburkan.
Sudah berapa tahunkah itu berlalu? Ia menatap halaman belakang rumahnya yang kini telah dibeton. Bangkai si Girgo tentu sudah jadi tanah bertahun-tahun lalu. Pohon jambu di sebelahnya pun sudah tidak ada. Sudah bertahun-tahun pula ia baru menginjak lagi kampung halamannya. Ia baru datang dari kota kemarin untuk ikut mencalonkan diri jadi kepala desa.
Hampir lima belas tahun lalu ia meninggalkan kampung halamannya, merantau ke Jakarta jadi kuli bangunan. Ketekunan dan kerja kerasnya membuat ia dipercaya jadi mandor. Tentu saja ia dapat makan es krim kapan saja ia mau tanpa harus lebih dulu memburu dan menjual jangkrik. Ia sudah mencecap bermacam jenis es krim di mal-mal paling mahal. Bahkan beberapa tahun kemudian kalau mau ia bisa membuat pabrik es krim. Karirnya melesat, ia tidak lagi jadi mandor, tapi punya perusahaan kontraktor.
Saat sudah tak tersedia lagi jenis es krim yang bisa dicoba, ia ingin mencecap kepuasan lain, tampil di panggung masyarakat. Maka ia pun mengincar jabatan kepala desa di kampungnya. Yasa pun getol hilir mudik antara Jakarta dan kampungnya. Dengan istri dan anak-anaknya yang kemudian boyongan ke kampungnya, ia mendatangi para warga membagi-bagi senyum dan keramahan seraya menebar uang. Mendatangi kawan-kawan masa kecilnya dan mengumpulkan mereka di rumahnya besar. Ada dua mobil keluaran terbaru nongkong di garasi rumahnya.
Meraih jabatan kepala desa bagi ia bukan cuma untuk mencecap kepuasan lain, tapi juga untuk melunaskan dendam lama pada Darlim. “Aku tak mau kalah dua kali, Dadang!” ujarnya pada orang kepercayaannya, setiap rapat pada malam hari. “Aku malu sama si Girgo kalau harus kalah lagi.” sambung ia dalam benak.
Kemarin ia melihat wajah Darlim di poster yang dipasang di hampir seluruh penjuru desa. Meski hitam putih poster itu memperlihatkan senyum Darlim dengan jelas, seolah mengejek dirinya. Seolah terdengar dia berbisik, “Kau akan kalah lagi, Yasa. Gunakan saja uangmu untuk beli es krim.”
Maka ia membuat poster dirinya lebih bagus, dicetak berwarna di atas kertas yang mengkilap. Foto dirinya pun diatur sedemikian rupa dengan menggunakan jasa fotograper dan penata gaya profesional yang semuanya didatangkan dari Jakarta. Ia tampak tersenyum ramah dengan baju putih. Sebuah peci hitam bertengger di kepalanya. Poster itu ditempel di seluruh penjuru pojok desa berdampingan dengan poster Darlim.
Kecongkakan di wajah Darlim tak pernah berubah. Dia selalu memberi warga jumlah uang lebih dari yang diberikan Yasa pada mereka. Apabila Yasa memberi warga masing-masing 10 ribu, maka Darlim memberi warga masing-amsing 20 ribu. Apabila Yasa membagi-bagikan beras masing-masing 2 kilogram, Darlim membalasnya dengan masing-masing 3 kilogram.
“Kita tunggu, berapa kilo dia akan memberi warga gula,” kata Yasa mengatur strategi.
“Darlim akan membuka balai pengobatan gratis!” ujar Dadang melaporkan.
“Aku akan membuka minimarket gratis!” tukas Yasa tak mau kalah.
Pondok Pinang, 28 Juni 2008.
Begitu sampai di bawah jembatan penyeberangan itu, dia berhenti. Artinya dia telah sampai di bawah billboard bergambar iklan rokok. Dia sudah terlalu hapal tanpa perlu mengangkat wajahnya. Sekilas diliriknya gambar orang-orang yang tengah bergelantungan di tebing curam itu. Dikeluarkannya rokok dari sakunya, mengambil sebatang, lalu membakarnya seraya menunggu bis. Tapi ketika bis yang ditunggunya datang dia tak juga beranjak lantaran rokoknya masih panjang. Begitu santai dia mengisap rokok, mengembuskan asapnya, terbang ke mana-mana, menampar kelimun orang di bawah jembatan penyeberangan itu.
Orang-orang memandangnya hanya sepintas. Mungkin di antara mereka ada yang merasa terganggu dengan asap rokok yang menyebabkan matanya perih dan haknya menghirup udara segar terampas, tapi tak ada yang bisa dilakukannya. Ini bukan wilayah terlarang buat merokok. Dia tidak akan membuang rokoknya sebelum bara api sampai ke bagian gabus filter, sampai betul-betul tinggal puntung yang tidak mungkin bisa dihisap lagi. Dia akan mengambil lagi sebatang yang baru, membakarnya, sebelum bis yang ditunggunya datang.
Dia menunggu bis nomor 86, warna hijau, yang akan mengantarnya pulang ke rumah, menemui istri dan anak-anaknya saban petang. Bis yang dimaksud tak banyak yang melintas di daerah ini. Paling banyak setiap satu jam hanya ada satu bis. Itu pun seringkali sudah penuh oleh penumpang dari terminal. Bukan masalah. Dia bisa berdiri atau bergelantungan di pintu. Dan jelas dia tidak bisa melakukannya sambil merokok. Kalau dipaksa akan sangat beresiko. Bukan saja jadi gerutuan penumpang lain, tapi dia juga tidak menikmati artinya merokok.
Tentu, buat apa merokok kalau tidak bisa menikmatinya. Dia tahu dia bukan pecandu rokok. Dia hanya penikmat rokok. Bahkan bercakap-cakap pun bisa mengurangi nikmatnya merokok. Maka dia hanya akan merokok bila benar-benar memiliki waktu khusus. Yaitu saat tidak ada kegiatan lain yang mungkin dilakukannya sambil merokok. Kegiatan lain yang bisa dilakukannya sambil menikmati merokok hanya saat menunggu bis, melamun, atau memperhatikan orang-orang yang sedang menunggu bis seperti dirinya. Bagi dia aneh sekali ada orang bilang sambil merokok melakukan pekerjaan jadi lebih lancar, kalau mengarang jadi lebih mengalir.
Menunggu bis pun ternyata membuat dia tidak bisa sepenuhnya menikmati merokok. Terbukti dia begitu terganggu manakala bis jurusan ke arah yang ditujunya datang. Maka yang dilakukannya adalah membiarkan bis itu berlalu. Dia akan naik bis ketika merasa telah cukup menikmati rokok.
Dia masih ingat kapan pertama menjadi penikmat rokok, yaitu mulai kelas dua SMP. Pamannya yang mengajari. Setiap pulang dari pekerjaannya sebagai pengemudi bis antar kota diberinya dia sebatang Dji Sam Soe. Dilihatnya si paman begitu nikmat menghisap sebatang rokok. Mula-mula dia mendapatkan sebatang rokok secara cuma-cuma. Lama-lama dia harus melakukan pekerjaan lebih dulu untuk mendapatkannya. Biasanya si paman meminta dia memijit punggungnya atau menyuruh dia membelikan jamu atau bakso atau apa saja yang dibutuhkan si paman. Dia akan menerima sebatang rokok sebagai upah. Dia menolak manakala sang paman mengupahnya dengan uang atau benda lain. Sebab kalau beli sendiri di kios rokok dia takut kepergok kakak perempuannya atau kawan sekolah yang akan melaporkannya kepada guru.
Dia akan rela melakukan apa saja untuk mendapatkan sebatang rokok dari si paman. Tanpa disadarinya dia diperbudak si paman demi mendapatkan sebatang rokok. Dia tak peduli. Diterimanya sebatang Dji Sam Soe, dan dinikmatinya sendirian.
Tentu, dia harus jauh-jauh dari rumah kalau mau merokok atau harus mengunci rapat-rapat kamarnya. Supaya dia bisa mematikan rokok dan membersihkan asapnya apabila terdengar ada yang mengetuk pintu. Dia tidak mau kepergok siapa pun kala tengah merokok. Terutama kakak perempuannya yang sangat keras melarang dia merokok. Pernah suatu kali dia kepergok kakak perempuannya. Dirampasnya sebatang rokok yang sedang nikmat-nikmatnya dia hisap.
“Belum saatnya kamu merokok, setan!” hardik sang kakak. Betapa sakitnya nikmat merokok terpenggal tiba-tiba.
“Siapa yang ngajari kamu ngerokok! Siapa yang ngajari!” kejar kakak perempuannya.
Dia berlari kesal menghindari kakak perempuannya. Pergi mencari sang paman untuk meminta lagi sebatang rokok, meski dia tahu pamannya tidak akan pernah memberi lebih dari sebatang. Maka dipungutnya puntung rokok sisa si paman yang masih seperempat di asbak. Pamannya memang punya kebiasaan hanya menghabiskan tigaperempat batang rokok yang dihisapnya.
Tetapi suatu kali dia bisa mendapatkan rokok sebanyak dia minta dari si paman gara-gara dia memergoki si paman tengah bergumul dengan seorang perempuan tetangganya. Dia mendapati tubuhnya gemetar menyaksikan dua tubuh telanjang itu saling menindih, saling membelit.
Sejak itu dia tidak hanya bisa mendapatkan rokok berapa pun dia mau, sedikit demi sedikit bahkan dia mulai memeras si paman. Dia membagi-bagi rokok hasil memeras si paman kepada kawan-kawan sekolahnya. Mereka ramai-ramai menghisap rokok di stasiun. Dia jadi makin terampil bagaimana cara menikmati rokok. Merokok harus didampingi segelas kopi. Supaya awet batang rokok dia olesi ampas kopi.
***
Kala malam gambar iklan di billboard itu makin jelas karena disorot lampu ratusan watt. Dia suka menatapnya berlama-lama. Gambar yang menakjubkan. Tapi sekaligus iklan yang aneh. Dia tahu gambar itu sama sekali tidak menyiratkan ajakan untuk merokok. Dan sama sekali tidak nyambung dengan produk yang diiklankannya. Tapi apa peduli dia. Toh tanpa diiklankan pun orang tetap saja tidak berhenti meluangkan waktu buat merokok. Memang sekarang di mal, di hotel-hotel, di gedung bioskop semakin dibatasi tempat buat merokok. Dipisahkan dalam tempat khusus mirip kandang binatang.
Sungguh dia tidak bisa menikmati rokok di tempat khusus seperti itu. Lebih baik tidak merokok sama sekali. Semua toh baik-baik saja. Sekali lagi, dia memang bukan pecandu. Hanya penikmat. Tidak lebih. Di keluarganya tidak ada yang perokok selain sang paman, suami dari adik ibunya itu. Ayahnya memang merokok, tapi itu dilakukannya apabila ada tamu yang memang suka merokok. Ayahnya merasa tidak bisa menghormati si tamu apabila ia tidak turut merokok.
Sementara kakak laki-laki dia merokok hanya seusai makan. Ini pun tidak wajib. Tetapi keduanya tidak sekeras kakak perempuannya dalam melarang dia merokok.
Sekarang siapa pun tentu saja tidak ada yang melarang dia merokok. Di rumah, istrinya pun tidak berani melarang dia merokok. Asal tidak di dalam kamar, atau di ruang keluarga saat berkumpul dengan anak-anaknya. Sebenarnya tanpa dilarang pun dia tahu waktu kapan saatnya merokok kapan saatnya rumahnya terbebas dari asap rokok. Maka ia hanya akan merokok di ruang belakang, menghadap taman, kala sendirian. Hanya anak perempuannya yang kerap protes tiap melihat dia merokok. Pemborosan, anak perempuannya bilang. Kalau kena protes begitu secara otomatis dia tidak mungkin bisa menikmati merokok. Tidak bisa tidak, dibuangnya rokok bahkan bila baru dihisap ujungnya sekalipun. Sedang anak lelakinya telah berusia remaja, kelas 2 SMP. Dia khawatir anaknya tidak hanya mulai merokok. Dia belum pernah mengingatkan anak lelakinya supaya tidak merokok. Mungkin ini saatnya dia perlu melarang anaknya merokok sebelum ia mencoba-coba ganja.
Pada istrinya dia tidak perlu melarang merokok. Sejak mengenalnya perempuan itu memang tidak pernah merokok. Makanya dia begitu heran ketika mendapati puntung rokok di pojok kamarnya. Tampak jelas puntung rokok ini bekas dihisap tadi siang. Dan itu bukan rokok merek kegemarannya. Mendadak hatinya berdesir. Di kamar mandi didengarnya istrinya tengah mandi sambil-sambil bernyanyi-nyanyi…
Pondok Pinang, Juli 2008
Panggung seluas 12 x 14 meter berdiri di pelataran rumah sohibul hajat. Disanggah empat batang besi, atap panggung berbentuk melengkung setengah lingkaran dengan terpal berwarna ungu. Lampu-lampu bertengger rapi di sisi-sisi atap, siap dimainkan bila pertunjukan dimulai. Di latar belakang panggung tertulis: Tarling Dangdut Kencana Ungu Pimpinan Sanan Asmara. Gulungan layar, dan peralatan musik seperti gong, gitar, seruling, organ, gendang, dan sejumlah properti hampir beres ditata di tengah panggung. Tinggal perangkat sound system yang masih dikerjakan di empat sisi panggung. Azan isya sudah berkumandang setengah jam lalu. Dalam bilik belakang para sinden sibuk berdandan. Sanan tampak hilir mudik cemas.
“Murti ya mas?” suara Desti terdengar penuh nada cemburu. Yang ditanya sama sekali tak merespons. Wajahnya makin tampak gelisah.
“Dia memang tak tahu balas budi. Baru segitu mau ninggalin kita,” ujar Desti. Terdengar orang mengetes microphone, “Tes tes…” Sanan melihat lagi jam tangannya, 19. 45. Dia menghubungi Nurohmat, anak buahnya yang dia suruh menjemput Murti, lewat ponselnya.
“Gimana, Mat? Ketemu nggak?”
“Belum, Mas. Jauh sekali,” sahut suara di seberang. Sanan segera memutus kontak dengan geram. Dia kembali menghubungi nomor Murti. Tidak ada jawaban.
“Sudahlah, Mas. Nggak ada Murti juga bisa jalan kok,” celetuk Desti. Sanan menatap Desti antara marah dan kesal. Lalu bergegas meninggalkan bilik sempit itu, keluar.
Sanan berjalan melewati para anak buahnya yang sibuk melakukan segala persiapan. Mereka harus memberikan tontonan yang bagus dan sesempurna mungkin. Mereka tidak boleh mengecewakan sohibul hajat. Itulah yang selalu ditekankan Sanan pada anak buahnya. Kepuasan sohibul hajat adalah segalanya. Kalau sohibul hajat puas tentu akan menjadi promosi gratis bagi Kencana Ungu, rombongan tarling dangdut pimpinannya. Tanpa disuruh mereka akan menyampaikannya pada teman dan kerabat sehingga Kencana Ungu akan makin kondang.
Tetapi kali ini Sanan ragu, persiapan yang dilakukan anak buahnya bakal menghasilkan kepuasan sohibul hajat apabila Murti tidak datang. Dia hanya melambaikan tangan kepada anak buahnya yang memandangnya penuh tanya. Dia menyapukan pandang pada deretan kursi yang masih diduduki anak-anak kecil. Sekilas di melihat ke dalam rumah sohibul hajat yang sibuk menyambut para tamu. Kedua mempelai dengan wajah sumringah menyalami para undangan yang terus berdatangan. Sanan merasakan kepalanya berdenyut nyeri. Dia takut sohibul dan penonton hajat kecewa. Sebab waktu sohibul hajat datang ke sanggarnya meminta dia untuk menampilkan Murti, sinden yang sedang digandrungi bukan saja lantaran suaranya yang bagus tapi juga permainannya dalam membawakan lakon sangat luar biasa. Dia berjanji akan memenuhi permintaan sohibul hajat.
“Jangan sampai tidak ada Murti. Soalnya Pak Kades juga mau nonton,”
“Pasti, Pak. Jangan kawatir. Murti pasti datang, lha wong dia saya yang mengorbitkan,” ujar Sanan meyakinkan.
Selama bertahun-tahun merintis grup tarling dangdut Kencana Ungu, baru kali ini Sanan menikmati pemasukan yang lumayan besar. Permintaan mentas tak pernah putus dengan tarif yang terus naik. Ini semua gara-gara Murti. Kecantikan sekaligus totalitasnya dalam menyanyi dan membawakan lakon membuatnya digemari. Kencana Ungu yang mengasuhnya secara otomatis turut kondang di jagat hiburan antar desa. Sebulan biasanya hanya mentas paling banyak dua kali, sekarang bisa lebih dari sepuluh kali. Apalagi manakala musim hajatan yang biasanya jatuh pada bulan Sawal. Sehingga dia bisa mengganti peralatan musiknya yang sudah tua dengan merek keluaran baru, melengkapi properti panggung, serta membuat baju seragam yang lebih modis untuk para anak buahnya. Bukan cuma itu, tanah kosong di sebelah rumahnya yang merangkap sanggar dia beli untuk memperluas bangunan sanggarnya. Bisa kredit mobil pick up untuk mengangkut peralatan musik dan properti. Dan tahun depan berencana naik haji.
Sanan terus berjalan keluar dari area rumah sohibul hajat. Melewati para penjual bakso, mie ayam, es campur, gerobak rokok, permainan judi sintir yang mulai ramai dikerumuni pembeli. Dia melihat lagi ponselnya. Pesan yang dia kirim ke nomor Murti masih menunggu. Dia menyelinap ke tenda penjual minuman. Memesan teh botol dingin. Menyesap teh botol Sanan merasakan kekosongan melanda dadanya. Air teh manis itu terasa pahit di lidahnya. Sebenarnya bukan kekecewaan sohibul hajat yang dia khawatirkan benar, melainkan Murti telah berpaling darinya.
Di mana sih kamu, Murti? Gumamnya lirih. Bagi Sanan, Murti bukan hanya anak asuhnya yang telah memberinya banyak rejeki. Lebih dari itu, Sanan sangat mencintainya bahkan berniat menjadikannya istri. Sanan sudah mengungkapkan maksudnya untuk melamar Murti. Namun Murti yang sekarang kulitnya tampak putih mulus itu tak kunjung memberi jawaban.
“Saya tidak bisa jawab sekarang, Kang,” kata Murti.
“Sampai berapa lama aku menunggu?” desak Sanan. Apabila didesak demikian Murti hanya diam menunduk atau memalingkan wajahnya dari mata Sanan yang menatapnya penuh harap. Sanan tahu, Murti anak sulung yang membantu ibunya menghidupi tujuh orang anak. Bapaknya seorang marbot yang tak memiliki penghasilan kecuali bila ada warga yang meninggal. Di luar itu kerjanya hanya shalat dan zikir di masjid.
“Kamu boleh tetap jadi sinden dan membantu ibumu,” Sanan terus membujuk.
“Bukan itu persoalannya, Kang, bukan itu,”
“Jadi apa, Murti? Ngomong saja,” Murti tetap tidak mengungkapkan alasan dia tak mau segera dilamar Sanan. Tak mungkin dia menjelaskannya. Sejujurnya bagi Murti tak ada alasan cukup kuat bagi perempuan untuk menolak laki-laki seperti Sanan. Seorang pekerja keras dan sangat menghormati perempuan. Sanan bukan jenis laki-laki yang suka memanfaatkan kedudukannya sebagai pimpinan rombongan masres untuk main dengan para sindennya. Dan yang paling penting Sanan masih melajang. Dia tidak akan menyakiti perempuan mana pun apabila mau menerima lamaran Sanan.
Sanan ingat pertama kali Murti bergabung dengan Kencana Ungu. Pagi itu Murti datang ke sanggarnya dengan wajah murung. Dia menghiba supaya boleh bergabung di Kencana Ungu.
“Memangnya kamu bisa menyanyi Murti?”
“Saya mau belajar, Kang, asalkan Akang mau mengajari saya,” pintanya.
“Apa bapakmu mengijinkan?” tanya Sanan. Bapak Murti memang dikenal sangat taat beribadah. Menjadi sinden tentulah tak akan diijinkannya. Tapi Murti terus menghiba. Sanan yang saat itu memang sedang mencari sinden baru akhirnya menerima Murti.
“Saya ingin membantu ibu membiayai sekolah adik-adik,” sergah Murti.
Hari itu juga Murti diajari Sanan main drama dan nyinden. Murti memang berbakat, Sanan tidak perlu terlalu lama mengajari dia main lakon dan nyinden. Murti di mata Sanan sangat istimewa Memang Murti tidak langsung jadi pesinden yang turut bermain lakon. Selama beberapa mentas Murti hanya tampil sebagai sinden yang menyanyi untuk pemanasan. Lantaran penampilannya yang bagus dan banyak digemari, beberapa minggu berikutnya Murti bisa tampil di panggung sebagai pemain inti. Dia menggeser Desti memainkan lakon Ratminah, perempuan kaya yang menolak cinta si lelaki miskin Baridin. Walaupun lakon Ratminah berakhir tragis—dia jadi gila diguna-guna Baridin dengan ajian jaran goyang— melalui lakon tesebut Murti seakan membalas dendam terhadap kenyataan hidupnya. Dia bisa menghina Baridin, meludahi laki-laki kere itu dengan puas. Towi yang kebagian peran sebagai Baridin merasa mendapat lawan main yang pas.
Mimik wajah Murti saat menghina Baridin selalu dipuji-puji Sanan. “Kamu sungguh hebat Murti,” kata Sanan.
“Terima kasih, Kang. Seandainya akhir ceritanya sedikit diubah pasti lebih bagus lagi,” kata Murti.
“Diubah bagaimana?”
“Ajian jaran goyang yang dikirim Baridin tak mempan,”
“Wah, jangan sampai. Penonton bakal nggak terima. Mereka menyukai lakon ini justru karena akhir ceritanya itu. Kalau diubah bisa-bisa mereka bakal meninggalkan kita,” Diskusi seperti ini biasanya mereka lakukan seusai pementasan.
Tapi Bapak Murti akhirnya tahu. Suatu malam, saat Murti sedang menyanyi sebagai pembuka sebelum masres sebagai pertunjukan utama dimulai. Bapaknya sekonyong-konyong naik ke panggung dan menyeret Murti turun.
“Berani-beraninya kamu jadi sinden,” maki bapaknya memaksa Murti pulang. Pertunjukan terhenti dan heboh. Sambil menahan malu dan tangis Murti terpaksa pulang malam itu. Sanan yang mencoba menahan Murti kena tinju bapak Murti. Bahkan giginya tanggal satu karena rupanya bapak Murti mengenakan batu cincin di jarinya. Akhirnya dia tidak bisa berbuat apa-apa, membiarkan Murti dibawa pulang. Untunglah saat itu Desti bisa mengambil alih peran Ratminah. Kejadian ini jelas saja membuat nama Kencana Ungu tercoreng.
Sejak peristiwa itu Murti tidak datang lagi ke sanggar. Dia membantu ibunya jualan sayuran di pasar. Sanan menemuinya di pasar,
“Murti, kamu nggak mau nyinden lagi?”
“Bapak, Kang,”
“Nanti saya ketemu bapakmu,”
“Jangan, Kang,”
Nekat Sanan datang ke rumah menemui bapak Murti. Laki-laki itu tengah zikir saat Sanan datang ke rumahnya.
“Murti jadi sinden untuk membantu adik-adik,” ujar Sanan begitu Bapak Murti menerimanya dengan dingin.
“Heh, walaupun saya miskin saya tidak mengijinkan Murti nyinden. Tidak berkah uang dari nyinden,” ujar Bapak Murti. Laki-laki itu tetap teguh. Sanan pun pulang dengan hampa. Di jalan di bertemu dengan Umirah, adik Murti pulang dari bekerja di rumah tetangga sebelah rumah. Sanan tahu Umirah tidak melanjutkan sekolah dan harus mengubur cita-citanya jadi guru. Sanan merogoh kantong celana. Diberinya Umirah uang.
“Buat adik-adik,” bisik Sanan lesu.
Malamnya Murti datang ke sanggar. Tentulah membuat Sanan gembira.
“Kang aku nyinden lagi,” katanya.
“Bapakmu?”
“Dia sedang pergi dakwah keluar kota,”
Murti kembali memainkan lakon Ratminah. Kali ini permainannya lebih total. Bukan cuma itu, saat dia tampil menyanyi, sebelum lakon dimulai, dia tampil dengan gaya joget yang baru. Meliuk-liuk bagai ular yang memang melilit di tubuhnya. Ya, Murti berjoget sambil membawa ular! Sanan sampai heran dari mana Murti belajar joget seperti itu, membawa ular pula. Setahunya Murti tidak pernah belajar di tempat lain. Tapi Sanan tak sempat bertanya. Yang dia tahu sejak itu dia makin sibuk meladeni permintaan mentas. Bukan hanya di acara orang hajatan, tapi juga dalam acara syukuran desa, ulang tahun pabrik gula.
Nama Murti pun makin kondang. Beberapa kali rombongan tarling dangdut lain membujuknya untuk bergabung dengan mereka. “Kami berani membayar kamu lebih tinggi dari yang selama ini kamu terima,” Tapi Murti tetap teguh dia tidak mau mengkhianati Kencana Ungu. “Dibayar berapa pun aku tak mungkin meninggalkan Kencana Ungu,” tukas Murti.
Tetapi kesetiaan Murti tidak bertahan lama. Bukan karena bapaknya yang pergi berdakwah tak pernah kembali, tapi karena ibunya terserang sakit sehingga dia membutuhkan biaya yang banyak untuk berobat. Bukan Sanan tidak menaikkan honornya. Tapi tak pernah cukup. Dengan hati berat Sanan mengijinkan Murti nyinden untuk rombongan musik lain dengan syarat tidak bertabrakan dengan jadwalnya nyinden untuk Kencana Ungu.
***
Malam terus menanjak. Di langit bulan tak tampak. Di panggung Desti membawakan lagu “Kucing Garong”. Orang-orang berjoget. Sanan memantau dari kejauhan. Dia kehilangan kontak dengan Rimat. Pesan pendek yang dia kirim ke Murti belum juga dijawab. Masih ada waktu satu jam lagi menuju acara puncak. “Kucing Garong” habis, Desti melanjutkan dengan lagu kedua. Emsi mengumumkan akan segera menampilkan Murti menjelang pertunjukan masres dimulai. Tapi penonton tak sabar meneriakkan “Murtii….Murtii…”
“Hadirin diharap sabar, sinden kita Murti pasti hadir untuk kita semua. Tapi sebelum itu kami Kencana Ungu mempersembahkan sinden-sinden cantik yang siap menggoyang para hadirin sekalian…” suara emsi terdengar jelas di telinga Sanan yang masih berada di dalam tenda penjual minuman. Kembali terdengar penonton meneriakkan “Murtii..Murtii…” Sanan sudah putus asa. Sekarang dia berpikir untuk meminta maaf pada sohibul hajat atau pergi meninggalkan rombongan tarling dangdut pimpinnya.
***
Sore begitu lengang. Di halaman daun-daun belimbing berjatuhan. Sanan duduk melamun di sanggarnya sendirian. Tak ada lagi anak buahnya yang sibuk berlatih. Tak ada lagi peralatan musik kecuali sebuah gitar listrik tua yang sudah putus senarnya, nemplok di dinding. Gulungan layar mengonggok lapuk di pojok ruangan yang kini dipenuhi sarang laba-laba.
Terkenang lagi peristiwa malam itu. Dia pergi meninggalkan rombongan tarling dangdut Kencana Ungu, mencari Murti. Dia memang menemukan Murti tengah menyanyi di tempat lain. Murti yang cantik menari meliuk-liuk dengan ular yang melilit di tubuhnya. Dia melihat Murti dieluk-elukan. Sanan menunggu Murti turun di belakang panggung. Murti memang turun tapi dia langsung berlalu bersama laki-laki pimpinan rombongan tarling dangdut Cahaya Muda. Sanan berusaha mengejar, tapi dia segera dihadang dan dipukuli hansip. Dari kejauhan dia masih bisa melihat Murti dibimbing laki-laki itu masuk ke dalam mobil.
Sanan pulang dalam keadaan bukan saja babak belur dipukul hansip, tapi hatinya pun terkoyak-koyak. Dia tidak kuasa untuk menahan pembalasan dendam. Serupa Baridin dia bertapa untuk mendapatkan ajian jaran goyang. Dengan ajian itu dia membuat Murti seperti Ratminah: gila diguna-guna. Murti berlari-lari telanjang mengejarnya. Sanan akhirnya mendapatkan Murti. Tapi pengaruh ajian jaran goyang tak bisa ditarik kembali. Murti telanjur hilang ingatan.
Pondok Pinang, Mei 2008.
(Republika, 27 Juli 2008)
Perempuan bergaun putih itu berjalan bagai melayang sendirian pada malam gelap dan lengang. Gerimis berhamburan bagai kesedihan yang ingin memeluk sekujur tubuhnya yang letih. Rambutnya jatuh sampai ke punggung. Wajahnya seputih kapas. Matanya dipenuhi kekosongan.Ia berjalan demikian tenang seakan menyatu dengan kesedihan yang agung sekaligus kebahagiaan paling sempurna dalam perjalanan malam menjelang pagi yang lengang penuh hamburan embun dan gerimis tipis. Sebentar lagi bayangan tubuhnya lenyap di balik gerumbul semak tikungan jalan.
Oh tidak! Aku harus mengejarnya, mengetahui di mana jejak langkahnya bakal berhenti. Dan kalau mungkin mengajaknya ngobrol di pinggir sungai. Sudah lama aku menunggunya. Aku tidak boleh menyia-nyiakan kesempatan yang mungkin tidak akan datang dua kali. Aku memekik memanggilnya, “Hoiii!”Kulihat ia berhenti sejenak. Namun wajahnya tak ditolehkan ke arahku. “Hoi, tunggu akuuu!” pekikku makin lantang.
Tebing sungai dan tembok-tembok kuburan China memantulkannya kembali menjadi gema yang panjang. Perempuan itu meneruskan langkahnya, lenyap di gerumbul semak tikungan jalan. Aku mengejarnya, terengah, paru-paruku seperti hendak pecah, kedua tungkai kakiku terasa patah. Ruas jalan beton tak berapa lebar itu hampir tak menyisakan bayangan tubuhnya. Ia menuruni jalanan berbeton yang diapit semak. Aku jatuh tersujud di jalanan itu. Gerimis telah reda. Perempuan itu makin jauh. Tak ada yang bisa kucatat selain gaun putihnya melambai-lambai.
Ia hampir sampai di ujung jalan, berbelok ke kanan. Sebentar lagi keriuhan pasar bakal terdengar. Orang-orang menjajakan sayuran, daging sapi, ayam potong, rempah-rempah. Gerakannya tampak anggun menyibak kelimun orang, menyelinap ke salah satu toko paling pojok yang menjual bermacam-macam selendang.Ia mendekat dan berbisik pada si penjaga toko yang kemudian manggut-manggut. Lantas membawa perempuan itu ke ruang bagian dalam. Cahaya remang di toko itu tidak dapat memperlihatkan dengan jelas barang-barang apa saja yang dijualnya di sana. Perempuan itu kembali berbisik-bisik. Penjaga toko itu kembali manggut-manggut.
Wajah penjaga toko itu berubah tegang sejenak, tapi kemudian kembali dipenuhi kegembiraan dan senyum misterius. Orang-orang hanya lalu di depan toko itu, seakan mereka tidak melihatnya. Hanya mereka berdua di toko bercahaya remang-remang itu, berbisik-bisik, saling bertatapan sejenak, lantas sibuk memilih-milih selendang yang berjuntaian.
Aku berdiri di lorong pasar, pundakku berguncang dilanda orang lalu. Mereka masih memilih-milih selendang. Tampaknya ia tidak menemukan selendang yang dicarinya. Aku terus mendekat ke toko. Lagi-lagi cahaya remang dalam toko menyulitkan mataku menangkap wajahnya secara jelas. Ups! Hanya sekilas aku melihat matanya. Tubuhku hampir tersungkur didorong orang. Ketika sampai ke toko itu, perempuan itu tak ada. Dan penjaga toko bersiap menutup tokonya.
Penjaga toko itu memandangi mataku dengan tatapan aneh, penuh misteri. Tak sepotong kata pun terlontar dari bibir kelabunya. Aku berbalik arah dengan lesu. Keluar dari keriuhan pasar yang sebentar lagi menguap. Berjalan ke arah tadi aku datang. Semak-semak bergesekan. Suaranya melengkapkan keheningan pasar di bawah sana. Tembok-tembok besar kuburan China menyembul dari semak dan rumputan yang terus meninggi. Seperti tonggak-tonggak yang mengingatkan orang akan kefanaan sekaligus keabadian.
Aku berjalan tertatih. Sejenak aku berhenti di tikungan tempat semalam perempuan itu berhenti tanpa menolehkan wajah ke arahku. Ya, di tikungan ini. Semalam tubuh semampainya berhenti. Aku tak tahu apakah telapak kakinya memijak tanah. Tepat di bekas tapak kakinya aku duduk tersimpuh, mencari sisa-sisa kehadirannya. Aku hanya mendapatkan debu, terasa kasar di telapak tanganku.
Gelap telah lewat, sinar matahari mulai merayapi udara. Tapi jalanan ini tetap lengang. Tak ada orang lewat. Keresek serangga di gerumbul alang-alang, kicau burung bersahutan, melayang dari ranting ke ranting pohon kamboja. Sesekali saja terdengar keloneng genta di kejauhan, dari sebuah vihara atau mungkin juga rumah duka.
Aku melanjutkan langkah dengan pikiran dipenuhi perempuan bulan. Perempuan ambulan. Aku melintasi jembatan beton. Kulihat permukaan sungai itu berkilau keperakan. Sungai yang membelah kota ini menjadi dua bagian. Mungkin kau pernah mendengar tentang perempuan bulan, perempuan ambulan. Ia hanya muncul di kala malam bergerimis tipis dan tak ada bulan.Bertahun-tahun aku hanya mendengar ceritanya. Aku telah lupa siapa yang pertama kali menceritakannya. Begitulah, aku mendengar kisahnya sepotong sepotong. Tetapi sejak pertama aku mendengarnya sosoknya seakan utuh hidup dalam pikiranku.
“Ia jatuh dari bulan suatu malam,” kata seseorang.
“Bukan, bulan, tapi ambulan,” bantah seseorang.
Seorang lelaki menemukannya terkapar di jalan itu. Dia membawanya pulang ke rumah, menyembuhkan luka-luka di tubuhnya. Konon ia tak pernah berbicara kecuali berbisik-bisik. Lantas lelaki itu menjadikannya istri. Dia sungguh lelaki yang mujur. Perempuan itu tidak sekadar cantik, tapi juga membawa keberuntungan. Toko kain di pojok pasar milik lelaki itu mengalami kemajuan pesat. Sayang, dalam suatu kerusuhan massal lelaki itu terbunuh. Tokonya dijarah dan dibakar kawanan orang. Perempuan bulan itu juga tak selamat dari renggutan tangan-tangan hitam penuh angkara. “Tetapi sebelum semuanya berlangsung lebih buruk, perempuan itu terangkat ke bulan,” kata seseorang.
“Bukan bulan, tapi ambulan,” bantah seseorang.
“Kamu tidak akan dapat bertemu dengannya,” kata yang lain.
“Itu hanya dongeng,” bantah seseorang.
Ia telanjur hidup dalam benakku. Menggelisahkanku. Sejak itu aku merasakan kehadirannya di dekatku. Kadang serupa bisik-bisik lirih disertai dengusan lembut pada tengkukku. Malam-malam ia kadang membangunkanku. Seperti semalam, kudengar suara tangisnya yang pilu.
Aku bangun, menyingkap selimut, turun dari pembaringan, menekan sakelar lampu. Aku mencari suara tangis itu. Suara yang begitu dekat, seakan melekat pada tembok-tembok kamarku. Tetapi sekaligus jauh, jauh di seberang sungai, dari area permakaman China. Kutinggalkan kamar, melangkah keluar perlahan-lahan. Lalu membuntutinya dengan perasaan berdebar-debar.
Aku ingin mengenalnya. Ingin memastikan dari manakah dia berasal. Jatuh dari bulan atau hanya dari ambulan. Sungguh cerita tentang muasal perempuan itu yang simpang siur, antara jatuh dari rembulan dan dari ambulan, menyita waktuku.Seandainya benar ia jatuh dari bulan, bukan dari ambulan, sungguh menarik, bukan? Pasti kau pun ingin bertanya lebih jauh. Kenapa ia sampai jatuh dari bulan. Apakah terusir dari sana lantaran ia melakukan kesalahan tak termaafkan? Kesalahan macam apakah yang membuatnya harus menerima hukuman dijatuhkan ke bumi berdebu?
Ah, bisa saja perempuan itu memang jatuh dari ambulan, bukan bulan. Tetapi bagaimana ceritanya ia dibiarkan jatuh dari ambulan. Apakah karena ia kere yang hanya menyusahkan pihak rumah sakit sehingga sah-sah saja dijatuhkan dari ambulan pada suatu tengah malam bergerimis tipis. Tapi, ah, bisa saja ia tidak jatuh dari ambulan maupun bulan, melainkan jatuh dari angan-angan orang-orang senang mengarang cerita gombal.
Pondok Pinang, Juli 2008
KOMENTAR TERAKHIR