Lisabona

3 Mar 2009 In: SEKS
(Edisi Perdana Majalah D’Sari, Februari 2009)

Setelah mengungkapkan rahasia yang selama ini disimpannya rapi-rapi, Alex menghempaskan punggungnya ke sofa. Matanya mengawasi ekspresi wajah Lisabona. Dengan tegar Alex ingin melihat bagaimana reaksi Lisabona setelah mengetahui laki-laki macam apa dirinya. Alex pasrah apa pun resiko yang bakal diterimanya setelah ini, termasuk yang paling buruk sekalipun: Lisabona memutuskan hubungan dan meninggalkannya! Betapa pun bencinya pada perpisahan tapi Alex tahu ini mungkin lebih baik bagi mereka berdua.

Sekian menit Alex menunggu, Lisabona tidak memperlihatkan reaksi apa pun. Kecuali hanya duduk tercenung dengan wajah diletakkan pada kedua telapak tangannya. Seakan hendak menyembunyikan bentuk wajahnya yang oval mungil di antara lentik  jemari tangannya. Sorot matanya menerawang namun datar belaka, hampir tidak menampakkan keterkejutan apalagi reaksi berlebihan. Sebelumnya Alex membayangkan Lisabona akan menangis karena kecewa berat dan membencinya, lantas marah besar, untuk kemudian memutuskan hubungan.  

“Aku pasrah kalau kamu mau marah dan mengakhiri hubungan denganku. Akan aku terima apa pun sebagai sebuah resiko yang harus aku tanggung, Lis,” ujar Alex, getir. Lisabona mengerjapkan matanya,“Tidak ada perlunya marah. Aku memang kecewa tapi hanya sedikit,” kata Lisabona dengan suara rendah,”Aku tidak akan menyalahkan siapa-siapa. Mungkin sikapku jadi berubah padamu setelah ini, tapi kurasa tidak terlalu banyak. Aku tetap mencintaimu atas dasar pikiranku,” kata Lisabona, dengan suara hampir tanpa beban kesedihan. 

“Aku justru heran kenapa kamu harus menyimpannya sekian lama? Seakan aku ini perempuan dari masa lalu yang tidak tahu dunia luar,” kata Lisabona antara kesal dan lega. 

Sudah lama Alex ingin mengatakan persoalan yang dihadapinya ini kepada Lisabona secara santai. Mungkin sambil menghisap rokok dan menikmati secangkir kopi di beranda menjelang sore. Ketika Lisabona tampak begitu segar seusai berendam di bath tub setelah bangun dari tidur lewat tengah hari. Mereka bisa menikmati saat-saat seperti itu hanya pada hari libur.  

Namun entah sudah berapa kali kesempatan yang ditunggu seperti itu lewat begitu saja. Alex selalu merasa waktunya kurang tepat sehingga selalu tertunda-tunda sampai sekian lama. Berulangkali manakala Alex merasa menemukan waktu yang tepat ia justru dilanda ketakutan akan resiko yang bakal diterimanya. Alex takut melihat Lisabona menangis begitu mendengar pengakuannya. Bagi Alex tak ada yang lebih membuat perasaanya teriris ketimbang melihat perempuan menangis. Terlebih perempuan itu Lisabona, orang paling dekat dalam hidupnya. Lebih teriris lagi jika Alex yang menjadi penyebab perempuan itu menangis.  

Sekalipun Lisabona adalah tipikal perempuan kota besar yang cerdas, dengan pergaulan luas, terpelajar, aktif, tegar, mandiri, teguh dalam sikap dan berpikiran rasional, Alex tetap saja ragu bahwa Lisabona akan sanggup mendengar kenyataan tentang dirinya.  

“Aku mencintaimu bukan berdasarkan perasaanku, Alex. Melainkan pikiranku,” ujar Lisabona suatu kali setelah mereka beberapa kali bertemu. Alex mengerti maksud kalimat itu. Lantaran merasa nyaman dan cocok maka tak lama setelah itu dia memutuskan untuk menjalin hubungan yang lebih dekat dengan Lisabona. Mereka sepakat memegang komitmen untuk saling setia dan menyayangi. Keduanya memilih tinggal bersama di sebuah apartemen yang disewa secara patungan.  

Meski Lisabona bukan pekerja kantoran namun kesibukannya melebihi orang kantoran yang terikat aturan jam kantor. Berangkat pukul 11 siang dan pulang hampir selalu tengah malam, bahkan menjelang subuh. Saat berada di rumah pun tak jarang Lisabona tetap berkutat dengan laptopnya. Kadang dua sampai tiga hari Lisabona tak pulang dan cukup memberi kabar pada Alex bahwa dirinya tak bisa pulang. Alex tak keberatan. Dia percaya Lisabona memegang komitmennya baik-baik. 

Pagi hari setelah sarapan sendirian kerapkali Alex bahkan menyiapkan pula setangkup roti dan segelas susu coklat untuk Lisabona, mencium Lisabona yang masih lelap sebelum dia berangkat ke kantor. Selama empat tahun semuanya berjalan baik-baik saja. Dengan kondisi seperti itu Alex yakin Lisabona tidak pernah mencurigai sedikitpun rahasia yang rapi-rapi Alex simpan. Namun justru itulah masalahnya. Alex dikejar-kejar perasaan bersalah. Ia ingin mengatakan tapi selalu tak sampai hati. Alex ingin Lisabona yang lebih dulu bertanya. Tetapi rasanya itu tak mungkin terjadi. Seandainya Lisabona yang bertanya Alex akan mengatakan sejujur-jujurnya. Tapi Lisabona tak pernah bertanya. Sepertinya dia yang menunggu Alex mengutarakan.

**

Jika tahu reaksi Lisabona sebijak ini tentu sudah sejak lama Alex mengungkapkan rahasia yang membuatnya merasa lelah karena harus berpura-pura terus dari tahun ke tahun.

“Benar kamu tidak membenciku, Lis?” Alex bertanya penuh nada heran campur lega.

“Tentu tidak, Lex. Sedikitpun tak ada keinginan di hatiku untuk membencimu,” kata Lisabona, enteng.

“Terima kasih, Lisa. Tak salah aku memilihmu,”

“Sekarang, bolehkah aku tahu siapa yang menjerat hatimu?”

“Benarkah kamu juga tidak akan membenciku jika kukatakan,”

“Kamu masih meragukanku, Lex?” Lisabona memegang pundak Alex. Menatapnya tajam-tajam seakan ingin meyakinkan bahwa tidak ada lagi yang perlu disimpan sendirian. 

Alex balas memandang Lisabona dengan pikiran terbang pada wajah Dewanto. Alex bertemu lelaki itu saat keduanya menghadiri pembukaan pameran lukisan. Pria asal Banyuwangi yang lugu itu telah menawan hatinya. Berkulit kelam, dengan garis rahang yang tegas. Sangat manis kala tersenyum. Dia bercerita pernah menikah dengan perempuan. Namun tak berapa lama. Karena, mana ada perempuan yang tahan hidup dengan laki-laki yang tak bisa memberi kehangatan di tempat tidur. “Aku mencintainya, Lex. Tapi heran, aku tak berdaya mencumbunya,” kata Dewanto saat mereka berdua saja di dalam kamar hotel, di Bali.  

Alex dan Dewanto suka menghabiskan waktu berdua menyusuri pantai, duduk berlama-lama menikmati es kelapa muda di warung tenda. Mereka sepakat merahasiakan hubungan ini.  

“Kamu yakin Lisabona tidak tahu, Lex?”

“Tentu saja,”

“Kalau kamu diminta memilih, aku atau Lisa?”

“Aku tidak mau kehilangan seorang pun dari kalian,”

“Hm,”

“Seandainya bisa tentu aku mau kita tinggal bersama,”

“Gila kamu, Lex!”

“Dia jangan pernah tahu. Atau aku akan meninggalkanmu,”

“Kalau dia bisa menerima, kenapa tidak?

“Sampai kapan pun jangan pernah, Lex!”

Alex sempat terkejut sebentar mendengar pengakuan Dewanto. Setelah itu Alex berjanji memenuhi permintaan Dewanto untuk merahasiakannya dari Lisabona.   

Dan benarkah sekarang dia mengingkari janjinya tersebut? Setelah Alex mengungkapkan rahasia terbesarnya pada Lisabona mestinya tidak  ada lagi kesulitan bagi Alex menceritakan siapa lelaki yang menjerat hatinya. Ya, tentu saja seandainya laki-laki itu bukan Dewanto.     

Semula Dewanto tak mau mengatakan kenapa harus merahasiakan dirinya dari Lisabona sekalipun Alex telah mengungkapkan persoalan yang dihadapinya. 

“Tapi kenapa, To?”

“Dia mantan istriku!”  

**

“Kamu yakin akan baik-baik saja seandainya kukatakan siapa dia, Lis?” suara Alex terdengar lirih dan bergetar.

“Kalau kamu masih mempercayaiku katakan saja. Jangan berbelit-belit!”

“Tapi tidak sekarang, Lis! Akan tiba saatnya nanti” ujar Alex.

Lisabona tertawa sinis.

“Jangan marah, Lis. Aku butuh waktu. Tolong mengerti,” 

**

Di kafe menjelang magrib, Lisabona duduk berhadapan dengan Dewanto.

“Jangan kamu rebut dia dariku,” kata Lisabona.

“Tidak, Lis. Alex kawan yang baik,”

“Jangan temui dia lagi, sebagai kawan sekalipun!”

“Aku tak akan merebutnya darimu, Lis!”

“Aku tidak mau didustai dua kali!” 

Pondok Pinang, Desember 2008 

Pondok Pinang, Oktober 2008

Tukang Ramal

17 Feb 2009 In: KEKERASAN
(Seputar Indonesia, 15 Februari 2009)

Tukang ramal itu berjalan melintasi gang demi gang di permukiman padat. Dia melangkah tersaruk-saruk di gang yang kotor oleh debu dan sampah plastik bekas bungkus jajan anak-anak. Sepanjang gang memang ramai oleh anak-anak yang berlarian ke sana kemari sambil menjerti-jerit riuh seperti suara petasan. Beberapa kali tubuhnya terhuyung hampir jatuh terlanda anak-anak itu. Untunglah dia membawa tongkat sehingga bisa bertahan dan terus menyeret kakinya. Dia tidak mau jatuh tersungkur seperti kemarin kemarin dan menjadi bahan tertawaan anak-anak sialan itu. Sesekali disekanya peluh yang meleleh di dahinya. Sekali waktu dia mengangakat wajahnya, melihat gang di depannya yang masih panjang yang harus dilaluinya. Dia menarik napas berat. Jarak sama yang ditempuhnya kali ini terasa begitu jauh. Dia merasakan sendi-sendi tubuhnya mulai panas. Demikian juga tungkai kaki dan pinggangnya terasa nyeri.

Hari mulai redup. Kini gang yang dia lalui tidak seramai tadi. Dia berharap melihat sebuah teras atau gardu yang sepi untuk sekadar istirahat sejenak. Namun sampai tungkai kakinya gemetar, teras maupun gardu yang diharapkannya tak juga tampak. Kalaupun ada ia sudah dipenuhi oleh orang-orang yang nongkrong main catur sambil ngobrol ngalor ngidul. Dia tidak sedang ingin meramal siapapun. Dia hanya ingin istirahat sejenak, memijit betisnya tanpa ada yang mengganggu. Ah, siapa pula yang minta diramal hari ini? Sudah lama orang-orang tak lagi membutuhkan tukang ramal untuk meramal nasib mereka. Sebab masa depan mereka sudah jelas: kelam tanpa harapan.

Dia hampir sampai di ujung gang. Dari sana dia akan berbelok ke kanan. Masih ada beberapa gang lagi yang harus dia lalui. Di belokan itu dia melihat sebuah gardu yang sepi. Dia akan istirahat sebentar di sana. Menghabiskan sisa air minum dalam botol plastik yang dibawanya. Tapi tiba-tiba dia merasa ada seseorang yang membuntuti langkahnya. Seorang lelaki berbaju lusuh, bermata keruh.

“Kau membuntutiku, anak muda?”

“Apakah kau tukang ramal itu?” sahut lelaki itu balik bertanya seraya menatapnya tajam.

“Saya tidak sedang ingin meramal. Pergilah…” tukasnya.

“Tapi saya sedang butuh diramal. Tolonglah…” lelaki itu menghiba.

Dia tahu tidak semestinya menolak orang yang ingin dia ramal. Karena bukan saja menolak rejeki tapi berarti juga tidak menghargai kepercayaan yang diberikan orang padanya, pada keahliannya meramal. Bukankah ini yang carinya untuk mendapatkan upah? Pekerjaan yang tidak saja menghidupinya tapi juga membuatnya bangga, namun telah hilang bersama masa lalu yang menjauh.

“Kisanak, saat ini saya sedang letih sehabis bepergian jauh. Saya tidak bisa meramal dalam keadaan seperti ini,” ujarnya mencoba menjelaskan.

“Tolonglah, kau pasti bisa melakukannya. Ayolah sebentar saja,” lelaki yang dia taksir berusia 35 tahun itu terus menghiba. Wajahnya memelas membuat dia terenyuh.

“Nanti ramalanku meleset,”

“Tidak. Ramalanmu tidak akan pernah meleset. Banyak orang yang sudah membuktikannya. Ayolah ramal masa depanku…” pinta lelaki itu terus menghiba membuat dia merasa begitu terharu. Betapa sudah lama dia merindukan orang yang menghargai keahliannya meramal. Adakah masa lalunya akan kembali?

Maka dibawanya lelaki itu duduk di gardu yang sepi. Dimintanya telapak tangan lelaki itu. Sebelum dia konsentrasi membaca garis-garis di telapak tangan lelaki itu, dia menatap wajah kuyu dan berdebu lelaki itu. Wajah yang mengisyaratkan kemiskinan dan penderitaan berlarut-larut.

“Kenapa kamu ingin diramal anak muda? Dari mana kamu tahu saya bisa meramal dengan tepat?”

“Dari majikanku,”

“Siapa dia?”

Laki-laki itu lantas bercerita tentang majikannya. “Marwan. Dulu dia seorang pemulung yang datang dari kampung yang jauh. Dia begitu papa dan hina sehingga makan pun dari sisa-sisa orang yang dia pungut dari tong sampah. Menurutnya suatu hari dia datang padamu minta diramal tentang masa depannya. Kau bilang dia bakal jadi saudagar. Ramalanmu benar-benar terbukti. Sekarang dia menjadi saudagar rongsokan kaya raya.”

Dia manggut-manggut seraya berusaha mengingat-ingat orang yang dimaksud oleh lelaki di depannya ini, tapi tak berhasil. Terlalu banyak orang yang datang padanya minta diramal. Dan hampir semua orang yang pernah diramal olehnya membuktikan keampuhan ramalannya. Itu yang membuat namanya kondang sebagai peramal. Bukan hanya rakyat jelata yang datang minta diramal, tapi juga artis sinetron, biduan dangdut, dan kyai. Tapi yang paling banyak adalah para pejabat dan pengusaha, atau pejabat sekaligus pengusaha. Dia tidak hanya mampu meramal masa depan yang jauh. Tapi juga tapi masa yang tidak terlalu jauh. Misalnya dua atau tiga tahun di depan. Bahkan dua bulan menjelang. Banyak pejabat yang minta diramal tentang karirnya dua tahun yang akan datang. Para pengusaha minta diramal apakah bulan depan menang tender, apakah ia segera dapat istri baru. Biduan dangdut dan pemain sinetron minta diramal apakah albumnya bakal meledak dan kontraknya akan diperpanjang, dan lain-lain. Rumahnya selalu penuh oleh orang-orang yang ngantri minta diramal.

Mereka yang membuktikan kebenaran ramalannya akan datang lagi pada dia sambil membawa buah tangan supaya mereka kembali diramal tentang masa depannya yang bagus-bagus. Karena kebanyakan mereka merasa puas dengan ramalannya, namanya terus melejit. Maka makin berbondong-bondonglah orang yang datang padanya minta diramal. Dan limpahan uang dan oleh-oleh dari mereka yang diramal membanjiri rumahnya. Tapi itu dulu, dulu sekali. Semua sudah berlalu. Sekarang sekalipun dia menjajakan diri menawarkan jasanya meramal dari pintu ke pintu, orang tak lagi tertarik mendengar ramalannya.

“Kisanak, maukah kamu saya ramal. Tolonglah, saya sungguh-sungguh butuh meramal supaya saya bisa makan.” Orang-orang hanya melengos atau menatapnya dengan iba.

“Kalau kau mau, ini kami punya sisa makanan, terimalah. Tapi kami tak perlu ramalanmu,” kata orang-orang yang dia datangi rumahnya.

“Kami sudah tahu masa depan kami yang suram dan tanpa harapan. Meski berkali-kali pemimpin berganti. Partai-partai tumbuh bagai cendawan di musim hujan. Tapi kami tahu masa depan kami akan tetap seperti hari ini,”

Tidak pernah terbayang olehnya bahwa dia akan mengalami penolakan yang menyakitkan serupa itu. Hidup terlunta-lunta. Dia tidak punya kepintaran selain meramal. Sehingga meski berat dia terpaksa menadahkan tangan meminta belas kasihan untuk mempertahankan sisa hidupnya.

“Bukannya kami tidak ingin diramal, tapi sebagus apa pun kau ramal masa depan kami tetap saja masa depan kami seperti sekarang, atau bahkan lebih kelam. Jadi pergilah, ini sekadar buat bekal perjalananmu, wahai nenek peramal.”

Harta bendanya di gudang satu persatu dia jual sampai habis ludas sebelum rumahnya yang besar ditukar dengan bahan-bahan makanan yang kini telah habis pula. Dia kini terpuruk di kamar kontrakan yang gentingnya bocor dan bolong-bolong dindingnya. Setelah letih tersuruk-suruk menjajakan diri menawar-nawarkan jasa meramal, di sanalah dia berbaring seorang diri, di antara primbon-primbon dan kitab ramalan yang mulai lapuk dan rusak kena cipratan hujan. Menggulung tubuh ringkihnya dengan selimut yang sekaligus berfungsi menjadi alas tidur. Merenungi nasibnya yang begitu buruk yang sama sekali tak pernah teramal olehnya di masa lalu. Sebenarnya bukan tak teramal, melainkan dari dulu dia memang tidak pernah berani meramalkan nasibnya sendiri. Sebab sekali waktu dia melakukan hal itu, dia melihat suaminya pergi dengan perempuan lain meninggalkannya. Beberapa waktu kemudian ramalan itu benar-benar terjadi. Sejak itu dia takut meramal masa depannya sendiri. Seandainya dulu dia mau meramal masa depannya sendiri tentulah nasibnya tidak akan seburuk ini. Setidaknya dia bisa sedikit menabung, tidak menghambur-hamburkan uangnya.

“Bagaimana, Nek? Bagaimana nasib saya di masa depan?”

Dia tergeragap dari lamunannya.

“Ramallah masa depan saya yang cerah, menjadi saudagar kaya raya, memiliki supermarket dan rumah di mana-mana. Ayolah Nek, tolong jangan bilang masa depan saya suram. Bukankah kata mereka kau tidak pernah meramal buruk masa depan orang? Bukankah pada setiap orang yang datang minta diramal kau selalu mengatakan bahwa mereka memiliki masa depan yang indah dan bahagia? Ayolah, Nek, saya sudah capek hidup kere. Akan saya berikan seluruh tabungan yang saya kumpulkan bertahun-tahun bila kau ramalkan nasib saya cerah di masa depan” laki-laki itu terus nerocos.

“Sabarlah anak muda, saya baru akan mulai,”

Lelaki itu tertegun dengan dada berdebar-debar, tampak tak sabar menunggu. Dia berharap akan keluar dari mulut nenek peramal itu tentang masa depannya yang cerah. Menjadi pengusaha sukses, punya pabrik dan apartemen. Tapi harapannya kandas.

“Saya tidak bisa membaca garis tanganmu, anak muda. Maaafkan saya,”

“Kenapa tidak bisa, Nek? Kau harus bisa meramal masa depanku yang cemerlang. Ayolah, Nek, kau katakan saja bahwa masa depanku memang benar-benar cerah penuh harapan. Percayalah kalau saya kaya raya akan saya beri apa pun yang kau minta. Kau bisa segera meninggalkan kamar kontrakanmu yang bocor dan bau apak, kau tidak perlu lagi terlunta-lunta menawar-nawarkankan jasa meramal masa depan orang….” Lelaki itu terus mendesak seperti kesetanan.

“Maaf anak muda. Garis tanganmu sungguh-sungguh tak terbaca,” ujarnya, mulai ketakutan melihat lelaki itu yang tampaknya mulai marah, “oh tuhan selamatkan saya,” ujarnya dalam hati. Mulutnya komat kamit berdoa.

“Kenapa kau tega tak mau meramal masa depanku, hai nenek peramal,” Lelaki itu terus merangsek, mencengkram dan mengguncang-guncang tubuh nenek peramal. Dia mau meraih tongkat dan ingin segera pergi, tapi lelaki itu tak membiarkannya. Dia merasakan lelaki itu mencekik lehernya. Susah payah dia meronta.

Ketika malam tiba, orang-orang menemukan mayat perempuan tua itu telungkup di gardu ronda seperti mendekap masa lalunya.

Pondok Pinang, Oktober 2008

Romansa Kebun Tebu

27 Jan 2009 In: SEKS
(Sinar Harapan, 24 Januari 2009)

Dua malam lagi aku akan meninggalkan kota ini. Beberapa menit setelah tiang listrik dipukul orang tiga kali, dan penjual nasi goreng mendorong gerobaknya pulang meninggalkan kawanan tukang becak yang terkapar di dalam becak mereka setelah lelah berjudi. Saat-saat seperti itulah aku bisa keluar dari kamar kontrakan dengan perasaan lapang. Mengunci pintu perlahan-lahan, kemudian meletakkannya bersama sebuah surat di bawah keset untuk ibu kontrakan.

Dua malam lagi kamar kontrakan yang bertahun-tahun menghidupiku dengan kesunyian hanya akan kubawa dalam ingatan. Meninggalkan tumpukan baju kotor yang menggelantung di balik pintu. Meninggalkan percakapan anak-anak mahasiswa yang selalu diselingi gelak tawa. Meninggalkan gadis kecil yang dua minggu ini setiap menjelang magrib melintas di jalan itu. Gadis kecil berambut kemerahan yang selalu berjalan dengan langkah-langkah kecil dan tergesa. Dua tangan mungilnya mendekap sebuah buku di dadanya. Gadis kecil yang telah membatalkan niatku pulang.

Mestinya sejak dua minggu lalu aku meninggalkan kota ini. Tetapi niatku yang sudah bulat mendadak menguap begitu saja ketika memandang gadis kecil itu. Gadis kecil berbaju biru yang segera menghilang di tikungan begitu kukejar. Sehingga aku harus menunggunya menjelang magrib pada keesokan harinya. Tetapi sampai berkali-kali aku mengejarnya, dia selalu lebih cekatan menghilang. Seakan menghindari bahaya yang siap menerkam.

Aku pernah mencoba mengadangnya untuk dapat menatap wajahnya dengan jelas. Aku berdiri di balik pintu pagar menatap ke arah ia biasanya muncul. Beberapa lama menunggu, kulihat dia akhirnya muncul dengan langkah-langkah kecil dan tergesa menapaki jalanan berkerikil, dengan gerak tubuh yang tiba-tiba sangat kuhapal. Terutama dua tangan mungilnya yang mendekap sebuah buku di dadanya. Rambutnya keriting dan sedikit dikacaukan angin tampak makin kemerahan oleh matahari menjelang magrib. Pandangannya lurus, kadang tertunduk, melihat buku di dadanya yang tampak begitu dikhawatirkannya lepas terjatuh.

Dia makin mendekat. Hanya beberapa langkah lagi dia akan melintas di depanku, aku akan menyapa dan menghentikan langkahnya, memegang pundaknya, memberinya senyum seraya menatap wajahnya. Namun ketika selangkah lagi dia melintas di depanku, tiba-tiba terdengar bunyi benturan amat keras yang mengalihkan perhatianku ke seberang jalan. Dan manakala rasa terkejutku hilang, gadis itu sudah jauh berada di ujung jalan dan segera lenyap ditelan tikungan. Peristiwa ini kuingat terjadi lebih dari satu kali. Ketika beberapa waktu kemudian berhasil mencegat langkahnya, dia hanya membisu, menatapku beberapa lama, menepis tanganku, dan lekas-lekas berlalu. Wajah gadis itu mirip Laila yang tengah kucari di kota ini.
Laila, gadis yang telah kuhancurkan masa depannya. Mungkin aku akan menanggung rasa bersalah sepanjang umurku. Apa boleh buat, tak ada lagi yang bisa kulakukan. Laila, maafkan aku.

Kukemasi sejumlah barang dan pakaianku yang tak seberapa. Mengemasi baju-baju ke dalam tas seperti mengemasi perjalanan hidupku yang belum selesai. Ini sungguh pekerjaan yang tidak mudah. Dan yang lebih berat lagi, aku harus mengemas perasaanku yang rawan. Lalu bagaimana aku mengemas perasaan bersalah pada Laila yang gagal kutemukan di kota ini?

“Katanya takkan pulang sebelum Laila kamu temukan?” Terngiang ucapan ibu kontrakan siang tadi. Aku menggeleng seraya tersenyum getir.

Lima tahun lalu, sekembali dari kuliah di kota ini, ayah-ibuku menyambut dengan gembira. Aku berhasil lulus dengan predikat cum laude. Ini prestasi yang membanggakan orangtuaku. Selain jodoh, telah disiapkan pekerjaan buatku di pabrik gula yang ada di kota kecamatan. Ayahku adalah salah seorang pembesar di perusahaan yang telah banyak menghidupi warga desa tersebut. Namun sayang, keduanya gagal kuperoleh. Bukan hanya karena aku tidak tertarik pada kedua pilihan tersebut, melainkan karena aku bertemu dengan Laila. Gadis kecil anak seorang kuli tebu. Matanya yang indah dan pipinya yang penuh membuat hatiku tak dapat mengelak mencintainya. Tak peduli Laila seorang gadis kecil 13 tahun, dan aku insinyur 27 tahun. Aku sering secara sembunyi-sembunyi mendatangi rumahnya di tepi kebun tebu. Biasanya menjelang magrib.

Aku tahu Laila merasa senang setiap aku datang, bukan cuma karena aku membawakan majalah-majalah remaja yang disukainya dan mengajarinya menggunakan handphone. Laila senang, karena dirinya bisa bercerita pada orang lain tentang dirinya. Maklum, tak ada teman sebaya di sekitar rumahnya. Ia baru lulus sekolah dasar, dan tak mungkin melanjutkan ke SMP. Tidak dengan ibu-bapaknya yang tampak cemas. Aku mengerti, tentu mereka khawatir aku hanya mempermainkan anaknya. Tapi mereka tak mungkin mengatakannya.

Kuajak Laila berjalan menemaniku menyusuri pematang, melompati parit. Duduk di atas pematang, memandang langit merah yang berangsur gelap. Kami menerobos kebun tebu. Kupetik bunga tebu untuk Laila, dan kucium bibirnya dengan gairah yang meletup tak terkendali. Masih sempat kudengar Laila merintih dan memekik. Suaranya hilang timbul di antara gemuruh nafasku dan suara angin yang terengah menggetarkan daun-daun tebu, menerbangkan serat-serat kembang tebu. Entah berapa kali batang-batang tebu merekam peristiwa indah itu. Sampai tibalah suatu hari aku menangis di pangkuan ibunya karena aku telah membuatnya hamil.

Kubuktikan tanggung jawabku sebagai laki-laki, aku meminang Laila. Tapi ayah-ibuku tak menerima Laila menjadi menantunya. Tentu perbedaan usia yang terpaut jauh hanya alasan mereka menolak Laila. Alasan yang sesungguhnya adalah karena Laila hanya lulusan SD dan hanya anak seorang buruh tani. Aku dipaksa menikah dengan perempuan yang telah disiapkan orang tuaku. Sementara Laila harus menanggung penderitaan seorang diri. Kudengar Laila kemudian diungsikan ke kota.

Beberapa lama setelah mendengar kabar tersebut, aku pergi meninggalkan rumah, menyusul Laila ke kota ini. Menyewa kamar kontrakan, tempat aku menitipkan baju-bajuku, meletakkan tubuh lelahku setelah melakukan pencarian. Kuingat hampir lima tahun aku melakukannya. Lima tahun, berarti lima kali masa tanam dan potong tebu di kampungku. Dan selama lima tahun seluruh sudut kota ini telah kususuri sepanjang siang sepanjang malam, bertanya pada hampir semua orang.

“Berambut lurus, ada tahi lalat di bawah dagu.” kataku seraya menyodorkan selembar foto kusam. Dan selalu gelengan kepala yang kudapatkan, atau kalimat “Nggak ada,” dengan nada yang sering kali amat ketus.
Memang kadang ada pula yang menjawab lembut, penuh perhatian dan berkeinginan membantu,

“Adik atau istri sampeyan?”

“Istri saya, namanya Laila”

“O, tapi dia bukan Laila. Tapi Lilis namanya,” ujar ibu penjaga warung rokok.

“Mungkin saja dia ganti nama. Antarkan saya pada Lilis,” kataku mengharap.

“Walah, saya nggak tahu rumahnya. Kemarin sih dia datang. Besok saja datang lagi kemari. Siapa tahu dia ke sini,”

Esoknya dan esoknya, dan esoknya lagi aku datang. Tapi Lilis tak juga muncul. Ibu penjaga warung itu memberi kabar, “Kata si Nur, dia sudah pulang kampung,”

“Nur, siapa dia? Temannya? Bisa saya ketemu dengan dia,”

“Tunggu saja di sini. Malam ini pasti dia datang,”

Sampai hampir subuh Nur tidak pernah tampak. Bahkan sampai beberapa malam aku tunggu. Kini kesabaranku sudah sampai pada batasnya. Aku tak mungkin membiarkan umurku habis untuk mencari Laila di kota ini. Menghabiskan malam-malamku menyusuri tikungan jalan, membebat tubuhku dengan jaket atau sweter, menyelinap ke pintu pub, bar, dan warung remang-remang sepanjang kota ini.
Dua malam lagi, waktu yang akhirnya kupilih untuk menghentikan pencarian dan kembali pulang menemui rumah dan ayah-ibu. Mungkin aku akan menemui ibu dan bapak Laila, untuk kesekian aku akan meminta maaf. Maafkan aku, Laila. Maafkan aku…

Pondok Pinang, 2008

Natal Sudah Lewat

29 Dec 2008 In: CINTA

(Suara Pembaruan, 28 Desember 2008)

Rumah ini kembali sepi. Tak ada lagi jerit anak-anak berebut mainan. Tak ada lagi ceceran susu dan serakan bungkus bekas makanan di lantai. Semua telah kembali tertata rapi. Warti sudah mengepelnya bersih-bersih, menggulung karpet dan menyimpannya di gudang.

Televisi di ruang tengah memang masih menyala menyiarkan berita-berita kriminal yang bikin perut terasa mual: seorang istri memutilasi suami, seorang ibu meracuni bayinya sendiri sampai mati, seorang kakek bunuh diri. Hartiningsih segera memindahkan channel. Ah, semuanya sangat membosankan. Sebenarnya Hartiningsih ingin membiarkan karpet itu tetap terhampar di sana lengkap dengan ceceran susu, serpihan makanan yang berserakan supaya ia tetap merasakan kehadiran anak-anak dan cucunya di rumah ini sedikit lebih lama. Tetapi Warti, pembantunya yang setia menemaninya sejak puluhan tahun, tanpa diperintah segera melakukan tugasnya merapikan semuanya menjadi seperti sediakala. Seperti anak-anak dan para menantu serta cucu-cucunya tak pernah datang merayakan Natal di sini.

Di halaman depan pohon mangga itu kembali sendirian, tak ada lagi deretan mobil-mobil diparkir. Anak-anak dan para menantu serta cucunya sudah kembali pulang ke kota tempat tinggal mereka masing-masing. Hartiningsih menarik napas dalam-dalam. Betapa lekas semuanya bergegas lewat, seakan Natal tak pernah terjadi di sini. Hartiningsih harus menunggu setahun lagi untuk bertemu kembali dengan anak dan cucu-cucunya yang menyebar di pelbagai kota. Cepat sekali Natal pergi, gumamnya. Seperti sekedipan mata saja. Betapa ingin Hartiningsih lebih lama berkumpul dengan mereka. Melihat anak-anak dan menantunya rukun bercengkrama. Menyuruh Warti membuatkan wedang jahe atau teh poci yang disuguhkan dengan lepet, gadungan, jalabiya, dan makanan khas desa lainnya kegemaran mereka di masa kanak. Melihat cucu-cucunya yang lucu-lucu berlarian membuat rumah gaduh dan berantakan. Lalu dengan ketulusan seorang ibu Hartiningsih memberesi kembali. Betapa menyenangkan mempunyai kesibukan mengurusi anak-anak.

Tetapi Hartiningsih sadar, mereka tak mungkin ditahan. Dia harus kembali menahan rindunya sampai Natal yang akan datang. Bisakah usianya kembali sampai tahun depan? Tubuhnya memang sehat berkat kedisiplinannya berolahraga jogging secara rutin saban pagi. Tapi umur siapa yang tahu?

“Mbok ya kamu minta papamu cuti supaya bisa lebih lama menemani nenek di sini,” ujar Hartiningsih pada Herman, cucunya yang tertua, malam sebelum esoknya mereka balik ke Jakarta. Papa Herman menatap dia penuh pengertian. “Nggak bisa, Ma. Pekerjaanku tak mungkin ditinggal. Coba Mama minta Gunadi saja yang cuti. Pekerjaan dia kan tidak mengikat,” kilah anak sulungnya. Gunadi memang bekerja jadi copywriter lepas yang sering melakukan perjalanan guna mencari ide.

“Mas Eprim saja. Pekerjaanku memang tidak mengikat, tapi besok harus bertemu calon klien,” ujar Gunadi memberi lemparan pada kakak keduanya. Tapi Eprim segera menangkis lemparan adiknya secara lebih gesit, “Wartawan itu nggak ada liburnya, Ma. Dikejar deadline tiap hari. Sekarang bisa mudik saja untung. Mba Yuni saja, waktu dia kan lowong. Bukan begitu, Mas Toro? Sampean nggak keberatan kan kalau Mba Yuni pulangnya menyusul?”

“Nggak bisa, aku harus segera mengurus keberangkatan ke Amerika. Aku dapat kesempatan mengajar di sana.” ujar Yuni tak kalah gesit.

“Ya sudah, kalau kalian nggak pada bisa tinggal lebih lama di sini. Tapi si Herman dan si Yasa seminggu lagi di sini. Kemaren dia bilang bisa minta sekolah masuknya minggu depan kan?”

“Nggak mau, Nek” ujar kedua cucunya itu serempak.

Hartiningsih mendesah pelan. Dunia mereka memang sudah berbeda. Hartiningsih tahu dia tak mungkin membawa mereka ke dunianya yang sepi. Mereka tidak pernah tertarik lagi pada sawah ladang peninggalan ayah mereka. Kebun kelapa dan ikan-ikan di kolam. Cucunya sudah bisa melihat semuanya melalui televisi, internet dan game play station. Dan mereka agaknya merasa cukup melihat ikan-ikan, kerbau, sungai, pematang sawah melalui gambar-gambar di layar komputer.

“Sudahlah, Mama tidak usah sedih. Ada Warti kan yang selalu menemani. Lagi pula kalau kangen Mama kan bisa menelpon kami kapan saja. Mama sendiri kan yang nggak mau tinggal dengan salah satu di antara kami?” ujar anak sulungnya seperti memojokkan Hartiningsih.

Anak-anaknya memang sudah berkali-kali meminta Hartiningsih tinggal secara bergiliran di rumah mereka yang tersebar di Bandung, Bogor dan Jakarta. Namun berkali-kali pula dia menolak. Bermacam-macam alasan dia kemukakan. Tidak betah tinggal di kota, tak kuat melakukan perjalanan jauh, sampai tak tega meninggalkan Warti. Untuk semua alasan itu anak-anaknya bisa dengan mudah membantahnya.

“Ma, di kota atau di desa sama saja. Di halaman rumah kami juga ada pohon mangga. Kebun bunganya malah lebih terawat.”

“Kami siapkan sopir untuk mengantar ke mana pun Mama ingin pergi. Mama bisa tidur sepanjang perjalanan supaya tidak mabuk.”

“Bi Warti ajak saja sekalian. Pasti dia mau.”

Anak-anaknya tidak bisa lagi membantahnya manakala Hartiningsih mengungkapkan alasan yang sesungguhnya.

“Aku tidak tega meninggalkan ayah kalian sendirian,” ujar Hartiningsih dengan suara rendah, sebelum bibirnya mengatup lama sekali.

Ya, Hartiningsih selalu merasa almarhum suaminya masih hidup dan tinggal bersamanya di rumah ini. Anak-anaknya sudah tak tahu lagi bagaimana memberi pengertian pada Hartiningsih bahwa ayah mereka sudah meninggal. Dan orang yang sudah meninggal tidak mungkin bisa diajak bercakap-cakap dengan orang yang masih hidup. Kalau sudah begitu Hartiningsih tidak bisa lagi mempunyai alasan menahan-nahan anak-anak dan cucunya untuk sekadar dua atau tiga hari lagi menemaninya di rumah ini.

“Gimana ya, Pa. Mereka nggak pernah mau percaya kalau sampeyan masih berada di sini, mengawasi mereka,” ucap Hartiningsih kepada suaminya yang selalu dianggapnya tak pernah pergi jauh dari sisinya.

“Mama ngomong sama siapa sih?” kata anaknya ketika suatu kesempatan memergoki Hartiningsih berucap sendirian di ruang tengah. Waktu itu Hartiningsih bermaksud mengabarkan pada suaminya tentang kedatangan anak-anak dan cucunya yang sudah pada besar, tentang Natal yang segera datang.

“Ayahmu, Nak, ayahmu. Lihatlah dia senang sekali melihat kalian datang,” ujarnya lirih dengan mata mengharap anaknya sekali saja mempercayai omongannya.

Hampir lima tahun lalu, ketika suaminya dinyatakan meninggal oleh dokter, Hartiningsih tidak percaya. Ketika jenazah sang suami diantar ke rumah dari rumah sakit, Hartiningsih menyambut laksana suaminya pulang dari liburan.

“Hati-hati di jalan, Pa,” ujar Hartiningsih ketika jenazah suami diberangkatkan ke permakaman. “Aku nanti menyusulmu bersama anak-anak,” kata Hartiningsih berdiri di muka pintu. Anak-anak dan para pelayat menenangkannya.

Begitulah, sampai bertahun-tahun Hartiningsih tidak pernah merasa ditinggal mati suaminya. Dua hari setelah jenazah suaminya diberangkatkan ke permakaman, Hartiningsih melihat suaminya kembali pulang. Masuk ke ruang tengah, nyetel televisi dan minta dibuatkan teh poci lalu dikeroki.

“Begadang terus ya di luar, Papa jadi masuk angin. Biar Mama minta si Warti yang ngeroki,” kata Hartiningsih melihat suaminya tampak letih dan kacau sekali pakaiannya.

Warti yang diminta ngerok, terbengong-bengong. Tapi Warti yang tahu dirinya tidak boleh membantah mengerjakan saja apa yang diperintah.

“Tuannya di mana, Nyah?”

“Warti, Warti, di sebelahku ini siapa? Mulai lamur mata kamu ya,”

* * *

Hari begitu redup. Hartiningsih melangkah masuk ke ruang tengah. Dia terheran-heran melihat suaminya sumringah. Kata suaminya Hendarman tidak jadi pulang ke Jakarta. Anak sulungnya itu berserta istri dan anak-anaknya sedang dalam perjalanan kembali ke rumah ini.

“Oya, kenapa mereka nggak ngabari Mama, ya Pa?”

“Mungkin pingin bikin kejutan,”

Ternyata benar, tak lama setelah itu Hartiningsih mendengar suara mobil memasuki halaman rumahnya. Tergopoh-gopoh Hartiningsih berlari ke depan menyambut mereka seraya berteriak supaya Warti menyiapkan makan malam.

“Warti, jangan ke mana-mana kamu. Siapkan makan malam lebih banyak, cucu-cucuku kembali lagi,”

Hartiningsih memeluki anak dan cucunya itu. “Nenek bilang apa, pasti kalian pengen ke sawah kan, menunggang kerbau lagi?” ujar Hartiningsih kepada Herman, cucu tertuanya. Tepat pada saat itu, telepon di ruang tengah berdering. Hartiningsih mengangkatnya. Dari Gunadi yang pulang beriringan dengan Hendarman karena searah, pagi tadi. Di telepon suaranya terdengar parau, terputus-putus.

“Ma, Mas Hendarman, Ma. Mobilnya tubrukan, dia di rumah sakit sekarang.”

@ Pondok Pinang Musim Hujan, November 2008.

Tembok Bolong

22 Dec 2008 In: KEKERASAN

(Lampung Post, 21 Desember 2008)

SEORANG lagi hilang ditelan tembok bolong. Kali ini yang jadi korban Wujil, pria yang sehari-hari berjualan ketoprak. Dia tak pernah kembali setelah menerobos masuk tembok bolong itu, meninggalkan gerobak ketopraknya yang diparkir di sisi jalan. Dua orang pembeli ketopraknya mengira Wujil sehabis kencing langsung beli rokok di warung sebelah sekalian menukar uang untuk kembalian.

Tapi tunggu punya tunggu Wujil tak muncul-muncul juga. Karena kesal menunggu, dua orang pembeli ketoprak itu akhirnya meninggalkan gerobak ketoprak Wujil. Mereka pikir biar nanti siang atau besok saja menemui Wujil di mulut perempatan tempat biasa dia mangkal untuk meminta uang kembalian.

Namun sampai besok dan besoknya lagi gerobak ketoprak Wujil masih terparkir di sisi jalan tak jauh dari tembok bolong itu karena memang Wujil tidak pernah kembali. Hari berikutnya petugas kebersihan menyingkirkan gerobak Wujil dari
sana dan menganggap Wujil benar-benar hilang ditelan tembok bolong. Nori, istrinya, menangis meraung-raung, di depan gerobak ketoprak yang mengonggok bisu.

Meski penjual ketoprak Wujil selalu merasa dirinya orang terpelajar, maklumlah jelek-jelek begitu dia pernah kuliah di Fakultas Filsafat UGM. Jadi dia tidak boleh mudah percaya dengan hal-hal tak masuk akal. Tembok bolong yang bisa menelan manusia menurut Wujil tidak masuk akal. Maka selama ini Wujil tidak pernah percaya dengan kabar-kabar yang berseliweran mengenai hilangnya sejumlah orang setelah mereka memasuki tembok bolong.

Menurut kabar-kabar yang didengar Wujil dari obrolan para pembeli ketopraknya, sudah ada sembilan orang yang lenyap tak pernah kembali setelah mereka memasuki tembok bolong. Meski demikian, Wujil tidak mau berdebat dengan orang-orang yang mengobrolkan kabar tersebut sambil makan ketoprak, jualannya. Sebagai penjual yang baik, Wujil tahu bagaimana menghormati pembeli.

Wujil merasa tidak perlu membuktikan kabar-kabar tersebut dengan mencoba masuk ke tembok bolong itu misalnya. Karena kalau dia lakukan jelas itu kurang kerjaan. Meski setiap hari Wujil mendorong gerobak ketopraknya melewati jalan itu. Paling banter Wujil hanya memandangnya sekilas. Tak berminat mengamatinya lebih jauh. Apalagi terdorong untuk mencari tahu bagaimana mulanya sampai tembok tersebut bolong. Tapi kalau dilihat bentuk bolongnya yang cukup untuk ukuran tubuh orang dewasa, jelas itu ulah orang-orang yang ingin mengambil jalan pintas. Kalau mau ke hiper mall yang berada di dalam kompleks perumahan elite itu, jalan melalui tembok bolong memang jauh lebih meringkas jarak. Tidak perlu memutar mengikuti jalan raya yang jaraknya berlipat-lipat jauhnya.

Tembok itu Wujil tahu merupakan pembatas yang memisahkan kompleks perumahan mewah dengan perkampungan kumuh di sebelahnya. Memang setiap lewat jalan tersebut Wujil melihat tembok bolong itu selalu sepi. Tak pernah sekalipun tampak orang masuk atau keluar dari sana. Wajar saja karena kalau Wujil lewat di jalan itu hari masih pagi saat dia mau berangkat berjualan atau menjelang maghrib ketika dia pulang dari berjualan.

Tetapi begitulah, hampir semua pelanggan ketopraknya memercayai betul tembok bolong itu sudah banyak menelan orang dan tak pernah kembali. Jumlah korban yang sembilan orang itu adalah mereka yang mencoba menembus masuk ke kompleks perumahan mewah melalui tembok bolong tersebut. Tidak ada yang tahu apakah warga kompleks perumahan mewah di balik tembok sana juga ada yang hilang ditelan tembok bolong saat mau menerobos ke perkampungan kumuh. Mungkin tak pernah ada. Siapa yang tertarik dengan kekumuhan?

“Kalau benar menelan korban, kenapa tidak ditutup saja,” ujar Wujil iseng menanggapi pembeli ketopraknya yang tampak serius mengobrolkan tembok bolong.

“Itulah, mana ada orang yang berani. Jangan-jangan sebelum menutup tembok bolong mereka duluan yang lenyap ditelan,” ujar pembeli itu seraya menyuapkan ketoprak ke mulutnya.

Dari sembilan orang korban itu, bukan semuanya warga perkampungan kumuh tempat di mana Wujil ngontrak. Sebagian besar, yakni tujuh orang di antaranya justru tamu di perkampungan kumuh tersebut. Umur mereka rata-rata di atas tiga puluh. Tentu soal umur ini perkara kebetulan belaka. Di perkampungan kumuh itu Wujil memang pendatang, baru enam bulan lalu dia menikahi Nori, warga asli perkampungan kumuh tersebut.

Mendengar obrolan para pembeli ketopraknya yang kelihatannya sangat serius itu Wujil ingin tertawa, tetapi dia segera sadar tidak boleh menyinggung perasaan pembeli. Sebab, dia tak mau gara-gara hal itu ketopraknya kehilangan pelanggan. Maka Wujil hanya mengangguk-angguk menahan geli. Tapi rupanya salah seorang pembeli ketoprak tahu kalau Wujil tidak pernah percaya.

“Kenapa Abang enggak percaya?” pembeli ketoprak bertanya, menyelidik.

“Saya memang tidak percaya. Saya rasa itu cuma kabar burung yang dibesar-besarkan,” cetus Wujil.

“Abang mengganggap hanya kabar burung?” kejar pembeli ketoprak, sedikit gemas.

“Iyalah Mbak, mana ada tembok bolong bisa menelan orang. Kalau ada orang masuk melalui tembok bolong itu kemudian tidak kembali, mungkin dia memang tidak mau kembali lantaran diterima bekerja dengan gaji besar di salah satu rumah mewah itu.”

“Tidak mungkin, Bang. Saya istri salah satu korban yang hilang ditelan tembok bolong itu. Suami saya benar-benar tidak pernah kembali. Kami kehilangan kontak sama sekali,” ujar pembeli ketoprak, tampak mulai emosi.

Mbak pembeli ketoprak itu kemudian bilang bahwa suaminya semula juga tidak percaya tembok bolong bisa menelan orang. Makanya dia penasaran ingin membuktikan. Perempuan itu sudah berkali-kali bilang tidak usah nekat. Ternyata benar, malang tak dapat ditolak untung tak bisa diraih. Suaminya benar-benar lenyap dan tak pernah kembali.

Wujil manggut-manggut, ragu. Dia mau bilang ‘bisa saja suami mbak memang sengaja meninggalkan Mbak pergi dengan perempuan lain lantaran merasa bosan dengan Mbak, tapi Wujil tahu dia tidak boleh menyakiti perasaan perempuan pembeli ketopraknya dengan kalimat seperti itu.

“Mbak tidak mencari ke kompleks perumahan mewah yang ada di balik tembok itu? Siapa tahu suami Mbak tersesat di sana, tidak bisa pulang.”

Perempuan itu menggeleng perlahan. Lalu terdiam lama menahan kesedihan.

“Sudah berapa lama suami Mbak hilang?” tanya Wujil akhirnya.

“Hampir setahun yang lalu.” Perempuan itu berkata dengan nada rendah dan muka murung.

“Pernah lapor polisi?”

“Saya tidak lapor polisi karena suami saya bukan diculik, melainkan ditelan tembok bolong. Mana bisa polisi melacaknya!” Perempuan itu mulai terisak.

“Mbak tahu warga kampung sini lainnya yang hilang?” Wujil bertanya lagi. Dijawab oleh pembeli ketoprak yang lain. Menurut orang itu, dia perempuan. Tetangganya yang baru pulang dari bekerja sebagai penyanyi pub. Karena tak tahan kebelet pipis perempuan itu pipis di got yang ada di balik tembok bolong. Sejak itu dia tidak pernah keluar-keluar lagi sampai sekarang.

Sementara korban lainnya mereka adalah tamu warga perkampungan sini yang mau ambil jalan memotong melalui tembok bolong itu. Mereka semua hilang lenyap bagai ditelan bumi. Keluarga mereka akhirnya menganggap mereka meninggal, yang mau tak mau harus direlakan. Lalu mereka menggelar tahlilan di rumah masing-masing supaya arwahnya tenang.

Wujil tercenung. Benaknya mulai disusupi rasa penasaran. Mungkinkah tembok bolong itu semacam segitiga bermuda yang mampu menelan orang tanpa jejak sama sekali seperti tempo hari dialami sebuah pesawat berpenumpang ratusan orang yang karam dan hilang di lautan tanpa pernah ditemukan bangkainya?

***

Sebelum hilang ditelan tembok bolong itu, Wujil memang pernah mengatakan pada istrinya bahwa suatu hari dia akan membuktikan sendiri. Hanya saja Wujil tidak pernah punya kesempatan. Bisa jadi sebenarnya dia tidak punya nyali.

“Sudahlah, Bang. Jangan macam-macam sok mau mencoba. Cari perkara itu namanya. Aku tidak mau jadi janda,” kata istrinya sambil menumbuk kacang goreng untuk bumbu ketoprak.

Sekali waktu Wujil memang pernah mengamati tembok itu dengan sedikit serius. Tingginya tidak kurang dari satu setengah meter dengan puncaknya ditanami aneka macam beling yang sanggup mencelakai orang yang nekat memanjat ke sana. Belum cukup dengan beling-beling yang mencuat runcing, beberapa senti di atasnya terdapat kawat berduri. Ketebalan tembok kira-kira lima belas sentimeter, meski demikian kurang kokoh lantaran terbuat dari asbes yang tengahnya kosong. Bagian luarnya tidak dilapisi semen pula sehingga tidak terlalu sukar dijebol. Di beberapa tempat terlihat gambar penis dan kata-kata cabul dari cat semprot. Bagian yang bolong itu tidak lebar juga tidak sempit. Orang tidak perlu memiringkan tubuh dan menundukkan kepala terlalu dalam untuk lolos masuk ke sana. Kalau dilihat dari kondisinya tembok itu sudah lama bolong. Mungkin beberapa hari setelah tembok dibangun. Tidak ada yang tahu pasti siapa yang menjebol tembok itu sehingga jadi bolong.

Tetapi beberapa kali Wujil hanya berdiri kira-kira dua meter di depan tembok bolong. Dari jarak tersebut, dia dapat melihat jalan kompleks perumahan yang mulus, taman yang tertata rapi, dan rumah-rumah megah dengan pagarnya yang tinggi-tinggi. Kontras sekali dengan keadaan perkampungan di sebelahnya. Ada kalanya dia melihat sekawanan anak-anak melintas menggunakan sepatu roda. Berseliweran di antara perempuan-perempuan muda–agaknya pembantu–yang tengah mendorong keranjang bayi.

Jadi pada hari lenyapnya Wujil ditelan tembok bolong itu sama sekali bukan karena dia sedang mencoba membuktikan sendiri kabar-kabar itu. Melainkan Wujil benar-benar kebingungan mencari warung mau menukarkan uang untuk kembalian. Dia melihat ada warung rokok di seberang got dibalik tembok bolong itu. Tanpa sadar dia menerobos tembok bolong. Kita tidak tahu apakah Wujil benar-benar lenyap dan tidak pernah kembali dari sana.

Sementara itu nun di suatu tempat entah di mana Wujil mendapati dirinya berada di dalam sebuah gudang yang sangat luas. Di sana dia menemukan barang-barang miliknya yang dulu pernah hilang: Uang dua ratus ribu, celana jins, jaket kesayangan, sepatu kebanggaan, tas, topi, flash disk, ulekan ketoprak, ember, handphone, gunting rambut, buku-buku filsafat masa kuliah, bahkan ijazah SMA-nya yang entah berapa tahun lalu hilang di rumah kawan, dia temukan di sana.

Wujil juga bertemu dengan keponakannya yang autis yang dulu hilang di pasar malam. Dengan para aktivis yang pernah dia lihat fotonya di tembok-tembok. Wujil melihat mereka nongkrong malas-malasan sambil minum kopi. Wajah mereka kelihatannya berbahagia sekali. Ada beberapa orang lagi yang wajahnya tidak dia kenal. Dia hitung jumlahnya ada sembilan. Mungkinkah mereka yang hilang ditelan tembok bolong?

Pondok Pinang, Oktober-November 2008

Romasa Kebun Tebu

14 Dec 2008 In: SEKS
(Republika, 14 Desember 2008)

Dua malam lagi aku akan meninggalkan kota ini. Beberapa menit setelah tiang listrik dipukul orang tiga kali, dan penjual nasi goreng mendorong gerobaknya pulang meninggalkan kawanan tukang becak yang terkapar di dalam becak mereka setelah lelah berjudi. Saat-saat seperti itulah aku bisa keluar dari kamar kontrakan dengan perasaan lapang. Mengunci pintu pelahan-lahan, kemudian meletakkannya bersama sebuah surat di bawah keset untuk ibu kontrakan.

Dua malam lagi kamar kontrakan yang bertahun-tahun menghidupiku dengan kesunyian hanya akan kubawa dalam ingatan. Meninggalkan tumpukan baju kotor yang menggelantung di balik pintu. Meninggalkan percakapan anak-anak mahasiswa yang selalu diselingi cekakak tawa. Meninggalkan gadis kecil yang dua minggu ini setiap menjelang Maghrib melintas di jalan itu. Gadis kecil berambut kemerahan yang selalu berjalan dengan langkah-langkah kecil dan tergesa. Dua tangan mungilnya mendekap sebuah buku di dadanya. Gadis kecil yang telah membatalkan niatku pulang.

Mestinya sejak dua minggu lalu aku meninggalkan kota ini. Tetapi niatku yang sudah bulat mendadak menguap begitu saja ketika memandang gadis kecil itu. Gadis kecil berbaju biru yang segera menghilang di tikungan begitu kukejar. Sehingga aku harus menunggunya menjelang maghrib pada keesokan harinya. Tetapi sampai berkali-kali aku mengejarnya, dia selalu lebih cekatan menghilang. Seakan menghindari bahaya yang siap menerkam.

Aku pernah mencoba menghadangnya untuk dapat menatap wajahnya dengan jelas. Aku berdiri di balik pintu pagar menatap ke arah biasa dia muncul. Beberapa lama menunggu, kulihat dia akhirnya muncul dengan langkah-langkah kecil dan tergesa menapaki jalanan berkerikil, dengan gerak tubuh yang tiba-tiba sangat kuhapal. Terutama dua tangan mungilnya yang mendekap sebuah buku di dadanya.

Rambutnya keriting dan sedikit dikacaukan angin tampak makin kemerahan oleh matahari menjelang maghrib. Pandangannya lurus, kadang tertunduk, melihat buku di dadanya yang tampak begitu dikhawatirkannya lepas terjatuh. Dia makin mendekat. Hanya beberapa langkah lagi dia akan melintas di depanku, aku akan menyapa dan menghentikan langkahnya, memegang pundaknya, memberinya senyum seraya menatap wajahnya.

Namun, ketika selangkah lagi dia melintas di depanku, tiba-tiba terdengar bunyi benturan amat keras yang mengalihkan perhatianku ke seberang jalan. Dan manakala terkejutku hilang, gadis itu sudah jauh berada di ujung jalan dan segera lenyap ditelan tikungan. Ketika beberapa waktu kemudian berhasil mencegat langkahnya, dia hanya membisu, menatapku beberapa lama, menepis tanganku, dan lekas-lekas berlalu. Wajah gadis itu mirip Laila yang tengah kucari di kota ini.

Laila, gadis yang telah kuhancurkan masa depannya. Mungkin aku akan menanggung rasa bersalah sepanjang umurku. Apa boleh buat, tak ada lagi yang bisa kulakukan. Laila, maafkan aku.Kukemasi sejumlah barang dan pakaianku yang tak seberapa. Mengemasi baju-baju ke dalam tas seperti mengemasi perjalanan hidupku yang belum selesai. Ini sungguh pekerjaan yang tidak mudah. Dan yang lebih berat lagi, aku harus mengemas perasaanku yang rawan. Bagaimanakah mengemas perasaan bersalah pada Laila yang gagal kutemukan di kota ini.”Katanya takkan pulang sebelum Laila kamu temukan.” Terngiang ucapan ibu kontrakan siang tadi. Aku menggeleng seraya tersenyum getir.
    
Lima tahun lalu, sekembali dari kuliah di kota ini, ayah-ibuku menyambut dengan gembira. Aku berhasil lulus dengan predikat cum laude. Ini prestasi yang membanggakan orang tuaku. Selain jodoh, telah disiapkan pekerjaan buatku di pabrik gula yang ada di kota kecamatan. Ayahku adalah salah seorang pembesar di perusahaan yang telah banyak menghidupi warga desa tersebut.

Namun sayang, keduanya gagal kuperoleh. Bukan hanya karena aku tidak tertarik pada kedua pilihan tersebut, melainkan karena aku bertemu dengan Laila. Gadis kecil anak seorang kuli tebu. Matanya yang indah dan pipinya yang penuh membuat hatiku tak dapat mengelak mencintainya. Tak peduli Laila seorang gadis kecil 13 tahun, dan aku insinyur 27 tahun. Aku sering secara sembunyi-sembunyi mendatangi rumahnya di tepi kebun tebu. Biasanya menjelang maghrib.

Aku tahu Laila merasa senang setiap aku datang, bukan cuma karena aku membawakan majalah-majalah remaja yang disukainya dan mengajarinya menggunakan hand phone. Laila senang, karena bisa bercerita pada orang lain tentang dirinya. Maklum, tak ada teman sebaya di sekitar rumahnya. Ia baru lulus sekolah dasar, dan tak mungkin melanjutkan ke SMP. Tidak dengan ibu bapaknya yang tampak cemas. Aku mengerti, tentu mereka khawatir aku hanya mempermainkan anaknya. Tapi mereka tak mungkin mengatakannya.

Kuajak Laila berjalan menemaniku menyusuri pematang, melompati parit. Duduk di atas pematang, memandang langit merah berangsur gelap. Kami menerobos kebun tebu. Kupetik bunga tebu untuk Laila, dan kucium bibirnya dengan gairah yang meletup tak terkendali. Masih sempat kudengar Laila merintih dan memekik. Suaranya hilang timbul di antara gemuruh nafasku dan suara angin yang terengah menggetarkan daun-daun tebu, menerbangkan serat-serat kembang tebu. Entah berapa kali batang-batang tebu merekam peristiwa indah itu. Sampai tibalah suatu hari aku menangis di pangkuan ibunya karena aku telah membuatnya hamil.

Kubuktikan tanggung jawabku sebagai laki-laki, aku meminang Laila. Tapi ayah ibuku tak menerima Laila menjadi menantunya. Tentu perbedaan usia yang terpaut jauh hanya alasan mereka menolak Laila. Alasan yang sesungguhnya adalah karena Laila hanya anak seorang buruh tani yang hanya lulus SD.  Aku dipaksa menikah dengan perempuan yang telah disiapkan orang tuaku. Sementara Laila harus menanggung penderitaan seorang diri. Kudengar Laila kemudian diungsikan ke kota.

Beberapa lama setelah mendengar kabar tersebut, aku pergi meninggalkan rumah, menyusul Laila ke kota ini. Menyewa kamar kontrakan, tempat aku menitipkan baju-bajuku, meletakkan tubuh lelahku setelah melakukan pencarian. Kuingat hampir lima tahun aku melakukannya. Lima tahun, berarti lima kali masa tanam dan potong tebu di kampungku. Dan selama lima tahun seluruh sudut kota ini telah kususuri sepanjang siang sepanjang malam, bertanya pada hampir semua orang.

“Berambut lurus, ada tahi lalat di bawah dagu,” kataku seraya menyodorkan selembar foto kusam. Dan selalu gelengan kepala yang kudapatkan, atau kalimat “Nggak ada,” dengan nada yang seringkali amat ketus.
Memang kadang ada pula yang lembut dan penuh perhatian dan keinginan membantu,
“Adik atau istri sampeyan?”
“Istri saya, namanya Laila.”
“O, tapi dia bukan Laila. Tapi Lilis namanya,” ujar ibu penjaga warung rokok.
“Mungkin saja dia ganti nama. Antarkan saya pada Lilis,” kataku mengharap.
“Walah, saya nggak tahu rumahnya. Kemarin sih dia datang. Besok saja datang lagi kemari. Siapa tahu dia ke sini.”

Esoknya dan esoknya, dan esoknya lagi aku datang. Tapi Lilis tak juga muncul. Ibu penjaga warung itu memberi kabar, “Kata si Nur, dia sudah pulang kampung.”
“Nur, siapa dia? Temannya? Bisa saya ketemu dengan dia.”
“Tunggu saja di sini. Malam ini pasti dia datang.”

Sampai hampir Subuh, Nur tidak pernah tampak. Bahkan sampai beberapa malam aku tunggu. Kini kesabaranku sudah sampai pada batasnya. Aku tak mungkin membiarkan umurku habis untuk mencari Laila di kota ini. Menghabiskan malam-malamku menyusuri tikungan jalan, membebat tubuhku dengan jaket atau sweater, menyelinap ke pintu pub, bar, dan warung remang-remang sepanjang kota ini.

Dua malam lagi, waktu yang akhirnya kupilih untuk menghentikan pencarian dan kembali pulang menemui rumah dan ayah ibu. Mungkin aku akan menemui ibu dan bapak Laila, untuk ke sekian aku akan meminta maaf. Memaafkan aku, Laila. Maafkan aku.

Kedai Sunyi

10 Dec 2008 In: CINTA
(Majalah Femina, 11-17 Desember 2008)

Besok aku terbang ke Korea. Dapat beasiswa untuk belajar dan menulis selama enam bulan di Hankuk University. Doakan tak ada halangan, dan semoga mabrur.

Pesan singkat itu menyelinap di ponselku saat aku sibuk dikejar deadline.  Seketika semangatku menyelesaikan kerjaan lungsur laksana istana pasir dijilat ombak di pantai. Muncul perasaan percuma, hambar. Setelah merampungkan dua tulisan untuk halaman berita utama, aku minta izin pulang. Tentu ini membuat Fahmi, redpelku, melotot marah.

“Aku butuh istirahat, maagku kambuh,” kataku menemukan alasan.  Kusambar tasku, mencangklongkannya di pundak, lalu tanpa menunggu isyarat diizinkan aku segera berkelebat pergi dari hadapannya. Sudah sepuluh tahun aku bekerja di sini, jadi aku merasa sudah punya hak untuk membangkang. Aku berlari cepat menuruni anak tangga. Seperti ingin melarikan diri dari perasaan yang aku sendiri tak mengerti. Barangkali sesuatu yang menyerupai kehampaan. Tetapi yang tak bisa hilang oleh segalon air mineral.

Begitu saja aku naik angkot tanpa melihat jurusan mana. Aku duduk di dalam angkot dengan pikiran yang ajaib kosongnya. Belum juga kusadari ini angkot jurusan mana. Agaknya ini tak penting. Toh aku tidak punya tujuan hendak ke mana, yang penting pergi. Kulihat lampu-lampu jalan berwarna muram. Toko-toko berjejer tanpa selera. Beberapa kali tubuhku terguncang oleh permukaan jalan yang buruk.

Saat angkot berhenti di depan perempatan lampu merah aku baru sadar angkot ini jurusan Pasar Baru. Kuputuskan turun di depan Mal Metropolis. Di pojok jalan menuju mal itu ada kedai sup kambing yang sangat lezat dan tempatnya cukup bagus. Sebuah majalah ternama pernah mengangkatnya di rubrik kuliner. Aku pikir malam begini tidak ada tempat lebih baik dari kedai itu  meski kehadiran pengamen sering mengganggu kenyamanan. Apalagi pengamen yang bukan menjual lagu melainkan membacakan sajak-sajak kampungan yang bikin mual. Entah sejak kapan kedai-kedai kaki lima jadi sasaran para pengamen. Mungkin sejak banyak pabrik pada bangkrut sehingga banyak pengangguran. Entahlah, yang jelas secara mendadak aku putuskan ke sana.

Kuhenyakkan bokongku di meja pojok yang kebetulan kosong. Meja pojok ini menjadi favorit banyak pengunjung, termasuk aku dan dia dulu. Sambil menunggu pesanan datang aku melamun. Sama sekali tak tertarik memperhatikan pengunjung kedai yang kebanyakan berpasangan. Selain pasangan hetero kurasa ada pula pasangan homo. Mereka yang kadang jadi sasaran obyek pembicaraan atau sekadar komentar dia.

Malam ini aku merasa begitu kosong, sendirian, dan begitu merana. Jujur, aku sendiri heran mendapati diriku begini sentimentil. Kenapa kabar keberangkatannya ke Korea membuatku sedih dan merasa bagai ditinggalkan?

Aku mengenal dia hampir sepuluh tahun lalu pada sebuah pertemuan pengarang di Surakarta.  Tampilannya dengan kepala hampir plontos membuat tampangnya demikian lugu dan kampungan. Tapi bagaimanapun dia lebih memiliki kepercayaan diri. Dia mengenalkan diri, “Hadi,” ucapnya. Aku menyambut perkenalannya. Kusebutkan namaku.

“Namamu sudah sering aku dengar,” ujarnya membuatku kikuk. Agaknya aku geer. Aku makin geer tak keruan saat dia  mengatakan sudah sering membaca karya-karyaku.  “Memangnya berapa tahun kamu mondok di Madura?” tanya dia berikutnya. Wah, dia rupanya membaca biodataku.

“Tiga tahun,” kataku tersipu, tapi mulai berani menatap matanya. Menit-menit selanjutnya percakapan kami berlangsung sangat cair meski tetap saja aku menyimpan debar. Pertemuan kami begitu singkat. Malamnya dia sudah tidak tampak di antara kawan-kawannya. Dia lebih dulu pulang ke Yogyakarta. Kabar ini membuatku sedikit menyesal. Waktu itu dia pengarang daerah karena karya-karyanya hanya muncul di media daerah.

Dia hadir lagi dalam hidupku tiga tahun sesudahnya. Dia reporter baru di koran daerah tempatku bekerja. Kehadiranya membuat hatiku seolah penuh. Sayangnya ini tak berlangsung lama. Hanya tiga bulan. Dia keluar dari kerjaan dan memutuskan pulang ke kampung halamanannya di Lampung. Tiga bulan itu dia  meninggalkan kenangan yang banyak. Kami sering jalan dan makan bersama di kedai ini. Selama tiga bulan pula aku mendengar dia mencelotehkan mimpi-mimpinya jadi pengarang besar. Aku menyukai semangatnya. Lebih dari itu kurasa aku juga mencintainya. Tapi tak pernah kuungkapkan hingga kini.

Pelayan datang mengantarkan pesanan. Nasi putih mengepul dan semangkuk sup kambing dengan aroma yang menggoda selera.  Dia sangat menggandrungi sup ini. Tak pernah cukup satu porsi. Rasanya, dia bilang, senikmat ciuman pertama. Analogi yang agak berlebihan. Minumannya dia selalu memesan jeruk hangat.  Setelah makanan tandas kami tidak cepat-cepat meninggalkan kedai. Paling cepat dua sampai tiga jam setelah minuman habis. Kadang dia sampai habis tiga gelas jeruk hangat. Usai makan itu dia mengobrolkan apa saja yang sekonyong melintas di kepalanya. Sedang aku lebih banyak diam mendengarkan. Sesekali saja aku bertanya atau mengulang kalimat dia yang kurang jelas. Seperti aku dia juga sangat terganggu dengan kehadiran para pengamen.

“Kamu tahu kenapa anak-anak jebolan pesantren justru banyak yang bermain-main dengan ayat? Karena ayat-ayat merupakan santapan mereka saban hari. Mereka bosan. Ingin memperlakukannya secara beda supaya tidak bosan, ” tuturnya. Matanya menatapku lurus, dengan sunggingan senyum yang khas miliknya.

“Mereka cari sensasi aja,”

“Mungkin ada yang berniat seperti itu. Tapi itu sangat sedikit. Lebih banyak yang karena bosan!”

“Hmm,” gumamku.

Dia meneruskan ocehannya dengan tema berbeda. Kebenciannya pada rekan-rekan yang suka meminta uang pada narasumber. Mahalnya harga makanan di kantin kantor Walikota.

“Bukankah ini memalukan? Sungguh aku nggak bisa melakukannya. Itu sama dengan menjual kehormatan. Lebih baik aku makan sama tempe saja ketimbang makan rendang dari uang hasil begituan!” kata dia berapi-api.

Kutahu ucapannya bukan basa-basi. Dia ingin selalu berusaha tulisannya sempurna. Bukan sekadar memenuhi standar 4 W 5H, tapi bagaimana berita yang ditulisnya betul-betul jujur apa adanya mengungkap kebenaran. Terdengar asing memang. “Kita memang hidup di zaman yang mengharuskan kita masa bodoh supaya dianggap moderat,” Ini kalimat yang paling aku suka darinya. Kadang kalimat ini kuubah sesuai kebutuhan, misalnya ‘kita hidup di zaman di mana kita harus kelihatan pura-pura peduli pada kebenaran supaya dianggap cerdas,’. Dia sering kehabisan uang untuk ongkos mengejar narasumber.

Aku tidak pernah bosan mendengar dia bicara. Kalau makan di sini kami sering bergantian mentraktir. Umpamanya malam ini aku yang membayari dia makan. Maka besoknya aku dia bayari. Tapi lebih sering bayar sendiri-sendiri. Kami akan keluar dari kedai apabila sudah merasa bosan atau mulai mengantuk. Kami berpisah di perempatan karena menempuh arah yang berlawanan, dia menyetop angkot ke arah Serpong, aku arah ke Kalideres.   

Beberapa lama sepiring nasi putih dan semangkuk sup hanya kupandangi. Udara yang dingin membuat kehangatan sup lebih cepat menguap, membuat seleraku menyantapnya pun turut menguap. Hanya beberapa sendok nasi sup kusorongkan ke mulutku. Mengunyahnya dengan malas.

Di Lampung kudengar kabar dia meneruskan usaha warung kelontong bapaknya. Sampai di situ rupanya mimpi-mimpimu, Had, pikirku waktu itu, perih. Aku ingat dia juga pernah bilang dia keturunan pedagang, bukan petani. Dengan tekanan pada kata ‘pedagang’ yang seolah-olah punya makna lebih pintar dibanding petani. Akhirnya toh dia memang tidak pernah jadi pedagang. Setelah sekian lama putus kontak. Beberapa tahun berikutnya tulisannya muncul di koran nasional. Kutemukan lagi kontak dia. Lalu kami bertemu lagi. Jalan bersama lagi. Tetapi tentu sangat jarang. Dia kelihatan begitu sibuk dan membatasi waktunya keluyuran. Dia tampak berubah. Ah, diam-diam hatiku kecewa.

Apalagi kudengar kemudian dia menikah dan memiliki seorang anak yang lucu. Nama anaknya sering dia cantumkan di bawah karyanya. Maksudnya karya tersebut dia tulis untuk anaknya. Hatiku makin remuk manakala kuketahui dia juga berlaku selingkuh dengan perempuan lain, mengkhianati istrinya. Aku selalu menyembunyikan semua bila bertemu dengannya di sebuah acara. Tatapannya tidak sehangat dulu. Tapi dia selalu bertanya, apakah aku masih menulis?

Jeruk hangat yang sudah menjadi dingin kuteguk pelan-pelan. Di luar waktu tak pernah berhenti merambat. Hampir jam 11 malam. Pengunjung kedai sudah berganti-berganti keluar masuk. Kekosongan masih merambati benakku. Makin pekat. Beberapa waktu lalu dia memang membantu menawarkan naskahku pada sebuah penerbit. Berkat dia beberpa bulan kemudian bukuku terbit. Dan dia sempat menuliskan resensinya di sebuah majalah. Kuucapkan beribu-ribu terima kasih padanya, melalui kata-kata langsung, sms, dan email. Makin sering namanya kubaca di koran.

Tak lama kemudian kudengar dia jadi orang kepercayaan ketua sebuah partai. Menyusul berikutnya kudengar dia membeli rumah seharga satu milyar. Dan sekarang dia memperoleh beasiswa belajar ke Perancis.

“Maaf mba, kami mau tutup,” kata pelayan yang rupanya dari tadi menungguku.

Malam memang sudah larut, aku tahu harus pulang. Merebahkan tubuh yang lelah di karpet yang sudah sepuluh tahun kugelar di kamar sewaan tanpa pernah diganti. Mudah-mudahan bisa bermimpi ketemu dia di Seoul. Akan aku ucapkan padanya., “Aku tetap mencintaimu….”

Pondok Pinang, Juli 2008

Luka Mama

9 Dec 2008 In: Uncategorized


 

(Seputar Indonesia, 07 Desember 2008)

Marsa melihat Mama sudah begitu tua.Kerutmerut di wajahnya tampak makin kentara. Rambutnya memang tidak banyak beruban sekalipun tak pernah dicat tidak sebagaimana dilakukan perempuan masa kini yang tak mau kelihatan tua.


Gerakannya pun masih gesit berkat olah raga jogging yang rajin dilakukannya saban pagi usai salat subuh. Dan yang paling penting Mama telah meninggalkan kebiasaannya merokok sejak usianya memasuki angka 50 pada sembilan tahun yang lalu. Namun, kesehatan Mama secara fisik tidak mampu menutupi luka hatinya yang menahun. Luka hati yang menjejak pada kerut-merut wajah dan sepasang matanya.

”Mama,”suara Marsa. Mama tak mendengarnya. Dia duduk di ruang tengah menghadap teras samping.Pikirannya terbang lagi pada kegagalannya. Sampai kapan pun agaknya Mama akan terus dihantui kegagalannya memperjuangkan status pernikahannya dengan Walrengkah.

Memperjuangkan status Marsa sebagai anak sah hasil pernikahannya dengan mantan pejabat di masa Orde Baru itu.Marsa bertahan untuk tidak perlu bertanya dan menyinggung kembali soal itu pada Mama, sebab sama saja dengan menguak luka lama Mama.

Setidaknya untuk sementara ini. Marsa sudah dewasa, sudah bisa memahami keadaan. Kalaupun dia bertekad mau melanjutkan perjuangan Mama, dia akan menempuh dengan cara yang lebih elegan dan cerdas. Maaf, ini sama sekali bukan berarti Marsa menganggap apa yang dilakukan Mama dalam perjuangannya tidak cerdas. Melainkan lawan yang dihadapi Mama terlampau kuat. Masih beruntung Mama tidak dilenyapkan seperti umumnya para pengganggu pejabat orde baru.

”Kenapa sih Mama mau menikah siri? Jadi istri simpanan? Amit-amit deh…” kata Marsa dulu, waktu baru masuk SMA, gara-gara kesal diledek teman-temannya. Marsa ingat betul, betapa marahnya Mama waktu itu. Betapa terluka hati Mama. Marsa begitu menyesal, air matanya selalu tumpah bila mengenang peristiwa itu. Marsa urung menghampiri Mama.

Dia tahu saat-saat begitu Mama tidak ingin diganggu.Marsa lantas memilih menyelonjorkan kaki di sofa ruang depan,melepas lelah setelah seharian bekerja.Marsa baru diterima bekerja di kantor pembuatan iklan tiga bulan lalu. Masa-masa bergairah memasuki dunia baru. Pekerjaan yang menjadi minatnya sejak kuliah.

Marsa sama sekali tidak berminat menjadi penyanyi, apalagi penyanyi dangdut seperti Mama. Pandangannya mengedari ruangan seperti baru kali itu Marsa berada di sana. Mengagumi selera Mama dalam mengatur tata ruang rumahnya. Dinding-dinding bercat ungu pudar di ruang depan ini bersih dari segala macam poster,kecuali sebuah lukisan kawanan kuda yang muncul dari lautan berukuran 30 cm x 50 cm yang tergantung tepat di atas bufet mungil tempat meletakkan kaset dan DVD.

Mata Marsa meloncat ke ruang tengah, di sana,beberapa senti di atas televisi tergantung potret Mama berukuran 10 cm x 15 cm. Mama tersenyum manis dengan make upyang tampak berlebihan dan gaun yang ramai. Potret Mama kala mau naik pentas untuk menyanyi. Gambar itu diambil kira-kira saat Mama umur 24 tahun, seusia Marsa sekarang.

”Kemarilah, Marsa,” suara Mama terdengar pelan. Marsa bangkit menghampirinya. Mungkin ini kesempatan bagi Marsa untuk mengutarakan niatnya melanjutkan perjuangan Mama menuntut Walrengkah mengakui status pernikahannya dengan Mama.

”Mama melamun lagi deh.” Marsa duduk di samping Mama dengan mata masih terpacak ke potret itu. Begitu saja terbayang Mama berada di atas panggung yang penuh sorak sorai penonton dari bawah.

Mama lantas menembang lagu yang membikin namanya populer sebagai penyanyi dangdut kenamaan: Kenangan dan Luka. Judul dan syairnya buat Marsa cukup puitis, sekaligus norak.Hmm, apa boleh buat, di mata Marsa lagu dangdut tak pernah hilang imejnya sebagai lagu norak dan kampungan sekeren apa pun mereka mengemasnya. Tetapi jangan main-main, berkat lagu itu Mama mampu membawa kehidupan keluarganya lebih baik.

Membuatkan rumah lebih dari layak bagi orang tua di kampung,membantu membiayai adik-adik,dan keponakan. Bahkan memodali saudara-saudaranya buka usaha.Tidak hanya itu,namanya yang menjadi terkenal membuat seorang pejabat tinggi masa Orde Baru mengundangnya untuk menyanyi pada masa kampanye partai.

Hubungan pejabat tinggi, yang tak lain Walrengkah, dengan Mama tidak sekadar sebagai penyanyi dengan kliennya. Hubungan mereka berlanjut secara khusus dengan pernikahan siri.Dari pernikahan itu lahir Marsa. Itulah masa keemasan bagi Mama dan Walrengkah. Sebagai penyanyi karir Mama tengah melejit dengan album yang laris manis sampai jutaan kopi.

Sementara Walrengkah, apa yang tidak bisa dilakukan pejabat masa Orde Baru itu? Tentulah hidup Mama dalam limpahan uang dan segala kemudahan. Barangkali ini yang membuat Mama merasa tidak penting dengan urusan status pernikahan siri mereka. Masa keemasan itu tidak berlangsung lama.Ketika Orde Baru runtuh, hubungan Mama dan Walrengkah pun berakhir.

Bahkan jauh sebelum itu, yakni manakala Walrengkah tidak lagi memegang jabatan tinggi di lingkaran kekuasaan. Tidak banyak yang bisa diingat Marsa pada masa-masa akhir perpisahan antara Mama dan Walrengkah. Dia hanya ingat pada usianya yang ketujuh atau kedelapan.Kerika itu, tiba-tiba begitu banyak wartawan yang mendatangi Mama di rumahnya.

Mama duduk di meja panjang, di depanya para wartawan menyorongnyorongkan recorder. Wajah Mama yang basah oleh keringat makin tampak berkilau oleh jepretan kamera. Mama menjawab pertanyaan wartawan perihal gugatannya kepada Walrengkah untuk mengakui pernikahan yang telah dilakukan dengan dirinya, mengakui Marsa sebagai anak dari pernikahan mereka. Semua hanya lamat-lamat dalam ingatan Marsa.

”Marsa, ada yang ingin Mama sampaikan,” ujar Mama. ”Ceritakan saja Ma,”Marsa menggenggam tangan Mama untuk menegaskan bahwa dia siap apa pun yang akan Mama sampaikan.Marsa menggeser duduk lebih merapat ke tubuh perempuan yang telah melahirkan dan mendidiknya itu. Marsa merasa nyaman dengan sikap yang dibuatnya ini.

Namun,sekian lama Mama masih membisu membuatnya khawatir sikapnya justru membuat Mama tidak nyaman dan raguragu untuk menyampaikan hal yang agaknya sangat penting ini.Diliriknya sang Mama. Dia kelihatan begitu tegang seperti menahan perasaannya yang hendak meledak. ”Marsa, kamu sudah dewasa. Sudah saatnya tahu tentang Mama, tentang kamu, tentang semuanya yang menyangkut perjalanan hidup kita,” ujar Mama dengan suara sedikit serak.

”Mama tahu, tentu kamu sudah mengetahuinya lebih jelas dari Mama sendiri.Tapi, Mama ingin menceritakannya padamu.” Makin erat jemari Marsa menggenggam tangan Mama untuk, sekali lagi, memastikan bahwa dirinya akan selalu memberi dukungan pada Mama, memberi seluruh kekuatan yang dimilikinya.Marsa merasakan telapak tangan Mama sedikit berkeringat namun tetap hangat dan lembut.

Menjalarkan perasaan teduh.Tangan yang telah membelai dan memberinya kehangatan. Sepadat apa pun jadwal Mama menyanyi dari kota ke kota,dari daerah-daerah, bahkan luar negeri, Mama tak pernah meninggalkan Marsa.Dibawanya Marsa ke manapun dia pergi. Disusuinya sampai usia dua tahun. ”Saya lebih tenang membawa anak saya ke mana pun saya show,”ujar Mama pada wartawan.

Marsa membacanya dari kliping koran. ”Cerita saja, Ma,” suara Marsa, pelan dan hati-hati. ”Marsa akan menyimak baikbaik,” Marsa menatap Mama. Apa yang dituturkan Mama kemudian sama persis dengan apa yang sudah diketahui Marsa.Namun dengan tekun Marsa menyimak penuturan Mama,sambil sesekali mengusap-usap dan mendekap punggung Mama.

Marsa memang sudah tahu secara detil bagaimana Mama melakukan perjuangan menuntut Walrengkah mengakui perkawinannya dengan dirinya, mengakui Marsa sebagai anaknya. Itulah masa ketika Marsa mulai memasuki usia sekolah dasar.Mama kewalahan setiap Marsa mendesakkan pertanyaan tentang seorang ayah.Marsa ingin seperti teman-temannya yang ke sekolah diantar ayah mereka.

”Papa sibuk, Marsa. Nanti Mama minta Papa segera kembali ya,” kata Mama getir. Kalimat ini selalu diulangulang namun tak pernah jadi kenyataan. Mama sungguh bingung bagaimana menjelaskan pada Marsa yang terus mendesak.Marsa tidak mempan lagi dengan berbagai macam rayuan Mama supaya berhenti bertanya.

Bahkan kakeknya, paman-pamannya yang datang untuk menghibur Marsa tak sanggup lagi melipur Marsa dari keinginannya bertemu Papa.Ketika Marsa jatuh sakit dan terus menerus menagih janji Mama meminta Papa kembali,Mama mulai serius memikirkan status pernikahannya.

Mama mengundang Om Gunadi,seorang pengacara yang masih kerabat Mama sendiri, untuk membicarakan persoalan status pernikahannya. Dibantu Om Gunadi,Mama menulis surat secararesmikepada Walrengkahuntuk datang dan menyelesaikan persoalan ini secara damai dan adil.

Mengesahkan status pernikahan, setelah itu bercerai pun bukan masalah, supaya jika Mama punya rencana menikah lagi tidak melawan hukum. Dengan demikian status anaknya pun jelas.Mama tidak menuntut apa-apa,kecuali lakilaki itu memenuhi tanggung jawabnya sebagai ayah dari Marsa.

”Marsa, Sayang, sabar ya. Nanti Papa pasti datang.Sementara Om Gun saja yang mengantar Marsa ke sekolah.Oke?”bujuk Om Gunadi. Beberapa kali surat Mama tak pernah digubris.Karena jalan damai yang ditempuh Mama menemui jalan buntu, Mama lantas mengajukan permohonan isbath nikah ke pengadilan agama untuk mengesahkan status pernikahannya dengan Walrengkah.Berita permohonan isbath nikah Mama ke pengadilan agama menjadi pemberitaan media hiburan dan infotainment secara luas.

”Saya melakukan ini demi status anak saya,bukan mencari sensasi atau memeras seperti dituduhkan orang,” ujar Mama emosional pada wartawan. Hampir sampai 10 tahun Mama bersama Om Gunadi mengusahakan pengesahan status pernikahan ke pengadilan agama. Mengumpulkan dokumen dan menyerahkannya kepada pengadilan.Namun, perjuangan puluhan tahun itu berakhir hampa.

Pengadilan selalu mengulur-ulur proses sidang karena Mama dianggap tidak memenuhi bukti-bukti pernikahannya dengan Walrengkah.Permohonan isbath nikah diajukan Mama tidak dikabulkan pengadilan agama. ”Maafkan Mama, Marsa,” suara Mama bagai tercekat.

”Tidak perlu minta maaf, Ma. Mama sama sekali tidak gagal.Tak ada yang percuma.” Marsa memeluk Mama dan menciumi kedua pipinya.”Mama,percayalah Marsa baik-baik saja.Tidak perlu terlalu dicemaskan. Mama sudah pengin punya cucu ya?” Marsa mencoba mencairkan perasaan Mama.

Pondok Pinang, November 2008  

Tembok Bolong

24 Nov 2008 In: Uncategorized
(Tribun Jabar, 23 November 2008)

Seorang lagi hilang ditelan tembok bolong. Kali ini yang jadi korban Wujil, pria yang sehari-hari berjualan ketoprak. Dia tak pernah kembali setelah menerobos masuk tembok bolong itu, meninggalkan gerobak ketopraknya yang diparkir di sisi jalan. Dua orang pembeli ketopraknya mengira Wujil sehabis kencing langsung beli rokok di warung sebelah sekalian menukar uang untuk kembalian. Tapi tunggu punya tunggu Wujil tak muncul-muncul juga. Karena kesal menunggu dua orang pembeli ketoprak itu akhirnya meninggalkan gerobak ketoprak Wujil. Mereka pikir biar nanti siang atau besok saja menemui Wujil di mulut perempatan tempat biasa dia mangkal untuk meminta uang kembalian. 

Namun sampai besok dan besoknya lagi gerobak ketoprak Wujil masih terparkir di sisi jalan tak jauh dari tembok bolong itu karena memang Wujil tidak pernah kembali. Hari berikutnya petugas kebersihan menyingkirkan gerobak Wujil dari sana dan menganggap Wujil benar-benar hilang ditelan tembok bolong. Nori, istrinya menangis meraung-raung, di depan gerobak ketoprak yang mengonggok bisu. 

Meski penjual ketoprak Wujil selalu merasa dirinya orang terpelajar, maklumlah jelek-jelek begitu dia pernah kuliah di fakultas filsafat UGM. Jadi dia tidak boleh mudah percaya dengan hal-hal tak masuk akal. Tembok bolong yang bisa menelan manusia menurut Wujil tidak masuk akal. Maka selama ini Wujil tidak pernah percaya dengan kabar-kabar yang berseliweran mengenai hilangnya sejumlah orang setelah mereka memasuki tembok bolong. Menurut kabar-kabar yang didengar Wujil dari obrolan para pembeli ketopraknya, sudah ada sembilan orang yang lenyap tak pernah kembali setelah mereka memasuki tembok bolong. Kendati demikian Wujil tidak mau berdebat dengan orang-orang yang mengobrolkan kabar tersebut sambil makan ketoprak, jualannya. Sebagai penjual yang baik, Wujil tahu bagaimana menghormati pembeli. 

Wujil merasa tidak perlu membuktikan kabar-kabar tersebut dengan mencoba masuk ke tembok bolong itu misalnya. Karena kalau dia lakukan jelas itu kurang kerjaan. Meski setiap hari Wujil  mendorong gerobak ketopraknya melewati jalan itu. Paling banter Wujil hanya memandangnya sekilas. Tak berminat mengamatinya lebih jauh. Apalagi terdorong untuk mencari tahu bagaimana mulanya sampai tembok tersebut bolong. Tapi kalau dilihat bentuk bolongnya yang cukup untuk ukuran tubuh orang dewasa, jelas itu ulah orang-orang yang ingin mengambil jalan pintas. Kalau mau ke hiper mall yang berada di dalam kompleks perumahan elit itu, jalan melalui tembok bolong memang jauh lebih meringkas jarak. Tidak perlu memutar mengikuti jalan raya yang jaraknya berlipat-lipat jauhnya.  

Tembok itu Wujil tahu merupakan pembatas yang memisahkan kompleks perumahan mewah dengan perkampungan kumuh di sebelahnya. Memang setiap lewat jalan tersebut Wujil melihat tembok bolong itu selalu sepi. Tak pernah sekalipun tampak orang masuk atau keluar dari sana. Wajar saja karena kalau Wujil lewat di jalan itu hari masih pagi saat dia mau berangkat berjualan atau menjelang maghrib ketika dia pulang dari berjualan. 

Tetapi begitulah, hampir semua pelanggan ketopraknya mempercayai betul tembok bolong itu sudah banyak menelan orang dan tak pernah kembali. Jumlah korban yang sembilan orang itu adalah mereka yang mencoba menembus masuk ke kompleks perumahan mewah melalui tembok bolong tersebut. Tidak ada yang tahu apakah warga kompleks perumahan mewah di balik tembok sana juga ada yang hilang ditelan tembok bolong saat mau menerobos ke perkampungan kumuh. Mungkin tak pernah ada. Siapa yang tertarik dengan kekumuhan?

“Kalau benar menelan korban kenapa tidak ditutup saja,” ujar Wujil iseng menanggapi pembeli ketopraknya yang tampak serius mengobrolkan tembok bolong. 

“Itulah, mana ada orang yang berani. Jangan-jangan sebelum menutup tembok bolong mereka duluan yang lenyap ditelan,” ujar pembeli itu seraya menyuapkan ketoprak ke mulutnya. Dari sembilan orang korban itu bukan semuanya warga perkampungan kumuh tempat di mana Wujil ngontrak. Sebagian besar, yakni tujuh orang di antaranya justru tamu di perkampungan kumuh tersebut. Umur mereka rata-rata di atas tigapuluh. Tentu soal umur ini perkara kebetulan belaka. Di perkampungan kumuh itu Wujil memang pendatang, baru enam bulan lalu dia menikahi Nori, warga asli perkampungan kumuh tersebut. 

Mendengar obrolan para pembeli ketopraknya yang kelihatannya sangat serius itu Wujil ingin tertawa, namun dia segera sadar tidak boleh menyinggung perasaan pembeli. Sebab dia tak mau gara-gara hal itu ketopraknya kehilangan pelanggan. Maka Wujil hanya mengangguk-angguk menahan geli. Tapi rupanya salah seorang pembeli ketoprak tahu kalau Wujil tidak pernah percaya. 

“Kenapa abang nggak percaya?”  pembeli ketoprak bertanya, menyelidik.

“Saya memang tidak percaya. Saya rasa itu cuma kabar burung yang dibesar-besarkan,” cetus Wujil.

“Abang mengganggap hanya kabar burung?” kejar pembeli ketoprak, sedikit gemas.

“Iyalah Mba, mana ada tembok bolong bisa menelan orang. Kalau ada orang masuk melalui tembok bolong itu kemudian tidak kembali, mungkin dia memang tidak mau kembali lantaran diterima bekerja dengan gaji besar di salah satu rumah mewah itu,”

“Tidak mungkin, Bang. Saya istri salah satu korban yang hilang ditelan tembok bolong itu. Suami saya benar-benar tidak pernah kembali. Kami kehilangan kontak sama sekali,” ujar pembeli ketoprak, tampak mulai emosi.      

Mbak pembeli ketoprak itu kemudian bilang bahwa suaminya semula juga tidak percaya tembok bolong bisa menelan orang. Makanya dia penasaran ingin membuktikan. Perempuan itu sudah berkali-kali bilang tidak usah nekat. Ternyata benar, malang tak dapat ditolak untung tak bisa diraih. Suaminya benar-benar lenyap dan tak pernah kembali.

Wujil manggut-manggut, ragu. Dia mau bilang ‘bisa saja suami mbak memang sengaja meninggalkan mbak pergi dengan perempuan lain lantaran merasa bosan dengan mbak’ tapi Wujil tahu dia tidak boleh menyakiti perasaan perempuan pembeli ketopraknya dengan kalimat seperti itu. 

“Mbak tidak mencari ke kompleks perumahan mewah yang ada di balik tembok itu? siapa tahu suami mbak tersesat di sana, tidak bisa pulang.” 

Perempuan itu menggeleng perlahan. Lalu terdiam lama menahan kesedihan. 

“Sudah berapa lama suami mbak hilang?” tanya Wujil akhirnya.

“Hampir setahun yang lalu.” perempuan itu berkata dengan nada rendah dan muka murung.     

“Pernah lapor polisi?”

“Saya tidak lapor polisi karena suami saya bukan diculik tapi ditelan tembok bolong. Mana bisa polisi melacaknya!”  perempuan itu mulai terisak. 

“Mbak tahu warga kampung sini lainnya yang hilang?” Wujil bertanya lagi. Dijawab oleh pembeli ketoprak yang lain. Menurut orang itu, dia perempuan. Tetangganya yang baru pulang dari bekerja sebagai penyanyi pub. Karena tak tahan kebelet pipis perempuan itu pipis di got yang ada di balik tembok bolong. Sejak itu dia tidak pernah keluar-keluar lagi sampai sekarang.   

Sementara korban lainnya mereka adalah tamu warga perkampungan sini yang mau ambil jalan memotong melalui tembok bolong itu. Mereka semua hilang lenyap bagai ditelan bumi. Keluarga mereka akhirnya menganggap mereka meninggal, yang mau tak mau harus direlakan. Lalu  mereka menggelar tahlilan di rumah masing-masing supaya arwahnya tenang. 

Wujil tercenung. Benaknya mulai disusupi rasa penasaran. Mungkinkah tembok bolong itu semacam segitiga bermuda yang mampu menelan orang tanpa jejak sama sekali seperti tempo hari dialami sebuah pesawat berpenumpang ratusan orang yang karam dan hilang di lautan tanpa pernah ditemukan bangkainya?    

*** 

Sebelum hilang ditelan tembok bolong itu, Wujil memang pernah mengatakan pada istrinya bahwa suatu hari dia akan membuktikan sendiri. Hanya saja Wujil tidak pernah punya kesempatan. Bisa jadi sebenarnya dia tidak punya nyali.  

“Sudahlah, Bang. Jangan macam-macam sok mau mencoba. Cari perkara itu namanya. Aku tidak mau jadi janda,” kata istrinya sambil menumbuk kacang goreng untuk bumbu ketoprak. 

Sekali waktu Wujil memang pernah mengamati tembok itu dengan sedikit serius. Tingginya tidak kurang dari satu setengah meter dengan puncaknya ditanami aneka macam beling yang sanggup mencelakai orang yang nekat memanjat ke sana. Belum cukup dengan beling-beling yang mencuat runcing, beberapa senti di atasnya terdapat kawat berduri. Ketebalan tembok kira-kira limabelas senti, kendati demikian kurang kokoh lantaran terbuat dari asbes yang tengahnya kosong. Bagian luarnya tidak dilapisi semen pula sehingga tidak terlalu sukar dijebol. Di beberapa tempat terlihat gambar penis dan kata-kata cabul dari cat semprot. Bagian yang bolong itu tidak lebar juga tidak sempit. Orang tidak perlu memiringkan tubuh dan menundukkan kepala terlalu dalam untuk lolos masuk ke sana. Kalau dilihat dari kondisinya tembok itu sudah lama bolong. Mungkin beberapa hari setelah tembok dibangun. Tidak ada yang tahu pasti siapa yang menjebol tembok itu sehingga jadi bolong.  

Tetapi beberapa kali Wujil hanya berdiri kira-kira dua meter di depan tembok bolong. Dari jarak tersebut dia dapat melihat jalan kompleks perumahan yang mulus, taman yang tertata rapi, dan rumah-rumah megah dengan pagarnya yang tinggi-tinggi. Kontras sekali dengan keadaan perkampungan di sebelahnya. Ada kalanya dia melihat sekawanan anak-anak melintas menggunakan sepatu roda. Berseliweran di antara perempuan-perempuan muda–agaknya pembantu– yang tengah mendorong keranjang bayi.  

Jadi pada hari lenyapnya Wujil ditelan tembok bolong itu sama sekali bukan karena dia sedang mencoba membuktikan sendiri kabar-kabar itu. Melainkan Wujil benar-benar kebingungan mencari warung mau menukarkan uang untuk kembalian. Dia melihat ada warung rokok di seberang got dibalik tembok bolong itu. Tanpa sadar dia menerobos tembok bolong. Kita tidak tahu apakah Wujil benar-benar lenyap dan tidak pernah kembali dari sana. 

Sementara itu nun di suatu tempat entah di mana Wujil mendapati dirinya berada di dalam sebuah gudang yang sangat luas. Di sana dia menemukan barang-barang miliknya yang dulu pernah hilang: uang dua ratus ribu, celana jeans, jaket kesayangan, sepatu kebanggaan, tas, topi, flash disk, ulekan ketoprak, ember, hand phone, gunting rambut, buku-buku filsafat masa kuliah, bahkan ijazah SMAnya yang entah berapa tahun lalu hilang di rumah kawan dia temukan di sana. Wujil juga bertemu dengan keponakannya yang autis yang dulu hilang di pasar malam. Dengan para aktifis yang pernah dia lihat fotonya di tembok-tembok. Wujil melihat mereka ngongkrong malasan-malasan sambil minum kopi. Wajah mereka kelihatannya berbahagia sekali. Ada beberapa orang lagi yang wajahnya tidak dia kenal. Dia hitung jumlahnya ada sembilan. Mungkinkah mereka yang hilang ditelan tembok bolong?        

Pondok Pinang, Oktober-November 2008

Pekan Melelahkan, Tapi Memuaskan

13 Nov 2008 In: Uncategorized
Lama juga aku gak ngeblog. Belakangan ini aku memang mendapati diriku begitu sibuk. Punya banyak sekali keinginan. Pengin menulis novel, menulis cerpen secara rutin, puisi juga, esai dengan sedikit memaksakan diri. Dua pekan belakangan aku nggak banyak liputan. Mungkin akan mulai sibuk dua pekan ke depan. Sekalipun begitu tidak kemudian aku leluasa menulis novel. Aduh, selalu banyak alasan menunda kerjaan.

Tapi empat pekan belakangan hatiku yang biasanya lara, kini semarak. Seorang redaktur budaya koran daerah mengabari dan mengomentari cerpenku. Meskipun gak jelas kapan dimuat, tapi aku gembira karena dia memberi apresiasi atas cerpenku. Hermawan Aksan namanya.

Terus ada lagi redaktur budaya koran lokal lain, dia memintaku menulis esai. Ah, aku maksain banget akhirnya bisa juga memenuhi permintaan dia.

Pekan lalu, media internal perusahaan, memesan resensi novel Laskar Pelangi sekalian filmnya. Filmnya sudah nonton, tapi novelnya belum, padahal beberapa kali kawanku menawari meminjami novel tersebut. Pas dipesan baru deh aku kalang kabut beli novelnya ke Gramedia Blok M. Sekarang untuk membanding-banding kuminta beberapa komentar sejumlah kawan yag sudah baca novel Andrea Hirata itu.

Pekan yang melelahkan… tapi memuaskan….

Calendar

November 2009
M T W T F S S
« Sep    
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
23242526272829
30  

ARISKURNIAWAN

Blog ini berisi prosa-prosa Aris Kurniawan yang telah dipublikasikan di media massa.


KATEGORI