<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><!-- generator="WordPress/2.7" -->
<rss version="0.92">
<channel>
	<title>Aris Kurniawan (isme)</title>
	<link>http://ariskurniawan.blog.com</link>
	<description>temukan keasyikan membaca prosa di sini</description>
	<lastBuildDate>Wed, 16 Sep 2009 17:31:39 +0000</lastBuildDate>
	<docs>http://backend.userland.com/rss092</docs>
	<language>en</language>
	
	<item>
		<title>Tembok Bolong</title>
		<description><![CDATA[kekerasan, orang hilang, pedagang ketoprak]]></description>
		<link>http://ariskurniawan.blog.com/2009/09/16/tembok-bolong-3/</link>
			</item>
	<item>
		<title>Pasar dalam Lukisan</title>
		<description><![CDATA[(Tribun Jabar, 23 Agustus 2009)
Pasar itu tidak begitu ramai. Terletak di pinggir  sungai bawah jembatan  yang menghubungkan dua propinsi. Pasar makin nampak teduh dan sunyi dalam cahaya senja yang menyepuh atap gubuk-gubuk dan permukaan air sungai menjadi merah keemasan. Di jembatan tampak sebuah bus dan beberapa becak melintas.  Di sudut  kanan ada penjual minuman dengan [...]]]></description>
		<link>http://ariskurniawan.blog.com/2009/09/02/pasar-dalam-lukisan/</link>
			</item>
	<item>
		<title>Sepasang Jenazah</title>
		<description><![CDATA[(Jurnal Nasional, 26 Juli 2009)
Dia duduk di sana, di pojok ruangan remang. Kamu tak dapat melihat wajahnya dengan jelas. Hanya kilau bibirnya yang basah dan gelombang rambutnya tergerai menghalangi separuh wajahnya. Gerakannya menghisap rokok tampak canggung dan gugup. Tampaknya hanya upaya untuk meredakan kegelisahannya. Tampak kontras dengan lukisan sepasang kekasih sedang bercinta yang menggantung di [...]]]></description>
		<link>http://ariskurniawan.blog.com/2009/08/03/sepasang-jenazah/</link>
			</item>
	<item>
		<title>Pilihan Kedua</title>
		<description><![CDATA[cepat]]></description>
		<link>http://ariskurniawan.blog.com/2009/08/03/pilihan-kedua/</link>
			</item>
	<item>
		<title>Tukang Patri</title>
		<description><![CDATA[<p style="margin-bottom: 0cm" align="justify" lang="en-US">(Tabloid Nova, Edisi 6-12 Juni 2009)<span style="font-family: Times New Roman, Times New Roman, serif"><font size="3"><br /></font></span></p>
<p style="margin-bottom: 0cm" align="justify" lang="en-US"><font face="Times New Roman, Times New Roman, serif"><font size="3">Tukang patri itu tak kunjung lewat. Dinggi duduk gelisah di depan pintu menunggunya. Apakah dia sakit? Pikir Dinggi. Dia membayangkan tukang patri itu terseok-seok mengayuh sepeda ontelnya di bawah terik matahari, menyusuri jalanan perkampungan yang sunyi. Permukaan jalan yang buruk dan berbatu membuat sebuah kotak kecil seukuran kaleng kerupuk di boncengannya berguncang-guncang dan menimbulkan bunyi gemelotak. Biasanya pukul dua siang tukang patri itu sampai di kampung ini, melintas di jalan depan rumah Dinggi.</font></font></p>
<p style="margin-bottom: 0cm" align="justify" lang="en-US"><font face="Times New Roman, Times New Roman, serif"><font size="3">Tetapi hari ini sudah hampir tiga jam Dinggi menunggunya. Tukang patri itu tak juga muncul. Benar kata ayah, pikir Dinggi, sesuatu kalau ditunggu-tunggu malah lama. Seolah sengaja membuat kita kesal. Sombong, merasa dibutuhkan. Coba kalau tidak ditunggu, seakan menyodor-nyodorkan diri di depan mata.</font></font></p>
<p style="margin-bottom: 0cm" align="justify" lang="en-US"><font face="Times New Roman, Times New Roman, serif"><font size="3">Tukang patri, tukang patri. Apakah kamu sengaja tak muncul supaya aku merasa kesal? Keluh Dinggi dalam hati. Matanya menyorot lagi ke utara, arah biasa tukang patri itu muncul dengan teriakan yang khas, “Patriii…”. Dinggi menjulur-julurkan kepalanya ke jalan. Sepi. Apakah karena belakangan tak ada orang yang menambal panci? Beberapa hari ini Dinggi memang melihat tukang patri itu hanya lewat, dan duduk beristirahat di bawah pohon arbasia sebelah warung bik Marsih dekat pertigaan, minum teh manis, merokok, seraya mengipas-ngipaskan topi pandan yang telah jebol-jebol pinggirnya, menunggu orang menambalkan panci yang tak pernah datang.</font></font></p>
<p style="margin-bottom: 0cm" align="justify" lang="en-US"><font face="Times New Roman, Times New Roman, serif"><font size="3">Tak mungkin tukang patri itu sengaja membuatku kesal, sergah Dinggi. Dia baik, tak pernah melarang anak-anak menonton dia bekerja. Sekalipun kadang kehadiran anak-anak itu membuat konsentrasinya bekerja terganggu. Tukang patri itu suka menatap mata Dinggi dengan sorot mata penuh sayang. Dinggi suka sekali memperhatikan tukang patri itu bekerja.</font></font></p>
<p style="margin-bottom: 0cm" align="justify" lang="en-US"><font face="Times New Roman, Times New Roman, serif"><font size="3">Mula-mula tukang patri itu menurunkan kotak kecil dari boncengan. Diambilnya dingklik dari dalam kotak. Dia duduk di dingklik, di sebelah kotak yang berisi alat-alat kerjanya. Dikeluarkannya tungku yang terbuat dari kaleng yang dibentuk menyerupai toa dari dalam kotak. Tungku ini unik sekali. Ada roda pemutar baling-baling di dalamnya untuk mengipasi potongan arang yang menyala memenuhi mulut tungku. Bila arang di dalam tungku itu berubah menjadi bara, dimasukkanlah batang besi ke dalam tungku untuk dipanaskan. Batang besi itu disambung dengan kayu sebagai pegangan. Bila ujung besi tampak memerah, batang besi diangkat dan digunakan untuk melumerkan timah. Lumeran timah itu yang dipakai untuk menambal panci, ceret, dandang, rantang, atau apa saja alat-alat dapur yang terbuat dari logam, seng, atau alumunium yang bolong dengan cara mengoleskannya sehingga rapat dan bisa dipergunakan kembali.</font></font></p>
<p style="margin-bottom: 0cm" align="justify" lang="en-US"><font face="Times New Roman, Times New Roman, serif"><font size="3">Memakan waktu cukup lama bara di dalam tungku memanaskan batang besi. Tukang patri itu harus memutar tuas di roda pemutar baling-baling agar api di dalam tungku itu tetap menyala sehingga batang besi lekas panas dan tampak merah. Kalau belum memerah batang besi tidak akan mampu melumerkan timah. Ketika tuas diputar, besi diangkat, dan melumerkan timah, inilah saat yang paling menarik perhatian Dinggi. Bersama kawan-kawannya Dinggi jongkok merubung tukang patri yang sibuk bekerja. Kedua mata tukang patri itu seakan sudah kebal percikan bara dan abu dari mulut tungku. Sesekali dia menyeka butir keringat yang tampak meleleh di pelipisnya. Paras wajahnya tak pernah tampak lelah meski banyak sekali barang-barang bolong yang harus ditambal.</font></font></p>
<p style="margin-bottom: 0cm" align="justify" lang="en-US"><font face="Times New Roman, Times New Roman, serif"><font size="3">Timah yang keras itu luluh mencair seperti embun saat disentuh batang besi yang membara. Lumeran timah dioleskan ke bagian panci atau ceret atau rantang yang bolong. Sebelum ditambal, sekitar bagian yang bolong terlebih dulu diamplas hingga halus supaya lumeran timah menyatu dengan panci. Selain menambal alat-alat dapur yang terbuat dari logam, piring porselen yang retak pun bisa diservis tukang patri hingga rekat kembali. Maka kedatangan tukang patri selalu ditunggu ibu-ibu yang memiliki alat-alat dapur mereka yang bolong.</font></font></p>
<p style="margin-bottom: 0cm" align="justify" lang="en-US"><font face="Times New Roman, Times New Roman, serif"><font size="3">Dinggi ingin sekali memanggil tukang patri ke rumahnya. Tapi panci dan alat-alat masak di dapurnya tidak ada yang bolong. “Bu, kenapa kita tidak punya panci yang bolong?” keluh Dinggi pada ibunya.</font></font></p>
<p style="margin-bottom: 0cm" align="justify" lang="en-US">“<font face="Times New Roman, Times New Roman, serif"><font size="3">Tentu saja, Dinggi. Karena panci-panci itu baru ibu beli. Panci dan ceret yang bolong kemarin sudah ibu berikan ke pemulung.”</font></font></p>
<p style="margin-bottom: 0cm" align="justify" lang="en-US"><font face="Times New Roman, Times New Roman, serif"><font size="3">“Kenapa diberikan ke pemulung?” protes Dinggi, “Aku bisa tambalkan ke tukang patri.”</font></font></p>
<p style="margin-bottom: 0cm" align="justify" lang="en-US">“<font face="Times New Roman, Times New Roman, serif"><font size="3">Kenapa ditambal, kalau kita bisa beli yang baru,” kata ibunya.</font></font></p>
<p style="margin-bottom: 0cm" align="justify" lang="en-US"><font face="Times New Roman, Times New Roman, serif"><font size="3">Begitulah, tak ada panci, ceret, dandang, rantang, dan peralatan dapur lainnya yang bolong di rumah Dinggi. Jadi Dinggi hanya bisa menonton tukang patri itu bekerja dari belakang. Yang di depan adalah anak yang ibunya menambalkan panci. Hampir semua ibu teman-temannya pernah menambalkan alat-alat dapur mereka yang bolong ke tukang patri.</font></font></p>
<p style="margin-bottom: 0cm" align="justify" lang="en-US"><font face="Times New Roman, Times New Roman, serif"><font size="3">Berhari-hari Dinggi membongkar-bongkar gudang belakang rumah. Dia menemukan rak besi yang salah satu rangka kakinya keropos. “Ini bisa diservis tukang patri, bu,” kata Dinggi.</font></font></p>
<p style="margin-bottom: 0cm" align="justify" lang="en-US">“<font face="Times New Roman, Times New Roman, serif"><font size="3">Rak itu tidak dipakai lagi, Dinggi, sudah karatan. Kita sudah beli gantinya kan, rak aluminium itu,” sahut ibunya. Di dapur rumahnya yang berlantai keramik tampak rak aluminium antikarat. Berdiri anggun di samping kulkas. Ibu baru membelinya pekan lalu.</font></font></p>
<p style="margin-bottom: 0cm" align="justify" lang="en-US"><font face="Times New Roman, Times New Roman, serif"><font size="3">Dinggi mendesah kecewa. Tapi dia belum menyerah, terus sibuk mencari alat-alat dapur yang bolong. Dia periksai semua wajan, panci, dandang, nampan, piring-piring kaleng. Ibunya sampai heran melihat ulah anaknya yang cuma satu ini. Gudang yang sudah dirapikan jadi berantakan. Bukannya belajar atau nonton televisi, malah senangnya melihat tukang patri. apa sih menariknya lihat orang matri?</font></font></p>
<p style="margin-bottom: 0cm" align="justify" lang="en-US"><font face="Times New Roman, Times New Roman, serif"><font size="3">Setelah cukup lama mencari sampai baju dan mukanya kotor kena debu, akhirnya Dinggi menemukan rantang yang bolong di rak paling bawah. Rantang terbuat dari kaleng itu bolong di bagian lekukan sisi bawahnya. Wajah Dinggi berseri-seri. Penuh semangat dibawanya temuan itu kepada ibunya,</font></font></p>
<p style="margin-bottom: 0cm" align="justify" lang="en-US">“<font face="Times New Roman, Times New Roman, serif"><font size="3">Akan kutambal rantang ini ke tukang patri,”</font></font></p>
<p style="margin-bottom: 0cm" align="justify" lang="en-US">“<font face="Times New Roman, Times New Roman, serif"><font size="3">Buat apa ditambal, Nggi. Yang baru saja jarang dipake,”</font></font></p>
<p style="margin-bottom: 0cm" align="justify" lang="en-US">“<font face="Times New Roman, Times New Roman, serif"><font size="3">Akan kupakai untuk wadah pakan ayam, bu,”</font></font></p>
<p style="margin-bottom: 0cm" align="justify" lang="en-US">“<font face="Times New Roman, Times New Roman, serif"><font size="3">Wadah plastik itu nggak cukup?”</font></font></p>
<p style="margin-bottom: 0cm" align="justify" lang="en-US">“<font face="Times New Roman, Times New Roman, serif"><font size="3">Pokoknya, akan aku tambal ke tukang patri. Cuma seribu. Biar pake uangku,”</font></font></p>
<p style="margin-bottom: 0cm" align="justify" lang="en-US"><font face="Times New Roman, Times New Roman, serif"><font size="3">Ibunya tak menyahut lagi. Perempuan itu tampak menahan sesuatu di dadanya. Serupa desir yang merayap pelan-pelan. Tapi dia tahu Dinggi tak bisa dicegah. Anak itu keras kepala seperti bapaknya. Dia cuma berpesan, tidak perlu mendatangi tukang patri di pertigaan, tunggu saja sampai lewat di depan rumah.</font></font></p>
<p style="margin-bottom: 0cm" align="justify" lang="en-US">“<font face="Times New Roman, Times New Roman, serif"><font size="3">Ibu mau ke rumah wak Liman, kamu tunggu rumah baik-baik. Kecuali kalau ayah pulang lebih cepat.” kata ibunya. Sekalipun sedikit kesal, Dinggi merasa agak lega.</font></font></p>
<p style="margin-bottom: 0cm" align="justify" lang="en-US"><font face="Times New Roman, Times New Roman, serif"><font size="3">Hampir pukul tiga sore. Tukang patri itu belum juga muncul. Mungkin banyak ibu-ibu yang menambal panci di pertigaan warung bik Marsih, pikir Dinggi, gusar. Dinggi ingin lekas ke sana saja rasanya membawa rantang yang bolong. Tapi ayah belum juga pulang. Sampai pukul empat ayah tak juga pulang. Akhirnya Dinggi mengabaikan pesan ibunya, dia nekat menguci pintu dari luar dan melangkah setengah berlari ke pertigaan menenteng rantang yang siap ditambal. Rambut ikalnya yang kuncir bagai ekor kuda bergerak-gerak jenaka.</font></font></p>
<p style="margin-bottom: 0cm" align="justify" lang="en-US"><font face="Times New Roman, Times New Roman, serif"><font size="3">Benar, tukang patri itu tengah sibuk bekerja. Rupanya banyak sekali ibu-ibu yang menambal alat-alat dapurnya yang bolong. Dandang, panci, ceret, rantang, wajan, piring seng, mug kaleng, berderet mengelilingi tukang patri. Ibu-ibu itu menunggu giliran sambil duduk-duduk dan makan gorengan di warung bik Marsih. Sementara anak-anak mereka jongkok merubung tukang patri. Dinggi terpaksa harus ngantri paling belakang. Dia tidak bisa melihat lebih dekat ke tukang patri.</font></font></p>
<p style="margin-bottom: 0cm" align="justify" lang="en-US">“<font face="Times New Roman, Times New Roman, serif"><font size="3">Mau nambal apa, Dinggi?” tanya seorang ibu.</font></font></p>
<p style="margin-bottom: 0cm" align="justify" lang="en-US">“<font face="Times New Roman, Times New Roman, serif"><font size="3">Rantang,” sahut Dinggi cepat.</font></font></p>
<p style="margin-bottom: 0cm" align="justify" lang="en-US">“<font face="Times New Roman, Times New Roman, serif"><font size="3">Bukankah rantang di dapurmu bagus-bagus?”</font></font></p>
<p style="margin-bottom: 0cm" align="justify" lang="en-US">“<font face="Times New Roman, Times New Roman, serif"><font size="3">Ini untuk wadah pakan ayam,”</font></font></p>
<p style="margin-bottom: 0cm" align="justify" lang="en-US">“<font face="Times New Roman, Times New Roman, serif"><font size="3">Ibumu yang menyuruh?”</font></font></p>
<p style="margin-bottom: 0cm" align="justify" lang="en-US"><font face="Times New Roman, Times New Roman, serif"><font size="3">Dinggi mengangguk ragu-ragu. Dinggi agak heran sekaligus kesal, kenapa sih orang-orang seperti merasa aneh melihat dia menambal rantang. Seolah-olah dia tidak boleh ikut-ikutan menambal rantang yang bolong. Seakan hanya mereka yang boleh punya panci bocor. Lalu lamat-lamat didengarnya mereka menyebut-nyebut nama ayah dan ibu, tukang patri, mata duitan. Dinggi ingat kata ayah tentang orang-orang sulit yang dimengerti, tentang para tetangga yang sukanya iri hati. Dengan mata berbinar dia terus mengamati tukang patri bekerja. Dari jarak dua meter Dinggi tidak bisa melihat dengan jelas saat timah itu meleleh disentuh besi yang membara. Ah, jika saja punya tungku semacam itu, pikir Dinggi.</font></font></p>
<p style="margin-bottom: 0cm" align="justify" lang="en-US"><font face="Times New Roman, Times New Roman, serif"><font size="3">Sampai menjelang magrib antrian baru menyurut. Tapi sayang, rantangnya tak bisa ditambal. Tukang patri bilang, timah buat nambalnya habis.</font></font></p>
<p style="margin-bottom: 0cm" align="justify" lang="en-US">“<font face="Times New Roman, Times New Roman, serif"><font size="3">Besok saya kemari,” kata tukang patri seraya mengemasi alat-alat kerjanya.</font></font></p>
<p style="margin-bottom: 0cm" align="justify" lang="en-US">“<font face="Times New Roman, Times New Roman, serif"><font size="3">Besok bisakah datang ke rumah saya, pak?” kata Dinggi, “di ujung dekat jembatan sana, warna merah jambu.” Tukang patri mengangguk.</font></font></p>
<p style="margin-bottom: 0cm" align="center" lang="en-US"><span style="font-family: Times New Roman, Times New Roman, serif"><font size="3">**</font></span></p>
<p style="margin-bottom: 0cm" align="justify" lang="en-US"><font face="Times New Roman, Times New Roman, serif"><font size="3">Sampai pukul tiga tukang patri tidak juga muncul. Ibu melarang Dinggi menemuinya ke pertigaan gara-gara kemarin Dinggi telat pulang dengan tangan hampa. Dengan nada sedikit tinggi ibunya juga bilang tidak perlu menambal rantang.</font></font></p>
<p style="margin-bottom: 0cm" align="justify" lang="en-US"><font face="Times New Roman, Times New Roman, serif"><font size="3">Pukul setengah empat tukang patri itu muncul, dia menuntun sepedanya. Dinggi bangkit, menyambutnya girang. Ketika itulah ibunya muncul dari dalam rumah. Beberapa detik ibunya saling tatap dengan tukang patri itu. Sejurus kemudian tukang patri itu urung menambatkan sepedanya. Dia tampak bergegas menaiki sepeda ontelnya, dan berlalu meninggalkan Dinggi yang berteriak-teriak memanggilnya…</font></font></p>
<p style="margin-bottom: 0cm" align="justify" lang="en-US"><font face="Times New Roman, Times New Roman, serif"><font size="3">Cirebon, Januari 2009</font></font></p>

]]></description>
		<link>http://ariskurniawan.blog.com/2009/07/10/tukang-patri/</link>
			</item>
	<item>
		<title>Cinta Lama</title>
		<description><![CDATA[<p><font face="Times New Roman" size="3"><strong><em><span>(Majalah Sekar, 17 Juni-1 Juli 2009)</span></em></strong><br />
<br />
Irene akhirnya memilih akan mengundurkan diri dari pekerjaanya. Ia tak mau mempertahankan karirnya yang tengah berada di puncak jika harus mempertaruhkan keutuhan rumah tangganya. Irene telah mengutarakan alasan sejujur-jujurnya pada beberapa rekan terdekatnya. Sekalipun menyayangkan keputusan Irene, mereka dapat mengerti alasan yang melatari keputusan Irene.</font>&#160;<br /></p>
<p><font face="Times New Roman" size="3">“Apa tidak ada opsi lain, Ir? <em>Bete loh</em> di rumah.” tanya Tiana, rekan terdekatnya.</font> &#160;<br /></p>
<p><font face="Times New Roman" size="3">“Opsi apa maksudmu, Ti?”</font>&#160;<br /></p>
<p><font face="Times New Roman" size="3">“Kamu minta mutasi ke kantor cabang, Semarang atau Bandung,” saran Tiana.</font>&#160;<br /></p>
<p><font face="Times New Roman" size="3">“Tidak mungkin, malah makin repot harus pindah rumah,” sanggah Irene. Selain kantor pusat, perusahaanya tidak memiliki kantor cabang di Jakarta.</font> &#160;<br /></p>
<p><font face="Times New Roman" size="3">“Kalau itu yang terbaik buatmu, aku tak bisa ngomong apa-apa lagi,” kata Tiana, menyerah, “Tapi bagaimana dengan suamimu?” tanya Tiana.</font></p>
<p><font face="Times New Roman" size="3">Inilah yang sekarang yang jadi persoalan bagi Irene. Apakah ia harus mengungkapkan alasan sebenarnya atas keputusannya itu kepada&#160; Indra, suaminya? Perlukan Irene jujur jika itu berakibat buruk pada keharmonisan rumah tangga mereka yang telah berjalan mulus selama hampir empat tahun terakhir ini? Siapa pun orangnya jika dalam posisi Irene sekarang ini pasti akan merasa berada di situasi yang sangat dilematis, serba salah.</font> &#160;<br /></p>
<p><font face="Times New Roman" size="3">Irene tahu, meski Indra tidak pernah mengekang istrinya bekerja, laki-laki itu pasti akan senang mendengar Irene keluar dari pekerjaannya. Karena itu artinya Andra dan Andri, buah cinta mereka, akan mendapat&#160; perhatian penuh dari ibunya. Bukankah sebaik-baik pengasuh anak-anak adalah ibunya sendiri? Seorang suster sekalipun punya keterampilan mengasuh anak, tidak bisa dipercaya sepenuhnya, terutama untuk urusan mendidik anak. Apalagi di bawah umur lima tahun merupakan fase meniru. Salah sedikit bisa berdampak buruk pada sifat anak di kemudian hari.</font>&#160;<br /></p>
<p><font face="Times New Roman" size="3">Sejak kehadiran si kembar Andra Andri dua tahun lalu yang makin melengkapi kebahagiaan mereka, Indra memang beberapa kali pernah mengatakan bahwa dirinya akan merasa lebih senang jika Irene mengundurkan diri dari pekerjaanya supaya bisa total mengurusi si kembar. Tetapi Irene tetap ingin bekerja dengan alasan ingin menerapkan ilmu yang diperolehnya.</font> &#160;<br /></p>
<p><font face="Times New Roman" size="3">“Sayang punya ilmu dibiarkan tersimpan di laci,” begitu kata Irene ketika itu. Jika sekarang Irene tiba-tiba mengundurkan diri tentu kan mengundang pertanyaan di benak Indra. Laki-laki itu pastilah ingin tahu alasan Irene.&#160; &#160;</font> &#160;<br /></p>
<p><font face="Times New Roman" size="3">Bagaimana pun Indra pasti terluka perasaannya jika tahu alasan sebenarnya Irene mengundurkan diri. Hal ini membuat Irene benar-benar tidak bisa memutuskan, dan tak tahu mesti kepada siapa meminta saran. Irene tidak mungkin mengarang-ngarang alasan. Indra adalah tipe laki-laki cerdas yang tidak bisa begitu saja menerima alasan yang tidak masuk akal. Lagi pula Irene tidak biasa mengarang-ngarang alasan untuk menutupi kebohongannya. Kalau ia paksakan juga dengan mudah Indra mengetahui kebohongannya. Jika itu terjadi akan sama buruknya dengan jika ia mengungkap alasan sebenarnya. Ah, semua ini gara-gara kehadiran Bayu, kekasih Irene di masa lalu, yang bergabung di kantornya sejak empat bulan lalu.</font></p>
<p align="center"><font face="Times New Roman" size="3">**</font></p>
<p><font face="Times New Roman" size="3">Tak percaya, dan benar-benar seperti sebuah drama dalam sinetron picisan. Itulah reaksi pertama Irene ketika pertama kali mengetahui Bayu menjadi pegawai baru di kantornya. Selebihnya adalah perasaan berbunga-bunga, senang seperti anak kecil menemukan mainan kesayangan yang sekian lama hilang. Tingkahnya tiba-tiba berubah laksana gadis remaja, suka tanpa sadar melantunkan lagu-lagu lama. Kenangan indah masa pacaran dulu seakan bakal terulang kembali. Kata orang cinta pertama memang indah dan tak pernah tergantikan selamanya. Ternyata ini benar. Irene seolah lupa bahwa dirinya kini adalah istri dari seorang suami dan ibu dari dua bocah laki-laki yang membutuhkan perhatiannya.</font></p>
<p><font face="Times New Roman" size="3">Dulu, sewaktu SMA Irene memang menyimpan kisah cinta tak terlupakan dengan Bayu. Di sekolah Bayu merupakan seorang idola yang dipuja-puja gadis-gadis lantaran tampangnya yang memang tampan ditambah jago main basket. Gadis-gadis tak peduli dengan nilai bahasa Inggris dan matematika Bayu kedodoran. Merasa diidolakan gadis-gadis satu sekolah Bayu jadi terkesan angkuh. Entah berapa gadis yang patah hati lantaran hasratnya di-<em>cuekin</em> Bayu. Maka mendapatkan Bayu merupakan kebanggaan luar biasa bagi Irene. Karena ia pun jadi ikut populer di sekolah sebagai pacar sang idola. Ia merasa menjadi gadis paling beruntung. Irene tidak bisa jauh-jauh dari Bayu. Teman-temannya satu sekolah tahu itu. Mereka ibarat sejoli yang inginnya selalu berdekatan ke mana pun pergi. Sampai akhirnya keduanya lulus dan masing-masing harus pergi melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi di kota lain. Bayu tak pernah menghubungi Irene. Dia seperti hilang begitu saja meninggalkan setumpuk kenangan indah yang kemudian berubah menjadi kesedihan bagi Irene yang patah hati. Butuh waktu lama bagi Irene untuk memulihkan kepercayaan pada laki-laki.</font>&#160;<br /></p>
<p><font face="Times New Roman" size="3">“Bayu?”</font>&#160;<br /></p>
<p><font face="Times New Roman" size="3">“Irene?”</font>&#160;<br /></p>
<p><font face="Times New Roman" size="3">Beberapa lama keduanya tertegun, kaget bukan kepalang saat pertama Pak Nugraha, kepala kantornya, memperkenalkan Bayu sebagai pegawai baru yang akan bergabung memperkuat divisi marketing. Irene tanpa sadar telapak tangannya berkeringat dan sedikit gemetar manakala bersalaman untuk pertama kalinya dengan Bayu setelah sekian tahun tak bertemu. Pesona Bayu rasanya tidak pernah berkurang. Bagai tak tergerus waktu. Termasuk sikap angkuhnya.</font>&#160;<br /></p>
<p><font face="Times New Roman" size="3">Begitulah, menyusul setelah itu ia sering pergi makan siang bersama Bayu, mengulur-ulur waktu istirahat makan siang untuk sekadar ngobrol dengan Bayu di kafe. Tidak cukup makan siang, mereka melakukan perjalanan ke luar kota bersama.</font> &#160;<br /></p>
<p><font face="Times New Roman" size="3">“Dulu ambil marketing manajemen juga?” kata Bayu.</font>&#160;<br /></p>
<p><font face="Times New Roman" size="3">“Ya, aku ambil di perguruan tinggi di kota kecil. Tidak perlu jauh-jauh sampai ke Jogja kaya kamu,” ujar, sengaja ingin mengungkit kisah lama. Ada nada sinis dalam kalimat itu.</font> &#160;<br /></p>
<p><font face="Times New Roman" size="3">“Sop kambing paling enak di mana ya?” kelit Bayu.</font>&#160;<br /></p>
<p><font face="Times New Roman" size="3">“Sop kambing? Seleramu sudah berubah? Bukannya favoritmu gado-gado!”</font>&#160;<br /></p>
<p><font face="Times New Roman" size="3">Mula-mula Irene menganggap ini hal biasa saja, semacam hubungan antar teman lama yang sekian tahun tak bertemu. <em>Toh</em> Irene sudah menceritakan mengenai statusnya sekarang. Bahkan ia juga mengatakan bahwa ia memiliki keluarga bahagia; suami yang bertanggung jawab, anak-anak yang pinta dan lucu. Tapi perlahan-lahan tak ada yang bisa menghalangi bunga-bunga cinta di dadanya diam-diam mekar kembali. Irene merasa sangat tak lengkap bila sehari saja tak melihat Bayu. Ia kerap gelisah menunggu saat istirahat makan siang tiba. Menantikan saat-saat duduk berhadapan, mencuri-curi pandang wajah tampan lelaki itu di sela makan. Kerinduan pada rumah, melihat si kembar yang tengah lucu-lucunya, pelukan hangat dan tatapan mesra suaminya, sedikit demi sedikit tidak menimbulkan rasa kangen. Digantikan sosok Bayu, yang dari hari ke hari terus mendesak, mengambil tempat mereka dalam benak Irene. Ia seperti terbius kenangan masa remaja.</font> &#160;<br /></p>
<p><font face="Times New Roman" size="3">Kegiatan makan siang bersama, dan kadang nonton film, terus berjalan selama tiga bulan terakhir. Perasaan senang, nyaman, dan perasaan-perasaan aneh lainnya yang tumbuh di dadanya Irene anggap hanya romantisme masa lalu yang bisa diatasi dan tidak perlu dikhawatirkan. Ia merasa tahu batas-batas.</font>&#160;<br /></p>
<p><font face="Times New Roman" size="3">Setelah memasuki minggu ke empat pada bulan ketiga, Irene baru menyadari bahwa anggapannya keliru; bahwa ia tengah terperosok dalam hubungan yang sangat berisiko bagi keutuhan rumah tangganya dengan Indra. Sekalipun pernikahannya dengan Indra tidak berdasarkan cinta melainkan karena semacam keharusan untuk menikah mengingat usianya yang memasuki kepala tiga, namun Irene tidak rela kalau harus kandas hanya gara-gara Bayu, laki-laki yang pernah meninggalkannya begitu saja. Ia tak mau terjerat masa lalu.</font> &#160;<br /></p>
<p><font face="Times New Roman" size="3">Irene ingat, saat awal-awal menikah dengan Indra, ia memang tidak memiliki perasaan cinta pada Indra. Irene menerima Indra setelah sekian bulan laki-laki itu berjuang keras mendapatkan perhatiannya. Irene salut dan kagum pada kegigihan usaha Indra. Barangkali, selain pertimbangan usia, perasaan simpati pada sikap teguh laki-laki itu saja yang membuat Irene akhirnya menikah dengan Indra. Baru pada tahun kedua pernikahannya, berkat upaya yang terus menerus Irene mulai memiliki perasaan cinta pada Indra. Tidak lagi menganggapnya sekadar pelarian, apalagi sejak Irene melahirkan anak-anak dari benih laki-laki itu, dan menjadi sumber kebahagiaannya. Mereka adalah harta yang paling berharga. Irene merasa harus menyelamatkannya.&#160;&#160; &#160;</font> &#160;<br /></p>
<p><font face="Times New Roman" size="3">“Kita harus mengakhiri hubungan semu ini, Bayu!” cetusnya. “Kalau perlu aku akan mengundurkan diri dari pekerjaan supaya kita tak pernah lagi bertemu.”</font> &#160;<br /></p>
<p><font face="Times New Roman" size="3">“Hubungan apa, Irene? Bukankah kita hanya berteman biasa saja?” ujar Bayu, nada angkuh jelas terdengar dalam kalimat tersebut. Membuat Irene gemas ingin menampar mulut yang melontarkannya.</font>&#160;<br /></p>
<p><font face="Times New Roman" size="3">“Bagimu mungkin ini hanya hubungan teman biasa, seperti kau juga menganggap hubungan kita di masa lalu. Tapi tidak buatku. Sebab itu sebaiknya aku pergi sejauh-jauhnya darimu,” ujar Irene, menahan kesal.</font>&#160;<br /></p>
<p><font face="Times New Roman" size="3">“Seserius itu, Irene?”</font>&#160;<br /></p>
<p><font face="Times New Roman" size="3">“Tentu saja. Baru kusadari kamu memang bukan laki-laki yang pantas kucintai!” Irene bergegas bangkit dari kursi, dan keluar dari kafe lebih dulu.</font> &#160;<br /></p>
<p><font face="Times New Roman" size="3">“Irene,” Bayu hanya bangkit memandang punggung Irene menjauh, masuk lift. Tampaknya tak ada minat buat Bayu mengejar Irene.</font></p>
<p align="center"><font face="Times New Roman" size="3">**</font></p>
<p><font face="Times New Roman" size="3">Akhirnya semuanya selesai. Irene benar-benar mengundurkan diri. Indra ternyata cukup dengan alasan bahwa Irene keluar dari pekerjaannya karena ingin memberi perhatian penuh pada si kembar. Rupanya perasaan senang membuat laki-laki itu tidak memerlukan alasan sebenarnya yang disimpan Irene. Kehidupan berjalan dengan mulus. Irene tidak memerlukan waktu terlalu lama untuk menyesuaikan diri dengan ritme kegiatannya setelah keluar dari pekerjaannya.</font> &#160;<br /></p>
<p><font face="Times New Roman" size="3">Permasalahan muncul justru beberapa minggu berselang, pada suatu hari ketika Irene menerima pesan singkat mesra dari Bayu. Ketika ponselnya berdering Irene tak mengira pesan singkat itu datang dari Bayu, karena ia menganggap semuanya telah selesai. Lagi pula dari mana Bayu tahu nomor barunya. Apa boleh buat, semuanya seperti sudah semestinya terjadi. Irene meminta tolong Indra membuka pesan singkat tersebut.</font> &#160;<br /></p>
<p><font face="Times New Roman" size="3">Irene melihat Indra tertegun lama setelah membaca pesan singkat itu. Wajah Indra terlihat begitu kecewa. Belum pernah ia melihat Indra begitu marah dan sekecewa itu. Menyusul kejadian itu, Indra tak pulang selama tiga hari. Pada hari keempat Irene menerima kabar Bayu luka parah dipukuli orang, masuk rumah sakit.</font>&#160;<br /></p>
<p><font face="Times New Roman" size="3">Pondok Pinang, April 2009</font>&#160;</p>

]]></description>
		<link>http://ariskurniawan.blog.com/2009/06/22/cinta-lama/</link>
			</item>
	<item>
		<title>Stasiun</title>
		<description><![CDATA[<div style="text-align: justify"><em><span style="color: #00407f"><strong><span style="color: #00407f"><span style="font-size: 15px">(Lampung Post, Minggu 31 Mei 2009)</span></span></strong></span></em><br /></div>
<p style="text-align: justify">INGATAN tentang kehilangan, kepergian, sesuatu yang mencemaskan, menjadi lampau, dan dilupakan, acap menerjang perasaannya saban ia sampai di stasiun kereta api. Kau akan melihat perempuan itu di antara kerumun orang-orang yang menanti kereta dengan pandangan penuh kepedihan yang memupus harapan tentang kepulangan, rumah, dan kehangatan. Jajaran pohon cemara, hamparan kerikil, batangan rel yang memanjang sampai titik terjauh, bentangan sawah, gedung sekolah masa remajanya di ujung sana serupa instalasi kepiluan yang membuat cedera di rongga batinnya makin menganga.</p>
<div style="text-align: justify"></div>
<p style="text-align: justify">Selalu ada dorongan untuk kembali meraba dada, melihat wajah, menandai tubuhnya. Lalu perempuan itu akan merasa dirinya tak penuh, tak utuh. Seperti ada yang selalu tanggal dan terpaksa harus ia tinggalkan. Dalam rentang waktu tertentu ia akan merasa goyah, terbelah, lantas pecah terbungkah-bungkah mirip runtuhan tanah. Tapi harus selalu ia susun lagi dengan susah payah, terkadang dengan ingatan yang patah. Menatap mereka dan ia yang harus meninggalkan tanah kelahiran menuju tempat yang diangankan sebagai kota untuk mungkin menjemput serupa cita-cita atau sekadar angan-angan belaka.</p>
<div style="text-align: justify"></div>
<p style="text-align: justify">Di stasiun itu ia akan selalu bertemu dengan orang-orang yang tak pernah terduga dari masa lalu. Mungkin seseorang yang pernah dekat dan begitu ia rindukan di masa yang telah menjauh dan semakin menjauh, atau seseorang yang diam-diam ia benci dan ingin ia lupakan sama sekali. Mereka berganti-ganti datang dan pergi serupa mimpi yang ingin segera ia akhiri.</p>
<div style="text-align: justify"></div>
<p style="text-align: justify">Di stasiun kereta, betapa pun ia telah berupaya menyembunyikan diri, ia akan selalu tepergok dengan perjumpaan-perjumpaan tak terduga; ia pernah bertemu kembali dengan kawan masa kanak, masa remaja, dan masa-masa lainnya yang telah bergulir, terbenam entah di mana tapi kadang terasa begitu dekat, begitu akrab. Tapi akan segera ia sadari betapa itu sukar disentuh, muskil ditempuh (kembali).</p>
<div style="text-align: justify"></div>
<p style="text-align: justify">Suatu kali ia bertemu kawannya di masa remaja. Ia akan selalu merasa gugup dan kebingungan bagaimana caranya berbasa-basi. Ia melihat muka kawannya serupa mendapati wajahnya sendiri; begitu kuyu, sorot matanya berusaha keras menyembunyikan keresahan di dasar hatinya. Lalu secara otomatis ia akan merasakan hatinya berkerenyit nyeri. Ia ingin kembali meraba dada, melihat wajah dan menandai tubuhnya. Tanpa sadar ia akan menggigit bibir bawahnya seakan menahan sesuatu yang begitu lara.</p>
<div style="text-align: justify"></div>
<p style="text-align: justify">Ia akan memulai percakapan dengan kalimat-kalimat pendek. Ia akan mendengar percakapan itu serupa lantunan keperihan yang sulit diraba tapi jelas menggoreskan semacam luka, semacam bara dalam benaknya. Kawannya akan ke Jakarta, ke penampungan TKW sebelum dikirim ke luar negeri sebagai pekerja rumah tangga. Seorang lelaki, yang ia kira suami kawannya, yang berdiri di sampingnya, hanya sesekali melirik padanya.</p>
<div style="text-align: justify"></div>
<p style="text-align: justify">"Ya ampun, Dian," kawannya menjerit. Ia merasakan kedua tangannya kaku saat harus diangkat-bentangkan, menyambut pelukan.</p>
<div style="text-align: justify"></div>
<p style="text-align: justify">"Mau ke mana? Jakarta? Sendirian? Mana suamimu?" kawannya melontarkan pertanyaan, yang selalu ingin ia hindari, secara bertubi-tubi.</p>
<div style="text-align: justify"></div>
<p style="text-align: justify">Pertanyaan kawannya ini, seperti juga pertanyaan yang terlontar dari sekian banyak kawan yang lain, saudara, ibu, ayah, akan mengiang beberapa lama menemani perjalanannya di bangku kereta. Namun ia tak pernah kunjung terlatih untuk menjawab, kecuali melupakannya. Kawannya bercerita, ini rencana keberangkatannya yang ketiga jadi TKW di luar negeri. Suaminya yang pemabuk hanya menghabis-habiskan uang kirimannya.</p>
<div style="text-align: justify"></div>
<p style="text-align: justify">"Kenapa kamu mau berangkat lagi?"</p>
<div style="text-align: justify"></div>
<p style="text-align: justify">"Mau apa lagi di kampung? Dikejar-kejar utang!"</p>
<div style="text-align: justify"></div>
<p style="text-align: justify">Di stasiun kereta ia pernah bertemu dengan kawan semasa kanak yang bekerja di Jakarta. Dia ulang alik Jakarta--kampung halaman seperti yang ia jalani dengan perasaan rawan, tertahan-tahan.</p>
<div style="text-align: justify"></div>
<p style="text-align: justify">"Aku dan suamiku bekerja di Jakarta. Anak kami titipkan sama orang tua di kampung. Kami bekerja di satu rumah. Suamiku jadi satpam, aku tukang cuci. Bagaimana denganmu, Dian? Kamu kerja kantoran? Kamu cantik sekali."</p>
<div style="text-align: justify"></div>
<p style="text-align: justify">"Aku masih sendirian. Aku bekerja sebagai, ah kamu serius ingin tahu kerjaanku?"</p>
<div style="text-align: justify"></div>
<p style="text-align: justify">Lontaran kalimat ini akan menemaninya sedikit lebih lama; kadang membuatnya bertanya-tanya pada diri sendiri, apa saja yang telah kukerjakan selama bertahun-tahun ini? Lantas ia akan meyakin-yakinkan diri sendiri betapa ia cukup bahagia dan baik-baik saja. Ia memang bekerja di satu ruangan berpendingin udara yang orang menyebutnya kantor. Membaca huruf-huruf kanji, menyalinnya ke dalam bahasa Indonesia. Tiap hari masuk pukul sembilan pulang menjelang magrib. Tiba-tiba ia ingat rutinitas itu telah ia jalani hampir sepuluh tahun. Ya, sepuluh tahun. Sampai berapa puluh tahun lagi?</p>
<div style="text-align: justify"></div>
<p style="text-align: justify">Di stasiun kereta ia bersua dengan sepupunya yang sekian tahun ia hindari. Dia melambaikan tangan, memandangnya yang gugup, gemetar, serbasalah. Ia akan melihat sorot mata sepupunya bagai menuduh dengan semacam kata-kata, ke mana saja sih kamu <em>nggak</em> pernah main ke rumah. Bude sakit tak ditengok. Lupa ya? Dan sederet pertanyaan serupa interogasi yang paling ia benci. Ia akan merasakan tubuhnya mengerut.</p>
<div style="text-align: justify"></div>
<p style="text-align: justify">Ia teringat tentang usia, tentang perjalanan, tentang kegagalan, tentang kesia-siaan. Begitu banyak kaum kerabat yang ingin ia kunjungi saat pulang kampung halaman. Tapi tak pernah ia punya nyali. Rasanya tak pernah ada kata-kata yang bisa ia rangkum dan ia deretkan untuk menjelaskan dirinya. Mereka seakan berloncatan. Dan ia kehabisan tenaga menangkapnya. Maka saban pulang kampung, dua atau paling banyak tiga kali dalam setahun, selain kamarnya tempat favoritnya adalah kebun belakang rumahnya yang tak seberapa luas.</p>
<div style="text-align: justify"></div>
<p style="text-align: justify">Menyiangi rumput, mengelap tiap lembar daun: lidah buaya, kuping gajah, menatapi bunga kenanga, kembang sepatu. Jika bosan, ia akan buru-buru pergi ke kota kabupaten, keluar masuk toko buku, toko kaset, gedung bioskop, sendirian. Pulang saat malam genap mengatupkan pintu rumah dan kelopak mata orang-orang di kampungnya yang mulai ramai. Untuk kemudian subuh buta mengantarnya kembali ke stasiun kereta. Ia tak pernah menyukai terminal dan bus kota, entah mengapa. Mungkin karena terminal tak menumbuhkan ingatan apa-apa. Tak ada kepedihan yang tanpa sadar amat disukainya seperti yang ia dapatkan di stasiun kereta.</p>
<div style="text-align: justify"></div>
<p style="text-align: justify">Semakin lama berada di stasiun itu ia merasakan jiwanya terpiuh. Ia akan menggelepar menikmati keterasingan. Kadang ia harus melindap ke bilik toilet, duduk termenung di atas kloset seraya mengisap rokok putih. Merasakan tembok-tembok mendesis, merekam kekosongan yang memenuhi perasaannnya. Ia akan keluar dari sana jika terdengar gemuruh kereta yang akan membawanya tiba dengan lengking peluitnya yang bikin sakit gendang telinga. Sekalipun begitu ia tak akan terbebas dari persuaan tak terkira. Saat menemukan bangku di dalam gerbong kereta, sering dilihatnya sosok yang dikenalnya di masa silam telah mengambil bangku di sebelahnya.</p>
<div style="text-align: justify"></div>
<p style="text-align: justify">"Heh kamu? Astaga, Dian. Ke Jakarta juga?"</p>
<div style="text-align: justify"></div>
<p style="text-align: justify">"Ya ampun, Hen. Kok kamu di sini? Tadi <em>nunggu</em> di mana sih, sampai <em>nggak ngelihat</em>," ucapnya.</p>
<div style="text-align: justify"></div>
<p style="text-align: justify">Tentu saja ia berbohong. Setiap di stasiun matanya nyalang mencari-cari sosok yang mungkin dikenalnya. Bukan untuk dihampiri, melainkan dihindari. Dari jarak tertentu ia akan mengawasi siapa pun sosok yang pernah dikenalnya. Mengamati gerak tubuh, sorot mata, mendengar pembicaraan mereka yang lamat-lamat, pakaian yang mereka kenakan. Lantas menduga-duga kenapa mereka harus pergi. Berpikir tentang keadaan yang memaksa mereka hengkang meninggalkan kampung halaman; dan apa yang mereka pikirkan tentang dirinya jika memergokinya mengawasi mereka.</p>
<div style="text-align: justify"></div>
<p style="text-align: justify">"Tak pernah pulang, ya?"</p>
<div style="text-align: justify"></div>
<p style="text-align: justify">"Jarang. Kamu yang tak pernah pulang."</p>
<div style="text-align: justify"></div>
<p style="text-align: justify">"Hampir tiap dua pekan pulang, Dian."</p>
<div style="text-align: justify"></div>
<p style="text-align: justify">"Kok <em>nggak</em> pernah <em>ketemu</em>," ucap dia lagi, berbohong lagi.</p>
<div style="text-align: justify"></div>
<p style="text-align: justify">Bagaimana bisa <em>ketemu</em>, jika ia memang sengaja menghindar dari siapa pun kecuali orang rumah. Pada ibunya selalu ia berpesan supaya tidak mengabarkan kepulanganya pada siapa pun. Ia merasa tak ada perlunya bertemu mereka. Kalaupun <em>ketemu</em> terus mau apa? pikirnya. Setiap masa memiliki peristiwanya masing-masing, demikian ia selalu berpikir.</p>
<div style="text-align: justify"></div>
<p style="text-align: justify">"Kerja apa kamu di Jakarta?" ia melontarkan pertanyaan, sekadar berbasa-basi, yang membuatnya mual sendiri.</p>
<div style="text-align: justify"></div>
<p style="text-align: justify">Ia memang tak pernah ingin tahu apa pun tentang seseorang yang pernah dikenalnya di masa lalu. Tak pernah. Ia sering berpikir, mungkin lebih bagus hidup tanpa masa lalu. Dengan demikian tak perlu menjelaskan tentang hidupnya di masa sekarang.</p>
<div style="text-align: justify"></div>
<p style="text-align: justify">Tak perlu menjelaskan pada siapa pun bahwa ia mendapati kehidupan cintanya yang mengecewakan. Ramzi, kekasih yang dicintainya sepenuh hati berpaling pada hati yang lain. Seandainya, ya seandainya yang merebut hati Ramzi bukan Nina, adiknya sendiri, mungkin bisa ia atasi sakitnya hati.</p>
<div style="text-align: justify"></div>
<p style="text-align: justify">Ia tak perlu mengingat apalagi menjelaskan bahwa semuanya berawal dari kejadian biasa saja. Setelah lulus kuliah yang ia biayai, Nina ikut tinggal di apartemen bersamanya sementara menunggu panggilan kerja. Ramzi yang saban Sabtu malam datang ke apartemennya lama-lama jadi akrab dengan Nina. Tentulah tidak ada yang salah Ramzi akrab dengan calon adik ipar. Kadang Ramzi mengantar Nina ke mal, atau menemani Nina menemani Ramzi menghadiri acara ulang tahun rekan kantor Ramzi ketika ia sendiri tidak memungkinkan lantaran pekerjaan yang tidak bisa ditinggal. Semuanya wajar-wajar saja, tidak lucu mencemburui adik sendiri. Sampai suatu hari Nina berkata bahwa dia hamil. Dan Ramzi harus mempertanggungjawabkan perbuatannya.</p>
<div style="text-align: justify"></div>
<p style="text-align: justify">Pondok Pinang, April 2009</p>

]]></description>
		<link>http://ariskurniawan.blog.com/2009/05/31/stasiun/</link>
			</item>
	<item>
		<title>Mendadak Nikah</title>
		<description><![CDATA[<p align="justify"><span><em><strong>Majalah Anggun (Edisi April 2009, dengan judul 'Perjanjian Pranikah')</strong></em></span><br />
<br /></p>
<p class="NoSpacing" align="justify"><span>Saat yang paling ia tunggu-tunggu, pernikahan itu, akhirnya tiba: Minggu Pahing, pekan depan akad nikah bakal dilangsungkan. Ia dan lelaki itu akan duduk berjejer di hadapan penghulu, dirubung kaum kerabat. Laki-laki itu akan mengucapkan janji untuk menjaganya, mencintainya sampai akhir hayat. <span>&#160;</span>
</span></p>
<p align="justify">Setelah peristiwa itu ia tahu, ia harus bangun pagi-pagi, mandi, menyiapkan sarapan, menyeduh kopi atau teh, mengepel lantai, menyiram bunga-bunga di halaman. Ia harus menyingkirkan jauh-jauh kegemarannya bangun siang, membaca novel puluhan halaman sebelum turun dari ranjang.</p>
<p align="justify">“Kamu siap, Sayang?” ia teringat pertanyaan itu. Bunda yang melontarkannya ketika ia merajuk pada wanita itu minta dinikahkan.</p>
<p align="justify">“Siap, Bunda,” ujarnya bersemangat. Tapi ia tahu, jauh di dalam benaknya ia tak bersungguh-sungguh. Bahkan perasaan ragu datang begitu keras hampir mematahkan suaranya sendiri. Tapi…</p>
<p align="justify">“Kamu tidak boleh tak ada di rumah saat suamimu pulang seusai petang,” lanjut Bunda. Ia tak berani menatap mata Bundanya. Takut wanita itu menangkap keraguan yang mengambang di matanya yang bening. Hanya kupingnya mendengar lanjutan ucapan Bunda.</p>
<p align="justify">“Kamu harus berani menolak ajakan kawan-kawanmu jalan-jalan ke mall, nongkrong di kafe. Kamu harus siap jika suamimu memintamu sepanjang hari hanya di rumah. Kamu harus siap menyimpan novel-novel dan film-film favoritmu jika suamimu menginginkanmu.” kata Bunda seperti sedang menatar murid baru.</p>
<p align="justify">Ia terhenyak. Ia menatap novel-novel dan film-film kegemarannya bertumpuk di sisi ranjang. Ia takut laki-laki itu tak menyukai kegemarannya pada novel, mengoleksi film. Mencegah ia memburu novel klasik di lapak-lapak buku bekas.</p>
<p align="justify">“Jangan kawatir, kamu bisa tetap membaca novel dan memutar film ketika suami di kantor sehingga kamu tidak perlu merasa kesepian. Bunda yakin kamu bisa. Pernikahan bukan penjara seperti kawan-kawanmu bilang,”</p>
<p align="justify">Ia menghela napas, memandang bayangan dirinya di cermin. Ia menemukan sebentuk wajah ranum nan molek dengan bentuk hidung, bibir dan mata yang serba mungil. Kecantikan<span>&#160;</span> meneduhkan yang disebut banyak orang mirip dengan Annisa, tokoh yang ia lihat dalam film <em>Perempuan Berkalung Sorban</em>. Ia membayangkan wajah itu bakal dibelai bukan oleh tangan lembut Bundanya, bibir tirus itu bakal disentuh bukan oleh tangannya. Ia lalu menatap dadanya. Dada itu, dada yang belum lama membentuk bulatan gunung mungil, bakal bukan lagi menjadi miliknya semata. Tiba-tiba ia merinding betapa akan ada sepasang tangan merengkuh dada itu. Ia terus berjalan ke jendela. Seraya mengamati jalanan di seberang halaman rumahnya ia mulai mengingat-ingat bagaimana mulanya ia terdorong minta menikah.</p>
<p align="justify">Mula-mula ia terkejut sendiri mendapati keinginan menikah begitu kuat memenuhi benaknya. Seakan tak mempedulikan bahwa pernikahan membawa konsekuensi yang belum tentu siap ia tanggung: meninggalkan bangku kuliah, melupakan cita-citanya. Sementara ia baru memasuki tahun kedua duduk di bangku kuliah. Ah, semuanya gara-gara dosen muda itu yang begitu menarik perhatiannya. Tak pernah ia merasa begitu terganggu memikirkan laki-laki sebelumnya. Dosen muda yang belum lama mengajar di fakultasnya. Dosen muda yang ketampanan sikap-sikapnya mengingatkan ia pada Fahri dalam film <em>Ayat Ayat Cinta</em>.</p>
<p align="justify">Siang itu, setelah berpekan-pekan mengamati dan memikirkannya, dosen muda itu menghampirinya ketika dia tengah iseng membaca di perpustakaan.</p>
<p align="justify">“Baca buku apa?”</p>
<p align="justify">Ia tergeragap. Matanya menubruk tatapan sayu dosen muda. Selebihnya adalah kesibukan meredakan gugup yang sulit dikendalikan. Itulah pertemuan pertama yang mencemaskan sekaligus membahagiakan. Menyusul pertemuan-pertemuan berikutnya yang sepenuhnya membahagiakan. Kadang di kantin kampus, lebih sering di toko buku.</p>
<p align="justify">Puncaknya suatu siang, ia mendapati air muka dosen muda itu tiba-tiba berubah muram. Sekian menit lamanya ia menduga-duga apa gerangan yang terjadi dengan dosen muda pujaannya ini. Lantas ia sibuk mengingat-ingat ulah dan perkataanya yang barangkali salah dan menjadi penyebab si dosen tersinggung lantas murung. Belum sempat ia mengurai ingatannya ketika lorong pendengarannya bagai dipalu genderang.</p>
<p align="justify">“Orang tuaku menjodohkan aku,” <span>&#160;</span></p>
<p align="justify">Ia mendapati kerongkongannya kering, tercekat. Mukanya memerah dan air matanya tanpa dapat dicegah luruh.</p>
<p align="justify">“Padahal aku belum ingin menikah. Aku masih menikmati masa lajang ini. Tapi mereka memintaku harus segera menikah. Orang tuaku ingin segera menimang cucu dari putra bungsunya. Mereka memang sudah lanjut, kawatir tak sempat melihat aku menikah. Jadi mereka mencarikan jodoh buatku. Karena mengira aku tak punya kekasih…”</p>
<p align="justify">Ia makin tercekat. Susah sekali mengeluarkan suara, kecuali air mata. Tubuhnya bagai mengambang oleh ledakan kekecewaan.</p>
<p align="justify">“Kukatakan pada mereka bahwa aku sudah punya kekasih, kamu, dan aku hanya mau menikah denganmu, Nuri.”</p>
<p align="justify">Kalimat ini membuat gemuruh kesedihannya menyurut, perlahan-lahan berubah jadi bahagia dan tersanjung. Perasaannya teduh.</p>
<p align="justify">“Kamu mau menikah denganku?”</p>
<p align="justify">“Mau,” ucapnya tanpa dapat dikendalikan. Bagai di bawah sadar.</p>
<p align="justify">“Secepatnya?”</p>
<p align="justify">“Ya,”</p>
<p align="justify">Bunda, seperti sudah diduga, kaget bukan kepalang manakala ia membicarakan pernikahan seperti membincangkan masalah jatah uang saku harian. Terbata-bata ia menjelaskan tentang dosen muda itu, tentang hubungan cinta mereka, tentang cintanya yang begitu besar, tentang masalah yang dihadapi dosen muda itu.</p>
<p align="justify">“Nuri Sayang, pernikahan itu bukan main-main. Ada konsekuensi yang harus kamu tanggung. Bunda tak akan mengizinkan kamu menikah jika alasannya semata ingin menyelamatkan laki-laki itu dari desakan orang tuanya,”</p>
<p align="justify">“Tidak, Bunda. Nuri juga sangat mencintainya,”</p>
<p align="justify">“Tapi tidak secepat ini, Sayang,”</p>
<p align="justify">Bunda kemudian memintanya merenung, memikirkan ulang tentang keinginannya menikah paling tidak sebulan. Wanita itu ragu ia hanya menuruti emosi. Sementara dosen muda itu memintanya kurang dari sebulan untuk memberi kepastian. Ia sungguh kalang kabut. Ia sangat takut lelaki itu tak sabar dan kalah oleh desakan orang tuanya; menikah dengan gadis yang disodorkan orang tuanya.</p>
<p align="justify">“Kalau dia sungguh mencintaimu tentu dia bersabar menunggu sampai kamu lulus dan mencapai cita-citamu,” kata Bunda. Lantas ia mengulang kalimat tersebut pada dosen muda itu.</p>
<p align="justify">“Kamu ragu, Nuri? Aku sangat mencintaimu sekaligus orang tuaku. Dalam hal ini kuakui aku lemah,”</p>
<p align="justify">**</p>
<p align="justify">Pernikahan yang sudah ditetapkan itu hampir ia batalkan. Keraguannya mengeras manakala Bunda kembali menjelaskan konsekuensi-konsekuensi yang harus ia tanggung. Ia sedih mengapa Bunda seperti sengaja menakut-nakuti. Mengapa ia tak bisa meyakinkan Bundanya bahwa ia akan berusaha keras menerima konsekuensi-konsekuensi itu dengan baik. Tetapi memang, jauh di lubuk hatinya keraguan itu memang masih ada. Ragu bahwa ia bisa meninggalkan kebiasaannya menggantungkan banyak hal kepada Bunda. Ditambah lagi saat ia mendengar kabar kawan dekatnya, Hashya, yang menikah muda, belum lama ini cerai gara-gara tak tahan merasa dikekang suami.</p>
<p align="justify">“Bunda tak bermaksud menakut-nakuti, Sayang. Tapi coba kamu pikirkan, kuliahmu bakal terganggu. Upayamu meriah cita-cita bakal terpenggal di tengah jalan.” ucap Bunda lembut, namun membuat ia ragu lagi.</p>
<p align="justify">Ia datang lagi pada kekasihnya dan mengatakan ulang kekawatiran sang Bunda.</p>
<p align="justify">“Aku tak akan melarangmu tetap kuliah dan mencapai cita-citamu. Kamu bisa langsung menggugat cerai jika aku mengekang dan membatasimu menempuh pendidikan setinggi-tinggi, Nuri,” kata laki-laki itu. Tapi ia tidak juga puas. Berdasar pengetahuan dari majalah wanita dan sejumlah buku tentang pernikahan yang ia baca, ia meminta laki-laki itu membuat kesepakatan tertulis. Kekasihnya sempat terkejut namun akhirnya bersedia membuat kesepakatan. Menghabiskan waktu beberapa hari kesepakatan itu akhirnya selesai mereka buat. Inilah isi kesepakatan itu:</p>
<p align="justify"><em><span>(1)<span>&#160;&#160;</span></span></em> <em>Kedua belah pihak tidak boleh melarang pihak lain melanjutkan pendidikan demi cita-cita.</em></p>
<p align="justify"><em><span>(2)<span>&#160;&#160;</span></span></em> <em>Kedua belah pihak tidak boleh membatasi kegiatan masing-masing sejauh kegemaran tersebut tidak mengganggu komitmen pernikahan.</em></p>
<p align="justify"><em><span>(3)<span>&#160;&#160;</span></span></em> <em>Kedua belah pihak tidak boleh memaksakan kehendak pada pihak lain.</em></p>
<p align="justify"><em><span>(4)<span>&#160;&#160;</span></span></em> <em>Kedua belah pihak melakukan sesuatu atas dasar persetujuan bersama.</em></p>
<p align="justify"><em><span>(5)<span>&#160;&#160;</span></span></em> <em>Kedua belah dalam memutuskan sesuatu berdasarkan musyawarah yang disepakati kedua belah pihak.<span>&#160;</span></em></p>
<p align="justify"><em><span>(6)<span>&#160;&#160;</span></span></em> <em>Kedua belah Saling menghargai dan mengedepankan kepentingan bersama.</em></p>
<p align="justify"><em><span>(7)<span>&#160;&#160;</span></span></em> <em>Kedua belah tidak boleh saling menyakiti</em></p>
<p align="justify"><em>Jika salah satu pihak melanggar kesepakatan maka pihak yang merasa dirugikan boleh mengugat cerai.</em></p>
<p align="justify">“Kita tanda tangani kesepakatan ini?”</p>
<p align="justify">“Ya!”</p>
<p align="justify">Pondok Pinang <span>&#160;</span>musim hujan, Januari 2009.</p>

]]></description>
		<link>http://ariskurniawan.blog.com/2009/04/13/mendadak-nikah/</link>
			</item>
	<item>
		<title>Lelaki Berjenggot Panjang</title>
		<description><![CDATA[<p align="justify"><span><em><strong>Majalah Majemuk (Edisi Maret 2009)<br />
<br /></strong></em></span></p>
<p align="justify"><span><span>Seorang lelaki dengan jenggot panjang dan baju longgar dan panjang melambai-lambai melangkah pelan-pelan memasuki sebuah plasa. Rambutnya bersembunyi di balik peci bulat putih yang dikenakan kepalanya. Peci yang memperlihatkan bentuk kepalanya. Waktu itu sore hari. Matahari merah cahayanya leluasa menerobos ruangan plasa yang hampir seluruh dindingnya terbuat dari kaca. Suasana sangat ramai karena hari itu adalah akhir pekan. Orang-orang berbondong menyerbu konter-konter pelbagai macam penjualan barang, pusat-pusat makanan dan tetek bengek benda hiburan seperti laron menghampiri nyala lampu.&#160;</span></span></p>
<p align="justify"><span>Mereka tidak memperhatikan laki-laki berjenggot panjang itu yang bajunya longgar dan melambai-lambai. Lagi pula apa yang menarik dari penampilan laki-laki itu? Mereka datang ke plasa memang bukan cuma untuk menghabis-habiskan uang, tetapi memperhatikan laki-laki berjanggut panjang itu rasanya juga terlalu berlebihan. Lebih berguna melihat perempuan-perempuan molek atau pria-pria berdandan rapi dan tampan, bukan? &#160;</span></p>
<p align="justify"><span>Dengan langkah tetap tenang dan sorot mata yang tajam laki-laki berjenggot panjang itu membelah keramaian plasa. Sorot matanya yang tajam berkali-kali menubruk perempuan-perempuan molek yang berdandan begitu seksi membiarkan separuh dada dan lehernya yang mulus dan jenjang dinikmati siapa pun yang memandang. Tetapi laki-laki berjenggot itu segera memalingkan matanya dari sana, ia tundukkan wajahnya sehingga kadang-kadang membuatnya menabrak-nabrak. Haram, haram, batinnya.&#160;</span></p>
<p align="justify"><span>Di luar gelap telah merambat, semburat merah di langit telah benar-benar lenyap berganti cahaya lampu ratusan ribu watt yang menerangi kota. Makin malam plasa makin ramai. Mobil-mobil terus ngantri untuk diparkirkan. Anak-anak berlarian sambil menjerit girang ke tempat-tempat permainan yang disediakan plasa itu. Suara mereka bagai cericit kawanan anak tikus. Sementara orang-orang tua mereka sambil menunggu duduk dikursi rileksasi untuk dipijat refleksi setelah capek keliling berbelanja.&#160;</span></p>
<p align="justify"><span>Alunan musik timpa menimpa. Kursi-kursi kafe penuh oleh orang-orang yang duduk menikmati bermacam santapan sambil berbincang-bincang. Ada juga yang sembari membuka laptop, mengetik, ngobrol dan tertawa-tawa. Laki-laki berjenggot terus melangkah melewati mereka semua tanpa ada yang sungguh-sungguh memperhatikan. Ia menyelinap ke toilet. Di dalam toilet sejenak ia menatap wajahnya di cermin. Wajah yang tampan dan hampir tertutup oleh cambang dan bulu-bulu halus lainnya yang tumbuh di wajahnya. Dia heran, begitu cepat bulu-bulu itu tumbuh. Baru kemarin dia mencukur bersih bulu-bulu itu kecuali bulu jenggotnya yang sengaja dibiarkan panjang. Dulu, Rita, kekasihnya tidak suka melihatnya memelihara bulu-bulu kasar di wajahnya memanjang seperti itu.&#160;</span></p>
<p align="justify"><span>Rita kini entah di mana. Perempuan itu telah mengkhianati laki-laki berjenggot setelah keduanya pacaran bertahun-tahun dan hampir saja menikah. Rita meninggalkan laki-laki itu ketika mereka duduk menikmati menikmati setangkup roti lezat yang langsung meleleh di lidah. Laki-laki berjenggot menghirup kopi dengan lezat, lantas meletakkannya di meja, waktu Rita tiba-tiba beranjak.&#160;</span></p>
<p align="justify"><span>“Aku ke toilet sebentar, Mas.” kata perempuan itu. &#160;</span></p>
<p align="justify"><span>Lelaki itu (waktu itu dia tidak memelihara jenggotnya) tentu saja mengijinkan pacarnya pergi sendiri ke toilet. Dia tidak menyangka itulah kali terakhir melihat pacarnya. Lima menit berlalu dia masih tenang-tenang saja menikmati kopi dan roti yang sering jadi pembicaraan dan sangat digemari teman-temannya itu. Lima menit bukan waktu yang lama untuk pergi ke toilet apalagi buat perempuan yang suka berdandan pula. Dia menghirup kopi perlahan-lahan, menikmati setiap sensasi rasa di ujung lidahnya. Ketika sepuluh menit berlalu dan pacarnya belum juga kembali dia pun masih bisa maklum. Tidak seperti laki-laki yang cukup berdiri dan membuka sedikit resleting celananya untuk buang air, perempuan harus membuka dan melorotkan seluruh celananya, jongkok, sehinggga membutuhkan waktu lebih lama ketimbang laki-laki.&#160;</span></p>
<p align="justify"><span>Memasuki menit ke lima belas laki-laki itu mulai gelisah. Meski demikian dia masih mencoba menghibur diri, mungkin toilet sedang penuh sehingga pacarnya harus mengantri. Tetapi ketika sudah hampir setengah jam pacarnya belum juga kembali dia tidak bisa lagi tenang-tenang duduk menikmati secangkir kopi dan beberapa tangkup roti yang baru dimakan separuh tergeletak di meja. Maka dia pun bangkit dan menuju toilet. Tanpa ragu-ragu dia masuk toilet yang di pintunya terdapat tulisan lady untuk mencari pacarnya. Siapa tahu pacarnya terkunci di dalam dan tidak bisa keluar. Namun ketika seluruh pintu toilet dibuka dan periksa, tapi pacarnya tidak ada dia benar-benar panik. Keringat dingin mendadak bercucuran. &#160;</span></p>
<p align="justify"><span>Dia benar-benar lemas setelah dibantu satpam--yang juga telah mengumumkan berita kehilangan melalui pengeras suara-- menyusuri seluruh sudut plasa mencari pacarnya namun tidak juga temukan sampai menjelang tengah malam. Ratusan kali dia menghubungi ponsel pacarnya, tapi tidak ada sahutan. Semua saudara-saudara dan teman dekat pacarnya yang dihubunginya malah terheran-heran mendapat pertanyaan darinya, “Lha kamu gimana, bukannya jalan sama kamu?” kata mereka balik bertanya. &#160;</span></p>
<p align="justify"><span>Peristiwa tersebut sangat memukul jiwanya. Malam itu dia pulang dengan linglung dan tak mampu tidur selama beberapa malam. Tak ada perempuan lain baginya di muka bumi ini selain Rita. Dia begitu mencintai Rita, gadis yatim piatu yang bekerja di panti asuhan itu. Di tempat itu pula pertama kali bertemu dalam sebuah acara peringatan hari kemerdekaan. Rita naik ke pentas menyanyikan sebuah lagu kesayangannya. Suaranya tidak enak didengar tetapi syair lagu yang dibawakannya itu sungguh membuat dia tidak bisa melupakan gayanya menggenggam mikropon, caranya melempar senyum, pandangan matanya. Ketika acara usai dia menemui Rita, dan mengajaknya berkenalan.&#160;</span></p>
<p align="justify"><span>“Suaramu bagus, Rita. Kamu suka lagu perjuangan?” pujinya berbasa-basi. Pertemuan berikutnya dia langsung mengutarakan perasaannya. Beruntunglah, rupanya dia tidak sulit mendapatkan balasan serupa dari Rita. Tetapi kini semuanya sudah lewat. Di salah satu kafe di plasa ini pula dulu Rita meninggalkannya dengan cara yang tidak lazim. Tadi waktu melewati kafe itu laki-laki berjenggot sempat melemparkan pandang ke kursi yang paling pojok tempat terakhir dia dan Rita duduk bersama menikmati kopi dan setangkup roti.&#160;</span></p>
<p align="justify"><span>Kafe itu memang telah berubah. Kini tampak lebih luas dan lebar. Kursi-kursinya pun sudah diganti menjadi lebih bagus berwarna jingga dengan bentuk yang makin minimalis, unik dan nyaman. Para pelayannya pun mungkin juga sudah berganti. Namun laki-laki berjenggot tetap saja menutup separuh wajahnya dengan selembar sorban saat melewati kafe itu. Seakan takut orang akan mengenalinya dan mengingatkan lagi peristiwa menyedihkan yang meninggalkan rongga luka yang sukar pulih di dalam sanubarinya.&#160;</span></p>
<p align="justify"><span>Sampai bertahun-tahun kemudian dia tidak habis pikir bagaimana Rita bisa meninggalkannya begitu rupa. Dia yakin betul selama ini hubungannya baik-baik saja. Mereka saling mencintai. Dia hampir tak pernah mengecewakan Rita meski beberapa kali perempuan itu sempat membuatnya jengkel yang memicu pertengkaran kecil. Sangat lumrah, pikirnya. Kata orang pertengkaran kecil merupakan bumbu yang akan makin mempernikmat suatu hubungan asmara. &#160;</span></p>
<p align="justify"><span>“Aku tidak bisa hidup seperti ini,” keluhnya, putus asa. Sejak itu dia merasa menjadi laki-laki paling malang di dunia. Keseimbangan hidupnya menjadi oleng. Dia pernah memutuskan untuk bunuh diri. Benar, bahwa laki-laki pun bisa saja menjadi begitu melankolis dan sentimentil serupa itu. Apa mau dikata? Akhirnya kemudian dia hanya menyendiri, menarik diri dari pergaulan dunia luar. Suatu sifat yang pada dasarnya dia miliki sejak kecil. Dan kini makin parah.&#160;</span></p>
<p align="justify"><span>“Dunia tidak selebar daun kelor,” kata kawannya yang merasa prihatin melihat laki-laki berjenggot jadi patah semangat seperti itu, “Kamu masih muda, dan begitu banyak persoalan di dunia selain perempuan,” ujar kawannya itu, bijak. Laki-laki berjenggot ingin sekali menyuruh pergi kawan itu. Tetapi rupanya tidak mudah baginya melakukan hal tersebut. Perasaanya terlampau lembut apalagi pada seseorang yang barangkali bermaksud baik. &#160;</span></p>
<p align="justify"><span>“Kalau mau bunuh diri, lakukanlah itu untuk hal yang berguna,” lanjut kawan itu yang membuatnya cukup geli. Kawannya itu mengunjunginya paling sedikit hampir setiap pekan. Dia heran, padahal kawan itu bukan orang terdekatnya. Dalam hidupnya dia memang tidak memiliki kawan dekat. Mereka bertemu di sebuah halte saat dia pulang dari pekerjaan rutinnya sebagai karyawan di sebuah usaha percetakan. &#160;</span></p>
<p align="justify"><span>Biasanya kawan itu datang kala sore. Mengetuk pintu apartemennya perlahan-lahan di sebuah pinggiran kota yang tidak terlalu ramai. Dengan malas dia membuka pintu. Kawan itu langsung memberikan senyuman yang ramah dan penuh persahabatan. Berbasa-basi sebentar sebelum memberi wejangan-wejangan yang sumpah mati bikin dia begitu sebal. Tetapi dia seolah tidak bisa menghindar. “Dunia ini sudah penuh kemaksiatan,” kata kawan itu. Selalu itu yang dikatakan. Dia akan sekadar menyediakan teh hangat dan kue-kue ringan. Ketika dia akan menyulut rokok, kawan itu mencegahnya.&#160;</span></p>
<p align="justify"><span>“Tinggalkan kebiasaan merokok. Itu perbuatan mubazir yang disenangi setan. Gunakan uangmu hanya untuk hal yang berguna.” ujarnya. &#160;</span></p>
<p align="justify"><span>Lantas dia mendengar kawan itu menyerocoskan tentang sekelompok orang yang dibantai oleh sekelompok orang yang lain. Tentang persekongkolan-persekongkolan untuk menghancurkan kelompok lain yang disebutnya sebagai 'saudara kita'. &#160;</span></p>
<p align="justify"><span>“Mereka tidak akan puas sebelum kita tunduk pada kemauan mereka,” ujarnya mengutip bunyi sebuah ayat dengan bersemangat. Dia melihat ada kobaran api kebencian di mata kawan itu yang hendak dihembus-tanamkan ke benaknya. Sampai berbulan-bulan mendapat wejangan seperti itu perasaannya tetap hambar, bahkan makin lengang. Dia selalu terkenang Rita. Di benaknya masih ada pijar harapan bertemu lagi dengan Rita. Masih selalu berpikir di mana Rita kini. Dia berjanji untuk memaafkan Rita jika perempuan itu kembali. &#160;</span></p>
<p align="justify"><span>“Buat apa mengharapkan lagi perempuan,” kata si kawan.&#160; “sudah saatnya kamu berjuang demi tegaknya ajaran Tuhan,”</span></p>
<p align="justify"><span>Dalam kehampaan, dia telah kehilangan pegangan. Maka dengan perasaan yang kosong pula suatu hari dia mendapati dirinya telah menyepakati untuk melakukan tugas yang akan dilakukannya hari ini.&#160;</span></p>
<p align="justify"><span>***</span></p>
<p align="justify"><span>Laki-laki berjenggot itu kini masuk ke toilet. Dia memeriksa lagi bom yang melilit di tubuhnya. Ia meraba dan meyakinkan semuanya sesuai rencana. Maka dia keluar dari toilet, berjalan perlahan, dan lenyap di antara keramaian lantai plasa itu. Perasaannya yang hambar kini sedikit berdebar. Gemetar jarinya meraba tombol bom yang melekat di sekujur tubuhnya. Dan menekannya …..</span></p>
<p align="justify"><span>2006-2008</span></p>

]]></description>
		<link>http://ariskurniawan.blog.com/2009/04/13/lelaki-berjenggot-panjang/</link>
			</item>
	<item>
		<title>Ada Hantu di Mata Ayah</title>
		<description><![CDATA[<span><strong>(</strong><span><strong>Tribun Jabar, 15 Maret)<br />
<br /></strong></span></span>
<p class="MsoNoSpacing"></p>
<p class="MsoNoSpacing"></p>
<p align="justify"><span><font color="#000000">Ayah pulang telat lagi malam ini. Wajahnya pasti tampak pucat dan letih sekali. Ayah berdiri mematung di depan pintu seperti ragu-ragu mengetuk atau menekan bel. Aku sedang berbaring telentang di ruang tengah nonton televisi. Pura-pura tidak tahu. Kulihat bayangannya yang gugup memanjang menyentuh kursi. Aku bertahan tak menghiraukannya, pura-pura sibuk memindah-mindah chanel melalui remote control. Baju ayah pasti basah oleh keringat berdesakan di bus tadi. Kakinya tentu pegal-pegal karena tidak mendapat tempat duduk dan terpaksa harus berdiri lama sepanjang perjalanan karena macet. Biarlah dia berdiri di luar sampai pagi. Aku tidak mau lagi mendengar rayuannya supaya aku mau menerima tante Maira sebagai pengganti Bunda.</font></span></p>
<p align="justify"></p>
<p class="MsoBodyText" align="justify"><span><font color="#000000">Aku benci tante Maira, dan aku ingin menunjukkan kebencianku pada setiap orang. Supaya mereka tahu aku tidak butuh seorang pun untuk menggantikan bunda. Walaupun dia sering membawakan es<span>&#160;</span> krim, ayam goreng, majalah dan kaset lagu kesukaanku. Kata Roy, tante Maira jahat. Dia suka memukul Roy dan teman-teman di kelas cuma gara-gara mereka tidak mengerjakan PR. “Coba kamu lihat matanya.<span>&#160;</span> Mata perempuan perayu. Tempat bersarangnya hantu.”<span>&#160;</span></font></span></p>
<p class="MsoBodyText" align="justify"><font color="#000000">Barangkali ayah memang sudah kena rayu hantu yang bersarang di mata perempuan itu. Itulah sebabnya ayah selalu telat pulang, membiarkan aku sendirian dan lupa membelikan aku buku cerita. Itulah salah satu saja alasan kenapa aku yakin ada hantu yang menghuni mata tante Maira.<span>&#160;&#160;</span></font></p>
<p class="MsoBodyText" align="justify"><font color="#000000">“Kalau kamu tidak mau ditinggal sendirian, biarkan tante Maira menjadi istri ayah.” kata ayah merayuku. Aku melempar buku, lalu membanting pintu masuk kamar merutuki tante Maira supaya dipecat dari pekerjaannya dan pergi sejauh-jauhnya, atau kalau perlu<span>&#160;</span> lekas mati sehingga tak ada lagi yang merayu ayah. Aku menutup kedua telingaku dengan bantal supaya tak mendengar suara ayah yang terus merayu dari balik pintu. Aku diam saja dan tak mau keluar sampai pagi. Aku benci dirayu serupa itu. Walaupun ayah merayuku sampai pagi, aku tidak mau punya bunda tante Maira. Suara ayah yang terdengar lembut dan menghiba menerobos bantal dan masuk telingaku.</font></p>
<p class="MsoBodyText" align="justify"><font color="#000000">Aku tak peduli. Dan baru mau keluar karena harus salat subuh. Itupun kulakukan dengan menggerutu dan tetap membisu. Kucium tangan ayah tanpa kata-kata. Aku tak berani menatap wajah ayah yang bening dan bermata sayu menenteramkan. Aku takut wajah bening itu merayuku lagi sehingga aku harus membencinya.<span>&#160;</span> Kubayangkan mata sayu itu digerayangi hantu dari mata tante Maira sehingga tidak teduh lagi. Aku takut dan sering gelisah. Sehingga aku kadang merasa malas harus pulang ke rumah dan bertatapan dengan mata sayu ayah. Benakku ditumbuhi rasa benci sekaligus salah. Perasaan ini menderas melanda dan menggerogoti kenyamanan perasaanku.<span>&#160;</span></font></p>
<p class="MsoBodyText" align="justify"><font color="#000000">Kegelisahan<span>&#160;</span> yang kurasakan makin menjadi-jadi sejak entah kenapa nenek yang biasanya selalu menjadi benteng pertahananku belakangan tiba-tiba ikut membujukku. Pasti nenek sudah<span>&#160;</span> <span>&#160;</span>kena pengaruh hantu dari mata tante Maira.<span>&#160;</span> “Alma, Ayah memerlukan tante Maira untuk mengurus<span>&#160;</span> rumah. Membuatkan teh dan menyetrika baju ayah. Kau tahu nenek sudah tua, tidak bisa bolak-balik tiap hari.” <span>&#160;&#160;&#160;&#160;&#160;&#160;&#160;</span></font></p>
<p class="MsoBodyText" align="justify"><font color="#000000">Aku bagai dikepung oleh mata Tante Maira yang mengerikan bagai mata elang yang siap mencaplok mata mungilku. Tapi aku tidak boleh takut. Kata Roy, aku harus melawannya. Roy benar, aku harus menentang matanya. Kalau perlu meludahinya.</font></p>
<p class="MsoBodyText" align="justify"><font color="#000000">“Ya, kau ludahi saja mata tante Maira yang mengandung hantu itu, bundamu pasti setuju.”</font></p>
<p class="MsoBodyText" align="justify"><font color="#000000">Betulkah bunda setuju?</font></p>
<p class="MsoBodyText" align="justify"><font color="#000000">“Tante Maira ‘kan yang membuat ayah meninggalkan bunda?”</font></p>
<p class="MsoBodyText" align="justify"><font color="#000000">Nenek bilang bundalah yang meninggalkan ayah.<span>&#160;</span> Aku tidak tahu bunda tinggal di mana dan kenapa ayah tidak mencarinya. Aku tak dapat mengenang wajah bunda kecuali sayup-sayup. <span>&#160;</span>Wajah yang mirip tante Kesya, mama Roy. Katanya mereka memang bersaudara. Pantas tante Kesya baik padaku; sering mengajakku berenang di pantai, jalan-jalan ke kebun binatang dan makan bakso di mall. Tapi aku tahu ayah tidak selalu senang tante Kesya mengajakku pergi, entah kenapa. Aku tidak pernah melihat mereka ngobrol seperti ayah ngobrol dengan tante Maira.<span>&#160;</span> Pernah kulihat ayah menampar tante Kesya. Jangan mau lagi pergi dengan tante Kesya, kata Ayah. Tapi aku tak menurutinya. Aku diam-diam tetap sering pergi bersama tante Kesya. Apalagi sejak ayah sering pulang telat dan membawa tante Maira ke rumah. Kadang tante Kesya yang menjemputku dari sekolah, lebih sering aku yang datang ke rumahnya bersama Roy. Tante Kesya tidak pernah bercerita tentang bunda. Aku sendiri tidak mempedulikan. Waktuku habis untuk buku-buku cerita. Aku bisa memiliki bunda atau apa saja sesuai keinginanku.</font></p>
<p class="MsoBodyText" align="justify"><font color="#000000">Nenek tak pernah bercerita ada apa pada hari yang mendung itu. Aku merasakan seperti ada kejadian besar yang ditutup-tutupi. Banyak orang berkerumun di depan rumahku. Mang Darman membopong dan menurunkan aku dari becaknya. <span>&#160;</span>Aku ingat itu adalah hari terakhir aku sekolah karena Seninnya liburan selama seminggu setelah ulangan caturwulan. Tak ada yang menyambutku di<span>&#160;</span> depan pintu. Orang-orang memandangku dengan ekspresi tak kumengerti. Aku langsung menghambur masuk rumah. Tapi ada seseorang yang menarik tanganku dan menghalangiku masuk. Orang itu membawaku ke nenek. Kudapati wajah Nenek merah padam, dan bunda diarak orang-orang itu entah ke mana bersama seorang lelaki yang bukan ayah. Nenek tak memperkenankan aku bertemu bunda.<span>&#160;</span> Ayah tentu saja di tempat kerja. Nenek memeluk dan membawaku ke rumahnya yang berjarak sepuluh menit dari rumahku. Aku menangis tapi kemudian kakek mengajakku belanja ke mal dan aku tertawa-tawa naik komidi putar.<span>&#160;</span> Tetapi itulah kukira, hari yang penting dalam hidupku, karena sejak itu aku sulit bertemu bunda.</font></p>
<p class="MsoBodyText" align="justify"><font color="#000000">Waktu awal-awal mendapati keadaan ini kadang aku menangis, dan bertanya ke mana bunda. Nenek berkata bunda sedang pergi ke rumah Omah. “Besok bunda pulang. Alma bersama nenek di sini.” Tapi sampai bertahun-tahun bunda tak pernah datang lagi. Dan aku kemudian<span>&#160;</span> bisa melupakannya. Aku tidak bersedih hidup tanpa bunda, tapi tidak pula bahagia. Aku tidak tahu, aku tidak pernah berfikir harus bahagia atau bersedih. Teman-temanku yang selalu dijemput ibu mereka saat pulang sekolah tidak membuatku melamun memikirkan bunda. Aku merasa hidupku baik-baik saja. Tak ada yang pantas disesali. Aku sibuk bermain dan mengaji, itu membuatku menikmati hari-hariku. Kesedihan hidup tanpa bunda seperti yang sering didramatisir orang-orang tak mempan buatku.</font></p>
<p class="MsoBodyText" align="justify"><font color="#000000">Kesedihan itu justru muncul sejak kehadiran tante Maira. Dia seperti tukang sihir yang mengubah pandanganku tentang bunda.<span>&#160;</span></font></p>
<p class="MsoBodyText" align="justify"><font color="#000000">Pagi itu tante Maira datang lagi. Kepalanya yang selalu tertutup kerudung lebar melambai-lambai muncul dari pintu pagar. Kudengar langkahnya pelan menginjak kerikil. Aku bangkit dan menghadangnya di depan pintu. Seperti biasa di tangannya ada kantung plastik putih. Ia meletakannya di meja lalu menghambur hendak memelukku. “Alma,<span>&#160;</span> sendirian? Lihat, tante bawakan es krim kesukaanmu.”</font></p>
<p class="MsoBodyText" align="justify"><font color="#000000">Kutatap matanya penuh kebencian. Aku ingin menantang hantu yang bersarang di sana. Biar tak ada lagi yang membujuk ayah,<span>&#160;</span> biar ayah tak lagi pulang telat, biar ayah tidak pernah lagi bertanya, kenapa kamu benci tante Maira, Alma? Aku menunggu hantu itu muncul dari mata tante Maira. Akan aku tantang berkelahi.</font></p>
<p class="MsoBodyText" align="justify"><font color="#000000">“Alma, kenapa? Nenek tidak kemari ya, ayahmu mungkin telat lagi. Tapi tidak usah kesal. Biar tante temani kamu sampai ayah pulang. Mandilah dulu Alma. Kamu harus pergi mengaji, bukan? Nanti Tante antar ya.”</font></p>
<p class="MsoBodyText" align="justify"><font color="#000000">Tante Maira mengangsurkan handuk. Aku mencampakkannya.</font></p>
<p class="MsoBodyText" align="justify"><font color="#000000">“Alma, mandilah,” Tante Maira memungut handuk dan menyampirkannya di bahuku. Dari balik jendela kulihat Kiki, Aisyah, Mita berlarian dengan juz ama di pelukan mereka. Lalu tampak tante Kesya menyeret Roy yang meronta-ronta. Aku tahu Roy enggan mengaji. Dia lebih suka main di rumah koh Supono yang menyewakan <em>play station.
</em></font></p>
<p class="MsoBodyText" align="justify"><font color="#000000">“Mandilah, Alma.” Suara tante Maira terdengar lagi.</font></p>
<p class="MsoBodyText" align="justify"><font color="#000000">Aku tak menghiraukannya. Tapi kulihat tante Maira tak mempedulikan sikapku; dia terus merapikan handuk dan baju-bajuku. Kata Roy aku harus terus menatap matanya. Tapi sampai aku lelah sendiri hantu itu tidak juga nampak. Hantu itu tak muncul-muncul dari Mata tante Maira yang bening dan teduh.<span>&#160;&#160;</span> Pantas hantu kerasan tinggal di sana, pikirku. Tetapi hantu itu tak pernah kulihat. Barangkali dia sudah meninggalkan tante Maira.</font></p>
<p class="MsoBodyText" align="justify"><font color="#000000">“Tidak mungkin. Hantu itu tidak akan pernah meninggalkan mata tante Maira,” kata Roy dan tante Kesya, “kamu harus meludahinya, Alma. Kasihan nanti ayah kena pengaruhnya bisa berbahaya.” timpal tante Kesya.</font></p>
<p class="MsoBodyText" align="justify"><font color="#000000">Malam hari aku suka membayangkan hantu itu keluar dari mata Tante Maira dalam wujudnya yang paling mengerikan. Aku sudah menyiapkan pedang yang kugantung sebagai pajangan di dinding. Apakah ini berlebihan? Kurasa tidak. Walau aku remaja, tapi buku-buku cerita yang kubaca lebih banyak dari teman-teman seusiaku.</font></p>
<p class="MsoBodyText" align="justify"><font color="#000000"><span>&#160;&#160;&#160;&#160;&#160;&#160;&#160;&#160;&#160;&#160;&#160;&#160;&#160;&#160;&#160;&#160;&#160;&#160;&#160;</span> <span>&#160;&#160;&#160;&#160;&#160;&#160;&#160;&#160;&#160;&#160;&#160;&#160;&#160;&#160;&#160;&#160;&#160;&#160;&#160;&#160;&#160;&#160;&#160;&#160;&#160;&#160;&#160;&#160;&#160;&#160;&#160;&#160;&#160;&#160;&#160;&#160;&#160;&#160;&#160;&#160;&#160;&#160;&#160;&#160;&#160;&#160;&#160;&#160;&#160;&#160;&#160;&#160;&#160;&#160;&#160;</span>***</font></p>
<p class="MsoBodyText" align="justify"><font color="#000000">“Apa yang kamu baca, Alma” tanya bunda. “lekaslah tidur, ayahmu tak pulang malam ini.”</font></p>
<p class="MsoBodyText" align="justify"><font color="#000000">Kudengar Bunda mendengus kesal, matanya bunda sembab. Aku tahu mereka bertengkar semalam. Itulah sebabnya, kenapa aku lebih suka menghabiskan waktuku dengan membaca buku cerita. Aku tak mau terseret dalam pertengkaran mereka. Kata nenek pertengkaran adalah bumbu dalam kehidupan rumah tangga. Aku tak perlu sedih. Toh aku bisa membuat cerita tentang mereka menjadi lain sama sekali. Seperti yang barusan kutulis di atas; agak ngawur, mengada-ada dan terkesan kurang waras. Untuk yang satu ini bunda selalu memujiku, “Pintar sekali kamu ngarang!” Tentu saja yang dimaksud pintar ngarang adalah pintar ngelantur! Tapi meyakinkan, bukan?*<span>&#160;</span></font></p>
<p class="MsoBodyText" align="justify"><font color="#000000">Desember 2008 <span>&#160;</span></font></p>

]]></description>
		<link>http://ariskurniawan.blog.com/2009/03/27/ada-hantu-di-mata-ayah/</link>
			</item>
</channel>
</rss>
