$theTitle=wp_title(" - ", false); if($theTitle != "") { ?>
temukan keasyikan membaca prosa di sini
(Jurnal Nasional, 26 Juli 2009)
Dia duduk di sana, di pojok ruangan remang. Kamu tak dapat melihat wajahnya dengan jelas. Hanya kilau bibirnya yang basah dan gelombang rambutnya tergerai menghalangi separuh wajahnya. Gerakannya menghisap rokok tampak canggung dan gugup. Tampaknya hanya upaya untuk meredakan kegelisahannya. Tampak kontras dengan lukisan sepasang kekasih sedang bercinta yang menggantung di [...]
Majalah Majemuk (Edisi Maret 2009)
Seorang lelaki dengan jenggot panjang dan baju longgar dan panjang melambai-lambai melangkah pelan-pelan memasuki sebuah plasa. Rambutnya bersembunyi di balik peci bulat putih yang dikenakan kepalanya. Peci yang memperlihatkan bentuk kepalanya. Waktu itu sore hari. Matahari merah cahayanya leluasa menerobos ruangan plasa yang hampir seluruh dindingnya terbuat dari kaca. Suasana sangat ramai karena hari itu adalah akhir pekan. Orang-orang berbondong menyerbu konter-konter pelbagai macam penjualan barang, pusat-pusat makanan dan tetek bengek benda hiburan seperti laron menghampiri nyala lampu.
Mereka tidak memperhatikan laki-laki berjenggot panjang itu yang bajunya longgar dan melambai-lambai. Lagi pula apa yang menarik dari penampilan laki-laki itu? Mereka datang ke plasa memang bukan cuma untuk menghabis-habiskan uang, tetapi memperhatikan laki-laki berjanggut panjang itu rasanya juga terlalu berlebihan. Lebih berguna melihat perempuan-perempuan molek atau pria-pria berdandan rapi dan tampan, bukan?
Dengan langkah tetap tenang dan sorot mata yang tajam laki-laki berjenggot panjang itu membelah keramaian plasa. Sorot matanya yang tajam berkali-kali menubruk perempuan-perempuan molek yang berdandan begitu seksi membiarkan separuh dada dan lehernya yang mulus dan jenjang dinikmati siapa pun yang memandang. Tetapi laki-laki berjenggot itu segera memalingkan matanya dari sana, ia tundukkan wajahnya sehingga kadang-kadang membuatnya menabrak-nabrak. Haram, haram, batinnya.
Di luar gelap telah merambat, semburat merah di langit telah benar-benar lenyap berganti cahaya lampu ratusan ribu watt yang menerangi kota. Makin malam plasa makin ramai. Mobil-mobil terus ngantri untuk diparkirkan. Anak-anak berlarian sambil menjerit girang ke tempat-tempat permainan yang disediakan plasa itu. Suara mereka bagai cericit kawanan anak tikus. Sementara orang-orang tua mereka sambil menunggu duduk dikursi rileksasi untuk dipijat refleksi setelah capek keliling berbelanja.
Alunan musik timpa menimpa. Kursi-kursi kafe penuh oleh orang-orang yang duduk menikmati bermacam santapan sambil berbincang-bincang. Ada juga yang sembari membuka laptop, mengetik, ngobrol dan tertawa-tawa. Laki-laki berjenggot terus melangkah melewati mereka semua tanpa ada yang sungguh-sungguh memperhatikan. Ia menyelinap ke toilet. Di dalam toilet sejenak ia menatap wajahnya di cermin. Wajah yang tampan dan hampir tertutup oleh cambang dan bulu-bulu halus lainnya yang tumbuh di wajahnya. Dia heran, begitu cepat bulu-bulu itu tumbuh. Baru kemarin dia mencukur bersih bulu-bulu itu kecuali bulu jenggotnya yang sengaja dibiarkan panjang. Dulu, Rita, kekasihnya tidak suka melihatnya memelihara bulu-bulu kasar di wajahnya memanjang seperti itu.
Rita kini entah di mana. Perempuan itu telah mengkhianati laki-laki berjenggot setelah keduanya pacaran bertahun-tahun dan hampir saja menikah. Rita meninggalkan laki-laki itu ketika mereka duduk menikmati menikmati setangkup roti lezat yang langsung meleleh di lidah. Laki-laki berjenggot menghirup kopi dengan lezat, lantas meletakkannya di meja, waktu Rita tiba-tiba beranjak.
“Aku ke toilet sebentar, Mas.” kata perempuan itu.
Lelaki itu (waktu itu dia tidak memelihara jenggotnya) tentu saja mengijinkan pacarnya pergi sendiri ke toilet. Dia tidak menyangka itulah kali terakhir melihat pacarnya. Lima menit berlalu dia masih tenang-tenang saja menikmati kopi dan roti yang sering jadi pembicaraan dan sangat digemari teman-temannya itu. Lima menit bukan waktu yang lama untuk pergi ke toilet apalagi buat perempuan yang suka berdandan pula. Dia menghirup kopi perlahan-lahan, menikmati setiap sensasi rasa di ujung lidahnya. Ketika sepuluh menit berlalu dan pacarnya belum juga kembali dia pun masih bisa maklum. Tidak seperti laki-laki yang cukup berdiri dan membuka sedikit resleting celananya untuk buang air, perempuan harus membuka dan melorotkan seluruh celananya, jongkok, sehinggga membutuhkan waktu lebih lama ketimbang laki-laki.
Memasuki menit ke lima belas laki-laki itu mulai gelisah. Meski demikian dia masih mencoba menghibur diri, mungkin toilet sedang penuh sehingga pacarnya harus mengantri. Tetapi ketika sudah hampir setengah jam pacarnya belum juga kembali dia tidak bisa lagi tenang-tenang duduk menikmati secangkir kopi dan beberapa tangkup roti yang baru dimakan separuh tergeletak di meja. Maka dia pun bangkit dan menuju toilet. Tanpa ragu-ragu dia masuk toilet yang di pintunya terdapat tulisan lady untuk mencari pacarnya. Siapa tahu pacarnya terkunci di dalam dan tidak bisa keluar. Namun ketika seluruh pintu toilet dibuka dan periksa, tapi pacarnya tidak ada dia benar-benar panik. Keringat dingin mendadak bercucuran.
Dia benar-benar lemas setelah dibantu satpam–yang juga telah mengumumkan berita kehilangan melalui pengeras suara– menyusuri seluruh sudut plasa mencari pacarnya namun tidak juga temukan sampai menjelang tengah malam. Ratusan kali dia menghubungi ponsel pacarnya, tapi tidak ada sahutan. Semua saudara-saudara dan teman dekat pacarnya yang dihubunginya malah terheran-heran mendapat pertanyaan darinya, “Lha kamu gimana, bukannya jalan sama kamu?” kata mereka balik bertanya.
Peristiwa tersebut sangat memukul jiwanya. Malam itu dia pulang dengan linglung dan tak mampu tidur selama beberapa malam. Tak ada perempuan lain baginya di muka bumi ini selain Rita. Dia begitu mencintai Rita, gadis yatim piatu yang bekerja di panti asuhan itu. Di tempat itu pula pertama kali bertemu dalam sebuah acara peringatan hari kemerdekaan. Rita naik ke pentas menyanyikan sebuah lagu kesayangannya. Suaranya tidak enak didengar tetapi syair lagu yang dibawakannya itu sungguh membuat dia tidak bisa melupakan gayanya menggenggam mikropon, caranya melempar senyum, pandangan matanya. Ketika acara usai dia menemui Rita, dan mengajaknya berkenalan.
“Suaramu bagus, Rita. Kamu suka lagu perjuangan?” pujinya berbasa-basi. Pertemuan berikutnya dia langsung mengutarakan perasaannya. Beruntunglah, rupanya dia tidak sulit mendapatkan balasan serupa dari Rita. Tetapi kini semuanya sudah lewat. Di salah satu kafe di plasa ini pula dulu Rita meninggalkannya dengan cara yang tidak lazim. Tadi waktu melewati kafe itu laki-laki berjenggot sempat melemparkan pandang ke kursi yang paling pojok tempat terakhir dia dan Rita duduk bersama menikmati kopi dan setangkup roti.
Kafe itu memang telah berubah. Kini tampak lebih luas dan lebar. Kursi-kursinya pun sudah diganti menjadi lebih bagus berwarna jingga dengan bentuk yang makin minimalis, unik dan nyaman. Para pelayannya pun mungkin juga sudah berganti. Namun laki-laki berjenggot tetap saja menutup separuh wajahnya dengan selembar sorban saat melewati kafe itu. Seakan takut orang akan mengenalinya dan mengingatkan lagi peristiwa menyedihkan yang meninggalkan rongga luka yang sukar pulih di dalam sanubarinya.
Sampai bertahun-tahun kemudian dia tidak habis pikir bagaimana Rita bisa meninggalkannya begitu rupa. Dia yakin betul selama ini hubungannya baik-baik saja. Mereka saling mencintai. Dia hampir tak pernah mengecewakan Rita meski beberapa kali perempuan itu sempat membuatnya jengkel yang memicu pertengkaran kecil. Sangat lumrah, pikirnya. Kata orang pertengkaran kecil merupakan bumbu yang akan makin mempernikmat suatu hubungan asmara.
“Aku tidak bisa hidup seperti ini,” keluhnya, putus asa. Sejak itu dia merasa menjadi laki-laki paling malang di dunia. Keseimbangan hidupnya menjadi oleng. Dia pernah memutuskan untuk bunuh diri. Benar, bahwa laki-laki pun bisa saja menjadi begitu melankolis dan sentimentil serupa itu. Apa mau dikata? Akhirnya kemudian dia hanya menyendiri, menarik diri dari pergaulan dunia luar. Suatu sifat yang pada dasarnya dia miliki sejak kecil. Dan kini makin parah.
“Dunia tidak selebar daun kelor,” kata kawannya yang merasa prihatin melihat laki-laki berjenggot jadi patah semangat seperti itu, “Kamu masih muda, dan begitu banyak persoalan di dunia selain perempuan,” ujar kawannya itu, bijak. Laki-laki berjenggot ingin sekali menyuruh pergi kawan itu. Tetapi rupanya tidak mudah baginya melakukan hal tersebut. Perasaanya terlampau lembut apalagi pada seseorang yang barangkali bermaksud baik.
“Kalau mau bunuh diri, lakukanlah itu untuk hal yang berguna,” lanjut kawan itu yang membuatnya cukup geli. Kawannya itu mengunjunginya paling sedikit hampir setiap pekan. Dia heran, padahal kawan itu bukan orang terdekatnya. Dalam hidupnya dia memang tidak memiliki kawan dekat. Mereka bertemu di sebuah halte saat dia pulang dari pekerjaan rutinnya sebagai karyawan di sebuah usaha percetakan.
Biasanya kawan itu datang kala sore. Mengetuk pintu apartemennya perlahan-lahan di sebuah pinggiran kota yang tidak terlalu ramai. Dengan malas dia membuka pintu. Kawan itu langsung memberikan senyuman yang ramah dan penuh persahabatan. Berbasa-basi sebentar sebelum memberi wejangan-wejangan yang sumpah mati bikin dia begitu sebal. Tetapi dia seolah tidak bisa menghindar. “Dunia ini sudah penuh kemaksiatan,” kata kawan itu. Selalu itu yang dikatakan. Dia akan sekadar menyediakan teh hangat dan kue-kue ringan. Ketika dia akan menyulut rokok, kawan itu mencegahnya.
“Tinggalkan kebiasaan merokok. Itu perbuatan mubazir yang disenangi setan. Gunakan uangmu hanya untuk hal yang berguna.” ujarnya.
Lantas dia mendengar kawan itu menyerocoskan tentang sekelompok orang yang dibantai oleh sekelompok orang yang lain. Tentang persekongkolan-persekongkolan untuk menghancurkan kelompok lain yang disebutnya sebagai ’saudara kita’.
“Mereka tidak akan puas sebelum kita tunduk pada kemauan mereka,” ujarnya mengutip bunyi sebuah ayat dengan bersemangat. Dia melihat ada kobaran api kebencian di mata kawan itu yang hendak dihembus-tanamkan ke benaknya. Sampai berbulan-bulan mendapat wejangan seperti itu perasaannya tetap hambar, bahkan makin lengang. Dia selalu terkenang Rita. Di benaknya masih ada pijar harapan bertemu lagi dengan Rita. Masih selalu berpikir di mana Rita kini. Dia berjanji untuk memaafkan Rita jika perempuan itu kembali.
“Buat apa mengharapkan lagi perempuan,” kata si kawan. “sudah saatnya kamu berjuang demi tegaknya ajaran Tuhan,”
Dalam kehampaan, dia telah kehilangan pegangan. Maka dengan perasaan yang kosong pula suatu hari dia mendapati dirinya telah menyepakati untuk melakukan tugas yang akan dilakukannya hari ini.
***
Laki-laki berjenggot itu kini masuk ke toilet. Dia memeriksa lagi bom yang melilit di tubuhnya. Ia meraba dan meyakinkan semuanya sesuai rencana. Maka dia keluar dari toilet, berjalan perlahan, dan lenyap di antara keramaian lantai plasa itu. Perasaannya yang hambar kini sedikit berdebar. Gemetar jarinya meraba tombol bom yang melekat di sekujur tubuhnya. Dan menekannya …..
2006-2008
(Seputar Indonesia, 15 Februari 2009)
Tukang ramal itu berjalan melintasi gang demi gang di permukiman padat. Dia melangkah tersaruk-saruk di gang yang kotor oleh debu dan sampah plastik bekas bungkus jajan anak-anak. Sepanjang gang memang ramai oleh anak-anak yang berlarian ke sana kemari sambil menjerti-jerit riuh seperti suara petasan. Beberapa kali tubuhnya terhuyung hampir jatuh terlanda anak-anak itu. Untunglah dia membawa tongkat sehingga bisa bertahan dan terus menyeret kakinya. Dia tidak mau jatuh tersungkur seperti kemarin kemarin dan menjadi bahan tertawaan anak-anak sialan itu. Sesekali disekanya peluh yang meleleh di dahinya. Sekali waktu dia mengangakat wajahnya, melihat gang di depannya yang masih panjang yang harus dilaluinya. Dia menarik napas berat. Jarak sama yang ditempuhnya kali ini terasa begitu jauh. Dia merasakan sendi-sendi tubuhnya mulai panas. Demikian juga tungkai kaki dan pinggangnya terasa nyeri.
Hari mulai redup. Kini gang yang dia lalui tidak seramai tadi. Dia berharap melihat sebuah teras atau gardu yang sepi untuk sekadar istirahat sejenak. Namun sampai tungkai kakinya gemetar, teras maupun gardu yang diharapkannya tak juga tampak. Kalaupun ada ia sudah dipenuhi oleh orang-orang yang nongkrong main catur sambil ngobrol ngalor ngidul. Dia tidak sedang ingin meramal siapapun. Dia hanya ingin istirahat sejenak, memijit betisnya tanpa ada yang mengganggu. Ah, siapa pula yang minta diramal hari ini? Sudah lama orang-orang tak lagi membutuhkan tukang ramal untuk meramal nasib mereka. Sebab masa depan mereka sudah jelas: kelam tanpa harapan.
Dia hampir sampai di ujung gang. Dari sana dia akan berbelok ke kanan. Masih ada beberapa gang lagi yang harus dia lalui. Di belokan itu dia melihat sebuah gardu yang sepi. Dia akan istirahat sebentar di sana. Menghabiskan sisa air minum dalam botol plastik yang dibawanya. Tapi tiba-tiba dia merasa ada seseorang yang membuntuti langkahnya. Seorang lelaki berbaju lusuh, bermata keruh.
“Kau membuntutiku, anak muda?”
“Apakah kau tukang ramal itu?” sahut lelaki itu balik bertanya seraya menatapnya tajam.
“Saya tidak sedang ingin meramal. Pergilah…” tukasnya.
“Tapi saya sedang butuh diramal. Tolonglah…” lelaki itu menghiba.
Dia tahu tidak semestinya menolak orang yang ingin dia ramal. Karena bukan saja menolak rejeki tapi berarti juga tidak menghargai kepercayaan yang diberikan orang padanya, pada keahliannya meramal. Bukankah ini yang carinya untuk mendapatkan upah? Pekerjaan yang tidak saja menghidupinya tapi juga membuatnya bangga, namun telah hilang bersama masa lalu yang menjauh.
“Kisanak, saat ini saya sedang letih sehabis bepergian jauh. Saya tidak bisa meramal dalam keadaan seperti ini,” ujarnya mencoba menjelaskan.
“Tolonglah, kau pasti bisa melakukannya. Ayolah sebentar saja,” lelaki yang dia taksir berusia 35 tahun itu terus menghiba. Wajahnya memelas membuat dia terenyuh.
“Nanti ramalanku meleset,”
“Tidak. Ramalanmu tidak akan pernah meleset. Banyak orang yang sudah membuktikannya. Ayolah ramal masa depanku…” pinta lelaki itu terus menghiba membuat dia merasa begitu terharu. Betapa sudah lama dia merindukan orang yang menghargai keahliannya meramal. Adakah masa lalunya akan kembali?
Maka dibawanya lelaki itu duduk di gardu yang sepi. Dimintanya telapak tangan lelaki itu. Sebelum dia konsentrasi membaca garis-garis di telapak tangan lelaki itu, dia menatap wajah kuyu dan berdebu lelaki itu. Wajah yang mengisyaratkan kemiskinan dan penderitaan berlarut-larut.
“Kenapa kamu ingin diramal anak muda? Dari mana kamu tahu saya bisa meramal dengan tepat?”
“Dari majikanku,”
“Siapa dia?”
Laki-laki itu lantas bercerita tentang majikannya. “Marwan. Dulu dia seorang pemulung yang datang dari kampung yang jauh. Dia begitu papa dan hina sehingga makan pun dari sisa-sisa orang yang dia pungut dari tong sampah. Menurutnya suatu hari dia datang padamu minta diramal tentang masa depannya. Kau bilang dia bakal jadi saudagar. Ramalanmu benar-benar terbukti. Sekarang dia menjadi saudagar rongsokan kaya raya.”
Dia manggut-manggut seraya berusaha mengingat-ingat orang yang dimaksud oleh lelaki di depannya ini, tapi tak berhasil. Terlalu banyak orang yang datang padanya minta diramal. Dan hampir semua orang yang pernah diramal olehnya membuktikan keampuhan ramalannya. Itu yang membuat namanya kondang sebagai peramal. Bukan hanya rakyat jelata yang datang minta diramal, tapi juga artis sinetron, biduan dangdut, dan kyai. Tapi yang paling banyak adalah para pejabat dan pengusaha, atau pejabat sekaligus pengusaha. Dia tidak hanya mampu meramal masa depan yang jauh. Tapi juga tapi masa yang tidak terlalu jauh. Misalnya dua atau tiga tahun di depan. Bahkan dua bulan menjelang. Banyak pejabat yang minta diramal tentang karirnya dua tahun yang akan datang. Para pengusaha minta diramal apakah bulan depan menang tender, apakah ia segera dapat istri baru. Biduan dangdut dan pemain sinetron minta diramal apakah albumnya bakal meledak dan kontraknya akan diperpanjang, dan lain-lain. Rumahnya selalu penuh oleh orang-orang yang ngantri minta diramal.
Mereka yang membuktikan kebenaran ramalannya akan datang lagi pada dia sambil membawa buah tangan supaya mereka kembali diramal tentang masa depannya yang bagus-bagus. Karena kebanyakan mereka merasa puas dengan ramalannya, namanya terus melejit. Maka makin berbondong-bondonglah orang yang datang padanya minta diramal. Dan limpahan uang dan oleh-oleh dari mereka yang diramal membanjiri rumahnya. Tapi itu dulu, dulu sekali. Semua sudah berlalu. Sekarang sekalipun dia menjajakan diri menawarkan jasanya meramal dari pintu ke pintu, orang tak lagi tertarik mendengar ramalannya.
“Kisanak, maukah kamu saya ramal. Tolonglah, saya sungguh-sungguh butuh meramal supaya saya bisa makan.” Orang-orang hanya melengos atau menatapnya dengan iba.
“Kalau kau mau, ini kami punya sisa makanan, terimalah. Tapi kami tak perlu ramalanmu,” kata orang-orang yang dia datangi rumahnya.
“Kami sudah tahu masa depan kami yang suram dan tanpa harapan. Meski berkali-kali pemimpin berganti. Partai-partai tumbuh bagai cendawan di musim hujan. Tapi kami tahu masa depan kami akan tetap seperti hari ini,”
Tidak pernah terbayang olehnya bahwa dia akan mengalami penolakan yang menyakitkan serupa itu. Hidup terlunta-lunta. Dia tidak punya kepintaran selain meramal. Sehingga meski berat dia terpaksa menadahkan tangan meminta belas kasihan untuk mempertahankan sisa hidupnya.
“Bukannya kami tidak ingin diramal, tapi sebagus apa pun kau ramal masa depan kami tetap saja masa depan kami seperti sekarang, atau bahkan lebih kelam. Jadi pergilah, ini sekadar buat bekal perjalananmu, wahai nenek peramal.”
Harta bendanya di gudang satu persatu dia jual sampai habis ludas sebelum rumahnya yang besar ditukar dengan bahan-bahan makanan yang kini telah habis pula. Dia kini terpuruk di kamar kontrakan yang gentingnya bocor dan bolong-bolong dindingnya. Setelah letih tersuruk-suruk menjajakan diri menawar-nawarkan jasa meramal, di sanalah dia berbaring seorang diri, di antara primbon-primbon dan kitab ramalan yang mulai lapuk dan rusak kena cipratan hujan. Menggulung tubuh ringkihnya dengan selimut yang sekaligus berfungsi menjadi alas tidur. Merenungi nasibnya yang begitu buruk yang sama sekali tak pernah teramal olehnya di masa lalu. Sebenarnya bukan tak teramal, melainkan dari dulu dia memang tidak pernah berani meramalkan nasibnya sendiri. Sebab sekali waktu dia melakukan hal itu, dia melihat suaminya pergi dengan perempuan lain meninggalkannya. Beberapa waktu kemudian ramalan itu benar-benar terjadi. Sejak itu dia takut meramal masa depannya sendiri. Seandainya dulu dia mau meramal masa depannya sendiri tentulah nasibnya tidak akan seburuk ini. Setidaknya dia bisa sedikit menabung, tidak menghambur-hamburkan uangnya.
“Bagaimana, Nek? Bagaimana nasib saya di masa depan?”
Dia tergeragap dari lamunannya.
“Ramallah masa depan saya yang cerah, menjadi saudagar kaya raya, memiliki supermarket dan rumah di mana-mana. Ayolah Nek, tolong jangan bilang masa depan saya suram. Bukankah kata mereka kau tidak pernah meramal buruk masa depan orang? Bukankah pada setiap orang yang datang minta diramal kau selalu mengatakan bahwa mereka memiliki masa depan yang indah dan bahagia? Ayolah, Nek, saya sudah capek hidup kere. Akan saya berikan seluruh tabungan yang saya kumpulkan bertahun-tahun bila kau ramalkan nasib saya cerah di masa depan” laki-laki itu terus nerocos.
“Sabarlah anak muda, saya baru akan mulai,”
Lelaki itu tertegun dengan dada berdebar-debar, tampak tak sabar menunggu. Dia berharap akan keluar dari mulut nenek peramal itu tentang masa depannya yang cerah. Menjadi pengusaha sukses, punya pabrik dan apartemen. Tapi harapannya kandas.
“Saya tidak bisa membaca garis tanganmu, anak muda. Maaafkan saya,”
“Kenapa tidak bisa, Nek? Kau harus bisa meramal masa depanku yang cemerlang. Ayolah, Nek, kau katakan saja bahwa masa depanku memang benar-benar cerah penuh harapan. Percayalah kalau saya kaya raya akan saya beri apa pun yang kau minta. Kau bisa segera meninggalkan kamar kontrakanmu yang bocor dan bau apak, kau tidak perlu lagi terlunta-lunta menawar-nawarkankan jasa meramal masa depan orang….” Lelaki itu terus mendesak seperti kesetanan.
“Maaf anak muda. Garis tanganmu sungguh-sungguh tak terbaca,” ujarnya, mulai ketakutan melihat lelaki itu yang tampaknya mulai marah, “oh tuhan selamatkan saya,” ujarnya dalam hati. Mulutnya komat kamit berdoa.
“Kenapa kau tega tak mau meramal masa depanku, hai nenek peramal,” Lelaki itu terus merangsek, mencengkram dan mengguncang-guncang tubuh nenek peramal. Dia mau meraih tongkat dan ingin segera pergi, tapi lelaki itu tak membiarkannya. Dia merasakan lelaki itu mencekik lehernya. Susah payah dia meronta.
Ketika malam tiba, orang-orang menemukan mayat perempuan tua itu telungkup di gardu ronda seperti mendekap masa lalunya.
Pondok Pinang, Oktober 2008
(Lampung Post, 21 Desember 2008)
SEORANG lagi hilang ditelan tembok bolong. Kali ini yang jadi korban Wujil, pria yang sehari-hari berjualan ketoprak. Dia tak pernah kembali setelah menerobos masuk tembok bolong itu, meninggalkan gerobak ketopraknya yang diparkir di sisi jalan. Dua orang pembeli ketopraknya mengira Wujil sehabis kencing langsung beli rokok di warung sebelah sekalian menukar uang untuk kembalian.
Tapi tunggu punya tunggu Wujil tak muncul-muncul juga. Karena kesal menunggu, dua orang pembeli ketoprak itu akhirnya meninggalkan gerobak ketoprak Wujil. Mereka pikir biar nanti siang atau besok saja menemui Wujil di mulut perempatan tempat biasa dia mangkal untuk meminta uang kembalian.
Namun sampai besok dan besoknya lagi gerobak ketoprak Wujil masih terparkir di sisi jalan tak jauh dari tembok bolong itu karena memang Wujil tidak pernah kembali. Hari berikutnya petugas kebersihan menyingkirkan gerobak Wujil dari
sana dan menganggap Wujil benar-benar hilang ditelan tembok bolong. Nori, istrinya, menangis meraung-raung, di depan gerobak ketoprak yang mengonggok bisu.
Meski penjual ketoprak Wujil selalu merasa dirinya orang terpelajar, maklumlah jelek-jelek begitu dia pernah kuliah di Fakultas Filsafat UGM. Jadi dia tidak boleh mudah percaya dengan hal-hal tak masuk akal. Tembok bolong yang bisa menelan manusia menurut Wujil tidak masuk akal. Maka selama ini Wujil tidak pernah percaya dengan kabar-kabar yang berseliweran mengenai hilangnya sejumlah orang setelah mereka memasuki tembok bolong.
Menurut kabar-kabar yang didengar Wujil dari obrolan para pembeli ketopraknya, sudah ada sembilan orang yang lenyap tak pernah kembali setelah mereka memasuki tembok bolong. Meski demikian, Wujil tidak mau berdebat dengan orang-orang yang mengobrolkan kabar tersebut sambil makan ketoprak, jualannya. Sebagai penjual yang baik, Wujil tahu bagaimana menghormati pembeli.
Wujil merasa tidak perlu membuktikan kabar-kabar tersebut dengan mencoba masuk ke tembok bolong itu misalnya. Karena kalau dia lakukan jelas itu kurang kerjaan. Meski setiap hari Wujil mendorong gerobak ketopraknya melewati jalan itu. Paling banter Wujil hanya memandangnya sekilas. Tak berminat mengamatinya lebih jauh. Apalagi terdorong untuk mencari tahu bagaimana mulanya sampai tembok tersebut bolong. Tapi kalau dilihat bentuk bolongnya yang cukup untuk ukuran tubuh orang dewasa, jelas itu ulah orang-orang yang ingin mengambil jalan pintas. Kalau mau ke hiper mall yang berada di dalam kompleks perumahan elite itu, jalan melalui tembok bolong memang jauh lebih meringkas jarak. Tidak perlu memutar mengikuti jalan raya yang jaraknya berlipat-lipat jauhnya.
Tembok itu Wujil tahu merupakan pembatas yang memisahkan kompleks perumahan mewah dengan perkampungan kumuh di sebelahnya. Memang setiap lewat jalan tersebut Wujil melihat tembok bolong itu selalu sepi. Tak pernah sekalipun tampak orang masuk atau keluar dari sana. Wajar saja karena kalau Wujil lewat di jalan itu hari masih pagi saat dia mau berangkat berjualan atau menjelang maghrib ketika dia pulang dari berjualan.
Tetapi begitulah, hampir semua pelanggan ketopraknya memercayai betul tembok bolong itu sudah banyak menelan orang dan tak pernah kembali. Jumlah korban yang sembilan orang itu adalah mereka yang mencoba menembus masuk ke kompleks perumahan mewah melalui tembok bolong tersebut. Tidak ada yang tahu apakah warga kompleks perumahan mewah di balik tembok sana juga ada yang hilang ditelan tembok bolong saat mau menerobos ke perkampungan kumuh. Mungkin tak pernah ada. Siapa yang tertarik dengan kekumuhan?
“Kalau benar menelan korban, kenapa tidak ditutup saja,” ujar Wujil iseng menanggapi pembeli ketopraknya yang tampak serius mengobrolkan tembok bolong.
“Itulah, mana ada orang yang berani. Jangan-jangan sebelum menutup tembok bolong mereka duluan yang lenyap ditelan,” ujar pembeli itu seraya menyuapkan ketoprak ke mulutnya.
Dari sembilan orang korban itu, bukan semuanya warga perkampungan kumuh tempat di mana Wujil ngontrak. Sebagian besar, yakni tujuh orang di antaranya justru tamu di perkampungan kumuh tersebut. Umur mereka rata-rata di atas tiga puluh. Tentu soal umur ini perkara kebetulan belaka. Di perkampungan kumuh itu Wujil memang pendatang, baru enam bulan lalu dia menikahi Nori, warga asli perkampungan kumuh tersebut.
Mendengar obrolan para pembeli ketopraknya yang kelihatannya sangat serius itu Wujil ingin tertawa, tetapi dia segera sadar tidak boleh menyinggung perasaan pembeli. Sebab, dia tak mau gara-gara hal itu ketopraknya kehilangan pelanggan. Maka Wujil hanya mengangguk-angguk menahan geli. Tapi rupanya salah seorang pembeli ketoprak tahu kalau Wujil tidak pernah percaya.
“Kenapa Abang enggak percaya?” pembeli ketoprak bertanya, menyelidik.
“Saya memang tidak percaya. Saya rasa itu cuma kabar burung yang dibesar-besarkan,” cetus Wujil.
“Abang mengganggap hanya kabar burung?” kejar pembeli ketoprak, sedikit gemas.
“Iyalah Mbak, mana ada tembok bolong bisa menelan orang. Kalau ada orang masuk melalui tembok bolong itu kemudian tidak kembali, mungkin dia memang tidak mau kembali lantaran diterima bekerja dengan gaji besar di salah satu rumah mewah itu.”
“Tidak mungkin, Bang. Saya istri salah satu korban yang hilang ditelan tembok bolong itu. Suami saya benar-benar tidak pernah kembali. Kami kehilangan kontak sama sekali,” ujar pembeli ketoprak, tampak mulai emosi.
Mbak pembeli ketoprak itu kemudian bilang bahwa suaminya semula juga tidak percaya tembok bolong bisa menelan orang. Makanya dia penasaran ingin membuktikan. Perempuan itu sudah berkali-kali bilang tidak usah nekat. Ternyata benar, malang tak dapat ditolak untung tak bisa diraih. Suaminya benar-benar lenyap dan tak pernah kembali.
Wujil manggut-manggut, ragu. Dia mau bilang ‘bisa saja suami mbak memang sengaja meninggalkan Mbak pergi dengan perempuan lain lantaran merasa bosan dengan Mbak, tapi Wujil tahu dia tidak boleh menyakiti perasaan perempuan pembeli ketopraknya dengan kalimat seperti itu.
“Mbak tidak mencari ke kompleks perumahan mewah yang ada di balik tembok itu? Siapa tahu suami Mbak tersesat di sana, tidak bisa pulang.”
Perempuan itu menggeleng perlahan. Lalu terdiam lama menahan kesedihan.
“Sudah berapa lama suami Mbak hilang?” tanya Wujil akhirnya.
“Hampir setahun yang lalu.” Perempuan itu berkata dengan nada rendah dan muka murung.
“Pernah lapor polisi?”
“Saya tidak lapor polisi karena suami saya bukan diculik, melainkan ditelan tembok bolong. Mana bisa polisi melacaknya!” Perempuan itu mulai terisak.
“Mbak tahu warga kampung sini lainnya yang hilang?” Wujil bertanya lagi. Dijawab oleh pembeli ketoprak yang lain. Menurut orang itu, dia perempuan. Tetangganya yang baru pulang dari bekerja sebagai penyanyi pub. Karena tak tahan kebelet pipis perempuan itu pipis di got yang ada di balik tembok bolong. Sejak itu dia tidak pernah keluar-keluar lagi sampai sekarang.
Sementara korban lainnya mereka adalah tamu warga perkampungan sini yang mau ambil jalan memotong melalui tembok bolong itu. Mereka semua hilang lenyap bagai ditelan bumi. Keluarga mereka akhirnya menganggap mereka meninggal, yang mau tak mau harus direlakan. Lalu mereka menggelar tahlilan di rumah masing-masing supaya arwahnya tenang.
Wujil tercenung. Benaknya mulai disusupi rasa penasaran. Mungkinkah tembok bolong itu semacam segitiga bermuda yang mampu menelan orang tanpa jejak sama sekali seperti tempo hari dialami sebuah pesawat berpenumpang ratusan orang yang karam dan hilang di lautan tanpa pernah ditemukan bangkainya?
***
Sebelum hilang ditelan tembok bolong itu, Wujil memang pernah mengatakan pada istrinya bahwa suatu hari dia akan membuktikan sendiri. Hanya saja Wujil tidak pernah punya kesempatan. Bisa jadi sebenarnya dia tidak punya nyali.
“Sudahlah, Bang. Jangan macam-macam sok mau mencoba. Cari perkara itu namanya. Aku tidak mau jadi janda,” kata istrinya sambil menumbuk kacang goreng untuk bumbu ketoprak.
Sekali waktu Wujil memang pernah mengamati tembok itu dengan sedikit serius. Tingginya tidak kurang dari satu setengah meter dengan puncaknya ditanami aneka macam beling yang sanggup mencelakai orang yang nekat memanjat ke sana. Belum cukup dengan beling-beling yang mencuat runcing, beberapa senti di atasnya terdapat kawat berduri. Ketebalan tembok kira-kira lima belas sentimeter, meski demikian kurang kokoh lantaran terbuat dari asbes yang tengahnya kosong. Bagian luarnya tidak dilapisi semen pula sehingga tidak terlalu sukar dijebol. Di beberapa tempat terlihat gambar penis dan kata-kata cabul dari cat semprot. Bagian yang bolong itu tidak lebar juga tidak sempit. Orang tidak perlu memiringkan tubuh dan menundukkan kepala terlalu dalam untuk lolos masuk ke sana. Kalau dilihat dari kondisinya tembok itu sudah lama bolong. Mungkin beberapa hari setelah tembok dibangun. Tidak ada yang tahu pasti siapa yang menjebol tembok itu sehingga jadi bolong.
Tetapi beberapa kali Wujil hanya berdiri kira-kira dua meter di depan tembok bolong. Dari jarak tersebut, dia dapat melihat jalan kompleks perumahan yang mulus, taman yang tertata rapi, dan rumah-rumah megah dengan pagarnya yang tinggi-tinggi. Kontras sekali dengan keadaan perkampungan di sebelahnya. Ada kalanya dia melihat sekawanan anak-anak melintas menggunakan sepatu roda. Berseliweran di antara perempuan-perempuan muda–agaknya pembantu–yang tengah mendorong keranjang bayi.
Jadi pada hari lenyapnya Wujil ditelan tembok bolong itu sama sekali bukan karena dia sedang mencoba membuktikan sendiri kabar-kabar itu. Melainkan Wujil benar-benar kebingungan mencari warung mau menukarkan uang untuk kembalian. Dia melihat ada warung rokok di seberang got dibalik tembok bolong itu. Tanpa sadar dia menerobos tembok bolong. Kita tidak tahu apakah Wujil benar-benar lenyap dan tidak pernah kembali dari sana.
Sementara itu nun di suatu tempat entah di mana Wujil mendapati dirinya berada di dalam sebuah gudang yang sangat luas. Di sana dia menemukan barang-barang miliknya yang dulu pernah hilang: Uang dua ratus ribu, celana jins, jaket kesayangan, sepatu kebanggaan, tas, topi, flash disk, ulekan ketoprak, ember, handphone, gunting rambut, buku-buku filsafat masa kuliah, bahkan ijazah SMA-nya yang entah berapa tahun lalu hilang di rumah kawan, dia temukan di sana.
Wujil juga bertemu dengan keponakannya yang autis yang dulu hilang di pasar malam. Dengan para aktivis yang pernah dia lihat fotonya di tembok-tembok. Wujil melihat mereka nongkrong malas-malasan sambil minum kopi. Wajah mereka kelihatannya berbahagia sekali. Ada beberapa orang lagi yang wajahnya tidak dia kenal. Dia hitung jumlahnya ada sembilan. Mungkinkah mereka yang hilang ditelan tembok bolong?
Pondok Pinang, Oktober-November 2008
KOMENTAR TERAKHIR