$theTitle=wp_title(" - ", false); if($theTitle != "") { ?>
temukan keasyikan membaca prosa di sini
(Majalah Sekar, 17 Juni-1 Juli 2009)
Irene akhirnya memilih akan mengundurkan diri dari pekerjaanya. Ia tak mau mempertahankan karirnya yang tengah berada di puncak jika harus mempertaruhkan keutuhan rumah tangganya. Irene telah mengutarakan alasan sejujur-jujurnya pada beberapa rekan terdekatnya. Sekalipun menyayangkan keputusan Irene, mereka dapat mengerti alasan yang melatari keputusan Irene.
“Apa tidak ada opsi lain, Ir? Bete loh di rumah.” tanya Tiana, rekan terdekatnya.
“Opsi apa maksudmu, Ti?”
“Kamu minta mutasi ke kantor cabang, Semarang atau Bandung,” saran Tiana.
“Tidak mungkin, malah makin repot harus pindah rumah,” sanggah Irene. Selain kantor pusat, perusahaanya tidak memiliki kantor cabang di Jakarta.
“Kalau itu yang terbaik buatmu, aku tak bisa ngomong apa-apa lagi,” kata Tiana, menyerah, “Tapi bagaimana dengan suamimu?” tanya Tiana.
Inilah yang sekarang yang jadi persoalan bagi Irene. Apakah ia harus mengungkapkan alasan sebenarnya atas keputusannya itu kepada Indra, suaminya? Perlukan Irene jujur jika itu berakibat buruk pada keharmonisan rumah tangga mereka yang telah berjalan mulus selama hampir empat tahun terakhir ini? Siapa pun orangnya jika dalam posisi Irene sekarang ini pasti akan merasa berada di situasi yang sangat dilematis, serba salah.
Irene tahu, meski Indra tidak pernah mengekang istrinya bekerja, laki-laki itu pasti akan senang mendengar Irene keluar dari pekerjaannya. Karena itu artinya Andra dan Andri, buah cinta mereka, akan mendapat perhatian penuh dari ibunya. Bukankah sebaik-baik pengasuh anak-anak adalah ibunya sendiri? Seorang suster sekalipun punya keterampilan mengasuh anak, tidak bisa dipercaya sepenuhnya, terutama untuk urusan mendidik anak. Apalagi di bawah umur lima tahun merupakan fase meniru. Salah sedikit bisa berdampak buruk pada sifat anak di kemudian hari.
Sejak kehadiran si kembar Andra Andri dua tahun lalu yang makin melengkapi kebahagiaan mereka, Indra memang beberapa kali pernah mengatakan bahwa dirinya akan merasa lebih senang jika Irene mengundurkan diri dari pekerjaanya supaya bisa total mengurusi si kembar. Tetapi Irene tetap ingin bekerja dengan alasan ingin menerapkan ilmu yang diperolehnya.
“Sayang punya ilmu dibiarkan tersimpan di laci,” begitu kata Irene ketika itu. Jika sekarang Irene tiba-tiba mengundurkan diri tentu kan mengundang pertanyaan di benak Indra. Laki-laki itu pastilah ingin tahu alasan Irene.
Bagaimana pun Indra pasti terluka perasaannya jika tahu alasan sebenarnya Irene mengundurkan diri. Hal ini membuat Irene benar-benar tidak bisa memutuskan, dan tak tahu mesti kepada siapa meminta saran. Irene tidak mungkin mengarang-ngarang alasan. Indra adalah tipe laki-laki cerdas yang tidak bisa begitu saja menerima alasan yang tidak masuk akal. Lagi pula Irene tidak biasa mengarang-ngarang alasan untuk menutupi kebohongannya. Kalau ia paksakan juga dengan mudah Indra mengetahui kebohongannya. Jika itu terjadi akan sama buruknya dengan jika ia mengungkap alasan sebenarnya. Ah, semua ini gara-gara kehadiran Bayu, kekasih Irene di masa lalu, yang bergabung di kantornya sejak empat bulan lalu.
**
Tak percaya, dan benar-benar seperti sebuah drama dalam sinetron picisan. Itulah reaksi pertama Irene ketika pertama kali mengetahui Bayu menjadi pegawai baru di kantornya. Selebihnya adalah perasaan berbunga-bunga, senang seperti anak kecil menemukan mainan kesayangan yang sekian lama hilang. Tingkahnya tiba-tiba berubah laksana gadis remaja, suka tanpa sadar melantunkan lagu-lagu lama. Kenangan indah masa pacaran dulu seakan bakal terulang kembali. Kata orang cinta pertama memang indah dan tak pernah tergantikan selamanya. Ternyata ini benar. Irene seolah lupa bahwa dirinya kini adalah istri dari seorang suami dan ibu dari dua bocah laki-laki yang membutuhkan perhatiannya.
Dulu, sewaktu SMA Irene memang menyimpan kisah cinta tak terlupakan dengan Bayu. Di sekolah Bayu merupakan seorang idola yang dipuja-puja gadis-gadis lantaran tampangnya yang memang tampan ditambah jago main basket. Gadis-gadis tak peduli dengan nilai bahasa Inggris dan matematika Bayu kedodoran. Merasa diidolakan gadis-gadis satu sekolah Bayu jadi terkesan angkuh. Entah berapa gadis yang patah hati lantaran hasratnya di-cuekin Bayu. Maka mendapatkan Bayu merupakan kebanggaan luar biasa bagi Irene. Karena ia pun jadi ikut populer di sekolah sebagai pacar sang idola. Ia merasa menjadi gadis paling beruntung. Irene tidak bisa jauh-jauh dari Bayu. Teman-temannya satu sekolah tahu itu. Mereka ibarat sejoli yang inginnya selalu berdekatan ke mana pun pergi. Sampai akhirnya keduanya lulus dan masing-masing harus pergi melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi di kota lain. Bayu tak pernah menghubungi Irene. Dia seperti hilang begitu saja meninggalkan setumpuk kenangan indah yang kemudian berubah menjadi kesedihan bagi Irene yang patah hati. Butuh waktu lama bagi Irene untuk memulihkan kepercayaan pada laki-laki.
“Bayu?”
“Irene?”
Beberapa lama keduanya tertegun, kaget bukan kepalang saat pertama Pak Nugraha, kepala kantornya, memperkenalkan Bayu sebagai pegawai baru yang akan bergabung memperkuat divisi marketing. Irene tanpa sadar telapak tangannya berkeringat dan sedikit gemetar manakala bersalaman untuk pertama kalinya dengan Bayu setelah sekian tahun tak bertemu. Pesona Bayu rasanya tidak pernah berkurang. Bagai tak tergerus waktu. Termasuk sikap angkuhnya.
Begitulah, menyusul setelah itu ia sering pergi makan siang bersama Bayu, mengulur-ulur waktu istirahat makan siang untuk sekadar ngobrol dengan Bayu di kafe. Tidak cukup makan siang, mereka melakukan perjalanan ke luar kota bersama.
“Dulu ambil marketing manajemen juga?” kata Bayu.
“Ya, aku ambil di perguruan tinggi di kota kecil. Tidak perlu jauh-jauh sampai ke Jogja kaya kamu,” ujar, sengaja ingin mengungkit kisah lama. Ada nada sinis dalam kalimat itu.
“Sop kambing paling enak di mana ya?” kelit Bayu.
“Sop kambing? Seleramu sudah berubah? Bukannya favoritmu gado-gado!”
Mula-mula Irene menganggap ini hal biasa saja, semacam hubungan antar teman lama yang sekian tahun tak bertemu. Toh Irene sudah menceritakan mengenai statusnya sekarang. Bahkan ia juga mengatakan bahwa ia memiliki keluarga bahagia; suami yang bertanggung jawab, anak-anak yang pinta dan lucu. Tapi perlahan-lahan tak ada yang bisa menghalangi bunga-bunga cinta di dadanya diam-diam mekar kembali. Irene merasa sangat tak lengkap bila sehari saja tak melihat Bayu. Ia kerap gelisah menunggu saat istirahat makan siang tiba. Menantikan saat-saat duduk berhadapan, mencuri-curi pandang wajah tampan lelaki itu di sela makan. Kerinduan pada rumah, melihat si kembar yang tengah lucu-lucunya, pelukan hangat dan tatapan mesra suaminya, sedikit demi sedikit tidak menimbulkan rasa kangen. Digantikan sosok Bayu, yang dari hari ke hari terus mendesak, mengambil tempat mereka dalam benak Irene. Ia seperti terbius kenangan masa remaja.
Kegiatan makan siang bersama, dan kadang nonton film, terus berjalan selama tiga bulan terakhir. Perasaan senang, nyaman, dan perasaan-perasaan aneh lainnya yang tumbuh di dadanya Irene anggap hanya romantisme masa lalu yang bisa diatasi dan tidak perlu dikhawatirkan. Ia merasa tahu batas-batas.
Setelah memasuki minggu ke empat pada bulan ketiga, Irene baru menyadari bahwa anggapannya keliru; bahwa ia tengah terperosok dalam hubungan yang sangat berisiko bagi keutuhan rumah tangganya dengan Indra. Sekalipun pernikahannya dengan Indra tidak berdasarkan cinta melainkan karena semacam keharusan untuk menikah mengingat usianya yang memasuki kepala tiga, namun Irene tidak rela kalau harus kandas hanya gara-gara Bayu, laki-laki yang pernah meninggalkannya begitu saja. Ia tak mau terjerat masa lalu.
Irene ingat, saat awal-awal menikah dengan Indra, ia memang tidak memiliki perasaan cinta pada Indra. Irene menerima Indra setelah sekian bulan laki-laki itu berjuang keras mendapatkan perhatiannya. Irene salut dan kagum pada kegigihan usaha Indra. Barangkali, selain pertimbangan usia, perasaan simpati pada sikap teguh laki-laki itu saja yang membuat Irene akhirnya menikah dengan Indra. Baru pada tahun kedua pernikahannya, berkat upaya yang terus menerus Irene mulai memiliki perasaan cinta pada Indra. Tidak lagi menganggapnya sekadar pelarian, apalagi sejak Irene melahirkan anak-anak dari benih laki-laki itu, dan menjadi sumber kebahagiaannya. Mereka adalah harta yang paling berharga. Irene merasa harus menyelamatkannya.
“Kita harus mengakhiri hubungan semu ini, Bayu!” cetusnya. “Kalau perlu aku akan mengundurkan diri dari pekerjaan supaya kita tak pernah lagi bertemu.”
“Hubungan apa, Irene? Bukankah kita hanya berteman biasa saja?” ujar Bayu, nada angkuh jelas terdengar dalam kalimat tersebut. Membuat Irene gemas ingin menampar mulut yang melontarkannya.
“Bagimu mungkin ini hanya hubungan teman biasa, seperti kau juga menganggap hubungan kita di masa lalu. Tapi tidak buatku. Sebab itu sebaiknya aku pergi sejauh-jauhnya darimu,” ujar Irene, menahan kesal.
“Seserius itu, Irene?”
“Tentu saja. Baru kusadari kamu memang bukan laki-laki yang pantas kucintai!” Irene bergegas bangkit dari kursi, dan keluar dari kafe lebih dulu.
“Irene,” Bayu hanya bangkit memandang punggung Irene menjauh, masuk lift. Tampaknya tak ada minat buat Bayu mengejar Irene.
**
Akhirnya semuanya selesai. Irene benar-benar mengundurkan diri. Indra ternyata cukup dengan alasan bahwa Irene keluar dari pekerjaannya karena ingin memberi perhatian penuh pada si kembar. Rupanya perasaan senang membuat laki-laki itu tidak memerlukan alasan sebenarnya yang disimpan Irene. Kehidupan berjalan dengan mulus. Irene tidak memerlukan waktu terlalu lama untuk menyesuaikan diri dengan ritme kegiatannya setelah keluar dari pekerjaannya.
Permasalahan muncul justru beberapa minggu berselang, pada suatu hari ketika Irene menerima pesan singkat mesra dari Bayu. Ketika ponselnya berdering Irene tak mengira pesan singkat itu datang dari Bayu, karena ia menganggap semuanya telah selesai. Lagi pula dari mana Bayu tahu nomor barunya. Apa boleh buat, semuanya seperti sudah semestinya terjadi. Irene meminta tolong Indra membuka pesan singkat tersebut.
Irene melihat Indra tertegun lama setelah membaca pesan singkat itu. Wajah Indra terlihat begitu kecewa. Belum pernah ia melihat Indra begitu marah dan sekecewa itu. Menyusul kejadian itu, Indra tak pulang selama tiga hari. Pada hari keempat Irene menerima kabar Bayu luka parah dipukuli orang, masuk rumah sakit.
Pondok Pinang, April 2009
INGATAN tentang kehilangan, kepergian, sesuatu yang mencemaskan, menjadi lampau, dan dilupakan, acap menerjang perasaannya saban ia sampai di stasiun kereta api. Kau akan melihat perempuan itu di antara kerumun orang-orang yang menanti kereta dengan pandangan penuh kepedihan yang memupus harapan tentang kepulangan, rumah, dan kehangatan. Jajaran pohon cemara, hamparan kerikil, batangan rel yang memanjang sampai titik terjauh, bentangan sawah, gedung sekolah masa remajanya di ujung sana serupa instalasi kepiluan yang membuat cedera di rongga batinnya makin menganga.
Selalu ada dorongan untuk kembali meraba dada, melihat wajah, menandai tubuhnya. Lalu perempuan itu akan merasa dirinya tak penuh, tak utuh. Seperti ada yang selalu tanggal dan terpaksa harus ia tinggalkan. Dalam rentang waktu tertentu ia akan merasa goyah, terbelah, lantas pecah terbungkah-bungkah mirip runtuhan tanah. Tapi harus selalu ia susun lagi dengan susah payah, terkadang dengan ingatan yang patah. Menatap mereka dan ia yang harus meninggalkan tanah kelahiran menuju tempat yang diangankan sebagai kota untuk mungkin menjemput serupa cita-cita atau sekadar angan-angan belaka.
Di stasiun itu ia akan selalu bertemu dengan orang-orang yang tak pernah terduga dari masa lalu. Mungkin seseorang yang pernah dekat dan begitu ia rindukan di masa yang telah menjauh dan semakin menjauh, atau seseorang yang diam-diam ia benci dan ingin ia lupakan sama sekali. Mereka berganti-ganti datang dan pergi serupa mimpi yang ingin segera ia akhiri.
Di stasiun kereta, betapa pun ia telah berupaya menyembunyikan diri, ia akan selalu tepergok dengan perjumpaan-perjumpaan tak terduga; ia pernah bertemu kembali dengan kawan masa kanak, masa remaja, dan masa-masa lainnya yang telah bergulir, terbenam entah di mana tapi kadang terasa begitu dekat, begitu akrab. Tapi akan segera ia sadari betapa itu sukar disentuh, muskil ditempuh (kembali).
Suatu kali ia bertemu kawannya di masa remaja. Ia akan selalu merasa gugup dan kebingungan bagaimana caranya berbasa-basi. Ia melihat muka kawannya serupa mendapati wajahnya sendiri; begitu kuyu, sorot matanya berusaha keras menyembunyikan keresahan di dasar hatinya. Lalu secara otomatis ia akan merasakan hatinya berkerenyit nyeri. Ia ingin kembali meraba dada, melihat wajah dan menandai tubuhnya. Tanpa sadar ia akan menggigit bibir bawahnya seakan menahan sesuatu yang begitu lara.
Ia akan memulai percakapan dengan kalimat-kalimat pendek. Ia akan mendengar percakapan itu serupa lantunan keperihan yang sulit diraba tapi jelas menggoreskan semacam luka, semacam bara dalam benaknya. Kawannya akan ke Jakarta, ke penampungan TKW sebelum dikirim ke luar negeri sebagai pekerja rumah tangga. Seorang lelaki, yang ia kira suami kawannya, yang berdiri di sampingnya, hanya sesekali melirik padanya.
“Ya ampun, Dian,” kawannya menjerit. Ia merasakan kedua tangannya kaku saat harus diangkat-bentangkan, menyambut pelukan.
“Mau ke mana? Jakarta? Sendirian? Mana suamimu?” kawannya melontarkan pertanyaan, yang selalu ingin ia hindari, secara bertubi-tubi.
Pertanyaan kawannya ini, seperti juga pertanyaan yang terlontar dari sekian banyak kawan yang lain, saudara, ibu, ayah, akan mengiang beberapa lama menemani perjalanannya di bangku kereta. Namun ia tak pernah kunjung terlatih untuk menjawab, kecuali melupakannya. Kawannya bercerita, ini rencana keberangkatannya yang ketiga jadi TKW di luar negeri. Suaminya yang pemabuk hanya menghabis-habiskan uang kirimannya.
“Kenapa kamu mau berangkat lagi?”
“Mau apa lagi di kampung? Dikejar-kejar utang!”
Di stasiun kereta ia pernah bertemu dengan kawan semasa kanak yang bekerja di Jakarta. Dia ulang alik Jakarta–kampung halaman seperti yang ia jalani dengan perasaan rawan, tertahan-tahan.
“Aku dan suamiku bekerja di Jakarta. Anak kami titipkan sama orang tua di kampung. Kami bekerja di satu rumah. Suamiku jadi satpam, aku tukang cuci. Bagaimana denganmu, Dian? Kamu kerja kantoran? Kamu cantik sekali.”
“Aku masih sendirian. Aku bekerja sebagai, ah kamu serius ingin tahu kerjaanku?”
Lontaran kalimat ini akan menemaninya sedikit lebih lama; kadang membuatnya bertanya-tanya pada diri sendiri, apa saja yang telah kukerjakan selama bertahun-tahun ini? Lantas ia akan meyakin-yakinkan diri sendiri betapa ia cukup bahagia dan baik-baik saja. Ia memang bekerja di satu ruangan berpendingin udara yang orang menyebutnya kantor. Membaca huruf-huruf kanji, menyalinnya ke dalam bahasa Indonesia. Tiap hari masuk pukul sembilan pulang menjelang magrib. Tiba-tiba ia ingat rutinitas itu telah ia jalani hampir sepuluh tahun. Ya, sepuluh tahun. Sampai berapa puluh tahun lagi?
Di stasiun kereta ia bersua dengan sepupunya yang sekian tahun ia hindari. Dia melambaikan tangan, memandangnya yang gugup, gemetar, serbasalah. Ia akan melihat sorot mata sepupunya bagai menuduh dengan semacam kata-kata, ke mana saja sih kamu nggak pernah main ke rumah. Bude sakit tak ditengok. Lupa ya? Dan sederet pertanyaan serupa interogasi yang paling ia benci. Ia akan merasakan tubuhnya mengerut.
Ia teringat tentang usia, tentang perjalanan, tentang kegagalan, tentang kesia-siaan. Begitu banyak kaum kerabat yang ingin ia kunjungi saat pulang kampung halaman. Tapi tak pernah ia punya nyali. Rasanya tak pernah ada kata-kata yang bisa ia rangkum dan ia deretkan untuk menjelaskan dirinya. Mereka seakan berloncatan. Dan ia kehabisan tenaga menangkapnya. Maka saban pulang kampung, dua atau paling banyak tiga kali dalam setahun, selain kamarnya tempat favoritnya adalah kebun belakang rumahnya yang tak seberapa luas.
Menyiangi rumput, mengelap tiap lembar daun: lidah buaya, kuping gajah, menatapi bunga kenanga, kembang sepatu. Jika bosan, ia akan buru-buru pergi ke kota kabupaten, keluar masuk toko buku, toko kaset, gedung bioskop, sendirian. Pulang saat malam genap mengatupkan pintu rumah dan kelopak mata orang-orang di kampungnya yang mulai ramai. Untuk kemudian subuh buta mengantarnya kembali ke stasiun kereta. Ia tak pernah menyukai terminal dan bus kota, entah mengapa. Mungkin karena terminal tak menumbuhkan ingatan apa-apa. Tak ada kepedihan yang tanpa sadar amat disukainya seperti yang ia dapatkan di stasiun kereta.
Semakin lama berada di stasiun itu ia merasakan jiwanya terpiuh. Ia akan menggelepar menikmati keterasingan. Kadang ia harus melindap ke bilik toilet, duduk termenung di atas kloset seraya mengisap rokok putih. Merasakan tembok-tembok mendesis, merekam kekosongan yang memenuhi perasaannnya. Ia akan keluar dari sana jika terdengar gemuruh kereta yang akan membawanya tiba dengan lengking peluitnya yang bikin sakit gendang telinga. Sekalipun begitu ia tak akan terbebas dari persuaan tak terkira. Saat menemukan bangku di dalam gerbong kereta, sering dilihatnya sosok yang dikenalnya di masa silam telah mengambil bangku di sebelahnya.
“Heh kamu? Astaga, Dian. Ke Jakarta juga?”
“Ya ampun, Hen. Kok kamu di sini? Tadi nunggu di mana sih, sampai nggak ngelihat,” ucapnya.
Tentu saja ia berbohong. Setiap di stasiun matanya nyalang mencari-cari sosok yang mungkin dikenalnya. Bukan untuk dihampiri, melainkan dihindari. Dari jarak tertentu ia akan mengawasi siapa pun sosok yang pernah dikenalnya. Mengamati gerak tubuh, sorot mata, mendengar pembicaraan mereka yang lamat-lamat, pakaian yang mereka kenakan. Lantas menduga-duga kenapa mereka harus pergi. Berpikir tentang keadaan yang memaksa mereka hengkang meninggalkan kampung halaman; dan apa yang mereka pikirkan tentang dirinya jika memergokinya mengawasi mereka.
“Tak pernah pulang, ya?”
“Jarang. Kamu yang tak pernah pulang.”
“Hampir tiap dua pekan pulang, Dian.”
“Kok nggak pernah ketemu,” ucap dia lagi, berbohong lagi.
Bagaimana bisa ketemu, jika ia memang sengaja menghindar dari siapa pun kecuali orang rumah. Pada ibunya selalu ia berpesan supaya tidak mengabarkan kepulanganya pada siapa pun. Ia merasa tak ada perlunya bertemu mereka. Kalaupun ketemu terus mau apa? pikirnya. Setiap masa memiliki peristiwanya masing-masing, demikian ia selalu berpikir.
“Kerja apa kamu di Jakarta?” ia melontarkan pertanyaan, sekadar berbasa-basi, yang membuatnya mual sendiri.
Ia memang tak pernah ingin tahu apa pun tentang seseorang yang pernah dikenalnya di masa lalu. Tak pernah. Ia sering berpikir, mungkin lebih bagus hidup tanpa masa lalu. Dengan demikian tak perlu menjelaskan tentang hidupnya di masa sekarang.
Tak perlu menjelaskan pada siapa pun bahwa ia mendapati kehidupan cintanya yang mengecewakan. Ramzi, kekasih yang dicintainya sepenuh hati berpaling pada hati yang lain. Seandainya, ya seandainya yang merebut hati Ramzi bukan Nina, adiknya sendiri, mungkin bisa ia atasi sakitnya hati.
Ia tak perlu mengingat apalagi menjelaskan bahwa semuanya berawal dari kejadian biasa saja. Setelah lulus kuliah yang ia biayai, Nina ikut tinggal di apartemen bersamanya sementara menunggu panggilan kerja. Ramzi yang saban Sabtu malam datang ke apartemennya lama-lama jadi akrab dengan Nina. Tentulah tidak ada yang salah Ramzi akrab dengan calon adik ipar. Kadang Ramzi mengantar Nina ke mal, atau menemani Nina menemani Ramzi menghadiri acara ulang tahun rekan kantor Ramzi ketika ia sendiri tidak memungkinkan lantaran pekerjaan yang tidak bisa ditinggal. Semuanya wajar-wajar saja, tidak lucu mencemburui adik sendiri. Sampai suatu hari Nina berkata bahwa dia hamil. Dan Ramzi harus mempertanggungjawabkan perbuatannya.
Pondok Pinang, April 2009
Majalah Anggun (Edisi April 2009, dengan judul ‘Perjanjian Pranikah’)
Saat yang paling ia tunggu-tunggu, pernikahan itu, akhirnya tiba: Minggu Pahing, pekan depan akad nikah bakal dilangsungkan. Ia dan lelaki itu akan duduk berjejer di hadapan penghulu, dirubung kaum kerabat. Laki-laki itu akan mengucapkan janji untuk menjaganya, mencintainya sampai akhir hayat.
Setelah peristiwa itu ia tahu, ia harus bangun pagi-pagi, mandi, menyiapkan sarapan, menyeduh kopi atau teh, mengepel lantai, menyiram bunga-bunga di halaman. Ia harus menyingkirkan jauh-jauh kegemarannya bangun siang, membaca novel puluhan halaman sebelum turun dari ranjang.
“Kamu siap, Sayang?” ia teringat pertanyaan itu. Bunda yang melontarkannya ketika ia merajuk pada wanita itu minta dinikahkan.
“Siap, Bunda,” ujarnya bersemangat. Tapi ia tahu, jauh di dalam benaknya ia tak bersungguh-sungguh. Bahkan perasaan ragu datang begitu keras hampir mematahkan suaranya sendiri. Tapi…
“Kamu tidak boleh tak ada di rumah saat suamimu pulang seusai petang,” lanjut Bunda. Ia tak berani menatap mata Bundanya. Takut wanita itu menangkap keraguan yang mengambang di matanya yang bening. Hanya kupingnya mendengar lanjutan ucapan Bunda.
“Kamu harus berani menolak ajakan kawan-kawanmu jalan-jalan ke mall, nongkrong di kafe. Kamu harus siap jika suamimu memintamu sepanjang hari hanya di rumah. Kamu harus siap menyimpan novel-novel dan film-film favoritmu jika suamimu menginginkanmu.” kata Bunda seperti sedang menatar murid baru.
Ia terhenyak. Ia menatap novel-novel dan film-film kegemarannya bertumpuk di sisi ranjang. Ia takut laki-laki itu tak menyukai kegemarannya pada novel, mengoleksi film. Mencegah ia memburu novel klasik di lapak-lapak buku bekas.
“Jangan kawatir, kamu bisa tetap membaca novel dan memutar film ketika suami di kantor sehingga kamu tidak perlu merasa kesepian. Bunda yakin kamu bisa. Pernikahan bukan penjara seperti kawan-kawanmu bilang,”
Ia menghela napas, memandang bayangan dirinya di cermin. Ia menemukan sebentuk wajah ranum nan molek dengan bentuk hidung, bibir dan mata yang serba mungil. Kecantikan meneduhkan yang disebut banyak orang mirip dengan Annisa, tokoh yang ia lihat dalam film Perempuan Berkalung Sorban. Ia membayangkan wajah itu bakal dibelai bukan oleh tangan lembut Bundanya, bibir tirus itu bakal disentuh bukan oleh tangannya. Ia lalu menatap dadanya. Dada itu, dada yang belum lama membentuk bulatan gunung mungil, bakal bukan lagi menjadi miliknya semata. Tiba-tiba ia merinding betapa akan ada sepasang tangan merengkuh dada itu. Ia terus berjalan ke jendela. Seraya mengamati jalanan di seberang halaman rumahnya ia mulai mengingat-ingat bagaimana mulanya ia terdorong minta menikah.
Mula-mula ia terkejut sendiri mendapati keinginan menikah begitu kuat memenuhi benaknya. Seakan tak mempedulikan bahwa pernikahan membawa konsekuensi yang belum tentu siap ia tanggung: meninggalkan bangku kuliah, melupakan cita-citanya. Sementara ia baru memasuki tahun kedua duduk di bangku kuliah. Ah, semuanya gara-gara dosen muda itu yang begitu menarik perhatiannya. Tak pernah ia merasa begitu terganggu memikirkan laki-laki sebelumnya. Dosen muda yang belum lama mengajar di fakultasnya. Dosen muda yang ketampanan sikap-sikapnya mengingatkan ia pada Fahri dalam film Ayat Ayat Cinta.
Siang itu, setelah berpekan-pekan mengamati dan memikirkannya, dosen muda itu menghampirinya ketika dia tengah iseng membaca di perpustakaan.
“Baca buku apa?”
Ia tergeragap. Matanya menubruk tatapan sayu dosen muda. Selebihnya adalah kesibukan meredakan gugup yang sulit dikendalikan. Itulah pertemuan pertama yang mencemaskan sekaligus membahagiakan. Menyusul pertemuan-pertemuan berikutnya yang sepenuhnya membahagiakan. Kadang di kantin kampus, lebih sering di toko buku.
Puncaknya suatu siang, ia mendapati air muka dosen muda itu tiba-tiba berubah muram. Sekian menit lamanya ia menduga-duga apa gerangan yang terjadi dengan dosen muda pujaannya ini. Lantas ia sibuk mengingat-ingat ulah dan perkataanya yang barangkali salah dan menjadi penyebab si dosen tersinggung lantas murung. Belum sempat ia mengurai ingatannya ketika lorong pendengarannya bagai dipalu genderang.
“Orang tuaku menjodohkan aku,”
Ia mendapati kerongkongannya kering, tercekat. Mukanya memerah dan air matanya tanpa dapat dicegah luruh.
“Padahal aku belum ingin menikah. Aku masih menikmati masa lajang ini. Tapi mereka memintaku harus segera menikah. Orang tuaku ingin segera menimang cucu dari putra bungsunya. Mereka memang sudah lanjut, kawatir tak sempat melihat aku menikah. Jadi mereka mencarikan jodoh buatku. Karena mengira aku tak punya kekasih…”
Ia makin tercekat. Susah sekali mengeluarkan suara, kecuali air mata. Tubuhnya bagai mengambang oleh ledakan kekecewaan.
“Kukatakan pada mereka bahwa aku sudah punya kekasih, kamu, dan aku hanya mau menikah denganmu, Nuri.”
Kalimat ini membuat gemuruh kesedihannya menyurut, perlahan-lahan berubah jadi bahagia dan tersanjung. Perasaannya teduh.
“Kamu mau menikah denganku?”
“Mau,” ucapnya tanpa dapat dikendalikan. Bagai di bawah sadar.
“Secepatnya?”
“Ya,”
Bunda, seperti sudah diduga, kaget bukan kepalang manakala ia membicarakan pernikahan seperti membincangkan masalah jatah uang saku harian. Terbata-bata ia menjelaskan tentang dosen muda itu, tentang hubungan cinta mereka, tentang cintanya yang begitu besar, tentang masalah yang dihadapi dosen muda itu.
“Nuri Sayang, pernikahan itu bukan main-main. Ada konsekuensi yang harus kamu tanggung. Bunda tak akan mengizinkan kamu menikah jika alasannya semata ingin menyelamatkan laki-laki itu dari desakan orang tuanya,”
“Tidak, Bunda. Nuri juga sangat mencintainya,”
“Tapi tidak secepat ini, Sayang,”
Bunda kemudian memintanya merenung, memikirkan ulang tentang keinginannya menikah paling tidak sebulan. Wanita itu ragu ia hanya menuruti emosi. Sementara dosen muda itu memintanya kurang dari sebulan untuk memberi kepastian. Ia sungguh kalang kabut. Ia sangat takut lelaki itu tak sabar dan kalah oleh desakan orang tuanya; menikah dengan gadis yang disodorkan orang tuanya.
“Kalau dia sungguh mencintaimu tentu dia bersabar menunggu sampai kamu lulus dan mencapai cita-citamu,” kata Bunda. Lantas ia mengulang kalimat tersebut pada dosen muda itu.
“Kamu ragu, Nuri? Aku sangat mencintaimu sekaligus orang tuaku. Dalam hal ini kuakui aku lemah,”
**
Pernikahan yang sudah ditetapkan itu hampir ia batalkan. Keraguannya mengeras manakala Bunda kembali menjelaskan konsekuensi-konsekuensi yang harus ia tanggung. Ia sedih mengapa Bunda seperti sengaja menakut-nakuti. Mengapa ia tak bisa meyakinkan Bundanya bahwa ia akan berusaha keras menerima konsekuensi-konsekuensi itu dengan baik. Tetapi memang, jauh di lubuk hatinya keraguan itu memang masih ada. Ragu bahwa ia bisa meninggalkan kebiasaannya menggantungkan banyak hal kepada Bunda. Ditambah lagi saat ia mendengar kabar kawan dekatnya, Hashya, yang menikah muda, belum lama ini cerai gara-gara tak tahan merasa dikekang suami.
“Bunda tak bermaksud menakut-nakuti, Sayang. Tapi coba kamu pikirkan, kuliahmu bakal terganggu. Upayamu meriah cita-cita bakal terpenggal di tengah jalan.” ucap Bunda lembut, namun membuat ia ragu lagi.
Ia datang lagi pada kekasihnya dan mengatakan ulang kekawatiran sang Bunda.
“Aku tak akan melarangmu tetap kuliah dan mencapai cita-citamu. Kamu bisa langsung menggugat cerai jika aku mengekang dan membatasimu menempuh pendidikan setinggi-tinggi, Nuri,” kata laki-laki itu. Tapi ia tidak juga puas. Berdasar pengetahuan dari majalah wanita dan sejumlah buku tentang pernikahan yang ia baca, ia meminta laki-laki itu membuat kesepakatan tertulis. Kekasihnya sempat terkejut namun akhirnya bersedia membuat kesepakatan. Menghabiskan waktu beberapa hari kesepakatan itu akhirnya selesai mereka buat. Inilah isi kesepakatan itu:
(1) Kedua belah pihak tidak boleh melarang pihak lain melanjutkan pendidikan demi cita-cita.
(2) Kedua belah pihak tidak boleh membatasi kegiatan masing-masing sejauh kegemaran tersebut tidak mengganggu komitmen pernikahan.
(3) Kedua belah pihak tidak boleh memaksakan kehendak pada pihak lain.
(4) Kedua belah pihak melakukan sesuatu atas dasar persetujuan bersama.
(5) Kedua belah dalam memutuskan sesuatu berdasarkan musyawarah yang disepakati kedua belah pihak.
(6) Kedua belah Saling menghargai dan mengedepankan kepentingan bersama.
(7) Kedua belah tidak boleh saling menyakiti
Jika salah satu pihak melanggar kesepakatan maka pihak yang merasa dirugikan boleh mengugat cerai.
“Kita tanda tangani kesepakatan ini?”
“Ya!”
Pondok Pinang musim hujan, Januari 2009.
(Suara Pembaruan, 28 Desember 2008)
Rumah ini kembali sepi. Tak ada lagi jerit anak-anak berebut mainan. Tak ada lagi ceceran susu dan serakan bungkus bekas makanan di lantai. Semua telah kembali tertata rapi. Warti sudah mengepelnya bersih-bersih, menggulung karpet dan menyimpannya di gudang.
Televisi di ruang tengah memang masih menyala menyiarkan berita-berita kriminal yang bikin perut terasa mual: seorang istri memutilasi suami, seorang ibu meracuni bayinya sendiri sampai mati, seorang kakek bunuh diri. Hartiningsih segera memindahkan channel. Ah, semuanya sangat membosankan. Sebenarnya Hartiningsih ingin membiarkan karpet itu tetap terhampar di sana lengkap dengan ceceran susu, serpihan makanan yang berserakan supaya ia tetap merasakan kehadiran anak-anak dan cucunya di rumah ini sedikit lebih lama. Tetapi Warti, pembantunya yang setia menemaninya sejak puluhan tahun, tanpa diperintah segera melakukan tugasnya merapikan semuanya menjadi seperti sediakala. Seperti anak-anak dan para menantu serta cucu-cucunya tak pernah datang merayakan Natal di sini.
Di halaman depan pohon mangga itu kembali sendirian, tak ada lagi deretan mobil-mobil diparkir. Anak-anak dan para menantu serta cucunya sudah kembali pulang ke kota tempat tinggal mereka masing-masing. Hartiningsih menarik napas dalam-dalam. Betapa lekas semuanya bergegas lewat, seakan Natal tak pernah terjadi di sini. Hartiningsih harus menunggu setahun lagi untuk bertemu kembali dengan anak dan cucu-cucunya yang menyebar di pelbagai kota. Cepat sekali Natal pergi, gumamnya. Seperti sekedipan mata saja. Betapa ingin Hartiningsih lebih lama berkumpul dengan mereka. Melihat anak-anak dan menantunya rukun bercengkrama. Menyuruh Warti membuatkan wedang jahe atau teh poci yang disuguhkan dengan lepet, gadungan, jalabiya, dan makanan khas desa lainnya kegemaran mereka di masa kanak. Melihat cucu-cucunya yang lucu-lucu berlarian membuat rumah gaduh dan berantakan. Lalu dengan ketulusan seorang ibu Hartiningsih memberesi kembali. Betapa menyenangkan mempunyai kesibukan mengurusi anak-anak.
Tetapi Hartiningsih sadar, mereka tak mungkin ditahan. Dia harus kembali menahan rindunya sampai Natal yang akan datang. Bisakah usianya kembali sampai tahun depan? Tubuhnya memang sehat berkat kedisiplinannya berolahraga jogging secara rutin saban pagi. Tapi umur siapa yang tahu?
“Mbok ya kamu minta papamu cuti supaya bisa lebih lama menemani nenek di sini,” ujar Hartiningsih pada Herman, cucunya yang tertua, malam sebelum esoknya mereka balik ke Jakarta. Papa Herman menatap dia penuh pengertian. “Nggak bisa, Ma. Pekerjaanku tak mungkin ditinggal. Coba Mama minta Gunadi saja yang cuti. Pekerjaan dia kan tidak mengikat,” kilah anak sulungnya. Gunadi memang bekerja jadi copywriter lepas yang sering melakukan perjalanan guna mencari ide.
“Mas Eprim saja. Pekerjaanku memang tidak mengikat, tapi besok harus bertemu calon klien,” ujar Gunadi memberi lemparan pada kakak keduanya. Tapi Eprim segera menangkis lemparan adiknya secara lebih gesit, “Wartawan itu nggak ada liburnya, Ma. Dikejar deadline tiap hari. Sekarang bisa mudik saja untung. Mba Yuni saja, waktu dia kan lowong. Bukan begitu, Mas Toro? Sampean nggak keberatan kan kalau Mba Yuni pulangnya menyusul?”
“Nggak bisa, aku harus segera mengurus keberangkatan ke Amerika. Aku dapat kesempatan mengajar di sana.” ujar Yuni tak kalah gesit.
“Ya sudah, kalau kalian nggak pada bisa tinggal lebih lama di sini. Tapi si Herman dan si Yasa seminggu lagi di sini. Kemaren dia bilang bisa minta sekolah masuknya minggu depan kan?”
“Nggak mau, Nek” ujar kedua cucunya itu serempak.
Hartiningsih mendesah pelan. Dunia mereka memang sudah berbeda. Hartiningsih tahu dia tak mungkin membawa mereka ke dunianya yang sepi. Mereka tidak pernah tertarik lagi pada sawah ladang peninggalan ayah mereka. Kebun kelapa dan ikan-ikan di kolam. Cucunya sudah bisa melihat semuanya melalui televisi, internet dan game play station. Dan mereka agaknya merasa cukup melihat ikan-ikan, kerbau, sungai, pematang sawah melalui gambar-gambar di layar komputer.
“Sudahlah, Mama tidak usah sedih. Ada Warti kan yang selalu menemani. Lagi pula kalau kangen Mama kan bisa menelpon kami kapan saja. Mama sendiri kan yang nggak mau tinggal dengan salah satu di antara kami?” ujar anak sulungnya seperti memojokkan Hartiningsih.
Anak-anaknya memang sudah berkali-kali meminta Hartiningsih tinggal secara bergiliran di rumah mereka yang tersebar di Bandung, Bogor dan Jakarta. Namun berkali-kali pula dia menolak. Bermacam-macam alasan dia kemukakan. Tidak betah tinggal di kota, tak kuat melakukan perjalanan jauh, sampai tak tega meninggalkan Warti. Untuk semua alasan itu anak-anaknya bisa dengan mudah membantahnya.
“Ma, di kota atau di desa sama saja. Di halaman rumah kami juga ada pohon mangga. Kebun bunganya malah lebih terawat.”
“Kami siapkan sopir untuk mengantar ke mana pun Mama ingin pergi. Mama bisa tidur sepanjang perjalanan supaya tidak mabuk.”
“Bi Warti ajak saja sekalian. Pasti dia mau.”
Anak-anaknya tidak bisa lagi membantahnya manakala Hartiningsih mengungkapkan alasan yang sesungguhnya.
“Aku tidak tega meninggalkan ayah kalian sendirian,” ujar Hartiningsih dengan suara rendah, sebelum bibirnya mengatup lama sekali.
Ya, Hartiningsih selalu merasa almarhum suaminya masih hidup dan tinggal bersamanya di rumah ini. Anak-anaknya sudah tak tahu lagi bagaimana memberi pengertian pada Hartiningsih bahwa ayah mereka sudah meninggal. Dan orang yang sudah meninggal tidak mungkin bisa diajak bercakap-cakap dengan orang yang masih hidup. Kalau sudah begitu Hartiningsih tidak bisa lagi mempunyai alasan menahan-nahan anak-anak dan cucunya untuk sekadar dua atau tiga hari lagi menemaninya di rumah ini.
“Gimana ya, Pa. Mereka nggak pernah mau percaya kalau sampeyan masih berada di sini, mengawasi mereka,” ucap Hartiningsih kepada suaminya yang selalu dianggapnya tak pernah pergi jauh dari sisinya.
“Mama ngomong sama siapa sih?” kata anaknya ketika suatu kesempatan memergoki Hartiningsih berucap sendirian di ruang tengah. Waktu itu Hartiningsih bermaksud mengabarkan pada suaminya tentang kedatangan anak-anak dan cucunya yang sudah pada besar, tentang Natal yang segera datang.
“Ayahmu, Nak, ayahmu. Lihatlah dia senang sekali melihat kalian datang,” ujarnya lirih dengan mata mengharap anaknya sekali saja mempercayai omongannya.
Hampir lima tahun lalu, ketika suaminya dinyatakan meninggal oleh dokter, Hartiningsih tidak percaya. Ketika jenazah sang suami diantar ke rumah dari rumah sakit, Hartiningsih menyambut laksana suaminya pulang dari liburan.
“Hati-hati di jalan, Pa,” ujar Hartiningsih ketika jenazah suami diberangkatkan ke permakaman. “Aku nanti menyusulmu bersama anak-anak,” kata Hartiningsih berdiri di muka pintu. Anak-anak dan para pelayat menenangkannya.
Begitulah, sampai bertahun-tahun Hartiningsih tidak pernah merasa ditinggal mati suaminya. Dua hari setelah jenazah suaminya diberangkatkan ke permakaman, Hartiningsih melihat suaminya kembali pulang. Masuk ke ruang tengah, nyetel televisi dan minta dibuatkan teh poci lalu dikeroki.
“Begadang terus ya di luar, Papa jadi masuk angin. Biar Mama minta si Warti yang ngeroki,” kata Hartiningsih melihat suaminya tampak letih dan kacau sekali pakaiannya.
Warti yang diminta ngerok, terbengong-bengong. Tapi Warti yang tahu dirinya tidak boleh membantah mengerjakan saja apa yang diperintah.
“Tuannya di mana, Nyah?”
“Warti, Warti, di sebelahku ini siapa? Mulai lamur mata kamu ya,”
Hari begitu redup. Hartiningsih melangkah masuk ke ruang tengah. Dia terheran-heran melihat suaminya sumringah. Kata suaminya Hendarman tidak jadi pulang ke Jakarta. Anak sulungnya itu berserta istri dan anak-anaknya sedang dalam perjalanan kembali ke rumah ini.
“Oya, kenapa mereka nggak ngabari Mama, ya Pa?”
“Mungkin pingin bikin kejutan,”
Ternyata benar, tak lama setelah itu Hartiningsih mendengar suara mobil memasuki halaman rumahnya. Tergopoh-gopoh Hartiningsih berlari ke depan menyambut mereka seraya berteriak supaya Warti menyiapkan makan malam.
“Warti, jangan ke mana-mana kamu. Siapkan makan malam lebih banyak, cucu-cucuku kembali lagi,”
Hartiningsih memeluki anak dan cucunya itu. “Nenek bilang apa, pasti kalian pengen ke sawah kan, menunggang kerbau lagi?” ujar Hartiningsih kepada Herman, cucu tertuanya. Tepat pada saat itu, telepon di ruang tengah berdering. Hartiningsih mengangkatnya. Dari Gunadi yang pulang beriringan dengan Hendarman karena searah, pagi tadi. Di telepon suaranya terdengar parau, terputus-putus.
“Ma, Mas Hendarman, Ma. Mobilnya tubrukan, dia di rumah sakit sekarang.”
@ Pondok Pinang Musim Hujan, November 2008.
(Majalah Femina, 11-17 Desember 2008)
Besok aku terbang ke Korea. Dapat beasiswa untuk belajar dan menulis selama enam bulan di Hankuk University. Doakan tak ada halangan, dan semoga mabrur.
Pesan singkat itu menyelinap di ponselku saat aku sibuk dikejar deadline. Seketika semangatku menyelesaikan kerjaan lungsur laksana istana pasir dijilat ombak di pantai. Muncul perasaan percuma, hambar. Setelah merampungkan dua tulisan untuk halaman berita utama, aku minta izin pulang. Tentu ini membuat Fahmi, redpelku, melotot marah.
“Aku butuh istirahat, maagku kambuh,” kataku menemukan alasan. Kusambar tasku, mencangklongkannya di pundak, lalu tanpa menunggu isyarat diizinkan aku segera berkelebat pergi dari hadapannya. Sudah sepuluh tahun aku bekerja di sini, jadi aku merasa sudah punya hak untuk membangkang. Aku berlari cepat menuruni anak tangga. Seperti ingin melarikan diri dari perasaan yang aku sendiri tak mengerti. Barangkali sesuatu yang menyerupai kehampaan. Tetapi yang tak bisa hilang oleh segalon air mineral.
Begitu saja aku naik angkot tanpa melihat jurusan mana. Aku duduk di dalam angkot dengan pikiran yang ajaib kosongnya. Belum juga kusadari ini angkot jurusan mana. Agaknya ini tak penting. Toh aku tidak punya tujuan hendak ke mana, yang penting pergi. Kulihat lampu-lampu jalan berwarna muram. Toko-toko berjejer tanpa selera. Beberapa kali tubuhku terguncang oleh permukaan jalan yang buruk.
Saat angkot berhenti di depan perempatan lampu merah aku baru sadar angkot ini jurusan Pasar Baru. Kuputuskan turun di depan Mal Metropolis. Di pojok jalan menuju mal itu ada kedai sup kambing yang sangat lezat dan tempatnya cukup bagus. Sebuah majalah ternama pernah mengangkatnya di rubrik kuliner. Aku pikir malam begini tidak ada tempat lebih baik dari kedai itu meski kehadiran pengamen sering mengganggu kenyamanan. Apalagi pengamen yang bukan menjual lagu melainkan membacakan sajak-sajak kampungan yang bikin mual. Entah sejak kapan kedai-kedai kaki lima jadi sasaran para pengamen. Mungkin sejak banyak pabrik pada bangkrut sehingga banyak pengangguran. Entahlah, yang jelas secara mendadak aku putuskan ke sana.
Kuhenyakkan bokongku di meja pojok yang kebetulan kosong. Meja pojok ini menjadi favorit banyak pengunjung, termasuk aku dan dia dulu. Sambil menunggu pesanan datang aku melamun. Sama sekali tak tertarik memperhatikan pengunjung kedai yang kebanyakan berpasangan. Selain pasangan hetero kurasa ada pula pasangan homo. Mereka yang kadang jadi sasaran obyek pembicaraan atau sekadar komentar dia.
Malam ini aku merasa begitu kosong, sendirian, dan begitu merana. Jujur, aku sendiri heran mendapati diriku begini sentimentil. Kenapa kabar keberangkatannya ke Korea membuatku sedih dan merasa bagai ditinggalkan?
Aku mengenal dia hampir sepuluh tahun lalu pada sebuah pertemuan pengarang di Surakarta. Tampilannya dengan kepala hampir plontos membuat tampangnya demikian lugu dan kampungan. Tapi bagaimanapun dia lebih memiliki kepercayaan diri. Dia mengenalkan diri, “Hadi,” ucapnya. Aku menyambut perkenalannya. Kusebutkan namaku.
“Namamu sudah sering aku dengar,” ujarnya membuatku kikuk. Agaknya aku geer. Aku makin geer tak keruan saat dia mengatakan sudah sering membaca karya-karyaku. “Memangnya berapa tahun kamu mondok di Madura?” tanya dia berikutnya. Wah, dia rupanya membaca biodataku.
“Tiga tahun,” kataku tersipu, tapi mulai berani menatap matanya. Menit-menit selanjutnya percakapan kami berlangsung sangat cair meski tetap saja aku menyimpan debar. Pertemuan kami begitu singkat. Malamnya dia sudah tidak tampak di antara kawan-kawannya. Dia lebih dulu pulang ke Yogyakarta. Kabar ini membuatku sedikit menyesal. Waktu itu dia pengarang daerah karena karya-karyanya hanya muncul di media daerah.
Dia hadir lagi dalam hidupku tiga tahun sesudahnya. Dia reporter baru di koran daerah tempatku bekerja. Kehadiranya membuat hatiku seolah penuh. Sayangnya ini tak berlangsung lama. Hanya tiga bulan. Dia keluar dari kerjaan dan memutuskan pulang ke kampung halamanannya di Lampung. Tiga bulan itu dia meninggalkan kenangan yang banyak. Kami sering jalan dan makan bersama di kedai ini. Selama tiga bulan pula aku mendengar dia mencelotehkan mimpi-mimpinya jadi pengarang besar. Aku menyukai semangatnya. Lebih dari itu kurasa aku juga mencintainya. Tapi tak pernah kuungkapkan hingga kini.
Pelayan datang mengantarkan pesanan. Nasi putih mengepul dan semangkuk sup kambing dengan aroma yang menggoda selera. Dia sangat menggandrungi sup ini. Tak pernah cukup satu porsi. Rasanya, dia bilang, senikmat ciuman pertama. Analogi yang agak berlebihan. Minumannya dia selalu memesan jeruk hangat. Setelah makanan tandas kami tidak cepat-cepat meninggalkan kedai. Paling cepat dua sampai tiga jam setelah minuman habis. Kadang dia sampai habis tiga gelas jeruk hangat. Usai makan itu dia mengobrolkan apa saja yang sekonyong melintas di kepalanya. Sedang aku lebih banyak diam mendengarkan. Sesekali saja aku bertanya atau mengulang kalimat dia yang kurang jelas. Seperti aku dia juga sangat terganggu dengan kehadiran para pengamen.
“Kamu tahu kenapa anak-anak jebolan pesantren justru banyak yang bermain-main dengan ayat? Karena ayat-ayat merupakan santapan mereka saban hari. Mereka bosan. Ingin memperlakukannya secara beda supaya tidak bosan, ” tuturnya. Matanya menatapku lurus, dengan sunggingan senyum yang khas miliknya.
“Mereka cari sensasi aja,”
“Mungkin ada yang berniat seperti itu. Tapi itu sangat sedikit. Lebih banyak yang karena bosan!”
“Hmm,” gumamku.
Dia meneruskan ocehannya dengan tema berbeda. Kebenciannya pada rekan-rekan yang suka meminta uang pada narasumber. Mahalnya harga makanan di kantin kantor Walikota.
“Bukankah ini memalukan? Sungguh aku nggak bisa melakukannya. Itu sama dengan menjual kehormatan. Lebih baik aku makan sama tempe saja ketimbang makan rendang dari uang hasil begituan!” kata dia berapi-api.
Kutahu ucapannya bukan basa-basi. Dia ingin selalu berusaha tulisannya sempurna. Bukan sekadar memenuhi standar 4 W 5H, tapi bagaimana berita yang ditulisnya betul-betul jujur apa adanya mengungkap kebenaran. Terdengar asing memang. “Kita memang hidup di zaman yang mengharuskan kita masa bodoh supaya dianggap moderat,” Ini kalimat yang paling aku suka darinya. Kadang kalimat ini kuubah sesuai kebutuhan, misalnya ‘kita hidup di zaman di mana kita harus kelihatan pura-pura peduli pada kebenaran supaya dianggap cerdas,’. Dia sering kehabisan uang untuk ongkos mengejar narasumber.
Aku tidak pernah bosan mendengar dia bicara. Kalau makan di sini kami sering bergantian mentraktir. Umpamanya malam ini aku yang membayari dia makan. Maka besoknya aku dia bayari. Tapi lebih sering bayar sendiri-sendiri. Kami akan keluar dari kedai apabila sudah merasa bosan atau mulai mengantuk. Kami berpisah di perempatan karena menempuh arah yang berlawanan, dia menyetop angkot ke arah Serpong, aku arah ke Kalideres.
Beberapa lama sepiring nasi putih dan semangkuk sup hanya kupandangi. Udara yang dingin membuat kehangatan sup lebih cepat menguap, membuat seleraku menyantapnya pun turut menguap. Hanya beberapa sendok nasi sup kusorongkan ke mulutku. Mengunyahnya dengan malas.
Di Lampung kudengar kabar dia meneruskan usaha warung kelontong bapaknya. Sampai di situ rupanya mimpi-mimpimu, Had, pikirku waktu itu, perih. Aku ingat dia juga pernah bilang dia keturunan pedagang, bukan petani. Dengan tekanan pada kata ‘pedagang’ yang seolah-olah punya makna lebih pintar dibanding petani. Akhirnya toh dia memang tidak pernah jadi pedagang. Setelah sekian lama putus kontak. Beberapa tahun berikutnya tulisannya muncul di koran nasional. Kutemukan lagi kontak dia. Lalu kami bertemu lagi. Jalan bersama lagi. Tetapi tentu sangat jarang. Dia kelihatan begitu sibuk dan membatasi waktunya keluyuran. Dia tampak berubah. Ah, diam-diam hatiku kecewa.
Apalagi kudengar kemudian dia menikah dan memiliki seorang anak yang lucu. Nama anaknya sering dia cantumkan di bawah karyanya. Maksudnya karya tersebut dia tulis untuk anaknya. Hatiku makin remuk manakala kuketahui dia juga berlaku selingkuh dengan perempuan lain, mengkhianati istrinya. Aku selalu menyembunyikan semua bila bertemu dengannya di sebuah acara. Tatapannya tidak sehangat dulu. Tapi dia selalu bertanya, apakah aku masih menulis?
Jeruk hangat yang sudah menjadi dingin kuteguk pelan-pelan. Di luar waktu tak pernah berhenti merambat. Hampir jam 11 malam. Pengunjung kedai sudah berganti-berganti keluar masuk. Kekosongan masih merambati benakku. Makin pekat. Beberapa waktu lalu dia memang membantu menawarkan naskahku pada sebuah penerbit. Berkat dia beberpa bulan kemudian bukuku terbit. Dan dia sempat menuliskan resensinya di sebuah majalah. Kuucapkan beribu-ribu terima kasih padanya, melalui kata-kata langsung, sms, dan email. Makin sering namanya kubaca di koran.
Tak lama kemudian kudengar dia jadi orang kepercayaan ketua sebuah partai. Menyusul berikutnya kudengar dia membeli rumah seharga satu milyar. Dan sekarang dia memperoleh beasiswa belajar ke Perancis.
“Maaf mba, kami mau tutup,” kata pelayan yang rupanya dari tadi menungguku.
Malam memang sudah larut, aku tahu harus pulang. Merebahkan tubuh yang lelah di karpet yang sudah sepuluh tahun kugelar di kamar sewaan tanpa pernah diganti. Mudah-mudahan bisa bermimpi ketemu dia di Seoul. Akan aku ucapkan padanya., “Aku tetap mencintaimu….”
Pondok Pinang, Juli 2008
KOMENTAR TERAKHIR