ANAK-ANAK Category

Pasar dalam Lukisan

In: ANAK-ANAK

(Tribun Jabar, 23 Agustus 2009)
Pasar itu tidak begitu ramai. Terletak di pinggir  sungai bawah jembatan  yang menghubungkan dua propinsi. Pasar makin nampak teduh dan sunyi dalam cahaya senja yang menyepuh atap gubuk-gubuk dan permukaan air sungai menjadi merah keemasan. Di jembatan tampak sebuah bus dan beberapa becak melintas.  Di sudut  kanan ada penjual minuman dengan [...]

Tukang Patri

In: ANAK-ANAK

(Tabloid Nova, Edisi 6-12 Juni 2009)

Tukang patri itu tak kunjung lewat. Dinggi duduk gelisah di depan pintu menunggunya. Apakah dia sakit? Pikir Dinggi. Dia membayangkan tukang patri itu terseok-seok mengayuh sepeda ontelnya di bawah terik matahari, menyusuri jalanan perkampungan yang sunyi. Permukaan jalan yang buruk dan berbatu membuat sebuah kotak kecil seukuran kaleng kerupuk di boncengannya berguncang-guncang dan menimbulkan bunyi gemelotak. Biasanya pukul dua siang tukang patri itu sampai di kampung ini, melintas di jalan depan rumah Dinggi.

Tetapi hari ini sudah hampir tiga jam Dinggi menunggunya. Tukang patri itu tak juga muncul. Benar kata ayah, pikir Dinggi, sesuatu kalau ditunggu-tunggu malah lama. Seolah sengaja membuat kita kesal. Sombong, merasa dibutuhkan. Coba kalau tidak ditunggu, seakan menyodor-nyodorkan diri di depan mata.

Tukang patri, tukang patri. Apakah kamu sengaja tak muncul supaya aku merasa kesal? Keluh Dinggi dalam hati. Matanya menyorot lagi ke utara, arah biasa tukang patri itu muncul dengan teriakan yang khas, “Patriii…”. Dinggi menjulur-julurkan kepalanya ke jalan. Sepi. Apakah karena belakangan tak ada orang yang menambal panci? Beberapa hari ini Dinggi memang melihat tukang patri itu hanya lewat, dan duduk beristirahat di bawah pohon arbasia sebelah warung bik Marsih dekat pertigaan, minum teh manis, merokok, seraya mengipas-ngipaskan topi pandan yang telah jebol-jebol pinggirnya, menunggu orang menambalkan panci yang tak pernah datang.

Tak mungkin tukang patri itu sengaja membuatku kesal, sergah Dinggi. Dia baik, tak pernah melarang anak-anak menonton dia bekerja. Sekalipun kadang kehadiran anak-anak itu membuat konsentrasinya bekerja terganggu. Tukang patri itu suka menatap mata Dinggi dengan sorot mata penuh sayang. Dinggi suka sekali memperhatikan tukang patri itu bekerja.

Mula-mula tukang patri itu menurunkan kotak kecil dari boncengan. Diambilnya dingklik dari dalam kotak. Dia duduk di dingklik, di sebelah kotak yang berisi alat-alat kerjanya. Dikeluarkannya tungku yang terbuat dari kaleng yang dibentuk menyerupai toa dari dalam kotak. Tungku ini unik sekali. Ada roda pemutar baling-baling di dalamnya untuk mengipasi potongan arang yang menyala memenuhi mulut tungku. Bila arang di dalam tungku itu berubah menjadi bara, dimasukkanlah batang besi ke dalam tungku untuk dipanaskan. Batang besi itu disambung dengan kayu sebagai pegangan. Bila ujung besi tampak memerah, batang besi diangkat dan digunakan untuk melumerkan timah. Lumeran timah itu yang dipakai untuk menambal panci, ceret, dandang, rantang, atau apa saja alat-alat dapur yang terbuat dari logam, seng, atau alumunium yang bolong dengan cara mengoleskannya sehingga rapat dan bisa dipergunakan kembali.

Memakan waktu cukup lama bara di dalam tungku memanaskan batang besi. Tukang patri itu harus memutar tuas di roda pemutar baling-baling agar api di dalam tungku itu tetap menyala sehingga batang besi lekas panas dan tampak merah. Kalau belum memerah batang besi tidak akan mampu melumerkan timah. Ketika tuas diputar, besi diangkat, dan melumerkan timah, inilah saat yang paling menarik perhatian Dinggi. Bersama kawan-kawannya Dinggi jongkok merubung tukang patri yang sibuk bekerja. Kedua mata tukang patri itu seakan sudah kebal percikan bara dan abu dari mulut tungku. Sesekali dia menyeka butir keringat yang tampak meleleh di pelipisnya. Paras wajahnya tak pernah tampak lelah meski banyak sekali barang-barang bolong yang harus ditambal.

Timah yang keras itu luluh mencair seperti embun saat disentuh batang besi yang membara. Lumeran timah dioleskan ke bagian panci atau ceret atau rantang yang bolong. Sebelum ditambal, sekitar bagian yang bolong terlebih dulu diamplas hingga halus supaya lumeran timah menyatu dengan panci. Selain menambal alat-alat dapur yang terbuat dari logam, piring porselen yang retak pun bisa diservis tukang patri hingga rekat kembali. Maka kedatangan tukang patri selalu ditunggu ibu-ibu yang memiliki alat-alat dapur mereka yang bolong.

Dinggi ingin sekali memanggil tukang patri ke rumahnya. Tapi panci dan alat-alat masak di dapurnya tidak ada yang bolong. “Bu, kenapa kita tidak punya panci yang bolong?” keluh Dinggi pada ibunya.

Tentu saja, Dinggi. Karena panci-panci itu baru ibu beli. Panci dan ceret yang bolong kemarin sudah ibu berikan ke pemulung.”

“Kenapa diberikan ke pemulung?” protes Dinggi, “Aku bisa tambalkan ke tukang patri.”

Kenapa ditambal, kalau kita bisa beli yang baru,” kata ibunya.

Begitulah, tak ada panci, ceret, dandang, rantang, dan peralatan dapur lainnya yang bolong di rumah Dinggi. Jadi Dinggi hanya bisa menonton tukang patri itu bekerja dari belakang. Yang di depan adalah anak yang ibunya menambalkan panci. Hampir semua ibu teman-temannya pernah menambalkan alat-alat dapur mereka yang bolong ke tukang patri.

Berhari-hari Dinggi membongkar-bongkar gudang belakang rumah. Dia menemukan rak besi yang salah satu rangka kakinya keropos. “Ini bisa diservis tukang patri, bu,” kata Dinggi.

Rak itu tidak dipakai lagi, Dinggi, sudah karatan. Kita sudah beli gantinya kan, rak aluminium itu,” sahut ibunya. Di dapur rumahnya yang berlantai keramik tampak rak aluminium antikarat. Berdiri anggun di samping kulkas. Ibu baru membelinya pekan lalu.

Dinggi mendesah kecewa. Tapi dia belum menyerah, terus sibuk mencari alat-alat dapur yang bolong. Dia periksai semua wajan, panci, dandang, nampan, piring-piring kaleng. Ibunya sampai heran melihat ulah anaknya yang cuma satu ini. Gudang yang sudah dirapikan jadi berantakan. Bukannya belajar atau nonton televisi, malah senangnya melihat tukang patri. apa sih menariknya lihat orang matri?

Setelah cukup lama mencari sampai baju dan mukanya kotor kena debu, akhirnya Dinggi menemukan rantang yang bolong di rak paling bawah. Rantang terbuat dari kaleng itu bolong di bagian lekukan sisi bawahnya. Wajah Dinggi berseri-seri. Penuh semangat dibawanya temuan itu kepada ibunya,

Akan kutambal rantang ini ke tukang patri,”

Buat apa ditambal, Nggi. Yang baru saja jarang dipake,”

Akan kupakai untuk wadah pakan ayam, bu,”

Wadah plastik itu nggak cukup?”

Pokoknya, akan aku tambal ke tukang patri. Cuma seribu. Biar pake uangku,”

Ibunya tak menyahut lagi. Perempuan itu tampak menahan sesuatu di dadanya. Serupa desir yang merayap pelan-pelan. Tapi dia tahu Dinggi tak bisa dicegah. Anak itu keras kepala seperti bapaknya. Dia cuma berpesan, tidak perlu mendatangi tukang patri di pertigaan, tunggu saja sampai lewat di depan rumah.

Ibu mau ke rumah wak Liman, kamu tunggu rumah baik-baik. Kecuali kalau ayah pulang lebih cepat.” kata ibunya. Sekalipun sedikit kesal, Dinggi merasa agak lega.

Hampir pukul tiga sore. Tukang patri itu belum juga muncul. Mungkin banyak ibu-ibu yang menambal panci di pertigaan warung bik Marsih, pikir Dinggi, gusar. Dinggi ingin lekas ke sana saja rasanya membawa rantang yang bolong. Tapi ayah belum juga pulang. Sampai pukul empat ayah tak juga pulang. Akhirnya Dinggi mengabaikan pesan ibunya, dia nekat menguci pintu dari luar dan melangkah setengah berlari ke pertigaan menenteng rantang yang siap ditambal. Rambut ikalnya yang kuncir bagai ekor kuda bergerak-gerak jenaka.

Benar, tukang patri itu tengah sibuk bekerja. Rupanya banyak sekali ibu-ibu yang menambal alat-alat dapurnya yang bolong. Dandang, panci, ceret, rantang, wajan, piring seng, mug kaleng, berderet mengelilingi tukang patri. Ibu-ibu itu menunggu giliran sambil duduk-duduk dan makan gorengan di warung bik Marsih. Sementara anak-anak mereka jongkok merubung tukang patri. Dinggi terpaksa harus ngantri paling belakang. Dia tidak bisa melihat lebih dekat ke tukang patri.

Mau nambal apa, Dinggi?” tanya seorang ibu.

Rantang,” sahut Dinggi cepat.

Bukankah rantang di dapurmu bagus-bagus?”

Ini untuk wadah pakan ayam,”

Ibumu yang menyuruh?”

Dinggi mengangguk ragu-ragu. Dinggi agak heran sekaligus kesal, kenapa sih orang-orang seperti merasa aneh melihat dia menambal rantang. Seolah-olah dia tidak boleh ikut-ikutan menambal rantang yang bolong. Seakan hanya mereka yang boleh punya panci bocor. Lalu lamat-lamat didengarnya mereka menyebut-nyebut nama ayah dan ibu, tukang patri, mata duitan. Dinggi ingat kata ayah tentang orang-orang sulit yang dimengerti, tentang para tetangga yang sukanya iri hati. Dengan mata berbinar dia terus mengamati tukang patri bekerja. Dari jarak dua meter Dinggi tidak bisa melihat dengan jelas saat timah itu meleleh disentuh besi yang membara. Ah, jika saja punya tungku semacam itu, pikir Dinggi.

Sampai menjelang magrib antrian baru menyurut. Tapi sayang, rantangnya tak bisa ditambal. Tukang patri bilang, timah buat nambalnya habis.

Besok saya kemari,” kata tukang patri seraya mengemasi alat-alat kerjanya.

Besok bisakah datang ke rumah saya, pak?” kata Dinggi, “di ujung dekat jembatan sana, warna merah jambu.” Tukang patri mengangguk.

**

Sampai pukul tiga tukang patri tidak juga muncul. Ibu melarang Dinggi menemuinya ke pertigaan gara-gara kemarin Dinggi telat pulang dengan tangan hampa. Dengan nada sedikit tinggi ibunya juga bilang tidak perlu menambal rantang.

Pukul setengah empat tukang patri itu muncul, dia menuntun sepedanya. Dinggi bangkit, menyambutnya girang. Ketika itulah ibunya muncul dari dalam rumah. Beberapa detik ibunya saling tatap dengan tukang patri itu. Sejurus kemudian tukang patri itu urung menambatkan sepedanya. Dia tampak bergegas menaiki sepeda ontelnya, dan berlalu meninggalkan Dinggi yang berteriak-teriak memanggilnya…

Cirebon, Januari 2009

Ada Hantu di Mata Ayah

In: ANAK-ANAK

(Tribun Jabar, 15 Maret)

Ayah pulang telat lagi malam ini. Wajahnya pasti tampak pucat dan letih sekali. Ayah berdiri mematung di depan pintu seperti ragu-ragu mengetuk atau menekan bel. Aku sedang berbaring telentang di ruang tengah nonton televisi. Pura-pura tidak tahu. Kulihat bayangannya yang gugup memanjang menyentuh kursi. Aku bertahan tak menghiraukannya, pura-pura sibuk memindah-mindah chanel melalui remote control. Baju ayah pasti basah oleh keringat berdesakan di bus tadi. Kakinya tentu pegal-pegal karena tidak mendapat tempat duduk dan terpaksa harus berdiri lama sepanjang perjalanan karena macet. Biarlah dia berdiri di luar sampai pagi. Aku tidak mau lagi mendengar rayuannya supaya aku mau menerima tante Maira sebagai pengganti Bunda.

Aku benci tante Maira, dan aku ingin menunjukkan kebencianku pada setiap orang. Supaya mereka tahu aku tidak butuh seorang pun untuk menggantikan bunda. Walaupun dia sering membawakan es  krim, ayam goreng, majalah dan kaset lagu kesukaanku. Kata Roy, tante Maira jahat. Dia suka memukul Roy dan teman-teman di kelas cuma gara-gara mereka tidak mengerjakan PR. “Coba kamu lihat matanya.  Mata perempuan perayu. Tempat bersarangnya hantu.” 

Barangkali ayah memang sudah kena rayu hantu yang bersarang di mata perempuan itu. Itulah sebabnya ayah selalu telat pulang, membiarkan aku sendirian dan lupa membelikan aku buku cerita. Itulah salah satu saja alasan kenapa aku yakin ada hantu yang menghuni mata tante Maira.  

“Kalau kamu tidak mau ditinggal sendirian, biarkan tante Maira menjadi istri ayah.” kata ayah merayuku. Aku melempar buku, lalu membanting pintu masuk kamar merutuki tante Maira supaya dipecat dari pekerjaannya dan pergi sejauh-jauhnya, atau kalau perlu  lekas mati sehingga tak ada lagi yang merayu ayah. Aku menutup kedua telingaku dengan bantal supaya tak mendengar suara ayah yang terus merayu dari balik pintu. Aku diam saja dan tak mau keluar sampai pagi. Aku benci dirayu serupa itu. Walaupun ayah merayuku sampai pagi, aku tidak mau punya bunda tante Maira. Suara ayah yang terdengar lembut dan menghiba menerobos bantal dan masuk telingaku.

Aku tak peduli. Dan baru mau keluar karena harus salat subuh. Itupun kulakukan dengan menggerutu dan tetap membisu. Kucium tangan ayah tanpa kata-kata. Aku tak berani menatap wajah ayah yang bening dan bermata sayu menenteramkan. Aku takut wajah bening itu merayuku lagi sehingga aku harus membencinya.  Kubayangkan mata sayu itu digerayangi hantu dari mata tante Maira sehingga tidak teduh lagi. Aku takut dan sering gelisah. Sehingga aku kadang merasa malas harus pulang ke rumah dan bertatapan dengan mata sayu ayah. Benakku ditumbuhi rasa benci sekaligus salah. Perasaan ini menderas melanda dan menggerogoti kenyamanan perasaanku. 

Kegelisahan  yang kurasakan makin menjadi-jadi sejak entah kenapa nenek yang biasanya selalu menjadi benteng pertahananku belakangan tiba-tiba ikut membujukku. Pasti nenek sudah   kena pengaruh hantu dari mata tante Maira.  “Alma, Ayah memerlukan tante Maira untuk mengurus  rumah. Membuatkan teh dan menyetrika baju ayah. Kau tahu nenek sudah tua, tidak bisa bolak-balik tiap hari.”        

Aku bagai dikepung oleh mata Tante Maira yang mengerikan bagai mata elang yang siap mencaplok mata mungilku. Tapi aku tidak boleh takut. Kata Roy, aku harus melawannya. Roy benar, aku harus menentang matanya. Kalau perlu meludahinya.

“Ya, kau ludahi saja mata tante Maira yang mengandung hantu itu, bundamu pasti setuju.”

Betulkah bunda setuju?

“Tante Maira ‘kan yang membuat ayah meninggalkan bunda?”

Nenek bilang bundalah yang meninggalkan ayah.  Aku tidak tahu bunda tinggal di mana dan kenapa ayah tidak mencarinya. Aku tak dapat mengenang wajah bunda kecuali sayup-sayup.  Wajah yang mirip tante Kesya, mama Roy. Katanya mereka memang bersaudara. Pantas tante Kesya baik padaku; sering mengajakku berenang di pantai, jalan-jalan ke kebun binatang dan makan bakso di mall. Tapi aku tahu ayah tidak selalu senang tante Kesya mengajakku pergi, entah kenapa. Aku tidak pernah melihat mereka ngobrol seperti ayah ngobrol dengan tante Maira.  Pernah kulihat ayah menampar tante Kesya. Jangan mau lagi pergi dengan tante Kesya, kata Ayah. Tapi aku tak menurutinya. Aku diam-diam tetap sering pergi bersama tante Kesya. Apalagi sejak ayah sering pulang telat dan membawa tante Maira ke rumah. Kadang tante Kesya yang menjemputku dari sekolah, lebih sering aku yang datang ke rumahnya bersama Roy. Tante Kesya tidak pernah bercerita tentang bunda. Aku sendiri tidak mempedulikan. Waktuku habis untuk buku-buku cerita. Aku bisa memiliki bunda atau apa saja sesuai keinginanku.

Nenek tak pernah bercerita ada apa pada hari yang mendung itu. Aku merasakan seperti ada kejadian besar yang ditutup-tutupi. Banyak orang berkerumun di depan rumahku. Mang Darman membopong dan menurunkan aku dari becaknya.  Aku ingat itu adalah hari terakhir aku sekolah karena Seninnya liburan selama seminggu setelah ulangan caturwulan. Tak ada yang menyambutku di  depan pintu. Orang-orang memandangku dengan ekspresi tak kumengerti. Aku langsung menghambur masuk rumah. Tapi ada seseorang yang menarik tanganku dan menghalangiku masuk. Orang itu membawaku ke nenek. Kudapati wajah Nenek merah padam, dan bunda diarak orang-orang itu entah ke mana bersama seorang lelaki yang bukan ayah. Nenek tak memperkenankan aku bertemu bunda.  Ayah tentu saja di tempat kerja. Nenek memeluk dan membawaku ke rumahnya yang berjarak sepuluh menit dari rumahku. Aku menangis tapi kemudian kakek mengajakku belanja ke mal dan aku tertawa-tawa naik komidi putar.  Tetapi itulah kukira, hari yang penting dalam hidupku, karena sejak itu aku sulit bertemu bunda.

Waktu awal-awal mendapati keadaan ini kadang aku menangis, dan bertanya ke mana bunda. Nenek berkata bunda sedang pergi ke rumah Omah. “Besok bunda pulang. Alma bersama nenek di sini.” Tapi sampai bertahun-tahun bunda tak pernah datang lagi. Dan aku kemudian  bisa melupakannya. Aku tidak bersedih hidup tanpa bunda, tapi tidak pula bahagia. Aku tidak tahu, aku tidak pernah berfikir harus bahagia atau bersedih. Teman-temanku yang selalu dijemput ibu mereka saat pulang sekolah tidak membuatku melamun memikirkan bunda. Aku merasa hidupku baik-baik saja. Tak ada yang pantas disesali. Aku sibuk bermain dan mengaji, itu membuatku menikmati hari-hariku. Kesedihan hidup tanpa bunda seperti yang sering didramatisir orang-orang tak mempan buatku.

Kesedihan itu justru muncul sejak kehadiran tante Maira. Dia seperti tukang sihir yang mengubah pandanganku tentang bunda. 

Pagi itu tante Maira datang lagi. Kepalanya yang selalu tertutup kerudung lebar melambai-lambai muncul dari pintu pagar. Kudengar langkahnya pelan menginjak kerikil. Aku bangkit dan menghadangnya di depan pintu. Seperti biasa di tangannya ada kantung plastik putih. Ia meletakannya di meja lalu menghambur hendak memelukku. “Alma,  sendirian? Lihat, tante bawakan es krim kesukaanmu.”

Kutatap matanya penuh kebencian. Aku ingin menantang hantu yang bersarang di sana. Biar tak ada lagi yang membujuk ayah,  biar ayah tak lagi pulang telat, biar ayah tidak pernah lagi bertanya, kenapa kamu benci tante Maira, Alma? Aku menunggu hantu itu muncul dari mata tante Maira. Akan aku tantang berkelahi.

“Alma, kenapa? Nenek tidak kemari ya, ayahmu mungkin telat lagi. Tapi tidak usah kesal. Biar tante temani kamu sampai ayah pulang. Mandilah dulu Alma. Kamu harus pergi mengaji, bukan? Nanti Tante antar ya.”

Tante Maira mengangsurkan handuk. Aku mencampakkannya.

“Alma, mandilah,” Tante Maira memungut handuk dan menyampirkannya di bahuku. Dari balik jendela kulihat Kiki, Aisyah, Mita berlarian dengan juz ama di pelukan mereka. Lalu tampak tante Kesya menyeret Roy yang meronta-ronta. Aku tahu Roy enggan mengaji. Dia lebih suka main di rumah koh Supono yang menyewakan play station.

“Mandilah, Alma.” Suara tante Maira terdengar lagi.

Aku tak menghiraukannya. Tapi kulihat tante Maira tak mempedulikan sikapku; dia terus merapikan handuk dan baju-bajuku. Kata Roy aku harus terus menatap matanya. Tapi sampai aku lelah sendiri hantu itu tidak juga nampak. Hantu itu tak muncul-muncul dari Mata tante Maira yang bening dan teduh.   Pantas hantu kerasan tinggal di sana, pikirku. Tetapi hantu itu tak pernah kulihat. Barangkali dia sudah meninggalkan tante Maira.

“Tidak mungkin. Hantu itu tidak akan pernah meninggalkan mata tante Maira,” kata Roy dan tante Kesya, “kamu harus meludahinya, Alma. Kasihan nanti ayah kena pengaruhnya bisa berbahaya.” timpal tante Kesya.

Malam hari aku suka membayangkan hantu itu keluar dari mata Tante Maira dalam wujudnya yang paling mengerikan. Aku sudah menyiapkan pedang yang kugantung sebagai pajangan di dinding. Apakah ini berlebihan? Kurasa tidak. Walau aku remaja, tapi buku-buku cerita yang kubaca lebih banyak dari teman-teman seusiaku.

                                                                           ***

“Apa yang kamu baca, Alma” tanya bunda. “lekaslah tidur, ayahmu tak pulang malam ini.”

Kudengar Bunda mendengus kesal, matanya bunda sembab. Aku tahu mereka bertengkar semalam. Itulah sebabnya, kenapa aku lebih suka menghabiskan waktuku dengan membaca buku cerita. Aku tak mau terseret dalam pertengkaran mereka. Kata nenek pertengkaran adalah bumbu dalam kehidupan rumah tangga. Aku tak perlu sedih. Toh aku bisa membuat cerita tentang mereka menjadi lain sama sekali. Seperti yang barusan kutulis di atas; agak ngawur, mengada-ada dan terkesan kurang waras. Untuk yang satu ini bunda selalu memujiku, “Pintar sekali kamu ngarang!” Tentu saja yang dimaksud pintar ngarang adalah pintar ngelantur! Tapi meyakinkan, bukan?* 

Desember 2008  

Calendar

November 2009
M T W T F S S
« Sep    
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
23242526272829
30  

ARISKURNIAWAN

Blog ini berisi prosa-prosa Aris Kurniawan yang telah dipublikasikan di media massa.


KATEGORI