Majalah Majemuk (Edisi Maret 2009)

Seorang lelaki dengan jenggot panjang dan baju longgar dan panjang melambai-lambai melangkah pelan-pelan memasuki sebuah plasa. Rambutnya bersembunyi di balik peci bulat putih yang dikenakan kepalanya. Peci yang memperlihatkan bentuk kepalanya. Waktu itu sore hari. Matahari merah cahayanya leluasa menerobos ruangan plasa yang hampir seluruh dindingnya terbuat dari kaca. Suasana sangat ramai karena hari itu adalah akhir pekan. Orang-orang berbondong menyerbu konter-konter pelbagai macam penjualan barang, pusat-pusat makanan dan tetek bengek benda hiburan seperti laron menghampiri nyala lampu. 

Mereka tidak memperhatikan laki-laki berjenggot panjang itu yang bajunya longgar dan melambai-lambai. Lagi pula apa yang menarik dari penampilan laki-laki itu? Mereka datang ke plasa memang bukan cuma untuk menghabis-habiskan uang, tetapi memperhatikan laki-laki berjanggut panjang itu rasanya juga terlalu berlebihan. Lebih berguna melihat perempuan-perempuan molek atau pria-pria berdandan rapi dan tampan, bukan?  

Dengan langkah tetap tenang dan sorot mata yang tajam laki-laki berjenggot panjang itu membelah keramaian plasa. Sorot matanya yang tajam berkali-kali menubruk perempuan-perempuan molek yang berdandan begitu seksi membiarkan separuh dada dan lehernya yang mulus dan jenjang dinikmati siapa pun yang memandang. Tetapi laki-laki berjenggot itu segera memalingkan matanya dari sana, ia tundukkan wajahnya sehingga kadang-kadang membuatnya menabrak-nabrak. Haram, haram, batinnya. 

Di luar gelap telah merambat, semburat merah di langit telah benar-benar lenyap berganti cahaya lampu ratusan ribu watt yang menerangi kota. Makin malam plasa makin ramai. Mobil-mobil terus ngantri untuk diparkirkan. Anak-anak berlarian sambil menjerit girang ke tempat-tempat permainan yang disediakan plasa itu. Suara mereka bagai cericit kawanan anak tikus. Sementara orang-orang tua mereka sambil menunggu duduk dikursi rileksasi untuk dipijat refleksi setelah capek keliling berbelanja. 

Alunan musik timpa menimpa. Kursi-kursi kafe penuh oleh orang-orang yang duduk menikmati bermacam santapan sambil berbincang-bincang. Ada juga yang sembari membuka laptop, mengetik, ngobrol dan tertawa-tawa. Laki-laki berjenggot terus melangkah melewati mereka semua tanpa ada yang sungguh-sungguh memperhatikan. Ia menyelinap ke toilet. Di dalam toilet sejenak ia menatap wajahnya di cermin. Wajah yang tampan dan hampir tertutup oleh cambang dan bulu-bulu halus lainnya yang tumbuh di wajahnya. Dia heran, begitu cepat bulu-bulu itu tumbuh. Baru kemarin dia mencukur bersih bulu-bulu itu kecuali bulu jenggotnya yang sengaja dibiarkan panjang. Dulu, Rita, kekasihnya tidak suka melihatnya memelihara bulu-bulu kasar di wajahnya memanjang seperti itu. 

Rita kini entah di mana. Perempuan itu telah mengkhianati laki-laki berjenggot setelah keduanya pacaran bertahun-tahun dan hampir saja menikah. Rita meninggalkan laki-laki itu ketika mereka duduk menikmati menikmati setangkup roti lezat yang langsung meleleh di lidah. Laki-laki berjenggot menghirup kopi dengan lezat, lantas meletakkannya di meja, waktu Rita tiba-tiba beranjak. 

“Aku ke toilet sebentar, Mas.” kata perempuan itu.  

Lelaki itu (waktu itu dia tidak memelihara jenggotnya) tentu saja mengijinkan pacarnya pergi sendiri ke toilet. Dia tidak menyangka itulah kali terakhir melihat pacarnya. Lima menit berlalu dia masih tenang-tenang saja menikmati kopi dan roti yang sering jadi pembicaraan dan sangat digemari teman-temannya itu. Lima menit bukan waktu yang lama untuk pergi ke toilet apalagi buat perempuan yang suka berdandan pula. Dia menghirup kopi perlahan-lahan, menikmati setiap sensasi rasa di ujung lidahnya. Ketika sepuluh menit berlalu dan pacarnya belum juga kembali dia pun masih bisa maklum. Tidak seperti laki-laki yang cukup berdiri dan membuka sedikit resleting celananya untuk buang air, perempuan harus membuka dan melorotkan seluruh celananya, jongkok, sehinggga membutuhkan waktu lebih lama ketimbang laki-laki. 

Memasuki menit ke lima belas laki-laki itu mulai gelisah. Meski demikian dia masih mencoba menghibur diri, mungkin toilet sedang penuh sehingga pacarnya harus mengantri. Tetapi ketika sudah hampir setengah jam pacarnya belum juga kembali dia tidak bisa lagi tenang-tenang duduk menikmati secangkir kopi dan beberapa tangkup roti yang baru dimakan separuh tergeletak di meja. Maka dia pun bangkit dan menuju toilet. Tanpa ragu-ragu dia masuk toilet yang di pintunya terdapat tulisan lady untuk mencari pacarnya. Siapa tahu pacarnya terkunci di dalam dan tidak bisa keluar. Namun ketika seluruh pintu toilet dibuka dan periksa, tapi pacarnya tidak ada dia benar-benar panik. Keringat dingin mendadak bercucuran.  

Dia benar-benar lemas setelah dibantu satpam–yang juga telah mengumumkan berita kehilangan melalui pengeras suara– menyusuri seluruh sudut plasa mencari pacarnya namun tidak juga temukan sampai menjelang tengah malam. Ratusan kali dia menghubungi ponsel pacarnya, tapi tidak ada sahutan. Semua saudara-saudara dan teman dekat pacarnya yang dihubunginya malah terheran-heran mendapat pertanyaan darinya, “Lha kamu gimana, bukannya jalan sama kamu?” kata mereka balik bertanya.  

Peristiwa tersebut sangat memukul jiwanya. Malam itu dia pulang dengan linglung dan tak mampu tidur selama beberapa malam. Tak ada perempuan lain baginya di muka bumi ini selain Rita. Dia begitu mencintai Rita, gadis yatim piatu yang bekerja di panti asuhan itu. Di tempat itu pula pertama kali bertemu dalam sebuah acara peringatan hari kemerdekaan. Rita naik ke pentas menyanyikan sebuah lagu kesayangannya. Suaranya tidak enak didengar tetapi syair lagu yang dibawakannya itu sungguh membuat dia tidak bisa melupakan gayanya menggenggam mikropon, caranya melempar senyum, pandangan matanya. Ketika acara usai dia menemui Rita, dan mengajaknya berkenalan. 

“Suaramu bagus, Rita. Kamu suka lagu perjuangan?” pujinya berbasa-basi. Pertemuan berikutnya dia langsung mengutarakan perasaannya. Beruntunglah, rupanya dia tidak sulit mendapatkan balasan serupa dari Rita. Tetapi kini semuanya sudah lewat. Di salah satu kafe di plasa ini pula dulu Rita meninggalkannya dengan cara yang tidak lazim. Tadi waktu melewati kafe itu laki-laki berjenggot sempat melemparkan pandang ke kursi yang paling pojok tempat terakhir dia dan Rita duduk bersama menikmati kopi dan setangkup roti. 

Kafe itu memang telah berubah. Kini tampak lebih luas dan lebar. Kursi-kursinya pun sudah diganti menjadi lebih bagus berwarna jingga dengan bentuk yang makin minimalis, unik dan nyaman. Para pelayannya pun mungkin juga sudah berganti. Namun laki-laki berjenggot tetap saja menutup separuh wajahnya dengan selembar sorban saat melewati kafe itu. Seakan takut orang akan mengenalinya dan mengingatkan lagi peristiwa menyedihkan yang meninggalkan rongga luka yang sukar pulih di dalam sanubarinya. 

Sampai bertahun-tahun kemudian dia tidak habis pikir bagaimana Rita bisa meninggalkannya begitu rupa. Dia yakin betul selama ini hubungannya baik-baik saja. Mereka saling mencintai. Dia hampir tak pernah mengecewakan Rita meski beberapa kali perempuan itu sempat membuatnya jengkel yang memicu pertengkaran kecil. Sangat lumrah, pikirnya. Kata orang pertengkaran kecil merupakan bumbu yang akan makin mempernikmat suatu hubungan asmara.  

“Aku tidak bisa hidup seperti ini,” keluhnya, putus asa. Sejak itu dia merasa menjadi laki-laki paling malang di dunia. Keseimbangan hidupnya menjadi oleng. Dia pernah memutuskan untuk bunuh diri. Benar, bahwa laki-laki pun bisa saja menjadi begitu melankolis dan sentimentil serupa itu. Apa mau dikata? Akhirnya kemudian dia hanya menyendiri, menarik diri dari pergaulan dunia luar. Suatu sifat yang pada dasarnya dia miliki sejak kecil. Dan kini makin parah. 

“Dunia tidak selebar daun kelor,” kata kawannya yang merasa prihatin melihat laki-laki berjenggot jadi patah semangat seperti itu, “Kamu masih muda, dan begitu banyak persoalan di dunia selain perempuan,” ujar kawannya itu, bijak. Laki-laki berjenggot ingin sekali menyuruh pergi kawan itu. Tetapi rupanya tidak mudah baginya melakukan hal tersebut. Perasaanya terlampau lembut apalagi pada seseorang yang barangkali bermaksud baik.  

“Kalau mau bunuh diri, lakukanlah itu untuk hal yang berguna,” lanjut kawan itu yang membuatnya cukup geli. Kawannya itu mengunjunginya paling sedikit hampir setiap pekan. Dia heran, padahal kawan itu bukan orang terdekatnya. Dalam hidupnya dia memang tidak memiliki kawan dekat. Mereka bertemu di sebuah halte saat dia pulang dari pekerjaan rutinnya sebagai karyawan di sebuah usaha percetakan.  

Biasanya kawan itu datang kala sore. Mengetuk pintu apartemennya perlahan-lahan di sebuah pinggiran kota yang tidak terlalu ramai. Dengan malas dia membuka pintu. Kawan itu langsung memberikan senyuman yang ramah dan penuh persahabatan. Berbasa-basi sebentar sebelum memberi wejangan-wejangan yang sumpah mati bikin dia begitu sebal. Tetapi dia seolah tidak bisa menghindar. “Dunia ini sudah penuh kemaksiatan,” kata kawan itu. Selalu itu yang dikatakan. Dia akan sekadar menyediakan teh hangat dan kue-kue ringan. Ketika dia akan menyulut rokok, kawan itu mencegahnya. 

“Tinggalkan kebiasaan merokok. Itu perbuatan mubazir yang disenangi setan. Gunakan uangmu hanya untuk hal yang berguna.” ujarnya.  

Lantas dia mendengar kawan itu menyerocoskan tentang sekelompok orang yang dibantai oleh sekelompok orang yang lain. Tentang persekongkolan-persekongkolan untuk menghancurkan kelompok lain yang disebutnya sebagai ’saudara kita’.  

“Mereka tidak akan puas sebelum kita tunduk pada kemauan mereka,” ujarnya mengutip bunyi sebuah ayat dengan bersemangat. Dia melihat ada kobaran api kebencian di mata kawan itu yang hendak dihembus-tanamkan ke benaknya. Sampai berbulan-bulan mendapat wejangan seperti itu perasaannya tetap hambar, bahkan makin lengang. Dia selalu terkenang Rita. Di benaknya masih ada pijar harapan bertemu lagi dengan Rita. Masih selalu berpikir di mana Rita kini. Dia berjanji untuk memaafkan Rita jika perempuan itu kembali.  

“Buat apa mengharapkan lagi perempuan,” kata si kawan.  “sudah saatnya kamu berjuang demi tegaknya ajaran Tuhan,”

Dalam kehampaan, dia telah kehilangan pegangan. Maka dengan perasaan yang kosong pula suatu hari dia mendapati dirinya telah menyepakati untuk melakukan tugas yang akan dilakukannya hari ini. 

***

Laki-laki berjenggot itu kini masuk ke toilet. Dia memeriksa lagi bom yang melilit di tubuhnya. Ia meraba dan meyakinkan semuanya sesuai rencana. Maka dia keluar dari toilet, berjalan perlahan, dan lenyap di antara keramaian lantai plasa itu. Perasaannya yang hambar kini sedikit berdebar. Gemetar jarinya meraba tombol bom yang melekat di sekujur tubuhnya. Dan menekannya …..

2006-2008