$theTitle=wp_title(" - ", false); if($theTitle != "") { ?>
temukan keasyikan membaca prosa di sini
(Republika, 21 Desember 2003)
Bayangan tubuhnya memuai, kemudian melebar memenuhi tembok, menghimpit, membuat ruangan makin terasa sempit. Jingkat langkahnya dibarengi suara batuk yang terdengar berat disusul gumaman lirih serak tercekat menyerupai lolong anjing tercekik. Udara berdesir, remang cahaya bagai terpelintir dan minggir memberi jalan bagi langkahnya yang gontai tak bertenaga.
“Rosa….” Ia mendesis, lantas tubuhnya yang kerempeng luruh di atas kursi berjok rombeng. Cahaya bolam lima watt bagai menampar kerut wajahnya yang berlumur debu campur peluh yang telah mengering, menambah kasar kulit wajahnya yang penuh titik-titik lubang bekas jerawat. Paras yang lelah dan putus asa.
Rosa yang tergolek di atas dipan hanya menggerakkan bola matanya. Menatap dengan ekor matanya tanpa semangat. Ia menaikkan krah sweater, menutup separuh wajahnya yang pucat. Tangannya meraba dadanya yang turun naik lemah, melepas buntalan kecil yang ia sembunyikan di bawah bantal kumal berbercak kecoklatan. Rosa menengadah seakan ingin menangkap bayangan yang berkelebatan di atap yang kotor penuh sarang laba-laba. Bayangan yang kadang mendekat dan membuatnya terperanjat. Bayangan yang belakangan menghantuinya dan berulang mau membunuhnya dengan cara menekan dadanya yang tipis.
Tetapi bayangan itu hanya mendekat untuk kemudian menjauh lagi, mendekat dan menjauh lagi, tak sampai-sampai. Pernah juga sampai sesekali, menyentuh dada dan hendak menekannya. Matanya hanya menangkap bentangan kain hitam, nafasnya sesak tersengal. Dan ia merasakan maut tinggal beberapa jengkal merengkuhnya dan membawanya jauh ke ujung gumpal awan putih. Rosa membayangkan ada kolam renang di sana. Tetapi semuanya tertunda ketika terdengar jingkat langkah disertai gumam lirih. Serta merta bayangan hitam itu menjauh, dan dadanya lapang, dan matanya benderang, dan kupingnya menangkap suara batuk tersengal.
“Kenapa kamu harus pulang pada saat yang salah, Rompal!” katanya, terdengar merintih dalam bisikan. Tak ada kandungan saripati makanan dalam darahnya yang menghasilkan energi sehingga mampu mendorongnya menjadi suara yang bisa didengar telinga normal.
“Laki-laki itu hampir datang, kau mengusirnya. Dasar kunyuk! Apa saja kerjamu, Keluyuran? Kenapa pulang pada saat yang tak semestinya,” ucapnya masih dalam gumam ditabrak udara malam yang terasa tebal membawa berkilo beban. Rosa suka membandingkan udara malam dengan seonggok tubuh hitam laki-laki, lengket tak bernyawa, terkapar minta dihangatkan. Begitu berat, begitu menyebalkan.
Laki-laki yang dipanggil Rompal mendengus, “Laki-laki itu datang lagi, Rosa?”
Tanyanya mengejek, “Dia gagal lagi membawamu ke mana? Tepi kolam? Kolam darah?”
Menekuk wajahnya. Ada binar kecemburuan yang gamang di sinar matanya yang kuyu layu namun ada semangat menggunting urat nadi.
“Diam kamu, bangsat!”
“Tidak ada yang bakal menjemput kematianmu, Rosa. Tikam saja jantungmu dengan pisauku. Atau ledakkan pistol di pelipismu. Bukankah kau masih punya sisa peluru. Atau barangkali kau butuh tanganku untuk mencekikmu?”
Rosa memejamkan matanya. Gurat di wajahnya nampak makin dalam seperti ditarik urat-uratnya yang menegang. Ia ingin memaki pikirannya sendiri mengenai laki-laki yang akan menjemput dan membawanya ke tepi kolam. Dulu yang pernah didengar dari teman-teman masa kecilnya bahwa malaikat akan datang menjemput dan mencabut nyawa setiap orang dan akan membawa orang itu ke tepi kolam.
“Rosa, makanlah. Mumpung masih hangat.” Laki-laki itu mengangsurkan bungkusan. “Cuma ini yang akan memberimu energi.” Rosa tak menyahut.
“Ayolah Rosa, jangan cengeng!” suara itu hampir saja gagal merayap di udara sebelum disantap gelap. Rosa bergeming, ia tiba-tiba merasa asing dengan nama itu. Ia merasa bukan Rosa. Ia sekarang hanya seonggok daging busuk. Rosa adalah perempuan perkasa yang tak pernah kehabisan cara menggerakkan dan menggelorakan semangat para tukang becak dan anak-anak jalanan melakukan demonstrasi. Aku bukan Rosa, gumamnya seraya melesatkan ingatannya pada hari-hari mudanya yang dramatis setelah diusir keluarganya gara-gara menolak laki-laki pilihan Mama.
Berkali-kali Mama memilihkan laki-laki untuknya. Mama menginginkan ia berhenti mengurusi tukang becak, anak-anak jalanan, mengorganisir buruh. Kata Mama itu pekerjaan bodoh dan sia-sia. “Kamu hanya diperalat, Rosa. Mereka yang memperoleh keuntungan dari kerja kalian. Lihat teman-temanmu, mereka sudah hidup di lingkungan baru, menikah, punya anak-anak, hidup tenang bersama suami di rumah. Kamu jadi gembel?” kata Mama marah. Perempuan lembut dan penyabar itu berubah jadi mahluk asing yang mengerikan. Wajahnya merah padam bagai disembur api.
Ia ingat betul malam itu mama dan papa baru pulang dari menghadiri pesta pernikahan sepupunya yang diselenggarakan di ballroom sebuah hotel. Ia kepergok mamanya setelah berhari-hari tak pulang, biasanya untuk mengambil uang. Ia meninggalkan rumahnya yang hangat, nyaman dan asri di kompleks perumahan pinggiran kota. Rumah yang dibeli Papa dari ceceran uang proyek pemerintah. Waktu kecil ia sering memberontak larangan Mama bergaul dengan anak-anak dari kampung sebelah. Secara diam-diam menyelinap, membuat terowongan di tembok yang membatasi kompleks perumahan dengan perkampungan, menemui mereka dan mengajak mereka main dalam kamarnya yang seperti toko mainan. Ketika Mama mengetahui, ia marah besar. Mama menguncinya di kamar. Didatangkannya guru privat ke rumah.
Bersama kelompoknya ia membuat markas. Bukan hanya untuk sekadar tidur melainkan untuk diskusi dan merancang aksi. Di markasnya yang tak pernah rapi mereka mengumpulkan tukang becak, anak jalanan, pedagang asongan. Ke mana-mana ia hanya membawa ransel kecil yang cuma cukup untuk menampung satu dua pakaian. Ia dan kelompoknya tak pernah lama menetap di satu tempat. Markasnya ada di mana-mana dan selalu berpindah-pindah. Kelompoknya punya slogan ‘rumah kami ada di telapak kaki kami’. Mereka pernah berminggu-minggu tinggal di lereng bukit bersembunyi dari kejaran tentara setelah menggerakkan sekian ribu buruh demonstrasi, dan mogok kerja. Mereka bertahan hidup cuma dengan umbi-umbian.
Ketika masa-masa mencekam itu selesai, ia tiba-tiba menyadari betapa dirinya menjadi tua. Seiring dengan itu rasa kangen pulang ke rumah menemui Mama membelitnya. Mama makin tua, papa sudah meninggal. Rumah besar itu sepi. Kakak-kakak dan seorang adiknya sudah pergi semua bersama isteri-isteri dan suami mereka. Ia tak ingin terkejut ketika mendengar kematian Papa, seperti juga tak ingin terkejut mendengar bahwa kematian Papa direnggut stres dan struk gara-gara sering menerima teror.
Mama bertanya apakah ia sudah bersuami dan punya anak. Ia tak berucap apa-apa. Ketika mamanya terus mendesaknya, ia mengatakan bahwa ia belum punya pacar, namun siap menikah bila Mama memang menginginkannya. Demi Mama, katanya pada diri sendiri. Ia harus mengalah.
Beberapa bulan setelah pernikahannya, Mama meninggal. Ia bersyukur telah menjadi anak berbakti buat Mama. Ia puas walaupun harus berhianat atas sikapnya yang anti idealisasi pernikahan. Ia harus menyerah walau tidak sepenuhnya, ia tetap percaya pernikahan tidak dengan sendirinya membuat hidup seseorang menjadi bahagia. Ia percaya pernikahan hanya salah satu jalan alternatif bagi seseorang untuk bahagia. Ia hanya ingin menolak anggapan bahwa perempuan yang tidak menikah adalah orang yang kalah dan tidak laku. Walaupun tidak harus dinyatakan dengan cara garang seperti waktu muda,
“Memangnya kenapa kalau tidak menikah?”
“Perawan tua, kagak laku!”
“Memangnya kenapa kalau gue kagak laku?”
Ia kemudian berpisah dari suaminya, bukan karena ingin kembali menegakkan sikapnya, bukan pula benci pada suaminya yang cengeng dan suka mengatur, bukan pula jemu melakukan rutinitas rumah tangga, karena ia ternyata seorang penyabar, melainkan karena laki-laki ceking berkacamata minus itu tewas disambar truk.
Ia tidak pula kembali pada kelompoknya. Sebagian besar teman-teman seangkatannya sudah pada bubar dan hidup sendiri-sendiri menikmati anggur sembari tertawa-tawa di ruangan sejuk. Tapi bukan sebab itu ia memilih tinggal di rumah, melainkan karena kondisi fisiknya yang mulai sering sakit-sakitan. Nyeri di Lututnya yang pernah retak dihantam popor senapan sering kambuh. Juga lambungnnya sudah tidak bisa diajak kompromi. Ia memutuskan menikah lagi dengan laki-laki yang masih sepupunya. Syukurlah sepengetahuannya laki-laki itu setia meski ia tak pernah menuntutnya begitu. Ia jenis pekerja tekun di sebuah penerbitan.
“Rompal, aku ingin mati tapi dengan cara yang tidak terlalu sakit.”
“Terserah kau, Rosa. Tunggu saja laki-laki itu.” Desis laki-laki itu sembari menyungkurkan tubuhnya ke kursi panjang.
“Laki-laki itu bolehkah ia datang menjemput?”
“Jangan bertanya lagi, Rosa. Aku capek.”
Rosa entah kenapa tiba-tiba ingin menimbang lagi sikapnya yang membenci khayalan dan segala yang tidak berwujud. Ia tidak dapat menjelaskan hal ini bisa terjadi sebagaimana ternyata begitu banyak soal yang bisa tak bisa dijelaskan. Ada kegamangan yang membuat tenggorokananya sakit, rasa sakit yang kemudian menjalar dan menohok jantungnya.
Malam menjulurkan rasa asing pada rongga dada Rosa. Ia bukan lagi sekadar seonggok tubuh laki-laki yang lengket tak bernyawa, malam telah mejelma jadi rengekan perempuan nyinyir yang harus ditampar mukanya.
Rosa melirik Rompal yang tengkurap. Perlahan ia bangkit meraih bungkusan plastik hitam, membukanya dan pelan-pelan memasukkan isinya ke dalam mulutnya yang kering dan pecah-pecah, mencoba mengunyah dan memaksa menelannya.
“Kamu tak mengingkan aku mati, Rompal?” ucapnya, masih dalam gumam. Laki-laki itu tak menyahut lantaran sudah direnggut kantuk. Ia tidur di atas dengan kaki terangkat ke meja. Kadang Rosa merasa kasihan, laki-laki yang begitu setia menemaninya. Mungkin karena kebodohannya. Rosa sudah lupa apakah memilki cinta buat laki-laki ini? Ah cinta, bukankah ia juga mahkluk abstrak yang sukar dibuktikan?
“Rosa, pagi ini kamu pasti capek setelah semalaman berlarian dalam kepalaku.” Rosa terkenang ungkapan laki-laki itu yang dimaksudkannya untuk merayu dulu. Ungkapan yang selalu diulang-ulangnya sampai ia pengang mendengarnya. Rompal, laki-laki lugu, gumamnya. Sejenis orang tertib dengan ambisi yang sederhana. Ah, barangkali juga bukan ambisi. Lebih semacam keharusan berbasa-basi.
Rosa bangkit, berjingkat ke meja meraih gelas, menyeduh susu yang dicampurnya dengan madu. Lantas berbaring lagi untuk memulihkan tenaga. Seketika tumbuh tekadnya untuk tidak lekas-lekas mati. Ia ingin memelihara gairah hidupnya untuk Rompal.
Tangerang, 2003
Dia bukan Rosa, dia Sissy Priscillia
(Republika, 21 Desember 2003)
Bayangan tubuhnya memuai, kemudian melebar memenuhi tembok, menghimpit, membuat ruangan makin terasa sempit. Jingkat langkahnya dibarengi suara batuk yang terdengar berat disusul gumaman lirih serak tercekat menyerupai lolong anjing tercekik. Udara berdesir, remang cahaya bagai terpelintir dan minggir memberi jalan bagi langkahnya yang gontai tak bertenaga.
“Rosa….” Ia mendesis, lantas tubuhnya yang kerempeng luruh di atas kursi berjok rombeng. Cahaya bolam lima watt bagai menampar kerut wajahnya yang berlumur debu campur peluh yang telah mengering, menambah kasar kulit wajahnya yang penuh titik-titik lubang bekas jerawat. Paras yang lelah dan putus asa.
Rosa yang tergolek di atas dipan hanya menggerakkan bola matanya. Menatap dengan ekor matanya tanpa semangat. Ia menaikkan krah sweater, menutup separuh wajahnya yang pucat. Tangannya meraba dadanya yang turun naik lemah, melepas buntalan kecil yang ia sembunyikan di bawah bantal kumal berbercak kecoklatan. Rosa menengadah seakan ingin menangkap bayangan yang berkelebatan di atap yang kotor penuh sarang laba-laba. Bayangan yang kadang mendekat dan membuatnya terperanjat. Bayangan yang belakangan menghantuinya dan berulang mau membunuhnya dengan cara menekan dadanya yang tipis.
Tetapi bayangan itu hanya mendekat untuk kemudian menjauh lagi, mendekat dan menjauh lagi, tak sampai-sampai. Pernah juga sampai sesekali, menyentuh dada dan hendak menekannya. Matanya hanya menangkap bentangan kain hitam, nafasnya sesak tersengal. Dan ia merasakan maut tinggal beberapa jengkal merengkuhnya dan membawanya jauh ke ujung gumpal awan putih. Rosa membayangkan ada kolam renang di sana. Tetapi semuanya tertunda ketika terdengar jingkat langkah disertai gumam lirih. Serta merta bayangan hitam itu menjauh, dan dadanya lapang, dan matanya benderang, dan kupingnya menangkap suara batuk tersengal.
“Kenapa kamu harus pulang pada saat yang salah, Rompal!” katanya, terdengar merintih dalam bisikan. Tak ada kandungan saripati makanan dalam darahnya yang menghasilkan energi sehingga mampu mendorongnya menjadi suara yang bisa didengar telinga normal.
“Laki-laki itu hampir datang, kau mengusirnya. Dasar kunyuk! Apa saja kerjamu, Keluyuran? Kenapa pulang pada saat yang tak semestinya,” ucapnya masih dalam gumam ditabrak udara malam yang terasa tebal membawa berkilo beban. Rosa suka membandingkan udara malam dengan seonggok tubuh hitam laki-laki, lengket tak bernyawa, terkapar minta dihangatkan. Begitu berat, begitu menyebalkan.
Laki-laki yang dipanggil Rompal mendengus, “Laki-laki itu datang lagi, Rosa?”
Tanyanya mengejek, “Dia gagal lagi membawamu ke mana? Tepi kolam? Kolam darah?”
Menekuk wajahnya. Ada binar kecemburuan yang gamang di sinar matanya yang kuyu layu namun ada semangat menggunting urat nadi.
“Diam kamu, bangsat!”
“Tidak ada yang bakal menjemput kematianmu, Rosa. Tikam saja jantungmu dengan pisauku. Atau ledakkan pistol di pelipismu. Bukankah kau masih punya sisa peluru. Atau barangkali kau butuh tanganku untuk mencekikmu?”
Rosa memejamkan matanya. Gurat di wajahnya nampak makin dalam seperti ditarik urat-uratnya yang menegang. Ia ingin memaki pikirannya sendiri mengenai laki-laki yang akan menjemput dan membawanya ke tepi kolam. Dulu yang pernah didengar dari teman-teman masa kecilnya bahwa malaikat akan datang menjemput dan mencabut nyawa setiap orang dan akan membawa orang itu ke tepi kolam.
“Rosa, makanlah. Mumpung masih hangat.” Laki-laki itu mengangsurkan bungkusan. “Cuma ini yang akan memberimu energi.” Rosa tak menyahut.
“Ayolah Rosa, jangan cengeng!” suara itu hampir saja gagal merayap di udara sebelum disantap gelap. Rosa bergeming, ia tiba-tiba merasa asing dengan nama itu. Ia merasa bukan Rosa. Ia sekarang hanya seonggok daging busuk. Rosa adalah perempuan perkasa yang tak pernah kehabisan cara menggerakkan dan menggelorakan semangat para tukang becak dan anak-anak jalanan melakukan demonstrasi. Aku bukan Rosa, gumamnya seraya melesatkan ingatannya pada hari-hari mudanya yang dramatis setelah diusir keluarganya gara-gara menolak laki-laki pilihan Mama.
Berkali-kali Mama memilihkan laki-laki untuknya. Mama menginginkan ia berhenti mengurusi tukang becak, anak-anak jalanan, mengorganisir buruh. Kata Mama itu pekerjaan bodoh dan sia-sia. “Kamu hanya diperalat, Rosa. Mereka yang memperoleh keuntungan dari kerja kalian. Lihat teman-temanmu, mereka sudah hidup di lingkungan baru, menikah, punya anak-anak, hidup tenang bersama suami di rumah. Kamu jadi gembel?” kata Mama marah. Perempuan lembut dan penyabar itu berubah jadi mahluk asing yang mengerikan. Wajahnya merah padam bagai disembur api.
Ia ingat betul malam itu mama dan papa baru pulang dari menghadiri pesta pernikahan sepupunya yang diselenggarakan di ballroom sebuah hotel. Ia kepergok mamanya setelah berhari-hari tak pulang, biasanya untuk mengambil uang. Ia meninggalkan rumahnya yang hangat, nyaman dan asri di kompleks perumahan pinggiran kota. Rumah yang dibeli Papa dari ceceran uang proyek pemerintah. Waktu kecil ia sering memberontak larangan Mama bergaul dengan anak-anak dari kampung sebelah. Secara diam-diam menyelinap, membuat terowongan di tembok yang membatasi kompleks perumahan dengan perkampungan, menemui mereka dan mengajak mereka main dalam kamarnya yang seperti toko mainan. Ketika Mama mengetahui, ia marah besar. Mama menguncinya di kamar. Didatangkannya guru privat ke rumah.
Bersama kelompoknya ia membuat markas. Bukan hanya untuk sekadar tidur melainkan untuk diskusi dan merancang aksi. Di markasnya yang tak pernah rapi mereka mengumpulkan tukang becak, anak jalanan, pedagang asongan. Ke mana-mana ia hanya membawa ransel kecil yang cuma cukup untuk menampung satu dua pakaian. Ia dan kelompoknya tak pernah lama menetap di satu tempat. Markasnya ada di mana-mana dan selalu berpindah-pindah. Kelompoknya punya slogan ‘rumah kami ada di telapak kaki kami’. Mereka pernah berminggu-minggu tinggal di lereng bukit bersembunyi dari kejaran tentara setelah menggerakkan sekian ribu buruh demonstrasi, dan mogok kerja. Mereka bertahan hidup cuma dengan umbi-umbian.
Ketika masa-masa mencekam itu selesai, ia tiba-tiba menyadari betapa dirinya menjadi tua. Seiring dengan itu rasa kangen pulang ke rumah menemui Mama membelitnya. Mama makin tua, papa sudah meninggal. Rumah besar itu sepi. Kakak-kakak dan seorang adiknya sudah pergi semua bersama isteri-isteri dan suami mereka. Ia tak ingin terkejut ketika mendengar kematian Papa, seperti juga tak ingin terkejut mendengar bahwa kematian Papa direnggut stres dan struk gara-gara sering menerima teror.
Mama bertanya apakah ia sudah bersuami dan punya anak. Ia tak berucap apa-apa. Ketika mamanya terus mendesaknya, ia mengatakan bahwa ia belum punya pacar, namun siap menikah bila Mama memang menginginkannya. Demi Mama, katanya pada diri sendiri. Ia harus mengalah.
Beberapa bulan setelah pernikahannya, Mama meninggal. Ia bersyukur telah menjadi anak berbakti buat Mama. Ia puas walaupun harus berhianat atas sikapnya yang anti idealisasi pernikahan. Ia harus menyerah walau tidak sepenuhnya, ia tetap percaya pernikahan tidak dengan sendirinya membuat hidup seseorang menjadi bahagia. Ia percaya pernikahan hanya salah satu jalan alternatif bagi seseorang untuk bahagia. Ia hanya ingin menolak anggapan bahwa perempuan yang tidak menikah adalah orang yang kalah dan tidak laku. Walaupun tidak harus dinyatakan dengan cara garang seperti waktu muda,
“Memangnya kenapa kalau tidak menikah?”
“Perawan tua, kagak laku!”
“Memangnya kenapa kalau gue kagak laku?”
Ia kemudian berpisah dari suaminya, bukan karena ingin kembali menegakkan sikapnya, bukan pula benci pada suaminya yang cengeng dan suka mengatur, bukan pula jemu melakukan rutinitas rumah tangga, karena ia ternyata seorang penyabar, melainkan karena laki-laki ceking berkacamata minus itu tewas disambar truk.
Ia tidak pula kembali pada kelompoknya. Sebagian besar teman-teman seangkatannya sudah pada bubar dan hidup sendiri-sendiri menikmati anggur sembari tertawa-tawa di ruangan sejuk. Tapi bukan sebab itu ia memilih tinggal di rumah, melainkan karena kondisi fisiknya yang mulai sering sakit-sakitan. Nyeri di Lututnya yang pernah retak dihantam popor senapan sering kambuh. Juga lambungnnya sudah tidak bisa diajak kompromi. Ia memutuskan menikah lagi dengan laki-laki yang masih sepupunya. Syukurlah sepengetahuannya laki-laki itu setia meski ia tak pernah menuntutnya begitu. Ia jenis pekerja tekun di sebuah penerbitan.
“Rompal, aku ingin mati tapi dengan cara yang tidak terlalu sakit.”
“Terserah kau, Rosa. Tunggu saja laki-laki itu.” Desis laki-laki itu sembari menyungkurkan tubuhnya ke kursi panjang.
“Laki-laki itu bolehkah ia datang menjemput?”
“Jangan bertanya lagi, Rosa. Aku capek.”
Rosa entah kenapa tiba-tiba ingin menimbang lagi sikapnya yang membenci khayalan dan segala yang tidak berwujud. Ia tidak dapat menjelaskan hal ini bisa terjadi sebagaimana ternyata begitu banyak soal yang bisa tak bisa dijelaskan. Ada kegamangan yang membuat tenggorokananya sakit, rasa sakit yang kemudian menjalar dan menohok jantungnya.
Malam menjulurkan rasa asing pada rongga dada Rosa. Ia bukan lagi sekadar seonggok tubuh laki-laki yang lengket tak bernyawa, malam telah mejelma jadi rengekan perempuan nyinyir yang harus ditampar mukanya.
Rosa melirik Rompal yang tengkurap. Perlahan ia bangkit meraih bungkusan plastik hitam, membukanya dan pelan-pelan memasukkan isinya ke dalam mulutnya yang kering dan pecah-pecah, mencoba mengunyah dan memaksa menelannya.
“Kamu tak mengingkan aku mati, Rompal?” ucapnya, masih dalam gumam. Laki-laki itu tak menyahut lantaran sudah direnggut kantuk. Ia tidur di atas dengan kaki terangkat ke meja. Kadang Rosa merasa kasihan, laki-laki yang begitu setia menemaninya. Mungkin karena kebodohannya. Rosa sudah lupa apakah memilki cinta buat laki-laki ini? Ah cinta, bukankah ia juga mahkluk abstrak yang sukar dibuktikan?
“Rosa, pagi ini kamu pasti capek setelah semalaman berlarian dalam kepalaku.” Rosa terkenang ungkapan laki-laki itu yang dimaksudkannya untuk merayu dulu. Ungkapan yang selalu diulang-ulangnya sampai ia pengang mendengarnya. Rompal, laki-laki lugu, gumamnya. Sejenis orang tertib dengan ambisi yang sederhana. Ah, barangkali juga bukan ambisi. Lebih semacam keharusan berbasa-basi.
Rosa bangkit, berjingkat ke meja meraih gelas, menyeduh susu yang dicampurnya dengan madu. Lantas berbaring lagi untuk memulihkan tenaga. Seketika tumbuh tekadnya untuk tidak lekas-lekas mati. Ia ingin memelihara gairah hidupnya untuk Rompal.
Tangerang, 2003
Dia bukan Rosa, dia Sissy Priscillia
Leave a Reply