Tembok Bolong

16 Sep 2009 Uncategorized

(Jurnal Nasional, 13 September 2009)

Seorang lagi hilang ditelan tembok bolong. Kali ini yang jadi korban Wujil, pria yang sehari-hari berjualan ketoprak. Dia tak pernah kembali setelah menerobos masuk tembok bolong itu, meninggalkan gerobak ketopraknya yang diparkir di sisi jalan. Dua orang pembeli ketopraknya mengira Wujil sehabis kencing langsung beli rokok di warung sebelah sekalian menukar uang untuk kembalian. Tapi tunggu punya tunggu, Wujil tak muncul-muncul juga. Karena kesal menunggu, dua orang pembeli ketoprak itu akhirnya meninggalkan gerobak ketoprak Wujil. Mereka pikir biar nanti siang atau besok saja menemui Wujil di mulut perempatan tempat biasa dia mangkal untuk meminta uang kembalian.

Namun sampai besok dan besoknya lagi gerobak ketoprak Wujil masih terparkir di sisi jalan tak jauh dari tembok bolong itu karena memang Wujil tidak pernah kembali. Hari berikutnya petugas kebersihan menyingkirkan gerobak Wujil dari sana dan menganggap Wujil benar-benar hilang ditelan tembok bolong. Nori, istrinya menangis meraung-raung, di depan gerobak ketoprak yang mengonggok bisu.

Meski penjual ketoprak, Wujil selalu merasa dirinya orang terpelajar, maklumlah jelek-jelek begitu dia pernah kuliah di fakultas filsafat UGM. Jadi dia tidak boleh mudah percaya dengan hal-hal tak masuk akal. Tembok bolong yang bisa menelan manusia menurut Wujil tidak masuk akal. Maka selama ini Wujil tidak pernah percaya dengan kabar-kabar yang berseliweran mengenai hilangnya sejumlah orang setelah mereka memasuki tembok bolong. Menurut kabar-kabar yang didengar Wujil dari obrolan para pembeli ketopraknya, sudah ada sembilan orang yang lenyap tak pernah kembali setelah mereka memasuki tembok bolong. Kendati demikian Wujil tidak mau berdebat dengan orang-orang yang mengobrolkan kabar tersebut sambil makan ketoprak, jualannya. Sebagai penjual yang baik, Wujil tahu bagaimana menghormati pembeli.

Wujil merasa tidak perlu membuktikan kabar-kabar tersebut dengan mencoba masuk ke tembok bolong itu, misalnya. Karena kalau dia lakukan jelas itu kurang kerjaan. Meski setiap hari Wujil mendorong gerobak ketopraknya melewati jalan itu, paling banter Wujil hanya memandangnya sekilas. Tak berminat mengamatinya lebih jauh. Apalagi terdorong untuk mencari tahu bagaimana mulanya sampai tembok tersebut bolong. Tapi kalau dilihat bentuk bolongnya yang cukup untuk ukuran tubuh orang dewasa, jelas itu ulah orang-orang yang ingin mengambil jalan pintas. Kalau mau ke hyper mall yang berada di dalam kompleks perumahan elit itu, jalan melalui tembok bolong memang jauh lebih meringkas jarak. Tidak perlu memutar mengikuti jalan raya yang jaraknya berlipat-lipat jauhnya.

Tembok itu, Wujil tahu, merupakan pembatas yang memisahkan kompleks perumahan mewah dengan perkampungan kumuh di sebelahnya. Memang setiap lewat jalan tersebut Wujil melihat tembok bolong itu selalu sepi. Tak pernah sekalipun tampak orang masuk atau keluar dari sana. Wajar saja karena kalau Wujil lewat di jalan itu hari masih pagi saat dia mau berangkat berjualan atau menjelang magrib ketika dia pulang dari berjualan.

Tetapi begitulah, hampir semua pelanggan ketopraknya mempercayai betul tembok bolong itu sudah banyak menelan orang dan tak pernah kembali. Jumlah korban yang sembilan orang itu adalah mereka yang mencoba menembus masuk ke kompleks perumahan mewah melalui tembok bolong tersebut. Tidak ada yang tahu apakah warga kompleks perumahan mewah di balik tembok sana juga ada yang hilang ditelan tembok bolong saat mau menerobos ke perkampungan kumuh. Mungkin tak pernah ada. Siapa yang tertarik dengan kekumuhan?

“Kalau benar menelan korban kenapa tidak ditutup saja,” ujar Wujil iseng menanggapi pembeli ketopraknya yang tampak serius mengobrolkan tembok bolong.

“Itulah, mana ada orang yang berani. Jangan-jangan sebelum menutup tembok bolong mereka duluan yang lenyap ditelan,” ujar pembeli itu seraya menyuapkan ketoprak ke mulutnya. Dari sembilan orang korban itu bukan semuanya warga perkampungan kumuh tempat Wujil mengontrak. Sebagian besar, yakni tujuh orang di antaranya justru tamu di perkampungan kumuh tersebut. Umur mereka rata-rata di atas tiga puluh. Tentu soal umur ini perkara kebetulan belaka. Di perkampungan kumuh itu Wujil memang pendatang, baru enam bulan lalu dia menikahi Nori, warga asli perkampungan kumuh tersebut.

Mendengar obrolan para pembeli ketopraknya yang kelihatannya sangat serius itu Wujil ingin tertawa, namun dia segera sadar tidak boleh menyinggung perasaan pembeli. Sebab dia tak mau gara-gara hal itu ketopraknya kehilangan pelanggan. Maka Wujil hanya mengangguk-angguk menahan geli. Tapi rupanya salah seorang pembeli ketoprak tahu kalau Wujil tidak pernah percaya.

“Kenapa Abang nggak percaya?” pembeli ketoprak bertanya, menyelidik.

“Saya memang tidak percaya. Saya rasa itu cuma kabar burung yang dibesar-besarkan,” cetus Wujil.

“Abang menganggap hanya kabar burung?” kejar pembeli ketoprak, sedikit gemas.

“Iyalah Mbak, mana ada tembok bolong bisa menelan orang. Kalau ada orang masuk melalui tembok bolong itu kemudian tidak kembali, mungkin dia memang tidak mau kembali lantaran diterima bekerja dengan gaji besar di salah satu rumah mewah itu,”

“Tidak mungkin, Bang. Saya istri salah satu korban yang hilang ditelan tembok bolong itu. Suami saya benar-benar tidak pernah kembali. Kami kehilangan kontak sama sekali,” ujar pembeli ketoprak, tampak mulai emosi.

Mbak pembeli ketoprak itu kemudian bilang bahwa suaminya semula juga tidak percaya tembok bolong bisa menelan orang. Makanya dia penasaran ingin membuktikan. Perempuan itu sudah berkali-kali bilang tidak usah nekat. Ternyata benar, malang tak dapat ditolak untung tak bisa diraih. Suaminya benar-benar lenyap dan tak pernah kembali.

Wujil manggut-manggut, ragu. Dia mau bilang “bisa saja suami Mbak memang sengaja meninggalkan Mbak pergi dengan perempuan lain lantaran merasa bosan dengan Mbak,” tapi Wujil tahu dia tidak boleh menyakiti perasaan perempuan pembeli ketopraknya dengan kalimat seperti itu.

“Mbak tidak mencari ke kompleks perumahan mewah yang ada di balik tembok itu? siapa tahu suami Mbak tersesat di sana, tidak bisa pulang.”

Perempuan itu menggeleng perlahan. Lalu terdiam lama menahan kesedihan.

“Sudah berapa lama suami Mbak hilang?” tanya Wujil akhirnya.

“Hampir setahun yang lalu.” perempuan itu berkata dengan nada rendah dan muka murung.

“Pernah lapor polisi?”

“Saya tidak lapor polisi karena suami saya bukan diculik tapi ditelan tembok bolong. Mana bisa polisi melacaknya!” perempuan itu mulai terisak.

“Mbak tahu warga kampung sini lainnya yang hilang?” Wujil bertanya lagi. Dijawab oleh pembeli ketoprak yang lain. Menurut orang itu, dia perempuan. Tetangganya yang baru pulang dari bekerja sebagai penyanyi pub. Karena tak tahan kebelet pipis perempuan itu pipis di got yang ada di balik tembok bolong. Sejak itu dia tidak pernah keluar-keluar lagi sampai sekarang.

Sementara korban lainnya adalah tamu warga perkampungan sini yang mau ambil jalan memotong melalui tembok bolong itu. Mereka semua hilang lenyap bagai ditelan bumi. Keluarga mereka akhirnya menganggap mereka meninggal, yang mau tak mau harus direlakan. Lalu mereka menggelar tahlilan di rumah masing-masing supaya arwahnya tenang.

Wujil tercenung. Benaknya mulai disusupi rasa penasaran. Mungkinkah tembok bolong itu semacam segitiga bermuda yang mampu menelan orang tanpa jejak sama sekali seperti tempo hari dialami sebuah pesawat berpenumpang ratusan orang yang karam dan hilang di lautan tanpa pernah ditemukan bangkainya?
***

Sebelum hilang ditelan tembok bolong itu, Wujil memang pernah mengatakan pada istrinya bahwa suatu hari dia akan membuktikan sendiri. Hanya saja Wujil tidak pernah punya kesempatan. Bisa jadi sebenarnya dia tidak punya nyali.

“Sudahlah, Bang. Jangan macam-macam sok mau mencoba. Cari perkara itu namanya. Aku tidak mau jadi janda,” kata istrinya sambil menumbuk kacang goreng untuk bumbu ketoprak.

Sekali waktu Wujil memang pernah mengamati tembok itu dengan sedikit serius. Tingginya tidak kurang dari satu setengah meter dengan puncaknya ditanami aneka macam beling yang sanggup mencelakai orang yang nekat memanjat ke sana. Belum cukup dengan beling-beling yang mencuat runcing, beberapa senti di atasnya terdapat kawat berduri. Ketebalan tembok kira-kira lima belas sentimeter, kendati demikian kurang kokoh lantaran terbuat dari asbes yang tengahnya kosong. Bagian luarnya tidak dilapisi semen pula sehingga tidak terlalu sukar dijebol. Di beberapa tempat terlihat gambar penis dan kata-kata cabul dari cat semprot. Bagian yang bolong itu tidak lebar juga tidak sempit. Orang tidak perlu memiringkan tubuh dan menundukkan kepala terlalu dalam untuk lolos masuk ke sana. Kalau dilihat dari kondisinya tembok itu sudah lama bolong. Mungkin beberapa hari setelah tembok dibangun. Tidak ada yang tahu pasti siapa yang menjebol tembok itu sehingga jadi bolong.

Tetapi beberapa kali Wujil hanya berdiri kira-kira dua meter di depan tembok bolong. Dari jarak tersebut dia dapat melihat jalan kompleks perumahan yang mulus, taman yang tertata rapi, dan rumah-rumah megah dengan pagarnya yang tinggi-tinggi. Kontras sekali dengan keadaan perkampungan di sebelahnya. Ada kalanya dia melihat sekawanan anak melintas menggunakan sepatu roda. Berseliweran di antara perempuan-perempuan muda—agaknya pembantu— yang tengah mendorong keranjang bayi.

Jadi pada hari lenyapnya Wujil ditelan tembok bolong itu sama sekali bukan karena dia sedang mencoba membuktikan sendiri kabar-kabar itu. Melainkan Wujil benar-benar kebingungan mencari warung mau menukarkan uang untuk kembalian. Dia melihat ada warung rokok di seberang got di balik tembok bolong itu. Tanpa sadar dia menerobos tembok bolong. Kita tidak tahu apakah Wujil benar-benar lenyap dan tidak pernah kembali dari sana.

Sementara itu nun di suatu tempat entah di mana Wujil mendapati dirinya berada di dalam sebuah gudang yang sangat luas. Di sana dia menemukan barang-barang miliknya yang dulu pernah hilang: uang dua ratus ribu, celana jins, jaket kesayangan, sepatu kebanggaan, tas, topi, flashdisk, ulekan ketoprak, ember, handphone, gunting rambut, buku-buku filsafat masa kuliah, bahkan ijazah SMA-nya yang entah berapa tahun lalu hilang di rumah kawan dia temukan di sana. Wujil juga bertemu dengan keponakannya yang autis yang dulu hilang di pasar malam. Dengan para aktivis yang pernah dia lihat fotonya di tembok-tembok. Wujil melihat mereka nongkrong malas-malasan sambil minum kopi. Wajah mereka kelihatannya berbahagia sekali. Ada beberapa orang lagi yang wajahnya tidak dia kenal. Dia hitung jumlahnya ada sembilan. Mungkinkah mereka yang hilang ditelan tembok bolong?

Pondok Pinang, Oktober-November 2008

Pasar dalam Lukisan

2 Sep 2009 ANAK-ANAK

(Tribun Jabar, 23 Agustus 2009)

Pasar itu tidak begitu ramai. Terletak di pinggir  sungai bawah jembatan  yang menghubungkan dua propinsi. Pasar makin nampak teduh dan sunyi dalam cahaya senja yang menyepuh atap gubuk-gubuk dan permukaan air sungai menjadi merah keemasan. Di jembatan tampak sebuah bus dan beberapa becak melintas.  Di sudut  kanan ada penjual minuman dengan dua pembeli bertopi tikar pandan yang sudah jebol-jebol pinggirnya. Mereka duduk sambil merokok . Tangan salah seorang dari mereka melambai pada orang di atas perahu yang juga balas melambai dengan mulut terbuka lebar. Barangkali dia berteriak , “Ooi, ngapain di situ?” atau mungkin juga, “Ooi, ayo ikut berlayar denganku.”

Wulan amat suka dengan pasar dalam lukisan itu . Dia selalu memanfaatkan waktu bermainnya  untuk menikmati lukisan itu berlama-lama. Kalau memandang lukisan itu ia sering terhanyut sehingga kadang seharian ia berdiri di sana. Tahu-tahu sudah  maghrib. Ia tidak tahu sudah banyak peristiwa yang terjadi di luar selama ia memandangi lukisan. Ia terlalu asyik melihat peristiwa-peristiwa yang berlangsung dalam lukisan.

Lukisan itu sudah berada di sana sebelum Ayah dan Ibunya menempati rumah itu. Wulan terlalu sering berpindah-pindah rumah mengikuti Ayahnya yang pekerjaannya tidak memungkinkan mereka tinggal menetap di satu kota . Keadaan yang membuatnya selalu merasa asing dengan lingkungan dan teman-temannya bermain. Ia cuma merasa kenal dengan tiga orang dalam hidupnya: Ayah,  Ibu, serta Teh Empon, pembantu rumahnya yang tetap setia menyertai ke manapun keluarga itu pindah dari satu kota ke kota lain. Teh Empon hapal betul dengan kebiasan anak ia punya majikan yang tidak begitu gandrung bermain sebagaimana anak seusia SMP lainnya. Termasuk dengan kebiasaan baru Wulan memandangi lukisan berlama-lama. Paling banter hanya menegur bila Wulan sampai lupa makan siangnya, “Neng Wulan, makan dulu, nanti sakit. Kalau sudah makan boleh pandangi lagi pasar itu, sampai subuh sekalian kalau mau.” Teh  Empon merasa percuma kalau harus bertanya,”Apa tidak bosan memandangi lukisan itu-itu juga yang bersuara juga tidak. Televisi saja yang banyak chanel dengan acara yang gonta-ganti tiap jam tetap saja membosankan bila ditongkrongi terus menerus.“ Sebab salah-salah dapat jawaban ketus seperti yang kerap dialaminya, “Tak ada gunanya menjelaskan sama Teh Empon yang urusannya cuma mengulek sambel.”

Pernah karena penasaran Teh Empon ikut memandangi lukisan itu agak lama dan teliti siapa tahu memang ada keajaiban yang membuat seseorang bisa terhanyut oleh sebuah lukisan. Namun belum lima menit kepalanya sudah terasa pusing. Ia tidak menemukan apa pun yang bisa membuat orang terhanyut dari lukisan itu. Apakah ketajaman pandangan setiap orang tidak sama?  Teh Empon makin pusing kepalanya oleh pertanyaannya sendiri. Akhirnya ia menyimpulkan anak majikannya ini memang agak ganjil. Ia tidak sampai hati mengatakannya tidak normal alias gila atau barangkali kesambet. Karena siapa tahu lukisan itu memang ada penunggunya.

Kadang saking terhanyut memandangi lukisan Wulan bukan cuma lupa makan, lupa minum, lupa mandi, ia bahkan seperti lupa diri. Berdiri tanpa bergerak sedikitpun seperti patung. Kalau terpaksa harus makan karena  sudah berkali-kali diperingatkan Wulan akan makan sambil memandang lukisan. Teh Empon cuma bisa melihatnya dengan kepala digeleng-gelengkan.

“Neng makan dulu, lalu mandi. Sebentar lagi Ayah sama Ibu pulang.”

Ayah-ibunya yang jarang berada di rumah karena pekerjaan yang mengharuskan     mereka selalu pulang  malam tidak tahu menahu dengan kebiasaan baru Wulan. Mereka menganggap angin lalu saja ketika mendengar cerita dari Teh Empon. Setelah berulangkali pembantunya menceritakan kebiasaan baru anak semata wayang mereka, barulah wanita yang tidak muda lagi namun tampak segar dan gesit itu menanyakan langsung pada Wulan suatu malam menjelang tidur.

Wulan tidak langsung menjawab pertanyaan ibunya. Ia menerawang, barangkali masih membayangkan perahu dengan orangnya yang melambai di sungai yang permukaan airnya merah keemasan oleh cahaya senja.

Ibunya menepuk pundak, “Wul, ada apa sih dengan pasar dalam lukisan itu?”

“Lukisan itu hidup, Bu. Ia menyedotku masuk.”

“Ah kamu, jangan ngarang dong!”

“Apakah aku seperti pengarang?”

Ibunya mau bertanya menyedot bagaimana? Tapi Wulan nampak menguap lebar.

“Aku ngantuk, tidur dulu Bu.”

Paginya dalam perjalanan ke tempat kerja Ibu bertanya pada Ayah.

“Ayah pernah mendengar ada lukisan bisa hidup dan menyedot orang yang memandangnya?”

Ayah tidak menggeleng tidak pula mengangguk. Ibu kesal dan cuma bisa menggerutu sepanjang perjalanan. “Dasar Ayah, selalu sibuk dengan diri sendiri. Mentang-mentang lelaki.”

Begitulah, sejak itu Ibu jadi rajin mengamati perilaku Wulan. Ia khawatir jangan-jangan anaknya memang kenapa-napa. Berkali-kali pesan pada pembantunya supaya Wulan diawasi terus. Alihkan perhatiannya bila terlalu lama memandang lukisan.

“Kenapa tidak disimpan saja ke gudang?” Teh Empon memberi saran.

“Tidak perlu,”

Sejak itu pula Ibu selalu menyempatkan ngobrol dengan Wulan setiap malam sepulang kerja. “Jadi benar kamu bisa masuk dan jalan-jalan di pasar itu?”

Lagi-lagi Wulan menerawang. Lantas bercerita bagaimana ia menyusuri pasar itu yang semua penghuninya laki-laki. Tidak ada seorang pun perempuan. Ia sudah menyisir seluruh lorong pasar, tapi tidak seorang perempuan pun yang dijumpa. Pedagang sayur-mayur, pedagang buah, sampai penjual makanan dan minuman semuanya laki-laki. Begitu pula yang hilir mudik dia atas jembatan maupun sungai tak ada yang perempuan.  Wulan tak habis pikir bagaimana sebuah pasar tanpa perempuan. Bersembunyi di mana mereka?                                                                                                                       

Ibunya hanya mendengarkan tanpa menyela. Ia berusaha ingin mempercayai sedikit saja cerita Wulan. Namun tetap tidak bisa. Mesti menggunakan logika mana supaya bisa percaya? Batin Ibu. Meski demikian ia cuma mengangguk saja bila  Wulan bertanya, “Ibu percaya’kan?” Malam-malam berikutnya cerita-cerita Wulan tentang petualangannya di pasar dalam lukisan itu makin deras. Ibunya kadang juga terhanyut mendengar Wulan bercerita. Bukan cuma karena ceritanya memang menarik dan mendebarkan, tapi karena Wulan sangat pintar bagaimana menyampaikan cerita dengan baik. Memilih dan menggunakan setiap kata dengan sangat tepat. Entah belajar tata bahasa dari mana.

“Jadi kamu sendiri yang perempuan di pasar itu?”

“Ya.”

“Wah, berbahaya sekali. Lantas apa kamu juga sempat makan disana?”

“Pernah beberapa kali.”

“Pantas Teh Empon bilang kamu sering lupa makan seharian.” ujar Ibunya dengan pikiran tak menentu. Ia mulai berpikir untuk mengonsultasikan soal ini ke psikiater.

“Apa sudah seserius itu?” ucap suaminya ketika ia mengungkapkan niatnya.

Dalam ceritanya yang terbaru Wulan bilang dia sudah punya seorang teman di sana. Katanya dari teman itulah dia tahu tempat-tempat tersembunyi yang mencekam di mana banyak ditemukan mayat-mayat  bergelimpangan dalam keadaan mengerikan. Ada yang kepalanya pecah dihantam martil, lehernya putus digorok gergaji. Ada mayat yang membusuk dengan perut robek dan ususnya terburai keluar diseret-seret anjing.

Kali ini ibunya tidak bisa menyela atau pun berkata-kata lagi mendengarnya, kecuali menganga dan mengelus dada.. “Kalau begitu kamu jangan pernah ke sana lagi. Nanti kamu celaka.”

“Ibu tidak perlu cemas, aku bisa menjaga diri.”

“Dengar ya, Sayang, pokoknya kamu jangan pernah ke sana lagi! Ibu tak mau kamu jadi korban!”

Pada saat lain Ibunya mendengar cerita Wulan bersama temannya menyusuri sungai besar yang memisahkan dua propinsi sampai ke muara dengan pantai  yang luar biasa indah. Lebih indah dari pantai Sanur. Sebuah pantai dengan latar belakang cakrawala senja yang  merah membara seperti pepaya masak.

“Di sana senja tak pernah berubah, kekal. Bisakah Ibu bayangkan? Nyiur melambai, sekawanan burung tak henti-henti terbang memintas langit jingga.”

Lama-lama Ibunya tak peduli lagi dengan cerita-cerita Wulan. Ia juga tak mau risau dan mencemaskan anaknya. Toh Wulan baik-baik saja. Ia tak merasa perlu menyimpan lukisan itu ke dalam gudang. Tapi suatu malam suaminya berkata, “Bagaimana kalau kita minta bukti pada Wulan tentang ceritanya itu?”

“Bukti bagaimana?”

“Kita suruh dia membawa segenggam pasir dari pantai itu kemari, atau sejumput saja cahaya senja dari sana .”

“Apa kita punya waktu mengurusi perkara ini?”

Laki-laki yang usianya jauh lebih muda dari istrinya ini tidak menjawab. Matanya perlahan redup, lantas pulas.

Paginya,  mereka terbangun oleh teriakan Teh Empon, “Nyah, Nyah… Neng Wulan hilang, Neng Wulan hilang…”

Ibu yang terkejut mencelat dari ranjang, “Hilang bagaimana?”

Dengan terengah-engah Teh Empon menjelaskan, usai salat subuh tadi ia melihat Wulan sebelum mandi berdiri memandang lukisan. Waktu ia mau menyuruhnya supaya lekas mandi, Wulan tidak ada di tempatnya.

“Sudah saya cari sampai ke kolong ranjang, tidak ada.”

“Mungkin keluar beli nasi uduk…”

“Tidak ada, Nyah. Tidak pernah dia keluar pagi-pagi. Lagi pula di sini tidak ada yang jualan nasi uduk.”

Mereka pun gempar. Ayah berusaha tetap tenang .

“Jangan-jangan dia masuk ke dalam lukisan.”

“Sepagi ini?”

“Bukankah di sana senja tetap abadi?”

“Tapi ini  kan waktunya sekolah.”

“Lantas gimana, Bu? Kita tidak bisa masuk dan menyuruhnya pulang.”

“Cari akal kek bagaimana caranya bisa masuk ke sana .”

Mereka menatap lukisan yang tetap menggantung bisu. Tidak ada yang berubah pada gambar yang tergores di atas kanvas berukuran 100 kali 50 sentimeter itu. Permukaannya saja yang makin bersih karena  selalu dilap kemoceng. Mereka menurunkan lukisan itu, bolak-balik diamati.

“Dari sudut sebelah mana ya, Wulan bisa masuk ke dalam sana ,” gumam Ayah dan Ibu hampir bersamaan. Teh Empon pura-pura ikut sibuk mengamati lukisan sampai melotot-lototkan matanya yang agak juling.

“Ah sudahlah, Bu. Nanti juga Wulan kembali.”

Wulan memang kembali saat Ayah dan Ibunya tidak berada di rumah. Teh Empon tergopoh-gopoh menyuruhnya makan. “Pasti kamu lapar habis bertualang, ya kan. Nih Teh Empon masak rendang.” Wulan nampaknya memang lapar, ia makan dengan lahap.

“Lain kali kalau mau masuk ke sana, bilang-bilang dulu Neng! Jangan bikin gempar.” ujar The Empon. Tapi Wulan tidak mendengar, dia berlalu ke kamarnya. Di sana dia termenung, memikirkan tawaran teman barunya yang meminta dia untuk tinggal selamanya dalam lukisan.

“Boleh saja, asal kenalkan dulu sama Ayah dan Ibu. “ ujar Ibu waktu Wulan menceritakan tawaran ia punya teman. Ayah sepakat dengan Ibu, “Dan kalau kami kangen boleh menjenguk kamu di sana.” tambah Ayah dengan mata berbinar.

Wulan menatap Ayah dan Ibu dengan wajah riang seperti mau diajak liburan ke Paris . Kemudian semuanya sepakat. Wulan akan mengenalkan Ibu dan ayah pada teman barunya nanti malam.

Saatnya tiba bagi Wulan untuk menjemput temannya ke dalam lukisan. Ayah, Ibu serta Teh Empon berdiri berjajar menantikan semuanya dengan perasaan berdebar. Mereka telah menyiapkan acara penyambutan ala kadarnya.

“Sabar ya, Aku akan membawa dia kemari.”

Wulan berdiri persis satu meter di depan lukisan. Suasana sunyi beberapa lama. Lalu sayup-sayup, Ayah, Ibu serta Teh Empon mendengar keriuhan pasar, suara sungai yang mengalir lengkap dengan kepak burung, deru bus serta gerincing becak dari lukisan. Perlahan lukisan bergetar, disertai keredap-keredap cahaya senja yang memancar keluar menyiram Wulan yang khidmat memandang. Ayah, Ibu serta Teh Empon seperti melihat layar bioskop yang bergerak menampilkan gambar-gambar hidup. Mereka terhanyut beberapa saat. Tubuh Wulan tiba-tiba lenyap seiring lenyapnya suara-suara…

“Ayaah, Wulan hilang, Yah! Wulan benar-benar lenyap. Aduh ke mana dia?! Wulaaaaaan…” Ibu berteriak histeris, lalu pingsan.***

Pasar Losari-Cirebon, Akhir Mei 2009.

Sepasang Jenazah

3 Aug 2009 KEKERASAN

(Jurnal Nasional, 26 Juli 2009)

Dia duduk di sana, di pojok ruangan remang. Kamu tak dapat melihat wajahnya dengan jelas. Hanya kilau bibirnya yang basah dan gelombang rambutnya tergerai menghalangi separuh wajahnya. Gerakannya menghisap rokok tampak canggung dan gugup. Tampaknya hanya upaya untuk meredakan kegelisahannya. Tampak kontras dengan lukisan sepasang kekasih sedang bercinta yang menggantung di dinding belakangnya. Lukisan yang sangat erotik, namun sudah lama tak lagi menarik minatmu. Kilatan warna warni lampu disko sesekali mengusap sebagian wajahnya. Tampak olehmu sepasang matanya yang mengerjap resah. Dia meneguk lemon tea segar yang tadi dipesannya.

Kamu pun gelisah. Beberapa batang rokok menguap percuma. Kamu sendirian di deretan kursi berkaki tinggi di depan bar itu. Deretan botol-botol minuman dengan bentuknya yang lucu-lucu berkilau-kilau memantulkan kembali cahaya yang menyorot, berputar-putar dari atas ruangan. Bulatan-bulatan cahaya bermacam warna dari serupa bola itu berputar berkedip-kedip menyapu seluruh ruangan. Bartander tampak sibuk bermain game di layar komputer di atas meja pojok ruangan bar. Abai pada asap rokokmu yang mengalun menampar wajahnya, bahkan pada sapaan sopanmu. Sepasang kekasih duduk berhimpitan di sofa. Tidak ada kaki-kaki mengentak menari di lantai. Di panggung rendah sisi bar seorang penyanyi melantunkan lagu-lagu berirama lembut. Mendadak dia bangkit, berjalan kikuk melintasi meja biliar yang juga sepi. Kamu melihat punggungnya lenyap masuk toilet.

Di luar mulai temaram. Kamu melangkah ke sana, duduk di salah satu kursi yang berderet di teras. Hanya tampak tiga mobil yang terparkir bisu di pelataran parkir. Iseng kamu menduga-duga mana mobil milik perempuan itu. Percuma dengan upaya ini, kamu masuk lagi ke dalam. Menghindar dari tatapan mata satpam. Tiba di dalam matamu langsung menyapu pojok ruangan. Tapi kamu tak mendapati dia duduk di sana. Ketika kamu sibuk menerka-nerka, dia keluar dari toilet, melangkah masih dengan gerak canggung ke tempat semula.

Kamu melangkah pulang membawa rupa perempuan itu dalam kepalamu. Tetapi berkali-kali gagal membayangkan wajahnya secara penuh. Yang muncul justru wajah-wajah yang tak diharapkan. Malam mencekam sunyi, hanya suara derum mesin kendaraan yang sesekali melintas sayup. Kamu tak tahu sedang melangkah ke mana. Kini tak ada yang mengharuskanmu menyelesaikan dan menyetor tulisan pada siapapun. Tak ada. Kebebasan yang dulu kamu angankan itu kini justru membuatmu sedih dan hampa. Kamu merindukan situasi tertekan justru ketika waktu membebaskanmu.

Udara terasa sangat gerah, seperti pertanda hujan bakal tumpah. Kamu terus melangkah seperti melayang, menembus apa saja. Tetapi heran, udara gerah tak mau juga pergi. Beberapa kenangan buruk begitu saja melintas yang membuat nyalimu ciut. Segerombolan preman menggedor pintu rumahmu. Kecurigaan yang kamu pupuk semalaman menampakkan wujudnya. Refleks kamu menyambar alat-alat kerjamu dan kabur melalui jendela. Sayang seorang dari mereka menghadang dan sempat menghantam pelipismu, menggoreskan pisau di jidatmu, sebelum kamu berkelit dan kabur. Tapi goresan itu memberi jejak kenangan yang dapat kamu raba setiap saat.

Kamu pernah memergoki perempuan itu berbicara lirih tentang sebuah rencana dengan seseorang yang sering kamu lihat di acara-acara yang pernah kamu ikuti. Wajahnya memucat dan tubuhnya beringsut gugup saat melihatmu. Lalu mereka berpisah. Kamu memergoki mereka bertemu lagi di sebuah kafe yang lain. Cuaca bagus sekali malam itu. Bulan melimpahi bumi dengan cahaya meski kemudian mengerut oleh lelampu. Kamu pun turut merasa gelisah. Perasaan ini menyerang tanpa dapat dilacak dari mana sebabnya. Kamu hanya ingat beberapa kali seseorang mirip perempuan itu terpergok membuntutimu. Kamu menginjak bayangannya yang memanjang di lorong sempit saat kamu pulang menuju kamar sewaan di ujung gang. Tapi di tengah sergapan kantuk lantaran beberapa malam begadang di kantor menuliskan hasil investigasi kasus penggelapan uang, kamu segera melupakan kecurigaan itu. Hanya perempuan, paling pelacur murahan, bisikmu seraya terhuyung memasukkan anak kunci ke lubang pintu, menendangnya. Lalu bergegas menyungkurkan diri di kasur busa yang terhampar di lantai.

Di waktu yang sama pada malam berikutnya kamu melihat perempuan itu duduk lagi di sana. Apakah yang dikerjakannya? Ia tampak gelisah seperti kemarin, menyedot-nyedot sebatang rokok. Kamu ingin mendekat, tapi ragu dan sedikit takut. Entah kenapa. Aneh dan ganjil menyumpal perasaanmu sejak peristiwa itu. Peristiwa menakutkan yang membuatmu penasaran pada perempuan itu. Tapi kini kamu takut mendekatinya. Kamu khawatir orang-orang memperhatikanmu. Kamu khawatir di antara mereka ada kawanmu yang akan membocorkan peristiwa ini di kantor. Kamu tidak siap diolok-olok. Cukuplah menjadi laki-laki tak beristri di umurnya yang mendekat angka 40. Cukup. Tak perlu ditambah dengan olokan yang membuatmu kesal dan menyalahkan diri sendiri. Tapi di saat yang sama sebenarnya kamu yakin betul orang-orang tak akan memperhatikanmu dalam suasana remang seperti dalam bar itu. Sebenarnya bukan karena suasana remang belaka, namun karena sesuatu kondisi yang sebenarnya sempat kamu curigai tentang keberadaanmu.

Kali ini perempuan itu mengikat rambutnya menyerupai gelungan sehingga lehernya yang jenjang tampak dari kejauhan. Menyerupai siluet. Ia terus duduk di sana, sekarang agak lebih tenang. Dari pojok ruangan yang lain kamu melihat bar mulai ramai. Orang-orang mengalir dari arah pintu. Mereka menyebar mencari tempat duduk yang dianggap nyaman. Ini Selasa malam. Bar menggelar Latin Night tiap Selasa malam. Sebentar lagi suasana bakal hingar bingar oleh irama latin yang mengentak jantung. Mengajak semua orang turun berjingkrak di lantai. Kepul asap rokok membaur dengan bau alkohol. Matamu bakal terasa pedih. Dari arah meja kasir sepasang penari muncul ke tengah lantai seperti meluncur dari balik impian. Gerak tubuh mereka yang dinamis segera menarik perhatian. Tapi kamu memalingkan wajah dari sana. Mencari-cari perempuan itu. Ia sudah tak terlihat di sana. Irama latinos tak lepas dari labirin kupingmu ketika kamu keluar ke arah pelataran parkir. Perempuan itu ada di antara mobil yang pintunya terbuka. Berdiri bercakap-cakap dengan seorang lelaki. Refleks kamu menarik tubuhmu ke balik dinding. Mereka saling berbisik, tapi kamu segera menangkap pertengkaran mereka. Sepintas si perempuan menyebut uang, diperalat, pergi. Si laki-laki hanya menatap dengan mata dingin. Laki-laki itu menyorongkan bibirnya ke bibir perempuan yang hanya tertegun kaku dengan mata tampak berkaca-kaca. Adegan itu berlangsung agak lama sebelum mereka berpisah.

Si perempuan pergi membawa sedan abu-abu metalik. Sementara laki-laki itu berbalik, berjalan kembali memasuki pintu bar. Langkahnya tegap dengan sorot mata sedingin es yang mengepulkan uap. Kamu buru-buru menyingkir, membaur ke tengah orang-orang yang berjingkrak mengikuti hentakan irama latin.
***
Entah siang ke berapa sejak kepergianmu, kamu mendapati kamar sewaanmu melompong. Sulur-sulur cahaya matahari menerobos lewat jendela. Debu melapisi lantai. Ada bangkai kupu-kupu di kusen jendela, seperti menegaskan kabar buruk tentang kepergian. Tapi senyum Mahatma Gandhi tak pernah lekang di dinding. Berdampingan dengan Che Guevara. Alat-alat kerjamu tak ada di sana. Tumpukan majalah dan koran di sisi kasur di bawah meja, ceceran abu rokok dan sebuah asbak yang terjungkal. Masih ada jejak di lantai itu, jejak terakhir sebelum kamu meninggalkan kamar itu suatu malam berlangit kelam. Tak akan pupus dari ingatan, telepon tiba-tiba berdering. Suara di seberang yang sangat kaukenal memintamu segera meninggalkan tempatmu malam itu juga. “Di kantor saja, kamu aman.” ujar suara di seberang. Suara Bang Kusnandar, pemred yang sering memuji ketelatenanmu menginvestigasi dan menulis.

Agak malas kamu keluar dari pintu belakang. Kamu tak sempat menoleh saat terdengar suara pintu didobrak paksa. Kedua kakimu yang segera meresponsnya dengan membuat langkah-langkah lebar melipir got yang mengamburkan bau amoniak. Paru-parumu yang sering disumbat asap rokok kini terasa mau pecah menghirup udara berembun campur dengan zat beracun yang menguap dari got berwarna gelap. Beberapa kali kamu nyaris tergelincir ke dalam got jika tanganmu tak tangkas mencengkram pagar kawat di sisi got.

Kamu lupa perasaan macam apa yang mencincangmu waktu itu. Kini terlihat pintu kamarmu mengatup rapat. Seseorang telah mengatupkannya. Mungkin dia pengamen, atau pengemis atau mungkin juga seseorang yang semula berniat mencuri. Para tetangga tak ada yang tahu di sini. Kamu maklum, mereka para perantau yang tak memiliki waktu buat mengurusi rumah tetangganya.

Kamu berdiri di depan pintu. Tanganmu menggapai hendak meraba, meraih tangkai pintu. Tiba-tiba kamu membalikkan tubuhmu. Terasa ada desir angin di balik punggungmu. Seorang perempuan melintas, ia tampak bergegas. Ia tak mengacuhkanmu. Kamu tahu perempuan itu tinggal beberapa blok di komplek perumahan ini. Kemarin-kemarin kalian sering berpapasan. Tapi tak pernah saling menyapa, hanya sekelebat saling menatap dan melempar senyum dipaksa. Berbagi basi-basi.

Malam ke sekian kamu datang lagi ke sana. Melihat perempuan itu duduk lagi sana. Tak berubah, ia memilih kursi yang sama, di pojok ruangan yang di dinding belakangnya terdapat lukisan sepasang kekasih sedang bercinta. Tak jelas benar karena hanya berupa goresan warna coklat dan kuning tua. Tetapi justru membuat orang yang menatapnya berimajinasi sendiri. Kali ini perempuan itu memesan anggur. Tak lama kemudian si lelaki yang kemarin muncul. Ia mengucapkan beberapa kalimat. Perempuan itu hanya merespons dengan lirikan mata melawan. Lantas mendengus kesal, tapi segera si laki-laki merenggut tangannya. Mereka bertengkar. Si laki-laki menyeret perempuan itu ke sebuah ruangan diikuti dua orang laki-laki lain.

Kamu berdebar-debar di pojok yang lain. Menduga-duga apa yang bakal terjadi dengan perempuan itu. Beberapa menit berlalu sudah, orang-orang masih berjingkrak mengikuti irama musik lambada. Makin riuh, makin memabukkan. Kamu tiba-tiba nekat mengikuti ke arah mana perempuan tadi diseret. Menyusuri lorong-lorong ruangan. Di depan sebuah pintu kamu tertegun dan hampir tercekat. Semua sudah terlambat, kamu melihat perempuan itu terkapar dengan lidah terjulur menganga dan bola mata mau melompat dari rongganya. Sementara ketiga laki-laki itu tertegun saling berpandangan.

Kini kamu dapat melihat paras perempuan itu dengan jelas. Meski mulai pucat membiru, kamu tak akan lupa. Dialah yang pernah membuntutimu begitu kamu keluar dari kantor malam itu, lalu menawarimu pulang bersama dalam mobilnya. Kamu mengangguk begitu saja. Waktu itu kamu berharap perempuan itu mau menjadi pacarmu. “Saya karyawan baru di lantai 13,” ucap perempuan itu ramah. Tapi di tengah jalan yang sunyi di atas jembatan mobil berhenti, dua orang laki-laki segera masuk ke dalam mobil dan memepet tubuhmu. Menghantam pelipismu, dadamu yang kurus, hingga pingsan. Belum cukup, mereka lantas menjerat lehermu hingga napasmu putus. Mereka membawa jasadmu ke tepi pantai, membenamkannya dalam lubang dangkal lalu diuruk pasir. Kini kamu berharap ketiga laki-laki itu membenamkan jasad perempuan itu di tempat yang sama di mana jasadmu telungkup beku ditimbun pasir di tepi pantai itu. Menjadi sepasang jenazah yang tidak saling mencintai.

Radio Dalam, Maret 2007.

Pilihan Kedua

3 Aug 2009 CINTA

(Majalah Noor, Juli 2009)

Belum genap setahun Jamal meninggal, tapi sudah ada dua laki-laki yang datang menyatakan maksudnya meminang Rani. Pertama Hamid, kawan akrab Jamal sejak remaja. Kedua Marwan, adik sepupu Jamal.
Kedatangan pinangan kedua lelaki yang sama-sama orang dekat almarhum suaminya itu membuat malam-malam Rani dipenuhi kegelisahan, kurang tidur, terlambat masuk kantor, dan konsentrasinya melakukan pekerjaan terganggu. Rani bukan hanya bingung harus memilih satu di antara mereka, melainkan dia tak habis mengerti mengapa harus secepat ini. Masa idahnya memang sudah lama berlalu. Dan setahun memang bukan waktu yang sebentar untuk perempuan yang ditinggal mati suami. Tetapi duka Rani belum lagi kering atas kematian Jamal yang terjadi secara mendadak dan tragis. Rasa kehilangan itu mungkin tak akan pernah benar-benar pupus untuk selamanya di benak Rani.
Rani heran, mengapa kedua laki-laki itu tidak bisa memahami perasaan perempuan. Apa lelaki memang begitu? Ah, memang tak ada lelaki sepengertian Jamal, keluh Rani. Dia ingin mengatakan pada mereka bahwa perasaannya masih berduka, dan belum siap menerima lelaki mana pun untuk mengisi rongga yang ditinggalkan Jamal di benaknya. Belum sanggup Rani melupakan segala kenangan indah yang pernah dicecapnya bersama Jamal selama sepuluh tahun pernikahan mereka yang tiba-tiba direnggut secara paksa oleh kecelakaan lalu lintas yang mengantar Jamal pergi untuk seterusnya. Kadang Rani tak percaya cobaan berat ini datang padanya begitu lekas, ketika dia dan Jamal tengah semangat-semangatnya bekerja membangun masa depan.
Bahkan sampai sekarang Rani kadang merasa Jamal masih hidup, menjaga, dan mengawasinya dari detik ke detik. Bukan hanya mengawasi gerak fisiknya tapi juga gerak hatinya. Rani akan merasa sangat bersalah dan mengkhianati Jamal jika dia menerima lamaran lelaki lain.
Tetapi, begitulah. Rani heran sendiri mengapa dia tidak bisa mengucapkannya. Rani hanya bungkam ketika sore itu Hamid bertandang ke rumah. Menebar simpati.
“Dulu itu kami seperti tak terpisahkan. Ke mana-mana bersama. Sampai-sampai banyak yang meledek kami seperti orang pacaran,” kata Hamid, “Pulang dan berangkat sekolah selalu bersama. Makan bareng, tidur bareng, sebatang rokok kami hisap bergantian. Hanya satu yang membedakan kami, nasib Jamal lebih bagus, dia mendapatkan istri idamannya,” tutur Hamid dengan mata menerawang. Cerita tentang keakraban persahabatan mereka memang Rani dengar juga dari almarhum suaminya.
Setelah bicara berputar-putar kesana kemari tentang persahabatannya dengan sang almarhum, secara halus dan malu-malu Hamid mengatakan maksudnya mengganti posisi yang ditinggalkan Jamal di sisi Rani, menjadi ayah baru bagi Hanan dan Yasa, dua orang anak yang kini menjadi yatim.
“Aku akan menyayangi kamu serta Hanan dan Yasa, seperti Jamal menyayangi kalian,” kata Hamid, “Kamu boleh menerimaku seperti kamu menerima dan mencintai Jamal,” bujuk Jamal dengan nada bersungguh-sungguh. Namun Rani tetap bungkam.
Bibir Rani makin terkunci rapat manakala Hamid mengatakan bahwa keinginannya meminang dirinya bukan sekadar karena ingin segera mengakhiri kesendiriannya, tapi sekaligus untuk memenuhi amanah sang almarhum. “Jamal berpesan supaya aku menjagamu, Ran,” suara Hamid terdengar bagai memohon. Bahkan menatap mata Hamid pun Rani seakan tak kuasa. Dia melempar pandangannya pada bunga-bunga di halaman rumah. Rani tak pernah kuasa melihat tatapan lelaki yang menghiba.
“Aku tahu, Ran, kamu masih berduka, butuh waktu beberapa lama lagi untuk meredakan kesedihanmu. Aku juga mengerti, aku tidak meminta kamu menjawab sekarang.” ujar Hamid, lirih, lembut, tapi ada ketegasan di sana. Ketegasan yang seolah-olah menyatakan bahwa Rani harus menerima maksud Hamid. Tapi bibir Rani tetap rapat terkatup sampai Hamid minta diri karena hari mulai redup menjelang maghrib. Dia hanya mengangguk membalas salam lelaki itu.
Begitu juga ketika Marwan datang beberapa hari kemudian setelah Hamid. Rani tak mengeluarkan sepatah kata pun. Berbeda dengan Hamid yang berputar-putar sebelum menyatakan maksud yang sebenarnya, Marwan secara lugas mengatakan maksudnya melamar Rani. “Aku datang untuk melamar kamu, Ran. Sebelum meninggal almarhum Mas Jamal bilang, supaya aku menggantikannya menjaga kamu,” ujar Marwan. Meskipun diucapkan dengan nada yang tegas, namun seperti juga Hamid, Rani dapat merasakan dengan jelas ada nada menghiba di sana. Ah, kepergian Jamal bukan saja membuat benak Rani kosong, tapi juga membuatnya harus menghadapi persoalan begitu pelik yang tak pernah terduga bakal dialaminya. “Bang Jamal, apa yang mesti aku lakukan?” keluhnya, malam-malam.
**
Malam ini Rani ingat lagi cerita Jamal tentang persahabatannya dengan Hamid. Sejak remaja keduanya memiliki kegemaran nonton bioskop, panjat gunung, dan melakukan perjalanan ke kota-kota yang jauh dengan cara numpang di truk. “Waktu Abang remaja dulu, Ran, Abang tak punya teman yang lebih dekat selain Hamid,” kata Jamal. Rani melihat mata Jamal selalu berbinar bila bercerita tentang persahabatannya dengan Hamid. “Persahabatan kami di masa remaja dulu betul-betul penuh kesan yang sulit dilupakan begitu saja,” Suara Jamal bagai baru saja diucapkan Jamal kemarin.
Hamid kemudian menjadi sahabat juga bagi Rani. Lelaki itu sering datang bertamu ke rumah Rani dan Jamal. Hubungan mereka dengan Hamid sudah seperti saudara. Hanya saja Jamal tidak pernah cerita kenapa sampai sekarang Hamid belum menikah kecuali bahwa Hamid belum menemukan perempuan yang cocok. Rani jadi ingat, dulu, sebelum Jamal berhasil menyuntingnya, dia pernah lebih dulu menaruh hati pada Hamid. Tapi karena Jamal lebih ulet melakukan pendekatan, dia jatuh ke lelaki itu.
Sedangkan tentang Marwan, Jamal sering pula bercerita, dari sekian banyak sepupunya Marwan yang paling dekat, bahkan lebih dekat dari saudara-saudara sekandung sekalipun. “Usia kami memang terpaut empat tahun, tapi dengan dia Abang bisa membicarakan apa saja,“ kata Jamal.
“Marwan orang yang baik dan bisa dipercaya. Marwan banyak membantu memperlancar bisnis Abang bertani ikan air tawar,” kata Jamal suatu malam. “Sayang nasib rumah tangganya kurang bagus. Istrinya tidak bisa memegang amanah, berselingkuh dengan teman masa kuliahnya. Kasihan ya, Ran, orang sebaik Marwan dapat istri seperti itu,” kata Jamal.
Bagi Rani, kedua lelaki itu mungkin sama baik dan tampan. Dan sekarang Rani mulai bingung memikirkan harus memilih yang mana. Rani bimbang. Keduanya mengaku dititipi amanah oleh almarhum suaminya untuk menikahinya. Siapakah yang tidak berdusta di antara keduanya? Ini perkara yang begitu rumit.
“Aku belum bisa menerima lelaki lain untuk mengganti posisi Bang Jamal, maafkan aku.” kata Rani akhirnya ketika untuk kali kedua Marwan dan Hamid kembali datang secara bergantian. “Kuharap kau memahami perasaanku,” bibir Rani bergetar ketika mengucapkan kalimat itu. Di ambang pintu Rani memandang punggung mereka yang pulang dengan muka tertunduk kecewa. Ada perasaan lega sekaligus penyesalan melepas mereka dengan jawaban seperti itu. Kedua laki-laki itu mengucapkan kalimat yang nyaris sama, “Aku akan menanti sampai kamu bisa menerima lelaki lain menggantikan Jamal.”
Berbeda dengan pada kedatangan pertama mereka menyatakan maksudnya, kali ini Rani berani menatap mata Hamid maupun Marwan. Mencoba mencari jejak dusta di sana. Tetapi Rani tak berhasil menemukannya. Sepasang mata kedua lelaki itu sama jernih memancarkan kejujuran. Tidak mungkin Bang Jamal meninggalkan pesan kepada keduanya supaya menikahiku, pikir Rani.
“Ibu menyerahkan semua pilihan padamu, Ran,” kata ibunya saat Rani meminta pendapat ibunya. “Tapi jangan terlalu lama berpikir. Tak bagus lama-lama hidup tanpa suami,”
“Tapi sulit sekali, bu, sulit sekali menentukan siapa di antara keduanya yang benar-benar dititipi pesan oleh Bang Jamal untuk menikahiku,”
“Tanyakan pada hatimu siapa yang menjadi pilihanmu,”
Jujur, Rani lebih berat pada Hamid, cinta pertamanya. Marwan, selain umurnya hampir sebaya dengan dirinya, sudah lama Rani menganggapnya sebagai adik. Tapi Rani takut membuat Marwan terluka jika dia menolak dia dan memilih Hamid.
“Aku tak bisa memilih satu di antara keduanya karena tak mau melukai salah satu dari mereka,” gumam Rani.
“Kamu harus menentukan pilihan,” kata ibunya.
“Inilah yang tak bisa aku lakukan, bu, sebelum benar-benar tahu kepada siapa sesungguhnya Bang Jamal menitipkan pesan untuk menikahiku,”
“Pertemukan saja Marwan dan Hamid. Kau tanyakan langsung pada mereka. Inilah jalan yang bisa kamu lakukan, Ran.”
“Tapi, bu. Aku takut membuat hubungan keduanya nanti malah rusak,” ujar Rani seraya melepaskan kerudungnya.
“Tak ada pilihan lain. Kalau mereka dewasa tidak perlu ribut. Ini justru menjadi ukuran sejauh mana keduanya memiliki kedewasaan,” tutur ibunya.
**
Rani tak menemukan cara lain sehingga dia akhirnya benar-benar menjalankan saran ibunya. Dia mengundang Hamid dan Marwan. Betapa tegang menghadapi kedua laki-laki itu datang secara bersamaan. Suaranya terdengar goyah manakala mengutarakan maksudnya mengundang mereka.
Ternyata keduanya tetap kukuh. Masing-masing mengaku dititipi pesan oleh Jamal untuk menikahi Rani.
“Demi Allah, Bang Jamal berkata padaku supaya aku menjagamu,” kata Hamid.
“Saya berani bersumpah atas nama Allah, Bang Jamal menitipkan pesan padaku agar aku menjagamu,”
“Menjaga, bukan menikahi,” ujar ibu yang hadir untuk menengahi.
“Bagaimana aku bisa menjagamu tanpa menikahimu,” ujar Hamid dan Marwan hampir serentak.
“Tidak mungkin aku menjadi istri dari dua orang laki-laki. Tidak mungkin. Kalian salah mengerti menafsirkan pesan Bang jamal,” pekik Rani putus asa. Dia berlari ke kamar, memeluk Hanan dan Yasa. Ibunya tak tahu apa yang harus dilakukan selain duduk memandangi Hamid dan Marwan yang tetap bersikukuh dengan pendapatnya sendiri-sendiri. Ibunya heran seakan tak ada perempuan lain secantik Rani.
Rani tak keluar-keluar lagi sampai kedua lelaki itu akhirnya minta diri pada ibunya tanpa mengucapkan kata-kata. Sampai beberapa hari kemudian Rani tak bisa memutuskan akan memilih siapa. Salat istikharah yang dilakukannya belum juga memberi isyarat harus memilih yang mana.
Ketika pada kali ketiga Hamid kembali datang, disusul Marwan pada hari berikutnya Rani belum juga menentukan sikap. Dia tetap mengatakan kalimat yang sama,”Belum siap menerima lelaki lain,”
“Datanglah tiga tahun lagi,” kata Rani. Dalam hati Rani bertekad siapapun yang datang lebih dulu pada tiga tahun yang akan datang, dialah yang akan Rani pilih sebagai pengganti Jamal.

Pondok Pinang Januari 2009

Tukang Patri

10 Jul 2009 ANAK-ANAK

(Tabloid Nova, Edisi 6-12 Juni 2009)

Tukang patri itu tak kunjung lewat. Dinggi duduk gelisah di depan pintu menunggunya. Apakah dia sakit? Pikir Dinggi. Dia membayangkan tukang patri itu terseok-seok mengayuh sepeda ontelnya di bawah terik matahari, menyusuri jalanan perkampungan yang sunyi. Permukaan jalan yang buruk dan berbatu membuat sebuah kotak kecil seukuran kaleng kerupuk di boncengannya berguncang-guncang dan menimbulkan bunyi gemelotak. Biasanya pukul dua siang tukang patri itu sampai di kampung ini, melintas di jalan depan rumah Dinggi.

Tetapi hari ini sudah hampir tiga jam Dinggi menunggunya. Tukang patri itu tak juga muncul. Benar kata ayah, pikir Dinggi, sesuatu kalau ditunggu-tunggu malah lama. Seolah sengaja membuat kita kesal. Sombong, merasa dibutuhkan. Coba kalau tidak ditunggu, seakan menyodor-nyodorkan diri di depan mata.

Tukang patri, tukang patri. Apakah kamu sengaja tak muncul supaya aku merasa kesal? Keluh Dinggi dalam hati. Matanya menyorot lagi ke utara, arah biasa tukang patri itu muncul dengan teriakan yang khas, “Patriii…”. Dinggi menjulur-julurkan kepalanya ke jalan. Sepi. Apakah karena belakangan tak ada orang yang menambal panci? Beberapa hari ini Dinggi memang melihat tukang patri itu hanya lewat, dan duduk beristirahat di bawah pohon arbasia sebelah warung bik Marsih dekat pertigaan, minum teh manis, merokok, seraya mengipas-ngipaskan topi pandan yang telah jebol-jebol pinggirnya, menunggu orang menambalkan panci yang tak pernah datang.

Tak mungkin tukang patri itu sengaja membuatku kesal, sergah Dinggi. Dia baik, tak pernah melarang anak-anak menonton dia bekerja. Sekalipun kadang kehadiran anak-anak itu membuat konsentrasinya bekerja terganggu. Tukang patri itu suka menatap mata Dinggi dengan sorot mata penuh sayang. Dinggi suka sekali memperhatikan tukang patri itu bekerja.

Mula-mula tukang patri itu menurunkan kotak kecil dari boncengan. Diambilnya dingklik dari dalam kotak. Dia duduk di dingklik, di sebelah kotak yang berisi alat-alat kerjanya. Dikeluarkannya tungku yang terbuat dari kaleng yang dibentuk menyerupai toa dari dalam kotak. Tungku ini unik sekali. Ada roda pemutar baling-baling di dalamnya untuk mengipasi potongan arang yang menyala memenuhi mulut tungku. Bila arang di dalam tungku itu berubah menjadi bara, dimasukkanlah batang besi ke dalam tungku untuk dipanaskan. Batang besi itu disambung dengan kayu sebagai pegangan. Bila ujung besi tampak memerah, batang besi diangkat dan digunakan untuk melumerkan timah. Lumeran timah itu yang dipakai untuk menambal panci, ceret, dandang, rantang, atau apa saja alat-alat dapur yang terbuat dari logam, seng, atau alumunium yang bolong dengan cara mengoleskannya sehingga rapat dan bisa dipergunakan kembali.

Memakan waktu cukup lama bara di dalam tungku memanaskan batang besi. Tukang patri itu harus memutar tuas di roda pemutar baling-baling agar api di dalam tungku itu tetap menyala sehingga batang besi lekas panas dan tampak merah. Kalau belum memerah batang besi tidak akan mampu melumerkan timah. Ketika tuas diputar, besi diangkat, dan melumerkan timah, inilah saat yang paling menarik perhatian Dinggi. Bersama kawan-kawannya Dinggi jongkok merubung tukang patri yang sibuk bekerja. Kedua mata tukang patri itu seakan sudah kebal percikan bara dan abu dari mulut tungku. Sesekali dia menyeka butir keringat yang tampak meleleh di pelipisnya. Paras wajahnya tak pernah tampak lelah meski banyak sekali barang-barang bolong yang harus ditambal.

Timah yang keras itu luluh mencair seperti embun saat disentuh batang besi yang membara. Lumeran timah dioleskan ke bagian panci atau ceret atau rantang yang bolong. Sebelum ditambal, sekitar bagian yang bolong terlebih dulu diamplas hingga halus supaya lumeran timah menyatu dengan panci. Selain menambal alat-alat dapur yang terbuat dari logam, piring porselen yang retak pun bisa diservis tukang patri hingga rekat kembali. Maka kedatangan tukang patri selalu ditunggu ibu-ibu yang memiliki alat-alat dapur mereka yang bolong.

Dinggi ingin sekali memanggil tukang patri ke rumahnya. Tapi panci dan alat-alat masak di dapurnya tidak ada yang bolong. “Bu, kenapa kita tidak punya panci yang bolong?” keluh Dinggi pada ibunya.

Tentu saja, Dinggi. Karena panci-panci itu baru ibu beli. Panci dan ceret yang bolong kemarin sudah ibu berikan ke pemulung.”

“Kenapa diberikan ke pemulung?” protes Dinggi, “Aku bisa tambalkan ke tukang patri.”

Kenapa ditambal, kalau kita bisa beli yang baru,” kata ibunya.

Begitulah, tak ada panci, ceret, dandang, rantang, dan peralatan dapur lainnya yang bolong di rumah Dinggi. Jadi Dinggi hanya bisa menonton tukang patri itu bekerja dari belakang. Yang di depan adalah anak yang ibunya menambalkan panci. Hampir semua ibu teman-temannya pernah menambalkan alat-alat dapur mereka yang bolong ke tukang patri.

Berhari-hari Dinggi membongkar-bongkar gudang belakang rumah. Dia menemukan rak besi yang salah satu rangka kakinya keropos. “Ini bisa diservis tukang patri, bu,” kata Dinggi.

Rak itu tidak dipakai lagi, Dinggi, sudah karatan. Kita sudah beli gantinya kan, rak aluminium itu,” sahut ibunya. Di dapur rumahnya yang berlantai keramik tampak rak aluminium antikarat. Berdiri anggun di samping kulkas. Ibu baru membelinya pekan lalu.

Dinggi mendesah kecewa. Tapi dia belum menyerah, terus sibuk mencari alat-alat dapur yang bolong. Dia periksai semua wajan, panci, dandang, nampan, piring-piring kaleng. Ibunya sampai heran melihat ulah anaknya yang cuma satu ini. Gudang yang sudah dirapikan jadi berantakan. Bukannya belajar atau nonton televisi, malah senangnya melihat tukang patri. apa sih menariknya lihat orang matri?

Setelah cukup lama mencari sampai baju dan mukanya kotor kena debu, akhirnya Dinggi menemukan rantang yang bolong di rak paling bawah. Rantang terbuat dari kaleng itu bolong di bagian lekukan sisi bawahnya. Wajah Dinggi berseri-seri. Penuh semangat dibawanya temuan itu kepada ibunya,

Akan kutambal rantang ini ke tukang patri,”

Buat apa ditambal, Nggi. Yang baru saja jarang dipake,”

Akan kupakai untuk wadah pakan ayam, bu,”

Wadah plastik itu nggak cukup?”

Pokoknya, akan aku tambal ke tukang patri. Cuma seribu. Biar pake uangku,”

Ibunya tak menyahut lagi. Perempuan itu tampak menahan sesuatu di dadanya. Serupa desir yang merayap pelan-pelan. Tapi dia tahu Dinggi tak bisa dicegah. Anak itu keras kepala seperti bapaknya. Dia cuma berpesan, tidak perlu mendatangi tukang patri di pertigaan, tunggu saja sampai lewat di depan rumah.

Ibu mau ke rumah wak Liman, kamu tunggu rumah baik-baik. Kecuali kalau ayah pulang lebih cepat.” kata ibunya. Sekalipun sedikit kesal, Dinggi merasa agak lega.

Hampir pukul tiga sore. Tukang patri itu belum juga muncul. Mungkin banyak ibu-ibu yang menambal panci di pertigaan warung bik Marsih, pikir Dinggi, gusar. Dinggi ingin lekas ke sana saja rasanya membawa rantang yang bolong. Tapi ayah belum juga pulang. Sampai pukul empat ayah tak juga pulang. Akhirnya Dinggi mengabaikan pesan ibunya, dia nekat menguci pintu dari luar dan melangkah setengah berlari ke pertigaan menenteng rantang yang siap ditambal. Rambut ikalnya yang kuncir bagai ekor kuda bergerak-gerak jenaka.

Benar, tukang patri itu tengah sibuk bekerja. Rupanya banyak sekali ibu-ibu yang menambal alat-alat dapurnya yang bolong. Dandang, panci, ceret, rantang, wajan, piring seng, mug kaleng, berderet mengelilingi tukang patri. Ibu-ibu itu menunggu giliran sambil duduk-duduk dan makan gorengan di warung bik Marsih. Sementara anak-anak mereka jongkok merubung tukang patri. Dinggi terpaksa harus ngantri paling belakang. Dia tidak bisa melihat lebih dekat ke tukang patri.

Mau nambal apa, Dinggi?” tanya seorang ibu.

Rantang,” sahut Dinggi cepat.

Bukankah rantang di dapurmu bagus-bagus?”

Ini untuk wadah pakan ayam,”

Ibumu yang menyuruh?”

Dinggi mengangguk ragu-ragu. Dinggi agak heran sekaligus kesal, kenapa sih orang-orang seperti merasa aneh melihat dia menambal rantang. Seolah-olah dia tidak boleh ikut-ikutan menambal rantang yang bolong. Seakan hanya mereka yang boleh punya panci bocor. Lalu lamat-lamat didengarnya mereka menyebut-nyebut nama ayah dan ibu, tukang patri, mata duitan. Dinggi ingat kata ayah tentang orang-orang sulit yang dimengerti, tentang para tetangga yang sukanya iri hati. Dengan mata berbinar dia terus mengamati tukang patri bekerja. Dari jarak dua meter Dinggi tidak bisa melihat dengan jelas saat timah itu meleleh disentuh besi yang membara. Ah, jika saja punya tungku semacam itu, pikir Dinggi.

Sampai menjelang magrib antrian baru menyurut. Tapi sayang, rantangnya tak bisa ditambal. Tukang patri bilang, timah buat nambalnya habis.

Besok saya kemari,” kata tukang patri seraya mengemasi alat-alat kerjanya.

Besok bisakah datang ke rumah saya, pak?” kata Dinggi, “di ujung dekat jembatan sana, warna merah jambu.” Tukang patri mengangguk.

**

Sampai pukul tiga tukang patri tidak juga muncul. Ibu melarang Dinggi menemuinya ke pertigaan gara-gara kemarin Dinggi telat pulang dengan tangan hampa. Dengan nada sedikit tinggi ibunya juga bilang tidak perlu menambal rantang.

Pukul setengah empat tukang patri itu muncul, dia menuntun sepedanya. Dinggi bangkit, menyambutnya girang. Ketika itulah ibunya muncul dari dalam rumah. Beberapa detik ibunya saling tatap dengan tukang patri itu. Sejurus kemudian tukang patri itu urung menambatkan sepedanya. Dia tampak bergegas menaiki sepeda ontelnya, dan berlalu meninggalkan Dinggi yang berteriak-teriak memanggilnya…

Cirebon, Januari 2009

Cinta Lama

22 Jun 2009 CINTA

(Majalah Sekar, 17 Juni-1 Juli 2009)

Irene akhirnya memilih akan mengundurkan diri dari pekerjaanya. Ia tak mau mempertahankan karirnya yang tengah berada di puncak jika harus mempertaruhkan keutuhan rumah tangganya. Irene telah mengutarakan alasan sejujur-jujurnya pada beberapa rekan terdekatnya. Sekalipun menyayangkan keputusan Irene, mereka dapat mengerti alasan yang melatari keputusan Irene. 

“Apa tidak ada opsi lain, Ir? Bete loh di rumah.” tanya Tiana, rekan terdekatnya.  

“Opsi apa maksudmu, Ti?” 

“Kamu minta mutasi ke kantor cabang, Semarang atau Bandung,” saran Tiana. 

“Tidak mungkin, malah makin repot harus pindah rumah,” sanggah Irene. Selain kantor pusat, perusahaanya tidak memiliki kantor cabang di Jakarta.  

“Kalau itu yang terbaik buatmu, aku tak bisa ngomong apa-apa lagi,” kata Tiana, menyerah, “Tapi bagaimana dengan suamimu?” tanya Tiana.

Inilah yang sekarang yang jadi persoalan bagi Irene. Apakah ia harus mengungkapkan alasan sebenarnya atas keputusannya itu kepada  Indra, suaminya? Perlukan Irene jujur jika itu berakibat buruk pada keharmonisan rumah tangga mereka yang telah berjalan mulus selama hampir empat tahun terakhir ini? Siapa pun orangnya jika dalam posisi Irene sekarang ini pasti akan merasa berada di situasi yang sangat dilematis, serba salah.  

Irene tahu, meski Indra tidak pernah mengekang istrinya bekerja, laki-laki itu pasti akan senang mendengar Irene keluar dari pekerjaannya. Karena itu artinya Andra dan Andri, buah cinta mereka, akan mendapat  perhatian penuh dari ibunya. Bukankah sebaik-baik pengasuh anak-anak adalah ibunya sendiri? Seorang suster sekalipun punya keterampilan mengasuh anak, tidak bisa dipercaya sepenuhnya, terutama untuk urusan mendidik anak. Apalagi di bawah umur lima tahun merupakan fase meniru. Salah sedikit bisa berdampak buruk pada sifat anak di kemudian hari. 

Sejak kehadiran si kembar Andra Andri dua tahun lalu yang makin melengkapi kebahagiaan mereka, Indra memang beberapa kali pernah mengatakan bahwa dirinya akan merasa lebih senang jika Irene mengundurkan diri dari pekerjaanya supaya bisa total mengurusi si kembar. Tetapi Irene tetap ingin bekerja dengan alasan ingin menerapkan ilmu yang diperolehnya.  

“Sayang punya ilmu dibiarkan tersimpan di laci,” begitu kata Irene ketika itu. Jika sekarang Irene tiba-tiba mengundurkan diri tentu kan mengundang pertanyaan di benak Indra. Laki-laki itu pastilah ingin tahu alasan Irene.     

Bagaimana pun Indra pasti terluka perasaannya jika tahu alasan sebenarnya Irene mengundurkan diri. Hal ini membuat Irene benar-benar tidak bisa memutuskan, dan tak tahu mesti kepada siapa meminta saran. Irene tidak mungkin mengarang-ngarang alasan. Indra adalah tipe laki-laki cerdas yang tidak bisa begitu saja menerima alasan yang tidak masuk akal. Lagi pula Irene tidak biasa mengarang-ngarang alasan untuk menutupi kebohongannya. Kalau ia paksakan juga dengan mudah Indra mengetahui kebohongannya. Jika itu terjadi akan sama buruknya dengan jika ia mengungkap alasan sebenarnya. Ah, semua ini gara-gara kehadiran Bayu, kekasih Irene di masa lalu, yang bergabung di kantornya sejak empat bulan lalu.

**

Tak percaya, dan benar-benar seperti sebuah drama dalam sinetron picisan. Itulah reaksi pertama Irene ketika pertama kali mengetahui Bayu menjadi pegawai baru di kantornya. Selebihnya adalah perasaan berbunga-bunga, senang seperti anak kecil menemukan mainan kesayangan yang sekian lama hilang. Tingkahnya tiba-tiba berubah laksana gadis remaja, suka tanpa sadar melantunkan lagu-lagu lama. Kenangan indah masa pacaran dulu seakan bakal terulang kembali. Kata orang cinta pertama memang indah dan tak pernah tergantikan selamanya. Ternyata ini benar. Irene seolah lupa bahwa dirinya kini adalah istri dari seorang suami dan ibu dari dua bocah laki-laki yang membutuhkan perhatiannya.

Dulu, sewaktu SMA Irene memang menyimpan kisah cinta tak terlupakan dengan Bayu. Di sekolah Bayu merupakan seorang idola yang dipuja-puja gadis-gadis lantaran tampangnya yang memang tampan ditambah jago main basket. Gadis-gadis tak peduli dengan nilai bahasa Inggris dan matematika Bayu kedodoran. Merasa diidolakan gadis-gadis satu sekolah Bayu jadi terkesan angkuh. Entah berapa gadis yang patah hati lantaran hasratnya di-cuekin Bayu. Maka mendapatkan Bayu merupakan kebanggaan luar biasa bagi Irene. Karena ia pun jadi ikut populer di sekolah sebagai pacar sang idola. Ia merasa menjadi gadis paling beruntung. Irene tidak bisa jauh-jauh dari Bayu. Teman-temannya satu sekolah tahu itu. Mereka ibarat sejoli yang inginnya selalu berdekatan ke mana pun pergi. Sampai akhirnya keduanya lulus dan masing-masing harus pergi melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi di kota lain. Bayu tak pernah menghubungi Irene. Dia seperti hilang begitu saja meninggalkan setumpuk kenangan indah yang kemudian berubah menjadi kesedihan bagi Irene yang patah hati. Butuh waktu lama bagi Irene untuk memulihkan kepercayaan pada laki-laki. 

“Bayu?” 

“Irene?” 

Beberapa lama keduanya tertegun, kaget bukan kepalang saat pertama Pak Nugraha, kepala kantornya, memperkenalkan Bayu sebagai pegawai baru yang akan bergabung memperkuat divisi marketing. Irene tanpa sadar telapak tangannya berkeringat dan sedikit gemetar manakala bersalaman untuk pertama kalinya dengan Bayu setelah sekian tahun tak bertemu. Pesona Bayu rasanya tidak pernah berkurang. Bagai tak tergerus waktu. Termasuk sikap angkuhnya. 

Begitulah, menyusul setelah itu ia sering pergi makan siang bersama Bayu, mengulur-ulur waktu istirahat makan siang untuk sekadar ngobrol dengan Bayu di kafe. Tidak cukup makan siang, mereka melakukan perjalanan ke luar kota bersama.  

“Dulu ambil marketing manajemen juga?” kata Bayu. 

“Ya, aku ambil di perguruan tinggi di kota kecil. Tidak perlu jauh-jauh sampai ke Jogja kaya kamu,” ujar, sengaja ingin mengungkit kisah lama. Ada nada sinis dalam kalimat itu.  

“Sop kambing paling enak di mana ya?” kelit Bayu. 

“Sop kambing? Seleramu sudah berubah? Bukannya favoritmu gado-gado!” 

Mula-mula Irene menganggap ini hal biasa saja, semacam hubungan antar teman lama yang sekian tahun tak bertemu. Toh Irene sudah menceritakan mengenai statusnya sekarang. Bahkan ia juga mengatakan bahwa ia memiliki keluarga bahagia; suami yang bertanggung jawab, anak-anak yang pinta dan lucu. Tapi perlahan-lahan tak ada yang bisa menghalangi bunga-bunga cinta di dadanya diam-diam mekar kembali. Irene merasa sangat tak lengkap bila sehari saja tak melihat Bayu. Ia kerap gelisah menunggu saat istirahat makan siang tiba. Menantikan saat-saat duduk berhadapan, mencuri-curi pandang wajah tampan lelaki itu di sela makan. Kerinduan pada rumah, melihat si kembar yang tengah lucu-lucunya, pelukan hangat dan tatapan mesra suaminya, sedikit demi sedikit tidak menimbulkan rasa kangen. Digantikan sosok Bayu, yang dari hari ke hari terus mendesak, mengambil tempat mereka dalam benak Irene. Ia seperti terbius kenangan masa remaja.  

Kegiatan makan siang bersama, dan kadang nonton film, terus berjalan selama tiga bulan terakhir. Perasaan senang, nyaman, dan perasaan-perasaan aneh lainnya yang tumbuh di dadanya Irene anggap hanya romantisme masa lalu yang bisa diatasi dan tidak perlu dikhawatirkan. Ia merasa tahu batas-batas. 

Setelah memasuki minggu ke empat pada bulan ketiga, Irene baru menyadari bahwa anggapannya keliru; bahwa ia tengah terperosok dalam hubungan yang sangat berisiko bagi keutuhan rumah tangganya dengan Indra. Sekalipun pernikahannya dengan Indra tidak berdasarkan cinta melainkan karena semacam keharusan untuk menikah mengingat usianya yang memasuki kepala tiga, namun Irene tidak rela kalau harus kandas hanya gara-gara Bayu, laki-laki yang pernah meninggalkannya begitu saja. Ia tak mau terjerat masa lalu.  

Irene ingat, saat awal-awal menikah dengan Indra, ia memang tidak memiliki perasaan cinta pada Indra. Irene menerima Indra setelah sekian bulan laki-laki itu berjuang keras mendapatkan perhatiannya. Irene salut dan kagum pada kegigihan usaha Indra. Barangkali, selain pertimbangan usia, perasaan simpati pada sikap teguh laki-laki itu saja yang membuat Irene akhirnya menikah dengan Indra. Baru pada tahun kedua pernikahannya, berkat upaya yang terus menerus Irene mulai memiliki perasaan cinta pada Indra. Tidak lagi menganggapnya sekadar pelarian, apalagi sejak Irene melahirkan anak-anak dari benih laki-laki itu, dan menjadi sumber kebahagiaannya. Mereka adalah harta yang paling berharga. Irene merasa harus menyelamatkannya.      

“Kita harus mengakhiri hubungan semu ini, Bayu!” cetusnya. “Kalau perlu aku akan mengundurkan diri dari pekerjaan supaya kita tak pernah lagi bertemu.”  

“Hubungan apa, Irene? Bukankah kita hanya berteman biasa saja?” ujar Bayu, nada angkuh jelas terdengar dalam kalimat tersebut. Membuat Irene gemas ingin menampar mulut yang melontarkannya. 

“Bagimu mungkin ini hanya hubungan teman biasa, seperti kau juga menganggap hubungan kita di masa lalu. Tapi tidak buatku. Sebab itu sebaiknya aku pergi sejauh-jauhnya darimu,” ujar Irene, menahan kesal. 

“Seserius itu, Irene?” 

“Tentu saja. Baru kusadari kamu memang bukan laki-laki yang pantas kucintai!” Irene bergegas bangkit dari kursi, dan keluar dari kafe lebih dulu.  

“Irene,” Bayu hanya bangkit memandang punggung Irene menjauh, masuk lift. Tampaknya tak ada minat buat Bayu mengejar Irene.

**

Akhirnya semuanya selesai. Irene benar-benar mengundurkan diri. Indra ternyata cukup dengan alasan bahwa Irene keluar dari pekerjaannya karena ingin memberi perhatian penuh pada si kembar. Rupanya perasaan senang membuat laki-laki itu tidak memerlukan alasan sebenarnya yang disimpan Irene. Kehidupan berjalan dengan mulus. Irene tidak memerlukan waktu terlalu lama untuk menyesuaikan diri dengan ritme kegiatannya setelah keluar dari pekerjaannya.  

Permasalahan muncul justru beberapa minggu berselang, pada suatu hari ketika Irene menerima pesan singkat mesra dari Bayu. Ketika ponselnya berdering Irene tak mengira pesan singkat itu datang dari Bayu, karena ia menganggap semuanya telah selesai. Lagi pula dari mana Bayu tahu nomor barunya. Apa boleh buat, semuanya seperti sudah semestinya terjadi. Irene meminta tolong Indra membuka pesan singkat tersebut.  

Irene melihat Indra tertegun lama setelah membaca pesan singkat itu. Wajah Indra terlihat begitu kecewa. Belum pernah ia melihat Indra begitu marah dan sekecewa itu. Menyusul kejadian itu, Indra tak pulang selama tiga hari. Pada hari keempat Irene menerima kabar Bayu luka parah dipukuli orang, masuk rumah sakit. 

Pondok Pinang, April 2009 

Stasiun

31 May 2009 CINTA
(Lampung Post, Minggu 31 Mei 2009)

INGATAN tentang kehilangan, kepergian, sesuatu yang mencemaskan, menjadi lampau, dan dilupakan, acap menerjang perasaannya saban ia sampai di stasiun kereta api. Kau akan melihat perempuan itu di antara kerumun orang-orang yang menanti kereta dengan pandangan penuh kepedihan yang memupus harapan tentang kepulangan, rumah, dan kehangatan. Jajaran pohon cemara, hamparan kerikil, batangan rel yang memanjang sampai titik terjauh, bentangan sawah, gedung sekolah masa remajanya di ujung sana serupa instalasi kepiluan yang membuat cedera di rongga batinnya makin menganga.

Selalu ada dorongan untuk kembali meraba dada, melihat wajah, menandai tubuhnya. Lalu perempuan itu akan merasa dirinya tak penuh, tak utuh. Seperti ada yang selalu tanggal dan terpaksa harus ia tinggalkan. Dalam rentang waktu tertentu ia akan merasa goyah, terbelah, lantas pecah terbungkah-bungkah mirip runtuhan tanah. Tapi harus selalu ia susun lagi dengan susah payah, terkadang dengan ingatan yang patah. Menatap mereka dan ia yang harus meninggalkan tanah kelahiran menuju tempat yang diangankan sebagai kota untuk mungkin menjemput serupa cita-cita atau sekadar angan-angan belaka.

Di stasiun itu ia akan selalu bertemu dengan orang-orang yang tak pernah terduga dari masa lalu. Mungkin seseorang yang pernah dekat dan begitu ia rindukan di masa yang telah menjauh dan semakin menjauh, atau seseorang yang diam-diam ia benci dan ingin ia lupakan sama sekali. Mereka berganti-ganti datang dan pergi serupa mimpi yang ingin segera ia akhiri.

Di stasiun kereta, betapa pun ia telah berupaya menyembunyikan diri, ia akan selalu tepergok dengan perjumpaan-perjumpaan tak terduga; ia pernah bertemu kembali dengan kawan masa kanak, masa remaja, dan masa-masa lainnya yang telah bergulir, terbenam entah di mana tapi kadang terasa begitu dekat, begitu akrab. Tapi akan segera ia sadari betapa itu sukar disentuh, muskil ditempuh (kembali).

Suatu kali ia bertemu kawannya di masa remaja. Ia akan selalu merasa gugup dan kebingungan bagaimana caranya berbasa-basi. Ia melihat muka kawannya serupa mendapati wajahnya sendiri; begitu kuyu, sorot matanya berusaha keras menyembunyikan keresahan di dasar hatinya. Lalu secara otomatis ia akan merasakan hatinya berkerenyit nyeri. Ia ingin kembali meraba dada, melihat wajah dan menandai tubuhnya. Tanpa sadar ia akan menggigit bibir bawahnya seakan menahan sesuatu yang begitu lara.

Ia akan memulai percakapan dengan kalimat-kalimat pendek. Ia akan mendengar percakapan itu serupa lantunan keperihan yang sulit diraba tapi jelas menggoreskan semacam luka, semacam bara dalam benaknya. Kawannya akan ke Jakarta, ke penampungan TKW sebelum dikirim ke luar negeri sebagai pekerja rumah tangga. Seorang lelaki, yang ia kira suami kawannya, yang berdiri di sampingnya, hanya sesekali melirik padanya.

“Ya ampun, Dian,” kawannya menjerit. Ia merasakan kedua tangannya kaku saat harus diangkat-bentangkan, menyambut pelukan.

“Mau ke mana? Jakarta? Sendirian? Mana suamimu?” kawannya melontarkan pertanyaan, yang selalu ingin ia hindari, secara bertubi-tubi.

Pertanyaan kawannya ini, seperti juga pertanyaan yang terlontar dari sekian banyak kawan yang lain, saudara, ibu, ayah, akan mengiang beberapa lama menemani perjalanannya di bangku kereta. Namun ia tak pernah kunjung terlatih untuk menjawab, kecuali melupakannya. Kawannya bercerita, ini rencana keberangkatannya yang ketiga jadi TKW di luar negeri. Suaminya yang pemabuk hanya menghabis-habiskan uang kirimannya.

“Kenapa kamu mau berangkat lagi?”

“Mau apa lagi di kampung? Dikejar-kejar utang!”

Di stasiun kereta ia pernah bertemu dengan kawan semasa kanak yang bekerja di Jakarta. Dia ulang alik Jakarta–kampung halaman seperti yang ia jalani dengan perasaan rawan, tertahan-tahan.

“Aku dan suamiku bekerja di Jakarta. Anak kami titipkan sama orang tua di kampung. Kami bekerja di satu rumah. Suamiku jadi satpam, aku tukang cuci. Bagaimana denganmu, Dian? Kamu kerja kantoran? Kamu cantik sekali.”

“Aku masih sendirian. Aku bekerja sebagai, ah kamu serius ingin tahu kerjaanku?”

Lontaran kalimat ini akan menemaninya sedikit lebih lama; kadang membuatnya bertanya-tanya pada diri sendiri, apa saja yang telah kukerjakan selama bertahun-tahun ini? Lantas ia akan meyakin-yakinkan diri sendiri betapa ia cukup bahagia dan baik-baik saja. Ia memang bekerja di satu ruangan berpendingin udara yang orang menyebutnya kantor. Membaca huruf-huruf kanji, menyalinnya ke dalam bahasa Indonesia. Tiap hari masuk pukul sembilan pulang menjelang magrib. Tiba-tiba ia ingat rutinitas itu telah ia jalani hampir sepuluh tahun. Ya, sepuluh tahun. Sampai berapa puluh tahun lagi?

Di stasiun kereta ia bersua dengan sepupunya yang sekian tahun ia hindari. Dia melambaikan tangan, memandangnya yang gugup, gemetar, serbasalah. Ia akan melihat sorot mata sepupunya bagai menuduh dengan semacam kata-kata, ke mana saja sih kamu nggak pernah main ke rumah. Bude sakit tak ditengok. Lupa ya? Dan sederet pertanyaan serupa interogasi yang paling ia benci. Ia akan merasakan tubuhnya mengerut.

Ia teringat tentang usia, tentang perjalanan, tentang kegagalan, tentang kesia-siaan. Begitu banyak kaum kerabat yang ingin ia kunjungi saat pulang kampung halaman. Tapi tak pernah ia punya nyali. Rasanya tak pernah ada kata-kata yang bisa ia rangkum dan ia deretkan untuk menjelaskan dirinya. Mereka seakan berloncatan. Dan ia kehabisan tenaga menangkapnya. Maka saban pulang kampung, dua atau paling banyak tiga kali dalam setahun, selain kamarnya tempat favoritnya adalah kebun belakang rumahnya yang tak seberapa luas.

Menyiangi rumput, mengelap tiap lembar daun: lidah buaya, kuping gajah, menatapi bunga kenanga, kembang sepatu. Jika bosan, ia akan buru-buru pergi ke kota kabupaten, keluar masuk toko buku, toko kaset, gedung bioskop, sendirian. Pulang saat malam genap mengatupkan pintu rumah dan kelopak mata orang-orang di kampungnya yang mulai ramai. Untuk kemudian subuh buta mengantarnya kembali ke stasiun kereta. Ia tak pernah menyukai terminal dan bus kota, entah mengapa. Mungkin karena terminal tak menumbuhkan ingatan apa-apa. Tak ada kepedihan yang tanpa sadar amat disukainya seperti yang ia dapatkan di stasiun kereta.

Semakin lama berada di stasiun itu ia merasakan jiwanya terpiuh. Ia akan menggelepar menikmati keterasingan. Kadang ia harus melindap ke bilik toilet, duduk termenung di atas kloset seraya mengisap rokok putih. Merasakan tembok-tembok mendesis, merekam kekosongan yang memenuhi perasaannnya. Ia akan keluar dari sana jika terdengar gemuruh kereta yang akan membawanya tiba dengan lengking peluitnya yang bikin sakit gendang telinga. Sekalipun begitu ia tak akan terbebas dari persuaan tak terkira. Saat menemukan bangku di dalam gerbong kereta, sering dilihatnya sosok yang dikenalnya di masa silam telah mengambil bangku di sebelahnya.

“Heh kamu? Astaga, Dian. Ke Jakarta juga?”

“Ya ampun, Hen. Kok kamu di sini? Tadi nunggu di mana sih, sampai nggak ngelihat,” ucapnya.

Tentu saja ia berbohong. Setiap di stasiun matanya nyalang mencari-cari sosok yang mungkin dikenalnya. Bukan untuk dihampiri, melainkan dihindari. Dari jarak tertentu ia akan mengawasi siapa pun sosok yang pernah dikenalnya. Mengamati gerak tubuh, sorot mata, mendengar pembicaraan mereka yang lamat-lamat, pakaian yang mereka kenakan. Lantas menduga-duga kenapa mereka harus pergi. Berpikir tentang keadaan yang memaksa mereka hengkang meninggalkan kampung halaman; dan apa yang mereka pikirkan tentang dirinya jika memergokinya mengawasi mereka.

“Tak pernah pulang, ya?”

“Jarang. Kamu yang tak pernah pulang.”

“Hampir tiap dua pekan pulang, Dian.”

“Kok nggak pernah ketemu,” ucap dia lagi, berbohong lagi.

Bagaimana bisa ketemu, jika ia memang sengaja menghindar dari siapa pun kecuali orang rumah. Pada ibunya selalu ia berpesan supaya tidak mengabarkan kepulanganya pada siapa pun. Ia merasa tak ada perlunya bertemu mereka. Kalaupun ketemu terus mau apa? pikirnya. Setiap masa memiliki peristiwanya masing-masing, demikian ia selalu berpikir.

“Kerja apa kamu di Jakarta?” ia melontarkan pertanyaan, sekadar berbasa-basi, yang membuatnya mual sendiri.

Ia memang tak pernah ingin tahu apa pun tentang seseorang yang pernah dikenalnya di masa lalu. Tak pernah. Ia sering berpikir, mungkin lebih bagus hidup tanpa masa lalu. Dengan demikian tak perlu menjelaskan tentang hidupnya di masa sekarang.

Tak perlu menjelaskan pada siapa pun bahwa ia mendapati kehidupan cintanya yang mengecewakan. Ramzi, kekasih yang dicintainya sepenuh hati berpaling pada hati yang lain. Seandainya, ya seandainya yang merebut hati Ramzi bukan Nina, adiknya sendiri, mungkin bisa ia atasi sakitnya hati.

Ia tak perlu mengingat apalagi menjelaskan bahwa semuanya berawal dari kejadian biasa saja. Setelah lulus kuliah yang ia biayai, Nina ikut tinggal di apartemen bersamanya sementara menunggu panggilan kerja. Ramzi yang saban Sabtu malam datang ke apartemennya lama-lama jadi akrab dengan Nina. Tentulah tidak ada yang salah Ramzi akrab dengan calon adik ipar. Kadang Ramzi mengantar Nina ke mal, atau menemani Nina menemani Ramzi menghadiri acara ulang tahun rekan kantor Ramzi ketika ia sendiri tidak memungkinkan lantaran pekerjaan yang tidak bisa ditinggal. Semuanya wajar-wajar saja, tidak lucu mencemburui adik sendiri. Sampai suatu hari Nina berkata bahwa dia hamil. Dan Ramzi harus mempertanggungjawabkan perbuatannya.

Pondok Pinang, April 2009

Mendadak Nikah

13 Apr 2009 CINTA

Majalah Anggun (Edisi April 2009, dengan judul ‘Perjanjian Pranikah’)

Saat yang paling ia tunggu-tunggu, pernikahan itu, akhirnya tiba: Minggu Pahing, pekan depan akad nikah bakal dilangsungkan. Ia dan lelaki itu akan duduk berjejer di hadapan penghulu, dirubung kaum kerabat. Laki-laki itu akan mengucapkan janji untuk menjaganya, mencintainya sampai akhir hayat.  

Setelah peristiwa itu ia tahu, ia harus bangun pagi-pagi, mandi, menyiapkan sarapan, menyeduh kopi atau teh, mengepel lantai, menyiram bunga-bunga di halaman. Ia harus menyingkirkan jauh-jauh kegemarannya bangun siang, membaca novel puluhan halaman sebelum turun dari ranjang.

“Kamu siap, Sayang?” ia teringat pertanyaan itu. Bunda yang melontarkannya ketika ia merajuk pada wanita itu minta dinikahkan.

“Siap, Bunda,” ujarnya bersemangat. Tapi ia tahu, jauh di dalam benaknya ia tak bersungguh-sungguh. Bahkan perasaan ragu datang begitu keras hampir mematahkan suaranya sendiri. Tapi…

“Kamu tidak boleh tak ada di rumah saat suamimu pulang seusai petang,” lanjut Bunda. Ia tak berani menatap mata Bundanya. Takut wanita itu menangkap keraguan yang mengambang di matanya yang bening. Hanya kupingnya mendengar lanjutan ucapan Bunda.

“Kamu harus berani menolak ajakan kawan-kawanmu jalan-jalan ke mall, nongkrong di kafe. Kamu harus siap jika suamimu memintamu sepanjang hari hanya di rumah. Kamu harus siap menyimpan novel-novel dan film-film favoritmu jika suamimu menginginkanmu.” kata Bunda seperti sedang menatar murid baru.

Ia terhenyak. Ia menatap novel-novel dan film-film kegemarannya bertumpuk di sisi ranjang. Ia takut laki-laki itu tak menyukai kegemarannya pada novel, mengoleksi film. Mencegah ia memburu novel klasik di lapak-lapak buku bekas.

“Jangan kawatir, kamu bisa tetap membaca novel dan memutar film ketika suami di kantor sehingga kamu tidak perlu merasa kesepian. Bunda yakin kamu bisa. Pernikahan bukan penjara seperti kawan-kawanmu bilang,”

Ia menghela napas, memandang bayangan dirinya di cermin. Ia menemukan sebentuk wajah ranum nan molek dengan bentuk hidung, bibir dan mata yang serba mungil. Kecantikan  meneduhkan yang disebut banyak orang mirip dengan Annisa, tokoh yang ia lihat dalam film Perempuan Berkalung Sorban. Ia membayangkan wajah itu bakal dibelai bukan oleh tangan lembut Bundanya, bibir tirus itu bakal disentuh bukan oleh tangannya. Ia lalu menatap dadanya. Dada itu, dada yang belum lama membentuk bulatan gunung mungil, bakal bukan lagi menjadi miliknya semata. Tiba-tiba ia merinding betapa akan ada sepasang tangan merengkuh dada itu. Ia terus berjalan ke jendela. Seraya mengamati jalanan di seberang halaman rumahnya ia mulai mengingat-ingat bagaimana mulanya ia terdorong minta menikah.

Mula-mula ia terkejut sendiri mendapati keinginan menikah begitu kuat memenuhi benaknya. Seakan tak mempedulikan bahwa pernikahan membawa konsekuensi yang belum tentu siap ia tanggung: meninggalkan bangku kuliah, melupakan cita-citanya. Sementara ia baru memasuki tahun kedua duduk di bangku kuliah. Ah, semuanya gara-gara dosen muda itu yang begitu menarik perhatiannya. Tak pernah ia merasa begitu terganggu memikirkan laki-laki sebelumnya. Dosen muda yang belum lama mengajar di fakultasnya. Dosen muda yang ketampanan sikap-sikapnya mengingatkan ia pada Fahri dalam film Ayat Ayat Cinta.

Siang itu, setelah berpekan-pekan mengamati dan memikirkannya, dosen muda itu menghampirinya ketika dia tengah iseng membaca di perpustakaan.

“Baca buku apa?”

Ia tergeragap. Matanya menubruk tatapan sayu dosen muda. Selebihnya adalah kesibukan meredakan gugup yang sulit dikendalikan. Itulah pertemuan pertama yang mencemaskan sekaligus membahagiakan. Menyusul pertemuan-pertemuan berikutnya yang sepenuhnya membahagiakan. Kadang di kantin kampus, lebih sering di toko buku.

Puncaknya suatu siang, ia mendapati air muka dosen muda itu tiba-tiba berubah muram. Sekian menit lamanya ia menduga-duga apa gerangan yang terjadi dengan dosen muda pujaannya ini. Lantas ia sibuk mengingat-ingat ulah dan perkataanya yang barangkali salah dan menjadi penyebab si dosen tersinggung lantas murung. Belum sempat ia mengurai ingatannya ketika lorong pendengarannya bagai dipalu genderang.

“Orang tuaku menjodohkan aku,”  

Ia mendapati kerongkongannya kering, tercekat. Mukanya memerah dan air matanya tanpa dapat dicegah luruh.

“Padahal aku belum ingin menikah. Aku masih menikmati masa lajang ini. Tapi mereka memintaku harus segera menikah. Orang tuaku ingin segera menimang cucu dari putra bungsunya. Mereka memang sudah lanjut, kawatir tak sempat melihat aku menikah. Jadi mereka mencarikan jodoh buatku. Karena mengira aku tak punya kekasih…”

Ia makin tercekat. Susah sekali mengeluarkan suara, kecuali air mata. Tubuhnya bagai mengambang oleh ledakan kekecewaan.

“Kukatakan pada mereka bahwa aku sudah punya kekasih, kamu, dan aku hanya mau menikah denganmu, Nuri.”

Kalimat ini membuat gemuruh kesedihannya menyurut, perlahan-lahan berubah jadi bahagia dan tersanjung. Perasaannya teduh.

“Kamu mau menikah denganku?”

“Mau,” ucapnya tanpa dapat dikendalikan. Bagai di bawah sadar.

“Secepatnya?”

“Ya,”

Bunda, seperti sudah diduga, kaget bukan kepalang manakala ia membicarakan pernikahan seperti membincangkan masalah jatah uang saku harian. Terbata-bata ia menjelaskan tentang dosen muda itu, tentang hubungan cinta mereka, tentang cintanya yang begitu besar, tentang masalah yang dihadapi dosen muda itu.

“Nuri Sayang, pernikahan itu bukan main-main. Ada konsekuensi yang harus kamu tanggung. Bunda tak akan mengizinkan kamu menikah jika alasannya semata ingin menyelamatkan laki-laki itu dari desakan orang tuanya,”

“Tidak, Bunda. Nuri juga sangat mencintainya,”

“Tapi tidak secepat ini, Sayang,”

Bunda kemudian memintanya merenung, memikirkan ulang tentang keinginannya menikah paling tidak sebulan. Wanita itu ragu ia hanya menuruti emosi. Sementara dosen muda itu memintanya kurang dari sebulan untuk memberi kepastian. Ia sungguh kalang kabut. Ia sangat takut lelaki itu tak sabar dan kalah oleh desakan orang tuanya; menikah dengan gadis yang disodorkan orang tuanya.

“Kalau dia sungguh mencintaimu tentu dia bersabar menunggu sampai kamu lulus dan mencapai cita-citamu,” kata Bunda. Lantas ia mengulang kalimat tersebut pada dosen muda itu.

“Kamu ragu, Nuri? Aku sangat mencintaimu sekaligus orang tuaku. Dalam hal ini kuakui aku lemah,”

**

Pernikahan yang sudah ditetapkan itu hampir ia batalkan. Keraguannya mengeras manakala Bunda kembali menjelaskan konsekuensi-konsekuensi yang harus ia tanggung. Ia sedih mengapa Bunda seperti sengaja menakut-nakuti. Mengapa ia tak bisa meyakinkan Bundanya bahwa ia akan berusaha keras menerima konsekuensi-konsekuensi itu dengan baik. Tetapi memang, jauh di lubuk hatinya keraguan itu memang masih ada. Ragu bahwa ia bisa meninggalkan kebiasaannya menggantungkan banyak hal kepada Bunda. Ditambah lagi saat ia mendengar kabar kawan dekatnya, Hashya, yang menikah muda, belum lama ini cerai gara-gara tak tahan merasa dikekang suami.

“Bunda tak bermaksud menakut-nakuti, Sayang. Tapi coba kamu pikirkan, kuliahmu bakal terganggu. Upayamu meriah cita-cita bakal terpenggal di tengah jalan.” ucap Bunda lembut, namun membuat ia ragu lagi.

Ia datang lagi pada kekasihnya dan mengatakan ulang kekawatiran sang Bunda.

“Aku tak akan melarangmu tetap kuliah dan mencapai cita-citamu. Kamu bisa langsung menggugat cerai jika aku mengekang dan membatasimu menempuh pendidikan setinggi-tinggi, Nuri,” kata laki-laki itu. Tapi ia tidak juga puas. Berdasar pengetahuan dari majalah wanita dan sejumlah buku tentang pernikahan yang ia baca, ia meminta laki-laki itu membuat kesepakatan tertulis. Kekasihnya sempat terkejut namun akhirnya bersedia membuat kesepakatan. Menghabiskan waktu beberapa hari kesepakatan itu akhirnya selesai mereka buat. Inilah isi kesepakatan itu:

(1)   Kedua belah pihak tidak boleh melarang pihak lain melanjutkan pendidikan demi cita-cita.

(2)   Kedua belah pihak tidak boleh membatasi kegiatan masing-masing sejauh kegemaran tersebut tidak mengganggu komitmen pernikahan.

(3)   Kedua belah pihak tidak boleh memaksakan kehendak pada pihak lain.

(4)   Kedua belah pihak melakukan sesuatu atas dasar persetujuan bersama.

(5)   Kedua belah dalam memutuskan sesuatu berdasarkan musyawarah yang disepakati kedua belah pihak. 

(6)   Kedua belah Saling menghargai dan mengedepankan kepentingan bersama.

(7)   Kedua belah tidak boleh saling menyakiti

Jika salah satu pihak melanggar kesepakatan maka pihak yang merasa dirugikan boleh mengugat cerai.

“Kita tanda tangani kesepakatan ini?”

“Ya!”

Pondok Pinang  musim hujan, Januari 2009.

Lelaki Berjenggot Panjang

13 Apr 2009 KEKERASAN

Majalah Majemuk (Edisi Maret 2009)

Seorang lelaki dengan jenggot panjang dan baju longgar dan panjang melambai-lambai melangkah pelan-pelan memasuki sebuah plasa. Rambutnya bersembunyi di balik peci bulat putih yang dikenakan kepalanya. Peci yang memperlihatkan bentuk kepalanya. Waktu itu sore hari. Matahari merah cahayanya leluasa menerobos ruangan plasa yang hampir seluruh dindingnya terbuat dari kaca. Suasana sangat ramai karena hari itu adalah akhir pekan. Orang-orang berbondong menyerbu konter-konter pelbagai macam penjualan barang, pusat-pusat makanan dan tetek bengek benda hiburan seperti laron menghampiri nyala lampu. 

Mereka tidak memperhatikan laki-laki berjenggot panjang itu yang bajunya longgar dan melambai-lambai. Lagi pula apa yang menarik dari penampilan laki-laki itu? Mereka datang ke plasa memang bukan cuma untuk menghabis-habiskan uang, tetapi memperhatikan laki-laki berjanggut panjang itu rasanya juga terlalu berlebihan. Lebih berguna melihat perempuan-perempuan molek atau pria-pria berdandan rapi dan tampan, bukan?  

Dengan langkah tetap tenang dan sorot mata yang tajam laki-laki berjenggot panjang itu membelah keramaian plasa. Sorot matanya yang tajam berkali-kali menubruk perempuan-perempuan molek yang berdandan begitu seksi membiarkan separuh dada dan lehernya yang mulus dan jenjang dinikmati siapa pun yang memandang. Tetapi laki-laki berjenggot itu segera memalingkan matanya dari sana, ia tundukkan wajahnya sehingga kadang-kadang membuatnya menabrak-nabrak. Haram, haram, batinnya. 

Di luar gelap telah merambat, semburat merah di langit telah benar-benar lenyap berganti cahaya lampu ratusan ribu watt yang menerangi kota. Makin malam plasa makin ramai. Mobil-mobil terus ngantri untuk diparkirkan. Anak-anak berlarian sambil menjerit girang ke tempat-tempat permainan yang disediakan plasa itu. Suara mereka bagai cericit kawanan anak tikus. Sementara orang-orang tua mereka sambil menunggu duduk dikursi rileksasi untuk dipijat refleksi setelah capek keliling berbelanja. 

Alunan musik timpa menimpa. Kursi-kursi kafe penuh oleh orang-orang yang duduk menikmati bermacam santapan sambil berbincang-bincang. Ada juga yang sembari membuka laptop, mengetik, ngobrol dan tertawa-tawa. Laki-laki berjenggot terus melangkah melewati mereka semua tanpa ada yang sungguh-sungguh memperhatikan. Ia menyelinap ke toilet. Di dalam toilet sejenak ia menatap wajahnya di cermin. Wajah yang tampan dan hampir tertutup oleh cambang dan bulu-bulu halus lainnya yang tumbuh di wajahnya. Dia heran, begitu cepat bulu-bulu itu tumbuh. Baru kemarin dia mencukur bersih bulu-bulu itu kecuali bulu jenggotnya yang sengaja dibiarkan panjang. Dulu, Rita, kekasihnya tidak suka melihatnya memelihara bulu-bulu kasar di wajahnya memanjang seperti itu. 

Rita kini entah di mana. Perempuan itu telah mengkhianati laki-laki berjenggot setelah keduanya pacaran bertahun-tahun dan hampir saja menikah. Rita meninggalkan laki-laki itu ketika mereka duduk menikmati menikmati setangkup roti lezat yang langsung meleleh di lidah. Laki-laki berjenggot menghirup kopi dengan lezat, lantas meletakkannya di meja, waktu Rita tiba-tiba beranjak. 

“Aku ke toilet sebentar, Mas.” kata perempuan itu.  

Lelaki itu (waktu itu dia tidak memelihara jenggotnya) tentu saja mengijinkan pacarnya pergi sendiri ke toilet. Dia tidak menyangka itulah kali terakhir melihat pacarnya. Lima menit berlalu dia masih tenang-tenang saja menikmati kopi dan roti yang sering jadi pembicaraan dan sangat digemari teman-temannya itu. Lima menit bukan waktu yang lama untuk pergi ke toilet apalagi buat perempuan yang suka berdandan pula. Dia menghirup kopi perlahan-lahan, menikmati setiap sensasi rasa di ujung lidahnya. Ketika sepuluh menit berlalu dan pacarnya belum juga kembali dia pun masih bisa maklum. Tidak seperti laki-laki yang cukup berdiri dan membuka sedikit resleting celananya untuk buang air, perempuan harus membuka dan melorotkan seluruh celananya, jongkok, sehinggga membutuhkan waktu lebih lama ketimbang laki-laki. 

Memasuki menit ke lima belas laki-laki itu mulai gelisah. Meski demikian dia masih mencoba menghibur diri, mungkin toilet sedang penuh sehingga pacarnya harus mengantri. Tetapi ketika sudah hampir setengah jam pacarnya belum juga kembali dia tidak bisa lagi tenang-tenang duduk menikmati secangkir kopi dan beberapa tangkup roti yang baru dimakan separuh tergeletak di meja. Maka dia pun bangkit dan menuju toilet. Tanpa ragu-ragu dia masuk toilet yang di pintunya terdapat tulisan lady untuk mencari pacarnya. Siapa tahu pacarnya terkunci di dalam dan tidak bisa keluar. Namun ketika seluruh pintu toilet dibuka dan periksa, tapi pacarnya tidak ada dia benar-benar panik. Keringat dingin mendadak bercucuran.  

Dia benar-benar lemas setelah dibantu satpam–yang juga telah mengumumkan berita kehilangan melalui pengeras suara– menyusuri seluruh sudut plasa mencari pacarnya namun tidak juga temukan sampai menjelang tengah malam. Ratusan kali dia menghubungi ponsel pacarnya, tapi tidak ada sahutan. Semua saudara-saudara dan teman dekat pacarnya yang dihubunginya malah terheran-heran mendapat pertanyaan darinya, “Lha kamu gimana, bukannya jalan sama kamu?” kata mereka balik bertanya.  

Peristiwa tersebut sangat memukul jiwanya. Malam itu dia pulang dengan linglung dan tak mampu tidur selama beberapa malam. Tak ada perempuan lain baginya di muka bumi ini selain Rita. Dia begitu mencintai Rita, gadis yatim piatu yang bekerja di panti asuhan itu. Di tempat itu pula pertama kali bertemu dalam sebuah acara peringatan hari kemerdekaan. Rita naik ke pentas menyanyikan sebuah lagu kesayangannya. Suaranya tidak enak didengar tetapi syair lagu yang dibawakannya itu sungguh membuat dia tidak bisa melupakan gayanya menggenggam mikropon, caranya melempar senyum, pandangan matanya. Ketika acara usai dia menemui Rita, dan mengajaknya berkenalan. 

“Suaramu bagus, Rita. Kamu suka lagu perjuangan?” pujinya berbasa-basi. Pertemuan berikutnya dia langsung mengutarakan perasaannya. Beruntunglah, rupanya dia tidak sulit mendapatkan balasan serupa dari Rita. Tetapi kini semuanya sudah lewat. Di salah satu kafe di plasa ini pula dulu Rita meninggalkannya dengan cara yang tidak lazim. Tadi waktu melewati kafe itu laki-laki berjenggot sempat melemparkan pandang ke kursi yang paling pojok tempat terakhir dia dan Rita duduk bersama menikmati kopi dan setangkup roti. 

Kafe itu memang telah berubah. Kini tampak lebih luas dan lebar. Kursi-kursinya pun sudah diganti menjadi lebih bagus berwarna jingga dengan bentuk yang makin minimalis, unik dan nyaman. Para pelayannya pun mungkin juga sudah berganti. Namun laki-laki berjenggot tetap saja menutup separuh wajahnya dengan selembar sorban saat melewati kafe itu. Seakan takut orang akan mengenalinya dan mengingatkan lagi peristiwa menyedihkan yang meninggalkan rongga luka yang sukar pulih di dalam sanubarinya. 

Sampai bertahun-tahun kemudian dia tidak habis pikir bagaimana Rita bisa meninggalkannya begitu rupa. Dia yakin betul selama ini hubungannya baik-baik saja. Mereka saling mencintai. Dia hampir tak pernah mengecewakan Rita meski beberapa kali perempuan itu sempat membuatnya jengkel yang memicu pertengkaran kecil. Sangat lumrah, pikirnya. Kata orang pertengkaran kecil merupakan bumbu yang akan makin mempernikmat suatu hubungan asmara.  

“Aku tidak bisa hidup seperti ini,” keluhnya, putus asa. Sejak itu dia merasa menjadi laki-laki paling malang di dunia. Keseimbangan hidupnya menjadi oleng. Dia pernah memutuskan untuk bunuh diri. Benar, bahwa laki-laki pun bisa saja menjadi begitu melankolis dan sentimentil serupa itu. Apa mau dikata? Akhirnya kemudian dia hanya menyendiri, menarik diri dari pergaulan dunia luar. Suatu sifat yang pada dasarnya dia miliki sejak kecil. Dan kini makin parah. 

“Dunia tidak selebar daun kelor,” kata kawannya yang merasa prihatin melihat laki-laki berjenggot jadi patah semangat seperti itu, “Kamu masih muda, dan begitu banyak persoalan di dunia selain perempuan,” ujar kawannya itu, bijak. Laki-laki berjenggot ingin sekali menyuruh pergi kawan itu. Tetapi rupanya tidak mudah baginya melakukan hal tersebut. Perasaanya terlampau lembut apalagi pada seseorang yang barangkali bermaksud baik.  

“Kalau mau bunuh diri, lakukanlah itu untuk hal yang berguna,” lanjut kawan itu yang membuatnya cukup geli. Kawannya itu mengunjunginya paling sedikit hampir setiap pekan. Dia heran, padahal kawan itu bukan orang terdekatnya. Dalam hidupnya dia memang tidak memiliki kawan dekat. Mereka bertemu di sebuah halte saat dia pulang dari pekerjaan rutinnya sebagai karyawan di sebuah usaha percetakan.  

Biasanya kawan itu datang kala sore. Mengetuk pintu apartemennya perlahan-lahan di sebuah pinggiran kota yang tidak terlalu ramai. Dengan malas dia membuka pintu. Kawan itu langsung memberikan senyuman yang ramah dan penuh persahabatan. Berbasa-basi sebentar sebelum memberi wejangan-wejangan yang sumpah mati bikin dia begitu sebal. Tetapi dia seolah tidak bisa menghindar. “Dunia ini sudah penuh kemaksiatan,” kata kawan itu. Selalu itu yang dikatakan. Dia akan sekadar menyediakan teh hangat dan kue-kue ringan. Ketika dia akan menyulut rokok, kawan itu mencegahnya. 

“Tinggalkan kebiasaan merokok. Itu perbuatan mubazir yang disenangi setan. Gunakan uangmu hanya untuk hal yang berguna.” ujarnya.  

Lantas dia mendengar kawan itu menyerocoskan tentang sekelompok orang yang dibantai oleh sekelompok orang yang lain. Tentang persekongkolan-persekongkolan untuk menghancurkan kelompok lain yang disebutnya sebagai ’saudara kita’.  

“Mereka tidak akan puas sebelum kita tunduk pada kemauan mereka,” ujarnya mengutip bunyi sebuah ayat dengan bersemangat. Dia melihat ada kobaran api kebencian di mata kawan itu yang hendak dihembus-tanamkan ke benaknya. Sampai berbulan-bulan mendapat wejangan seperti itu perasaannya tetap hambar, bahkan makin lengang. Dia selalu terkenang Rita. Di benaknya masih ada pijar harapan bertemu lagi dengan Rita. Masih selalu berpikir di mana Rita kini. Dia berjanji untuk memaafkan Rita jika perempuan itu kembali.  

“Buat apa mengharapkan lagi perempuan,” kata si kawan.  “sudah saatnya kamu berjuang demi tegaknya ajaran Tuhan,”

Dalam kehampaan, dia telah kehilangan pegangan. Maka dengan perasaan yang kosong pula suatu hari dia mendapati dirinya telah menyepakati untuk melakukan tugas yang akan dilakukannya hari ini. 

***

Laki-laki berjenggot itu kini masuk ke toilet. Dia memeriksa lagi bom yang melilit di tubuhnya. Ia meraba dan meyakinkan semuanya sesuai rencana. Maka dia keluar dari toilet, berjalan perlahan, dan lenyap di antara keramaian lantai plasa itu. Perasaannya yang hambar kini sedikit berdebar. Gemetar jarinya meraba tombol bom yang melekat di sekujur tubuhnya. Dan menekannya …..

2006-2008

Ada Hantu di Mata Ayah

27 Mar 2009 ANAK-ANAK
(Tribun Jabar, 15 Maret)

Ayah pulang telat lagi malam ini. Wajahnya pasti tampak pucat dan letih sekali. Ayah berdiri mematung di depan pintu seperti ragu-ragu mengetuk atau menekan bel. Aku sedang berbaring telentang di ruang tengah nonton televisi. Pura-pura tidak tahu. Kulihat bayangannya yang gugup memanjang menyentuh kursi. Aku bertahan tak menghiraukannya, pura-pura sibuk memindah-mindah chanel melalui remote control. Baju ayah pasti basah oleh keringat berdesakan di bus tadi. Kakinya tentu pegal-pegal karena tidak mendapat tempat duduk dan terpaksa harus berdiri lama sepanjang perjalanan karena macet. Biarlah dia berdiri di luar sampai pagi. Aku tidak mau lagi mendengar rayuannya supaya aku mau menerima tante Maira sebagai pengganti Bunda.

Aku benci tante Maira, dan aku ingin menunjukkan kebencianku pada setiap orang. Supaya mereka tahu aku tidak butuh seorang pun untuk menggantikan bunda. Walaupun dia sering membawakan es  krim, ayam goreng, majalah dan kaset lagu kesukaanku. Kata Roy, tante Maira jahat. Dia suka memukul Roy dan teman-teman di kelas cuma gara-gara mereka tidak mengerjakan PR. “Coba kamu lihat matanya.  Mata perempuan perayu. Tempat bersarangnya hantu.” 

Barangkali ayah memang sudah kena rayu hantu yang bersarang di mata perempuan itu. Itulah sebabnya ayah selalu telat pulang, membiarkan aku sendirian dan lupa membelikan aku buku cerita. Itulah salah satu saja alasan kenapa aku yakin ada hantu yang menghuni mata tante Maira.  

“Kalau kamu tidak mau ditinggal sendirian, biarkan tante Maira menjadi istri ayah.” kata ayah merayuku. Aku melempar buku, lalu membanting pintu masuk kamar merutuki tante Maira supaya dipecat dari pekerjaannya dan pergi sejauh-jauhnya, atau kalau perlu  lekas mati sehingga tak ada lagi yang merayu ayah. Aku menutup kedua telingaku dengan bantal supaya tak mendengar suara ayah yang terus merayu dari balik pintu. Aku diam saja dan tak mau keluar sampai pagi. Aku benci dirayu serupa itu. Walaupun ayah merayuku sampai pagi, aku tidak mau punya bunda tante Maira. Suara ayah yang terdengar lembut dan menghiba menerobos bantal dan masuk telingaku.

Aku tak peduli. Dan baru mau keluar karena harus salat subuh. Itupun kulakukan dengan menggerutu dan tetap membisu. Kucium tangan ayah tanpa kata-kata. Aku tak berani menatap wajah ayah yang bening dan bermata sayu menenteramkan. Aku takut wajah bening itu merayuku lagi sehingga aku harus membencinya.  Kubayangkan mata sayu itu digerayangi hantu dari mata tante Maira sehingga tidak teduh lagi. Aku takut dan sering gelisah. Sehingga aku kadang merasa malas harus pulang ke rumah dan bertatapan dengan mata sayu ayah. Benakku ditumbuhi rasa benci sekaligus salah. Perasaan ini menderas melanda dan menggerogoti kenyamanan perasaanku. 

Kegelisahan  yang kurasakan makin menjadi-jadi sejak entah kenapa nenek yang biasanya selalu menjadi benteng pertahananku belakangan tiba-tiba ikut membujukku. Pasti nenek sudah   kena pengaruh hantu dari mata tante Maira.  “Alma, Ayah memerlukan tante Maira untuk mengurus  rumah. Membuatkan teh dan menyetrika baju ayah. Kau tahu nenek sudah tua, tidak bisa bolak-balik tiap hari.”        

Aku bagai dikepung oleh mata Tante Maira yang mengerikan bagai mata elang yang siap mencaplok mata mungilku. Tapi aku tidak boleh takut. Kata Roy, aku harus melawannya. Roy benar, aku harus menentang matanya. Kalau perlu meludahinya.

“Ya, kau ludahi saja mata tante Maira yang mengandung hantu itu, bundamu pasti setuju.”

Betulkah bunda setuju?

“Tante Maira ‘kan yang membuat ayah meninggalkan bunda?”

Nenek bilang bundalah yang meninggalkan ayah.  Aku tidak tahu bunda tinggal di mana dan kenapa ayah tidak mencarinya. Aku tak dapat mengenang wajah bunda kecuali sayup-sayup.  Wajah yang mirip tante Kesya, mama Roy. Katanya mereka memang bersaudara. Pantas tante Kesya baik padaku; sering mengajakku berenang di pantai, jalan-jalan ke kebun binatang dan makan bakso di mall. Tapi aku tahu ayah tidak selalu senang tante Kesya mengajakku pergi, entah kenapa. Aku tidak pernah melihat mereka ngobrol seperti ayah ngobrol dengan tante Maira.  Pernah kulihat ayah menampar tante Kesya. Jangan mau lagi pergi dengan tante Kesya, kata Ayah. Tapi aku tak menurutinya. Aku diam-diam tetap sering pergi bersama tante Kesya. Apalagi sejak ayah sering pulang telat dan membawa tante Maira ke rumah. Kadang tante Kesya yang menjemputku dari sekolah, lebih sering aku yang datang ke rumahnya bersama Roy. Tante Kesya tidak pernah bercerita tentang bunda. Aku sendiri tidak mempedulikan. Waktuku habis untuk buku-buku cerita. Aku bisa memiliki bunda atau apa saja sesuai keinginanku.

Nenek tak pernah bercerita ada apa pada hari yang mendung itu. Aku merasakan seperti ada kejadian besar yang ditutup-tutupi. Banyak orang berkerumun di depan rumahku. Mang Darman membopong dan menurunkan aku dari becaknya.  Aku ingat itu adalah hari terakhir aku sekolah karena Seninnya liburan selama seminggu setelah ulangan caturwulan. Tak ada yang menyambutku di  depan pintu. Orang-orang memandangku dengan ekspresi tak kumengerti. Aku langsung menghambur masuk rumah. Tapi ada seseorang yang menarik tanganku dan menghalangiku masuk. Orang itu membawaku ke nenek. Kudapati wajah Nenek merah padam, dan bunda diarak orang-orang itu entah ke mana bersama seorang lelaki yang bukan ayah. Nenek tak memperkenankan aku bertemu bunda.  Ayah tentu saja di tempat kerja. Nenek memeluk dan membawaku ke rumahnya yang berjarak sepuluh menit dari rumahku. Aku menangis tapi kemudian kakek mengajakku belanja ke mal dan aku tertawa-tawa naik komidi putar.  Tetapi itulah kukira, hari yang penting dalam hidupku, karena sejak itu aku sulit bertemu bunda.

Waktu awal-awal mendapati keadaan ini kadang aku menangis, dan bertanya ke mana bunda. Nenek berkata bunda sedang pergi ke rumah Omah. “Besok bunda pulang. Alma bersama nenek di sini.” Tapi sampai bertahun-tahun bunda tak pernah datang lagi. Dan aku kemudian  bisa melupakannya. Aku tidak bersedih hidup tanpa bunda, tapi tidak pula bahagia. Aku tidak tahu, aku tidak pernah berfikir harus bahagia atau bersedih. Teman-temanku yang selalu dijemput ibu mereka saat pulang sekolah tidak membuatku melamun memikirkan bunda. Aku merasa hidupku baik-baik saja. Tak ada yang pantas disesali. Aku sibuk bermain dan mengaji, itu membuatku menikmati hari-hariku. Kesedihan hidup tanpa bunda seperti yang sering didramatisir orang-orang tak mempan buatku.

Kesedihan itu justru muncul sejak kehadiran tante Maira. Dia seperti tukang sihir yang mengubah pandanganku tentang bunda. 

Pagi itu tante Maira datang lagi. Kepalanya yang selalu tertutup kerudung lebar melambai-lambai muncul dari pintu pagar. Kudengar langkahnya pelan menginjak kerikil. Aku bangkit dan menghadangnya di depan pintu. Seperti biasa di tangannya ada kantung plastik putih. Ia meletakannya di meja lalu menghambur hendak memelukku. “Alma,  sendirian? Lihat, tante bawakan es krim kesukaanmu.”

Kutatap matanya penuh kebencian. Aku ingin menantang hantu yang bersarang di sana. Biar tak ada lagi yang membujuk ayah,  biar ayah tak lagi pulang telat, biar ayah tidak pernah lagi bertanya, kenapa kamu benci tante Maira, Alma? Aku menunggu hantu itu muncul dari mata tante Maira. Akan aku tantang berkelahi.

“Alma, kenapa? Nenek tidak kemari ya, ayahmu mungkin telat lagi. Tapi tidak usah kesal. Biar tante temani kamu sampai ayah pulang. Mandilah dulu Alma. Kamu harus pergi mengaji, bukan? Nanti Tante antar ya.”

Tante Maira mengangsurkan handuk. Aku mencampakkannya.

“Alma, mandilah,” Tante Maira memungut handuk dan menyampirkannya di bahuku. Dari balik jendela kulihat Kiki, Aisyah, Mita berlarian dengan juz ama di pelukan mereka. Lalu tampak tante Kesya menyeret Roy yang meronta-ronta. Aku tahu Roy enggan mengaji. Dia lebih suka main di rumah koh Supono yang menyewakan play station.

“Mandilah, Alma.” Suara tante Maira terdengar lagi.

Aku tak menghiraukannya. Tapi kulihat tante Maira tak mempedulikan sikapku; dia terus merapikan handuk dan baju-bajuku. Kata Roy aku harus terus menatap matanya. Tapi sampai aku lelah sendiri hantu itu tidak juga nampak. Hantu itu tak muncul-muncul dari Mata tante Maira yang bening dan teduh.   Pantas hantu kerasan tinggal di sana, pikirku. Tetapi hantu itu tak pernah kulihat. Barangkali dia sudah meninggalkan tante Maira.

“Tidak mungkin. Hantu itu tidak akan pernah meninggalkan mata tante Maira,” kata Roy dan tante Kesya, “kamu harus meludahinya, Alma. Kasihan nanti ayah kena pengaruhnya bisa berbahaya.” timpal tante Kesya.

Malam hari aku suka membayangkan hantu itu keluar dari mata Tante Maira dalam wujudnya yang paling mengerikan. Aku sudah menyiapkan pedang yang kugantung sebagai pajangan di dinding. Apakah ini berlebihan? Kurasa tidak. Walau aku remaja, tapi buku-buku cerita yang kubaca lebih banyak dari teman-teman seusiaku.

                                                                           ***

“Apa yang kamu baca, Alma” tanya bunda. “lekaslah tidur, ayahmu tak pulang malam ini.”

Kudengar Bunda mendengus kesal, matanya bunda sembab. Aku tahu mereka bertengkar semalam. Itulah sebabnya, kenapa aku lebih suka menghabiskan waktuku dengan membaca buku cerita. Aku tak mau terseret dalam pertengkaran mereka. Kata nenek pertengkaran adalah bumbu dalam kehidupan rumah tangga. Aku tak perlu sedih. Toh aku bisa membuat cerita tentang mereka menjadi lain sama sekali. Seperti yang barusan kutulis di atas; agak ngawur, mengada-ada dan terkesan kurang waras. Untuk yang satu ini bunda selalu memujiku, “Pintar sekali kamu ngarang!” Tentu saja yang dimaksud pintar ngarang adalah pintar ngelantur! Tapi meyakinkan, bukan?* 

Desember 2008  

Calendar

July 2010
M T W T F S S
« Sep    
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
262728293031  

ARISKURNIAWAN

Blog ini berisi prosa-prosa Aris Kurniawan yang telah dipublikasikan di media massa.

KATEGORI